Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 83. Seindah Kenangan Masa Lalu.


__ADS_3

Sena: “Ta? Udah pulang belum?”


Sena: “Ta? Kamu dimana? Kok gak bales chat ku?”


Sena: “Ta?”


Sena: “Esta?”


Dan masih banyak lagi pesan dari Sena yang masuk ke ponsel Esta sejak beberapa jam yang lalu. Baru setelah jam empat pagi, saat Esta dan Putri pulang ke rumah, Esta baru melihatnya. Saking Senangnya berjalan bersama teman-temannya membuat Esta melupakan ponselnya.


Esta: “Sena? Maaf. Aku baru pulang dari acara reuni. Aku gak sempet lihat HP. Sorry.” Balas Esta.


Namun Sena tidak lagi membalasnya. Sepertinya teman media sosialnya itu sudah tertidur.


Esta tidak menggubrisnya. Ia hanya terus mencuci muka dan mengganti pakaian dengan piyama tidur kemudian berbaring di ranjang. Ia merasa lelah namun ia merasa bahagia. Menghabiskan waktu dengan teman-temannya membuat fikirannya kembali segar.


Namun seberapapun ia mencoba untuk tertidur, ucapan-ucapan Tina terus terngiang di kepalanya. Ia sebal kepada dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia merasa kesal seperti itu.


Setelah berusaha keras untuk terpejam, akhirnya Esta tertidur juga. Ia sudah disambut oleh mimpi indah dari kenangan masa lalunya.


Esta baru terbangun setelah jam 11 siang. Itu juga saat Putri mengetuk-ngetuk kamarnya untuk membangunkannya.


“Apasih, bangunin. Masih ngantuk aku tuh.” Protes Esta sambil mengucek-ucek matanya. Ia masih mengantuk tapi ketukan Putri memaksanya untuk membuka pintu.


“Iya. Aku juga masih ngantuk. Tapi lihat noh si Akash udah nongol. Sama Mas Oza.”


“hah? Mas Oza? Gak salah?” Seketika sisa rasa kantuk Esta menghilang entah kemana. Ia melongok kearah ruang tamu dan Akash terkekeh melihatnya.


“Udah cepetan cuci muka.” Desak Putri lagi.


“Issshh!” Dengus Esta.


Setelah selesai mencuci muka, Esta ikut bergabung bersama dengan Putri yang sudah menyuguhkan teh kepada kedua tamu mereka. Ia duduk di samping Putri dengan rasa kurang percaya diri karna penampilannya yang tidak biasa dalam balutan piyama tidur.


“Itu belek masih ada di mata.” Ejek Akash sambil mengu lum senyum. Tentu saja hal itu membuat Esta kelabakan dan langsung mengalihkan wajahnya kemudian membersihkan matanya.


Namun ternyata Akash hanya bercanda saja. Ia terkekeh melihat Esta. Dan akibatnya, sandal yang sedang di pakai Esta hampir melayang ke pada Akash.


Masih untung ada Oza disana sehingga Esta jadi mengurungkan niatnya. Pada akhirnya ia hanya mencibiri Akash yang masih terkekeh geli.


“Kok kalian bisa barengan sih?” Tanya Esta.


“Aku nginep di hotel juga. Gak tau kalau Mas Oza ternyata juga nginep di sana.”


“Ooh.”

__ADS_1


“Jangan marah ya, aku yang maksa Akash buat ke sini. Hari ini kalian gak ada kegiatan, kan? Jalan yuk.” Ajak Oza secara terang-terangan.


“Mau jalan kemana, Mas?”


“Gak tau juga sih. Enaknya kemana? Ke tempat yang belum pernah kalian datengin.”


Esta dan Putri saling tatap. Karna hampir semua tempat wisata di Jogja sudah di jelajahi oleh kedua wanita itu.


“Ya kalau kami sih, udah nyampe mana-mana, Mas. Manut mas Oza aja, mau kemana.” Jawab Esta.


Oza nampak berfikir sebentar. “Eehmmmm. Kalau pantai Siung, jauh gak dari sini?”


Deg. Pantai Siung?


Esta dan Akash saling pandang. Kemudian ia mengalihkan tatapannya kepada Putri.


Pantai Siung memang indah. Seindah kenangan yang masih tersimpan di ingatan Esta di pantai itu.


Entah kenapa beberapa hari ini semua hal yang berkaitan dengan Rai seolah memutar di kepala Esta. Orang-orang di sekitarnya terus menerus mengingatkannya pada pria itu. Bahkan ada yang membahas terang-terangan di hadapannya. Setega itukah waktu mempermainkan kenangannya?


