
Wahai hati, behentilah berdebar.
‘Berhenti, plisss berhenti. Inget, Ta. Rai itu cuma gak mau anaknya kenapa-napa. Semua perhatiannya itu cuma buat anaknya. Kamu harus sadar. Kamu harus sadar. Gak boleh baper. Rai cuma peduli sama anaknya. Jangan berharap lebih. Udah berapa kali Rai bilang kalau yang dia peduliin itu cuma anaknya. Titik. Jadi kenapa kamu yang baper? Gak boleh baper. Pokoknya gak boleh baper!!’
Esta terus berharap kalau cahaya jingga mampu membuat hatinya tenang kembali. Ia berharap, kalau keindahan itu akan mampu mengembalikan hatinya untuk sadar diri.
Ya, Esta sadar. Sangat sadar kalau yang di pedulikan Rai hanyalah bayi yang ada di dalam perutnya. Ia hanyalah cangkang kosong bagi Rai.
Rai memberinya jaket hanya karna tidak ingin ia sakit dan membahayakan bayinya. Rai tegas mengatakan itu. Rai mengikatkan rambutnya karna takut ia tersedak saat makan dan itu bisa membahayakan bayinya. Apalagi yang bisa membuatnya sadar?
‘Kenapa kamu baper, Esta? Memangnya pehatian itu buat kamu?
Gak! Perhatian itu buat bayimu. Memangnya Rai pernah bilang kalau dia khawatir
sama kamu? Gak pernah! Dia selalu bilang kalau dia khawatir sama anaknya. Bukan
sama kamu. Jadi sadarlah, Esta!’
Lubang yang menganga di hati Esta, sudah terisi hampir seperempatnya. Di isi oleh perhatian-perhatian Rai walaupun ia tau perhatian itu tidak pernah tertuju padanya. Ia mengutuki perasaannya yang lemah terhadap perhatian-perhatian itu. Perhatian yang perlahan mampu membuatnya merasa nyaman berada di sekitar Rai Kenandra.
Ia tau kalau ia tidak seharusnya merasa seperti itu. Ia sama sekali tidak pantas untuk merasa seperti itu. Apalah artinya dia bagi Rai? Tidak ada. Hanya cangkang kosong semata.
Rai tidak akan mungkin menikahinya kalau bukan karna anak yang ada di perutnya. Dia tidak selevel dengannya. Hanya karna tanggung jawab. Tidak lebih.
Matahari sudah lama kembali ke persembunyiannya. Menerangi belahan bumi yang lain untuk memamerkan keindahannya. Tapi Esta, ia masih terpaku menatap siluet bukit nun jauh di sana. Menata hati tak semudah fikirannya.
Sedangkan Rai, ia juga asyik fokus pada layar ponselnya. Ia bahkan tidak lagi merasakan udara dingin yang sudah menelusup hingga ke tulang-tulangnya. Memandangi senyuman itu, mambuat hatinya menghangat. Mengalahkan hembusan angin yang menerpa berkali-kali.
“Udaranya makin dingin, Rai. Kayak kamu.” Enb
tah kenapa Esta harus berseloroh seperti itu. Entah apa maksudnya. Yang jelas, Esta hanya ingin mengobrol apapun bersama dengan Rai untuk membunuh waktu.
Sontak saja Rai langsung menoleh kepada Esta dan menutup ponselnya. Lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
“Emangnya aku dingin?”
“Entah dingin, apa sombong.”
“Hah??” Eskpresi Rai penuh tanya.
“Lihat aja kalau di sekolah. Jarang ngomong. Kalau di ajak ngomong cuma jawab seadanya doang. Gak peduli sama sekitarnya.”
“Aku cuma gak mau berurusan sama orang yang gak ada hubungannya sama aku. Gak penting dan buang-buang waktu.”
Esta tersenyum kecut. Mereka hampir sama. Cuma bedanya, seberapapun Esta berharap untuk di anggap, tidak ada yang menganggap keberadaannya. Sementara Rai, dia punya semua perhatian itu tapi ia tidak suka di perhatikan. Mereka berada di zonanya masing-masing.
Ddrrtt,, ddrrtt,, ddrrtt,, ponsel Esta bergetar. Itu adalah telfon dari Akash.
__ADS_1
“Halo, Kash?”
Mendengar nama Akash di sebut, Rai langsung menoleh kepada Esta dengan ekspresi penasaran.
“Dimana Ta? Aku ke rumah tapi kamu gak ada.”
