Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 103. Ingin Menghancurkan Dinding Keraguan.


__ADS_3

Esta sudah mengupaskan jeruk ke tiga untuk Rai. Dan ia masih setia menyuapi pria itu. Membuat senyuman Rai semakin mengembang Senang.


“Jadi kemana kamu tadi, Ta?”


“Pulang. Mandi dan ganti baju. Emangnya Hera gak ngasih tau?”


Rai menggeleng sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan selanjutnya. Dan setelah buah jeruk berhasil mendarat di dalam mulutnya, ia segera mengunyahnya dengan semangat.


“Akash, baik-baik aja?”


“Menurutmu dia baik-baik aja?” Balas Esta.


Rai merengut sambil mengangguk.


“Tapi lebih parah kamu sih dari pada dia.”


Mumpung sedang membahas Akash, Esta ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka berdua. Kenapa sampai bergulat seperti anak kecil begitu.


Esta membetulkan tempat duduknya sebelum bertanya. Ia menatap Rai yang sedang asyik mengunyah.


“Kalian ini sebenernya kenapa sih? Kok bisa sampe berantem kayak gitu? Lihat ini, badan habis jontor begini. Siapa yang ngerasa sakit kalau udah begini?”


“Kami lagi ngerebutin kamu.” Jawab Rai santai.


“Memangnya aku barang? Pake main rebutan segala?”


“Ya abisnya. Aku sebel banget karna dia terus ngelarang aku buat deketin kamu. Dia bilang kalau aku selalu nyakitin kamu. Memangnya dia itu siapa?” Dengus Rai.


“Kan emang bener, kalau kamu udah nyakitin aku. Kamu udah bohongin aku dan permainin kepercayaanku.”


“Aku kan udah bilang kalau aku memang salah. Jadi apa hak dia buat ngehakimin aku kayak gitu?”


“Akash itu temenku. Sementara kamu, cuma bagian dari masalaluku, Rai.”


Seketika Rai langsung terdiam. Ia menatap Esta tidak terima. Ia tidak suka jika Esta menganggapnya seperti itu. Karna Esta, tidak pernah menjadi masalalu baginya. Esta tetap menjadi bagian dari tujuannya. Sampai saat inipun tetap begitu.


“Aku enggak. Aku sama sekali gak pernah anggap kamu masalaluku. Sekalipun gak pernah aku berfikir begitu. Karna sampai detik ini, tujuanku itu adalah kamu, Ta. Tujuanku gak pernah berubah sedikitpun. Gak pernah. Tega banget kamu anggap aku sebagai masalalumu.” Dengus Rai yang agak sedikit kesal.

__ADS_1


“Kalau gitu, aku harus nganggap kamu apa? Kan memang bener kamu masalaluku.”


“Kalau gitu, aku akan berubah dari masalalumu jadi masa depanmu. Aku bakal pastikan hal itu.”


“Rai....”


“Kan kamu udah maafin aku kan? Buktinya kamu mau ngurusin aku begini.”


Esta terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ia memang sudah memaafkan Rai. Tapi hatinya masih ragu tentang bagaimana ia harus melanjutkan hubungan mereka kedepannya.


“Coba bilang alasan kamu yang sebenernya, kenapa kamu pura-pura jadi Sena?”


“Karna aku gak mau kehilangan kamu.”


Esta mengernyit. Itu berbeda dengan alasan yang sempat di katakan oleh Rai waktu itu.


“Kamu gak akan tau gimana susahnya aku nahan rindu sama kamu, Ta. Aku bahkan hampir nyerah dan hampir pulang ke Indo saking kangennya sama kamu. Yang bisa aku lakuin disana cuma ngelihatin foto-foto kamu. Kalau mau nelfon, entah kamu yang kebetulan sibuk atau aku yang pas gak punya waktu. Itu bikin aku hampir gila tau gak?” Ujar Rai. Tatapan matanya menunjukkan ketulusan.


“Tapi aku Senang waktu kamu ngerasa nyaman cerita semuanya ke Sena. Jadi aku memutuskan untuk fokus jadi Sena sambil terus ngawasin kamu. Dengan gitu, aku bisa balik fokus sama studi dan tujuanku setelah aku yakin kalau kamu gak akan pindah ke lain hati selain hatiku.”


