
Pagi ini, Esta sengaja bangun lebih awal untuk membereskan sisa barang-barangnya. Tidak banyak, hanya satu tas ransel berisi pakaiannya. Sedangkan buku-buku dan barang-barang lainnya, ia kemas didalam dua buah kardus mie instan dan di ikat rapi.
Ia merasa rugi karna seminggu yang lalu, ia baru saja membayar uang kos untuk bulan ini. Tapi tidak apa-apa, ia akan mengikhlaskan uang itu.
Hari ini Esta sengaja berlama-lama berangkat ke sekolah karna ia fikir Rai akan menjemputnya seperti kemarin. Namun ternyata salah, Rai sama sekali tidak datang untuk menjemputnya. Dan pada akhirnya Esta berjalan sendiri ke sekolahnya.
Untung saat bel masuk kelas berbunyi, Esta sudah ada di lantai 4 dan hendak masuk ke dalam kelasnya. Hampir saja Esta terlambat karna harapan yang sia-sia kepada Rai. Pria itu bahkan sudah duduk manis di kursinya sambil mengobrol dengan teman-temannya dan sama sekali tidak peduli dengan kedatangan Esta.
Begitupun dengan Esta, ia bersikap biasa saja dan langsung duduk di kursinya kemudian mengeluarkan bukunya.
Tidak lama kemudian Pak Jamil datang dan langsung mengabsensi anak muridnya.
“Hari ini, kita latihan soal ya. Gak lama lagi kan kalian udah ujian akhir, bapak mau kalian semua lulus dnegan nilai yang memuaskan.” Ujar Pak Jamil.
“Yyyaaaaahhhhh,, kok mendadak sih Pak?” Protes seisi kelas.
“Udah, jangan ribut. Akash, bagi soalnya ke temen-temenmu.” Perintah Pak Jamil karna akash duduk di bangku paling depan dan paling dekat dengan meja guru.
Akash segera mengedarkan lembaran soal-soal pilihan ganda dan essay itu kepada teman-temannya. Ia tersenyum saat memberikan lembaran soal kepada Esta.
“Makasih...” Lirih Esta kepada Akash.
Esta memadangi soal-soal yang di penuhi oleh rumus-rumus itu dengan pias. Pelajaran fisika adalah pelajaran yang paling tidak ia sukai. Hanya saat prakteknya saja ia suka karna ia bisa bereksperimen di laboratorium sekolah.
Memandangi kertas soal membuat Esta pusing dan tiba-tiba mual. Untunglah ia bisa mengendalikan perutnya walaupun ia harus menutup mulutnya kuat-kuat dengan tangan.
“Kenapa?” Bisik Rai.
Esta langsung menoleh. “Gak apa-apa.” Jawabnya. Kemudian ia kembali fokus kepada lembaran soal dan bersiap untuk mengerjakannya.
__ADS_1
“Ini soal-soal yang sering muncul di ujian. Pelajari baik-baik dan usahakan jawab dengan benar. Cepetan kerjakan, waktunya 40 menit.” Pak Jamil memperingatkan.
Hufhhh...
Esta hanya bisa menghela nafas karna ia sama sekali tidak mengerti bagaimana untuk menjawab soal-soal itu. Ia tidak memikirkan soal pilihan ganda karna ia bisa menyilang jawabannya sesuka hati. Tapi yang essay, ia tidak tau cara menjawabnya. Entah apa yang akan ia tulis di lembar jawabannya nanti.
Berbeda dengan Esta, pria yang duduk di sampingnya nampak santai saja mengerjakan soal-soalnya. Rai bahkan sudah menghabiskan selembar kertas untuk catatannya. Esta hanya bisa sesekali melirik ke lembar jawaban milik Rai dengan perasaan cemburu.
Betapa enaknya punya otak cerdas.
Sedangkan dirinya, hari-harinya hanya sibuk untuk mencari cara agar ia bisa makan besok. Ia tidak punya banyak waktu untuk belajar. Bisa mengerjakan PR setelah pulang bekerja saja, ia sudah berusaha keras untuk menyisihkan waktu dan rasa kantuk serta lelahnya.