“Ehm, kalau ke pantai Siung takut gak keburu, Mas. Soalnya aku masih ada kerjaan sore nanti. Lagian Esta juga mau pulang nanti sore.” Kali ini Akash seperti memahami perasaan Esta. Ia mencari alasan yang masuk akal untuk menolak Oza dengan halus.


“Ooh. Gitu.” Nampak raut wajah kecewa dari Oza. Namun pria itu berusaha untuk menutupinya dengan tersenyum.


Oza menggeleng. “Udah sering denger, sih. Tapi belum pernah kesana.”


“Mau kesana gak, Mas?” Tanya Esta dengan segera.


“Bolehlah. Ayuk aja kalau aku.” Akhirnya Oza setuju untuk pergi ke Tebing Breksi.


Dan siang itu, ke empatnya langsung meluncur ke tempat wisata Tebing Breksi dengan menggunakan mobil Akash.


Oza nampak terkesima dengan pemandangan yang ada di sana. Berkali-kali ia mengambil foto selfi dengan ponselnya.


Sebenarnya Esta dan Putri sudah bosan kesana. Karna mereka sudah berkali-kali pergi ke tempat itu. Tapi kali ini hanya untuk menghormati Oza saja agar mereka tidak terkesan sombong.


“Kamu udah punya pacar belum, Ta?” Tanya Oza ketika mereka sedang berdua.


Esta nampak terkejut dengan pertanyaan itu. Ia langsung menoleh dengan bibir ternganga.


“Oh, ehm. Maaf kalau aku lancang nanya ini ke kamu. Bukan bermaksud menyinggung.” Oza menjadi salah tingkah karna merasa bersalah.


“Enggak apa-apa kok, Mas. Untuk sekarang aku gak punya pacar.”


“Iya, kah? Kayak gak mungkin kamu gak punya pacar.” Seloroh Oza lagi berusaha mencairkan suasana  yang sempat berubah canggung.

__ADS_1


“Belum ketemu sama yang pas aja. Mungkin calonnya lagi di simpen. Hehehehehe.”


“Emangnya kamu gak kepingin buat berumah tangga?”


“Ya kepingin lah, Mas. Siapa cewek yang gak pengen berumah tangga. Tapi mungkin sekarang belum waktunya. Aku sih sabar dan santai aja.”


Oza mengangguk. “Kamu keren.”


“Keren dari mananya?”


“Ya pokoknya keren aja.”


“Iya kah? Hahahahahaha. Mas kapan balik ke Semarang?” Esta mengalihkan pembicaraan. Dia jengah membahas masalah itu.


“Kalau gak besok ya lusa. Masih ada urusan juga disini. Kamu?”


“Nanti sore, Mas. Karna besok pagi-pagi ada meeting sama klien penting.” Jelas Esta kemudian.


“Bicarain apa sih kayak serius banget.” Ujar Akash yang baru kembali dari kamar mandi. Dari tatapannya, ia tidak menyukai keberadaan Oza yang seperti dekat dengan Esta.


“Lagi PDKT. Hahahahahaha.” Seloroh Oza kemudian pergi untuk kembali mengeksplorasi tempat estetik untuk berfoto.


Akash mengikuti punggung Oza dengan ekor matanya. Ia mengambil duduk di tempat Oza semula.


“Dia nembak kamu?” Tebak Akash asal-asalan.


“Ngaco, kamu.” Hardik Esta kesal. Ia memukul lengan Akash pelan untuk melampiaskannya.


“Hahahahah. Jam berapa pulang? Mau di antar gak?” Tawar Akash lagi.


“Katamu masih ada kerjaan nanti sore?”


“Kamu tau aku bohong. Aku cuma gak mau kita pergi ke pantai itu. Aku tau kenangan apa yang ada disana. Dan aku gak mau ngelihat kamu sedih lagi.”


“Emang gak ngerepotin kalau kamu nganter aku?”


“Ya ampun. Kayak sama siapa aja kamu ini. Jam berapa? Biar kusuruh manajerku siap-siap.”


“Jam-jam 5 boleh lah.”


“Oke.” Jawab Akash yang kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi manajernya.


Esta merasa sangat berterimakasih kepada Akash. Perlakuan pira itu tidak pernah berubah sejak mereka di bangku SMA. Akash tetap baik padanya. Tetap perhatian padanya. Ia tau bahwa perasaan Akash masih ada. Ia bisa merasakannya. Ia juga ingin sekali saja membalas perasaan Akash. Tapi ia takut malah menyakiti hatinya jika pria itu tau kalau ia memaksakanperasaannya.


Untuk sekarang, ia dan Akash hanya akan bersahabat. Untuk kedepannya, ia menyerahkan semuanya kepada waktu.

__ADS_1


__ADS_2