Esta masih terdiam untuk mendengarkan. Ia sama sekali tidak tau harus menjawab apa atau bersikap bagaimana.


“Perasaanku gak pernah berubah sama kamu, Ta. Sesuai janjiku.”


Esta memilih untuk mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ia tidak sanggup jika harus berlama-lama menatap netra Rai.


“Karna itu, aku akan berusaha sampai kamu mau balik lagi sama aku. Dan aku gak akan pernah ngelepasin kamu lagi. Kali ini, aku bakalan ngelakuin hal yang semestinya. Tanpa kesalahan apapun.”


Esta mencengkeram jemarinya. Dadanya hampir meledak saat ini. Tapi, masih ada sebongkah keraguan di hatinya.


Benarkah mereka bisa kembali bersama? Bagaimana kalau pada akhirnya ia akan merasakan sakit yang sama seperti waktu itu? Walaupun ia sudah sedewasa ini, tapi Esta justru malah semakin takut.


Karna ia sudah merasakan sakitnya, jadi Esta takut untuk memulai kembali. Apalagi dengan orang yang sama.


“Entahlah, Rai. Aku gak tau harus jawab apa. Hatiku masih dipenuhi oleh keraguan.”


“Ragu kenapa? Apa karna polisi itu?”

__ADS_1


Esta mengerti. Yang di maksud oleh Rai adalah Oza.


“Kami gak ada hubungan apa-apa. Cuma sebatas temen aja.” Jawab Esta.


“Terus? Kenapa kamu ragu? Aku tau kalau perasaanmu masih ada. Aku tau itu.”


“Bisa gak, kita gak usah bahas ini? Nikmati aja waktu kita saat ini.” Cegah Esta. Ia benar-benar tidak ingin membahas tentang perasaan atau apapun itu. Ia hanya ingin mereka menikmati waktu kebersamaan itu untuk saat ini.


Rai kecewa. Ternyata ia masih belum bisa merobohkan tembok keraguan di hati Esta. Ya, dia memang tidak memungkirinya, kalau rasa sakit yang pernah di rasakan oleh Esta pastilah sangat membekas di hatinya. Ia menyadari itu.


“Mau jeruknya lagi dong...” Pinta Rai.


Barulah Esta bisa tersenyum. Kemudian ia kembali mengambil buah jeruk dan mengupasnya kemudian menyuapkannya kepada Rai.


“Ahh, baru semalam disini aja rasanya udah bosan setengah mati aku.” Adu Rai.


“Kata dokter seenggaknya tiga hari di rawat baru boleh pulang. Lihat perkembangannya dulu.” Jawab Esta.


Rai semakin menunjukkan wajah malasnya. Terus berbaring seperti ini sama sekali bukan gayanya.


“Tapi gak apa-apa. Yang penting kamu selalu ada di deketku. Hehehehe.”


“Kalau udah sembuh kamu bakalan balik ke Jakarta lagi? Atau kemana?”


“Enggak. Aku mau tinggal di mess sama kamu. Kan udah ku bilang kalau aku bakalan terus berusaha buat dapetin kamu lagi...”


“Rai...”


“Oke, oke. Aku gak bahas itu lagi. Aku kan cuma jawab pertanyaan kamu doang.”


Hufh. Esta menyesal telah bertanya. Setitik celahpun akan di manfaatkan oleh Rai dengan baik untuk membahasnya.


“Mau jalan-jalan ke luar?”


Rai mengangguk. Lantas Esta berdiri dan mengambil kursi roda yang ada di pojok ruangan. Mendorongnya kembali ke ranjang dan membantu Rai untuk duduk di atasnya.


Esta mendorong Rai keluar dari ruangan VIP itu dan pergi menuju ke taman rumah sakit. Menyusuri sepanjang koridor sambil sesekali menertawakan sesuatu yang mereka anggap lucu.

__ADS_1


Hati mereka selalu condong antara satu sama lain. Tapi masih ada dinding keraguan di antara mereka untuk kembali memulainya. Rai ingin menghancurkan dinding itu sampai tidak bersisa. Selamanya.


__ADS_2