Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 26. Dua Orang Yang Sedang Menguatkan Satu Sama Lain.


__ADS_3

“Aku selalu di lecehkan sama Ringgo. Udah gak terhitung berapa kali tapi aku berhasil lolos. Terakhir, malam itu, malam kita ketemu dijalan, dia hajar aku habis-habisan karna aku melawan dan menolaknya. Dan besoknya, bi Kanti langsung ngusir aku dari rumah. Aku gak sedih sih, aku malah seneng bisa lepas dari mereka dan pergi dari rumah itu. Aku fikir semuanya udah berakhir, tapi ternyata belum. Ringgo dateng ke warung dan bikin onar disana. Andai mama papaku masih ada, apa hidupku bakalan seberat ini?”


Rai hanya diam saja. Ia ingin memberikan Esta ruang untuk menceritakan apapun padanya. Ia hanya bertindak menjadi pendengar yang baik untuk mengurangi beban gadis itu.


“Orang tuaku meninggal pas aku masih bayi. Aku bahkan belum bisa mengingat wajah mereka. Waktu itu, kami mau pergi wisata ke Monas. Tapi nahas, angkot yang kami naiki, menerobos perlintasan rel kereta dan angkot kamipun ringsek di buatnya. Kamu bisa kok cari beritanya di internet. Orang-orang bilang, sebuah keajaiban kalau aku selamat dari kecelakaan itu. Mereka bilang aku di lindungi malaikat karna aku masih bayi sementara  semuapenumpangnya tewas. Mereka bilang aku beruntung. Entah keberuntungan macam apa ini....” Esta kembali terisak mengingat kemalangan hidupnya.


“Hemph, rupanya kita punya satu kesamaan. Aku juga, kehilangan dua orang yang paling aku sayangi. Mungkin kamu tau sebagian ceritanya dari tv. Waktu itu beritanya heboh dimana-dimana. Mama dan Kakakku, juga meninggal kecelakaan di jalan. Tapi hanya sebatas itu yang orang-orang tau. Mereka gak tau kenapa malam itu Mama dan Kakak nekat pergi dari rumah. Malam itu, Mama berantem hebat sama Papa. Masalah yang umum yang bahkan semua orang udah tau kalau Papa suka main perempuan waktu masih muda. Mama fikir, Papa udah berubah tapi nyatanya belum. Papa ke pergok pas lagi tidur sama cewek lain di hotel dan Mama udah gak tahan sama kelakuan Papa itu. Jadi Mama minta cerai dan Papa gak mau. Mama ngamuk supaya Papa mau ceraiin dia tapi ujung-ujungnya mereka malah berantem hebat sampai mama nekat pergi dari rumah sama Kakakku.”


Esta menatap Rai sambil mendengarkan ceritanya. Ia penasaran apakah mereka benar-benar punya luka yang sama.


“Sejak itu, hubunganku sama Papa gak pernah baik. Aku nyalahin dia atas semua yang terjadi. Kami sering berantem dan dia sering nampar aku kalau kesal. Aku berusaha mati-matian supaya gak jadi orang brengsek kayak dia. tapi yang ada, aku malah buat kamu kayak gini. Karna itu aku gak bisa nurutin omonganmu buat lepas dari tanggung jawab, Ta. Karna aku gak mau jadi orang brengsek kayak dia.”


“Jadi karna itu, Papamu gak dateng waktu kita nikah?”


Rai mengangguk. Sebenarnya ia merasa aneh saat harus menceritakan kisah lucunya itu kepada Esta. Tapi entah kenapa ia merasa nyaman menceritakannya.


Luka fisik, dan luka hati mereka sama. Walaupun datang dengan cara yang sama sekali berbeda. Lubang di hati mereka sama dalamnya walaupun dalam bentuk yang berbeda juga. Dua anak remaja yang memendam luka dalam itu, sedang berusaha untuk menguatkan satu sama lain


“Kenapa kamu cerita ke aku?” Tanya Esta kemudian.


“Entah. Aku ngerasa nyaman aja cerita ke kamu. Udah ah, masuk yuk. Dingin lho.” Ajak Rai sambil berdiri dan menepuk-nepuk bokongnya untuk membersihkan rumput yang menempel.


