
Cuaca pagi hari ini nampak mendung. Awan hitam sudah bergelayut sejak subuh tadi di langit ibu kota. Menghalangi sinar matahari yang hendak menyapa penduduknya. Bahkan gerimis kecil sudah mulai turun di beberapa daerah.
Rai sedang berdiri di samping mobilnya. Ia baru saja turun untuk menjemput Esta. Ia merapikan pakaiannya sekali lagi sebelum masuk ke dalam rumah keluarga Putri.
Starla ternganga memperhatikan sosok Rai yang sedang berdiri di hadapannya dari kepala sampai kaki. Celana jeans berwarna hitam dipadu dengan kaus Putih ketat dan di tutupi dengan kemeja berwarna hunter yang tak terkancing, penampilan Rai sangat berbeda dari yang pernah gadis kecil itu lihat.
“Hi Starla.” Sapa Rai sambil mengangkat tangannyad an tersenyum.
“Cari siapa ya, Mas?” Tanya asisten rumah tangga Putri yang sedang menemani Starla bermain.
“Saya mau jemput Esta, Buk. Ada?”
“Oh, iya. Sebentar saya panggilkan.” Ujar asisten rumah yang kemudian pergi masuk ke dalam rumah.
“Kenapa, Bik?” Tanya Putri yang melihat asiten rumah tangganya bergegas masuk ek dalam rumah.
“Ada yang nyariin Mbak Esta, Mbak.”
“Oh iya? Biar aku yang panggilkan, Bik.” Tawar Putri. Lantas iapaun pergi ke kamarnya untuk memanggil Esta.
“Kenapa?” Tanya Esta yang melihat Putri sedang bersedekap sambil menyandar di daun pintu.
“Kencan terusssss....” Sindir Putri. “Udah di tunggu tuh. Kekasih hatimu udah dateng di depan.”
“Kencan apaan? Aku mau nemenin dia ke Polres, jenguk papanya yang lagi di tahan di sana.”
Penjelasan itu mampu membuat Putri tertarik. Ia melangkah maju mendekati Esta yang sedang mematut diri di depan cermin.
“Di tahan?”
“Kamu lupa siapa ayahnya Rai?”
Putri ternganga. “Oh iya. Aku kok lupa ya. Padahal berita itu selalu muncul di TV dan di medsos. Ahh. Ku fikir kalian bakalan kencan romantis gitu.”
“Kamu aja yang kencan romantis sama Mas Oza sana. Sekalian ajakin mereka jalan-jalan keliling Jakarta. Mumpung disini. Soalnya besok mereka udah harus pulang, kan?”
“Gak perlu di suruh juga kaleee. Kami memang mau jalan-jalan kok.”
“Ya udah, aku mau kencan dulu ke polisi. Hahahahahaha.” Seloroh Esta sambil menyambar tasnya dari atas tempat tidur.
__ADS_1
Di luar, Oza yang baru muncul entah darimana, langsung mendekati Rai yang sedang menggoda Starla hingga Putrinya itu merengek beberapa kali.
“Udah dari tadi, Rai?” Tanya Oza.
“Baru aja kok, Mas. Dari mana Mas?” Tanya Rai. Sikapnya kini sudah berubah sejak mengetahui kalau Oza bertunangan dengan Putri.
“Jalan- jalan keliling komplek. Sambil olahraga.” Jawab Oza. “Kok gak masuk?”
“Enggak apa, Mas. Nunggu disini aja. Bentar lagi Esta juga udah keluar kok.”
Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, Esta dan Putri sudah muncul dari dalam rumah.
“Wooaahhhh. Keren banget kamu Rai. Beneran mau kencan ini kayaknya.” Ujar Putri tidak peduli di sana ada calon suaminya.
Esta Menyenggol lengan Putri untuk memperingatkannya kalau ada Oza di sana.
“hehehehe. Tapi tetep kerenan calon suamiku kok. Cuma beda masa aja.”
Ujaran Putri itu langsung mengundang tawa bagi mereka. Saking gemasnya, Oza bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengacak puncak kepala calon istrinya itu.
“Udah siap? Kita pergi sekarang?” Tanya Rai kepada Esta.
Mendengar panggilan Esta untuk Rai itu, membuat mata Putri terbelalak lebar. Pun sedikit geli mendengarnya. Ia mengernyit geli kepada Esta yang nampak tidak peduli dan malah menyelipkan tangannya di lengan Rai.
“Kami pergi dulu, ya.” Pamit Esta kemudian.
Rai dan Esta berjalan meninggalkan rumah Putri menuju ke mobil Rai yang terparkir di depan gerbang. Setelah mereka masuk, Rai segera melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan rumah Putri.