Dan benar saja, bahkan sampai waktu habis dan satu persatu teman-temannya mulai mengumpulkan lembar jawaban, Esta masih memandangai lembar jawaban essaynya yang masih kosong. Dengan rasa tidak peduli, akhirnya ia tetap mengumpulkan lembaran itu walaupun ia hanya menjawab yang pilihan ganda saja. Ia tau kalau setelah Pak Jamil memeriksanya, ia pasti akan kena omel oleh wali kelasnya itu.
“Masih ada waktu setengah jam, jadi kalian kapan mau ngadain acara perpisahan kelas?” Tanya Pak Jamil.
“Masih lama, pak. Ujian aja belum.”
“Enaknya acara apa, Pak?”
“Ya terserah kalian. Mau bikin acara di sekolah, apa mau jalan-jalan kemana gitu.”
“Ke Joga enak kali, ya,,,” Celetuk salah satu murid.
“Iya, enak tuh jalan-jalan ke Jogja. Kita kan belum pernah ke Jogja. Cuma satu malam kan naik bis?” Timpal yang lainnya.
“Itu terserah sama kalian nanti di bicarakan antar kalian aja. Bapak mau balik ke kantor.” Ujar Pak Jamil yang langsung menyambar kumpulan lembar jawaban dan keluar meninggalkan ruang kelas.
Dan, seisi kelas menjadi riuh tentang rencana perpisahan mereka. Sebagian besar setuju untuk pergi ke Jogja dan menginap beberapa hari disana. Hanya beberapa saja yang merasa keberatan karna pasti biaya yang di keluarkan tidaklah sedikit.
__ADS_1
Dan Esta menjadi salah satu dari yang tidak menyetujui ide itu. Ia tidak punya waktu, terlebih ia tidak punya uang untuk membayar biaya perjalanan itu.
Tapi walaupun ia merasa keberatan, Esta tetap tidak berani mengutarakan pendapatnya. Ia tetap diam dan mendengarkan tanpa ikut berbicara.
“Kalau gak ikut, boleh kan?” Tanya salah satunya.
“Kenapa gak ikut?”
“Ongkosnya pasti mahal dan mamaku gak punya uang sebanyak itu.”
“Iya, aku juga mikirnya gitu, sih.”
Ternyata Esta tidak sendirian. Ada beberapa temannya yang juga merasa keberatan dengan ide itu. Untuk beberapa saat, suasana kelas menjadi hening karna mereka sedang memikirkan solusinya.
“Kita kan punya uang kas.” Celetuk Tria.
“Walaupun ada uang kas, tetep banyak kurangnya. Mungkin sekitar sejuta atau sejuta setengah. Belum lagi biaya penginapan dan lain-lain.”
“Kalau gak kita patungan aja.” Tiba-tiba Rai buka suara. Teman-temannya sontak melihat ke arahnya dengan tatapan heran. Bagaimana tidak, pria yang biasanya tidak peduli dan memilih untuk diam itu, kini ikut buka suara.
“Gimana maksudmu, Rai?”
“Jadi sistemnya gotong royong. Bagi yang mampu bayar penuh, ya bayar penuh. Bagi yang gak mampu bayar penuh, bisa bayar semampunya. Selebihnya, kita bisa patungan seikhlasnya buat bayar kekurangannya. Gak ada salahnya kan saling bantu. Ini kan perpisahan kita, jadi ayo kita buat seistimewa mungkin.”
“Aku setuju!” Pekik Tina lebih dulu. “Gak ada salahnya kita bantu temen kita supaya kita semua bisa pergi. Lagian, di kelas ini rata-rata anak orang berada. Ini moment terakhir kelas kita lho.”
Mendengar bujukan Tina, akhirnya mereka semua menyetujui kalau mereka akan mengadakan acara perpisahan dengan berlibur ke kota Jogja. Mereka akan menginap di sana beberapa hari dan berkeliling ke tempat-tempat wisata yang ada di sana.
Trio yang merupakan ketua kelas di percaya untuk mengkoordinir teman-temannya dan menyusun rencana perjalanan mereka selama mereka ada di kota gudeg itu. Ia juga bertanggung jawab untuk mencari penginapan yang bisa mereka gunakan selama berada di sana.
__ADS_1
Mereka bahkan melewatkan jam istirahat untuk membahasrencana perjalanan luar biasa itu. Ke kompakan murid di kelas itu bisa di acungi jempol. Saat itu juga mereka sepakat kalau mereka akan pergi awal bulan depan. Dan itu sekitar tiga minggu lagi, tepat satu minggu sebelum ujian.