“Jam berapa ini?”

__ADS_1


“Setengah empat.” Jawab Rai, ia mengambil helmnya.


Esta juga langsung berdiri saat Rai sudah berjalan agak jauh di depannya. Suasana pagi buta yang sunyi membuat bulu kuduknya berdiri.


Ada senyum samar yang menghiasi bibir Esta dan Rai. Entah kenapa mereka bisa saling menguatkan begitu. Bahkan Rai sendiri merasa heran kenapa ia bisa seterbuka itu kepada Esta. Mungkinkah rasa iba yang membuatnya berlaku demikian? Padahal ia tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya kepada siapapun, bahkan kepada teman-temannya sekalipun.


Setelah masuk ke dalam rumah, Rai segera menggelar kasurnya di samping ranjang dan bersiap untuk tidur. Ia memang tidak mengantuk, hanya lelah saja. Tapi ia tetap harus tidur karna takut nanti malah mengantuk ketika di sekolah.


“Ngapain tidur di situ?” Tanya Esta heran setelah ia kembali dari kamar mandi.


“Memangnya mau tidur dimana lagi? Di depan gak muat kasurnya.”


“Ya kan bisa tidur di atas.”


“Aku gak bakalan bisa tidur. Udah jam segini juga. Tidur di atas aja.” Saran Esta.


“Kenapa gak tidur? Nanti di sekolah ngantuk.”


“Biasanya jam segini aku udah bangun malah. Aku mau nyuci aja. Mana baju kotormu, biar sekalian.” Esta menunggu jawaban Rai dan berdiri di ambang pintu kamar.


“Jam segini mau nyuci? Dingin lho, Ta.”


“Gak dingin kok. Udah biasa aku. Mana, sini.” Esta masih menunggu Rai mengambilkan pakaian kotornya.

__ADS_1


“Gak usah, aku biasa laundry.”


“Mending uang laundrynya buat aku aja, hehehehe. Laundry sama aku aja.”


“Tapi dingin, Ta...”


“Rai...” Kali ini Esta meminta dengan mimik wajah serius. Ia memaksa Rai untuk menurutinya kali ini.


Rai nampak terpaksa untuk mengambil pakaian kotornya dari dalam kantung plastik di samping lemari pakaian. Namun ia tetap melakukan itu dan memberikannya kepada Esta. Bukan Rai tidak tau maksud Esta yang sebenarnya. Gadis itu sedang menghibur diri dengan mencuci. Mungkin dengan mencuci, bisa mengalihkan kesedihan Esta, jadi Rai menurutinya.


“Pipimu gak di obatin dulu?” Tanya Rai lagi sambil memberikan pakaian kotor miliknya.


“Udah gak sakit banget kok. Gak ada bekasnya juga. Udah ilang.” Jawab Esta yang kemudian berjalan ke kamar mandi setelah menerima pakaian kotor dari Rai.


Dugaan Rai tidak salah. Karna begitu sampai di kamar mandi, Esta kembali menangis. Untung kali ini suaranya tersamarkan oleh suara air dan sikatan baju.


Namun walaupun demikian, Rai tetap bisa mendengar isaknya karna kamar yang dekat dengan kamar mandi. Pria itu jadi tidak tega untuk tidur. Jadi Rai kembali bangun dan berjalan ke meja belajar kemudian menyalakan laptopnya. Ia memilih untuk menghabiskan malam dengan bermain game saja.


Sedalam apa luka Esta? Seperti apa kehidupannya selama ini?


Pertanyaan itu terus timbul di fikiran Rai. Sebuah keinginan perlahan muncul di hatinya. Keinginan untuk membantu Esta tapi ia tidak tau caranya.


Namun, rasa ibanya itu berubah menjadi rasa bersalah kepada gadis itu. Perbuatannya telah menambah luka untuk Esta. Kebodohannya telah membebankan rasa sakit yang semakin dalam untuknya.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah rasa nyeri menyerang ulu hati Rai. Itu adalah buah dari penyesalan yang luar biasa di hatinya. Ia telah menyakiti gadis yang bahkan sudah penuh luka itu. Ia telah menambahkan luka itu dan entah bagaimana ia bisa menebusnya nanti.


__ADS_2