“Udah sarapan, kan?” Tanya Rai.
Esta mengangguk. “Kenapa mukamu merah begitu, Mas?”
“Ya apa? Pastinya pengen di kecup lagi dong.” Ujar Rai dengan santainya.
“Sabar. Tunggu halal dulu, baru....”
“Ahhh. Rasanya pengen ku nikahin kamu sekarang juga, Ta. Biar bisa langsung ku habisin.”
“Emangnya kue, di habisin.” Dengus Esta.
__ADS_1
Mobil Rai sudah memasuki area Polres dimana ayahnya sedang ditahan sementara saat ini. Begitu turun dari dalam mobil, ia segera di sambut oleh sekretaris Fandi beserta jajaran pengacaranya.
“Kita lewat belakang aja, Pak Rai. Di depan banyak wartawan soalnya.” Ajak salah satu pengacara ternama itu.
“Biar saya yang lewat depan buat mengalihkan perhatian mereka.” Ujar sekretaris Rai bernama Tristian itu.
Rai mneyetujuinya saja. Ia kemudian menggenggam tangan Esta untuk mengikuti para pengacara yang akan menunjukkan jalan kepadanya untuk masuk ke dalam Polres.
Rai dan Esta sedang menunggu di ruang tunggu sementara pengacara Fandi mengurus semua prosesnya untuk menemui Fandi. Beberapa menit kemudian, pengacara sudah kembali dan mengajak Rai untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.
Fandi yang sedang duduk di sebuah kursi nampak sangat terkejut dengan kedatangan Putranya itu. Ada senyum pias yang muncul di sudut bibirnya. Namun senyum itu langsung menghilang saat melihat ekspresi Rai yang datar. Terlebih saat ia melihat sosok wanita yang datang bersama dengan Rai.
“Kalau begitu, saya tinggal sebentar keluar, Pak.” Pamit pengacara Fandi. Memberikan ruang kepada mereka agar leluasa mengobrol.
Rai dan Esta sudah duduk di hadapan Fandi yang penampilannya nampak sangat kacau. Rambut acak-acakan dan tak terawat serta wajahnya yang nampak sudah keriput.
Pada hari biasanya, keriput itu tidak bisa terlihat karna tertutupi oleh penampilan necis Fandi. Tapi sekarang. Semua guratan itu muncul dan memperjelas kalau Fandi memang sudah berumur paruh baya.
Sudah lima menit mereka ada di dalam ruangan itu, namun baik Fandi maupun Rai, tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Suasana canggung langsung memenuhi ruangan itu dan membuat udara menipis dan sesak.
“Ehm, aku mau ke kamar mandi dulu ya.” Pamit Esta kepada Rai dengan berbisik.
Padahal Rai hampir menahannya. Tapi ia tau kalau Esta sedang memberikannya ruang untuk berbicara dengan ayahnya. Jadi ia hanya mengangguk saja mengantar kepergian Esta dengan ujung matanya.
“Kamu masih aja sama dia?” Fandi mulai membuka suara. Namun kalimat pertamanya itu malah memancing lirikan tajam dari Rai. Ia tidak suka dengan cara Fandi membahas Esta.
“Kalau bukan karna Esta, aku gak akan berada disini sekarang.” Tegas Rai.
Fandi nampak terhenyak mendengarnya. Terlebih sorot mata Rai masih jelas menampakkan kebencian terhadapanya. Entah kenapa, hatinya sangat sakit melihatnya.
“Cukup sekali Papa misahin kami. Kali ini, aku gak akan biarin Papa misahin kami lagi. Udah cukup aku nurutin kemauan Papa.” Desis Rai.
Fandi melengos. Ia membuang pandangannya ke ujung jendela berjeruji besi di sampingnya.
“Kenapa Papa bisa kayak gini? Udah tua kok malah sibuk sama narkoba. Mana nama besar yang Papa gadang-gadang itu? Apa nama baik itu bisa nyelametin Papa sekarang?” Sindir Rai dengan tajam.
“Kalau kamu dateng cuma mau nambah masalah, mending gak usah dateng sekalian.” Dengus Fandi. Ia merasa malu dan tersohok saat mendengar ucapan putranya itu.
Rai hanya menghela nafas saja. Teringat dengan ucapan Esta yang menyuruhnya untuk tidak memancing ataupun terpancing emosi hingga menimbulkan pertengkaran. Karna tujuan utamanya datang kemari adalah untuk memperbaiki bubungannya dengan ayahnya.
__ADS_1