“Kamu kerumah? Ya ampun. Aku lagi keluar”
“Sama Rai?”
“Iya. Kenapa, Kash?”
“Mau ajak kamu malmingan padahal.” Ujar Akash berseloroh.
“Malmingan? Sama aku?”
“Hehehehehe.”
“Mana sini.” Hardik Rai yang langsung menyomot ponsel dari tangan Esta. Ia tidak suka mendengar Akash mengajak Esta malam mingguan.
Terlambat sudah bagi Esta untuk protes, karna kini ponselnya sudah mendarat sempurna di telinga pria itu.
“Kamu kerumah? Sorry ya Kash, kami lagi di puncak sama keluargaku.” Entahlah, tapi kedengarannya Rai sengaja memanas-manasi Akash.
“Ya udah deh.” Akhirnya Akash menutup telfon lebih dulu.
“Kok udah di matiin?”
“Dia yang matiin.” Bela Rai. Ia mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
“Cchhh!”
“Udah malem, masih mau di sini apa mau pulang sekarang?” Tawar Rai.
“Pulang yuk. Udah gak ada yang bisa di lihat.” Esta berdiri sambil menepuk-nepuk bokongnya. Diikuti oleh Rai kemudian.
Di perjalanan pulang, Rai tidak lupa untuk membeli oleh-oleh untuk nenek, om, dan tantenya. Di perjalanan, ia baru teringat sesuatu yang melintas di fikirannya. Tentang pergi ke Jogja.
“Tapi Ta, emangnya kamu boleh pergi ke Jogja? Perjalanan jauh lho itu? Nanti kalau ada apa-apa, gimana?”
“Gak tau juga, sih.”
“Nanti coba aku tanya sama Dokter Hafis, ya. Boleh apa enggak kamu ikut pergi.”
“Hm. Gak pergi juga gak apa-apa sih. Aku belum bayar ini.”
“Siapa bilang belum bayar? Kamu udah lunas, kok. Udah ku bayarin.”
__ADS_1
“Kamu seriusan bayarin aku?”
“Ya iyalah.”
Esta terdiam. Ia semakin merasa tidak enak hati kepada Rai.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mereka sudah memasuki pekarangan villa. Esta segera keluar dari dalam mobil sementara Rai sibuk dengan oleh-oleh yang ia beli tadi.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Rai.
“Wa’alaikum salam.” Jawab semua orang yang sedang berkumpul di ruang santai.
“Udah pulang kalian?” Tanya Citra.
“Iya, Tante.” Jawab Rai. Ia meletakkan oleh-oleh yang ia bawa ke atas meja.
“Di ajak kemana aja, Ta? Udah makan?”
“Di ajak kemana tadi?” Tanya Esta yang lupa kepada Rai.
“Puncak Pass.” Jawab Rai.
“Oh, iya. Puncak Pass, Nek. Kami udah makan kok Nek.”
“Wiih seru tuh jalan-jalan malam minggu. Pasti rame.” Pras ikut menimpali.
“Padet, Om. Tapi gak sampe macet sih.” Jawab Rai.
Setelah itu mereka mengobrol ringan bersama sebelum Rai mengajak Esta untuk pergi ke kamar atas.
“Masih jam segini udah mau tidur?” Cegah salamah.
“Biarin aja lah, Ma. Mumpung masih muda.. Hihihihi.” Ucap Citra sambil mengu lum senyum mencurigakan.
Esta tidak mengerti kenapa Citra tersenyum begitu aneh. Ia melihat kepada Rai yang juga ikut tersenyum menanggapinya. Semua orang juga tersenyum melihatnya. Hanya dia yang tidak mengerti.
“Iya lah. Pengantin baru... Heheheheh.” Pras ikut menimpali.
Walaupun merasa kalau mereka sedang mentertawakannya, namun Esta tetap mengikuti Rai untuk pergi ke kamar atas.
Esta sedang membersihkan muka di kamar mandi sambil mengganti baju untuk tidur. Ia memang tidak membawa baju tidur, ia hanya mengambil baju tidur yang ada di dalam lemari untuk ia pakai. Ia tidak peduli itu milik siapa.
Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas dan membawanya ke meja belajar yang ada di pojok ruangan.
Rai mengernyit heran. Tidak biasanya Esta yang berinisiatif lebih dulu untuk belajar. Biasanya ia yang memaksa barulah Esta mau belajar.
“Mau belajar? Gak capek? Gak ngantuk?” Tanya Rai heran.
__ADS_1
“Enggak. Masih fresh.”