Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 49. Memaksa Diri Untuk Tidak Melampaui Batasan.


__ADS_3

Sabtu.


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh seluruh kelas 3.1 SMA Lentera Bangsa. Karna hari ini adalah hari dimana mereka akan berangkat ke Jogja untuk melakukan perpisahan dengan teman sekelas mereka. Mereka akan mengukir momen paling bahagia sebelum berpisah. Sekaligus untuk merayakan kelulusan mereka nanti.


Sejak pagi, Esta sudah sibuk menata pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya. Tas itu tidak penuh, karna memang ia tidak membawa banyak pakaian. Ia mengintip dompetnya yang kempes. Ada belasan lembar uang seratus ribuan di dalamnya. Itu adalah pemberian dari Salamah tempo hari saat mereka berlibur ke puncak.


“Gak usah, Nek. Aku ada uang kok. Lagian ongkosnya udah di bayarin sama Rai.” Tolaknya kala itu.


“Gak apa-apa. Ini beda. Masak kamu tega nolak pemberian Nenek sih, Ta?” Paksa Salamah dengan wajah memelas.


Jadilah Esta terpaksa menerima uang itu walaupun dengan perasaan tidak enak hati.


Hari ini, sekolah sengaja meliburkan mereka untuk bersiap-siap. Lagipula minggu depan sudah di mulai minggu tenang dengan di isi masa try out untuk ujian nasional yang akan segera datang.


“Ada yang mau di bantuin gak?” Tanya Rai memecah keheningan rumah yang seperti kuburan itu. Sepi.


“Gak ada.” Jawab Esta seadanya.


“Hufffhhhh...” Rai hanya bisa menghela nafas saja. Ia sama sekali belum menemukan alasan kenapa Esta sampai marah padanya


“Ta, aku salah apa sih?”


“Gak ada.” Jawab Esta yang masih sibuk merapikan pakaiannya ke dalam tas.


“Terus kenapa kamu marah? Apa karna gara-gara ulet kemarin?”


Esta terdiam. Tidak penting untuk menjawab pertanyaan itu.


“Ta, aku bingung lho kalau kamu diem terus begitu. Kalau aku ada salah, ngomong. Biar aku tau.”


“Kamu gak ada salah. Aku cuma lagi ngantuk aja. Capek.” Kali ini Esta membaringkan tubuhnya di kasur. Ia menarik selimut sampai menutupi tubuh bagian bawahnya.


Astaga. Rasanya Rai sangat frustasi.


Dan sepanjang siang, Esta hanya tidur dan tidur. Ia benar-benar membatasi interaksinya dengan Rai. Memeluk dirinya dalam balutan selimut tipis.

__ADS_1


Sekitar jam tiga sore, Akash datang dengan di antar oleh kakaknya. Ia mampir ke rusun untuk sekalian menjemput Rai dan Esta untuk pergi ke sekolah bersama-sama.


Esta sudah mandi dan siap sejak tadi. Tapi Rai, setelah Akash datang baru ia mandi dan bersiap-siap. Akash sudah memberitahu Rai dan Esta sejak kemarin kalau kakaknya yang akan mengantar mereka ke sekolah sore ini.


Rai merasa sangat risih saat mendengar Akash dan Esta bercanda dan tertawa saat ia sedang ganti baju di dalam kamar mandi. Ingin ia menyiram wajah Akash dengan satu gayung air.


Ia resah mendengar betapa Esta nampak sangat senang dan bahagia saat bersama dengan Akash. Tapi saat bersamanya, gadis itu seperti sedang berusaha menjauhinya. Sebenarnya Rai tidak tahan dengan itu.


“Buruan, Rai! Bang Akmal udah nunggu di bawah!” Pekik Akash memperingatkan.


Dengan sedikti membanting pintu kamar mandi saat membukanya, Rai melengos dan menghampiri Akash dan Esta di ruang depan.


“Ayo.” Ajaknya. Ia menyambar tas ranselnya dari dekat pintu dan menunggu Esta dan Akash keluar untuk kemudian mengunci pintu rumahnya.


“Berat gak, Ta? Sini aku bawain.” Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik tas, Akash langsung mengambil tas Esta begitu saja.


“Oh, makasih.”


‘oh makasih. Sama aku gak pernah bilang makasih begitu’ dengus Rai dalam hati. Ia benar-benar sebal melihat keakraban Esta dengan Akash.


“Tukeran dong, Kash. Aku duduk di depan. Takut mual.” Esta beralasan. Padahal ia hanya tidak ingin duduk di samping Rai.


Semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Akhirnya Rai dan Akash yang duduk di belakang. Akmal yang duduk di balik kemudi tersenyum ramah kepada Esta.


“Hai. Ketemu lagi.” Sapa Akmal.


“Halo, Mas...” Balas Esta.


“Emangnya kalian udah pernah ketemu?” Tanya Akash langsung. Ia terkejut dengan kalimat sapaan Akmal. Sementara Rai nampak ternganga dan mematung.


“Udah dong. Udah sering malah.” Seloroh Akmal. Ia senang menggoda. Padahal mereka baru bertemu satu kali saat akan mengantarkan Esta ke sekolah waktu itu.


“Wiiihh, tambah cantik aja kamu.” Goda Akmal.


“Udah deh Bang. Buruan jalan. Gak usah sok akrab gitu.” Hardik Akash yang tidak tahan melihat Akmal menggoda Esta.

__ADS_1


“Wesssss... Calon adek iparku kah?”


Kali ini gantian Rai yang mendengus kesal kepada Akmal. Sementara Akmal hanya terkekeh saja melihat kelakuan dua remaja pria itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala kemudian mulai melajukan mobilnya.


Karna di perjalanan tidak ada yang bicara, akhirnya Akmal memutuskan untuk mengobrol dengan Esta. Ia ingin menjahili Akash dan Rai yang jelas tidak menyukai kalau ia berbicara kepada Esta. Ia tahu kalau dua pria itu menyukai Esta. Ia bisa melihat dari tatapannya.


“Siapa namamu kemaren? Aku lupa.” Akmal mulai membuka suara.


“Esta, Mas.”


“Oh, iya. Esta. Udah punya pacar, Ta?” Sebuah pertanyaan konyol yang memancing cibiran dan lirikan tajam dari kursi belakang.


“Gak punya, Mas. Boleh dong kalau mau nyariin.” Kali ini Esta membalas selorohan Akmal. Ia juga bosan diam terus di dalam mobil.


“Oooh. Boleh banget. Kamu tinggal bilang mau yang gimana, nanti Mas cariin. Mau yang tajir plus ganteng? Yang biasa aja, atau yang lebih dewasa? Biasanya cewek suka yang lebih dewasa....”


“Bang!!!” Hardik Akash dan Rai berbarengan. Membuat Esta terkejut dan langsung menoleh kepada mareka.


Akmal terkekeh kecil. “Apa sih? Kalian ini. Berisik amat. Diem deh. Aku lagi serius ini sama Esta. Jadi Ta, mau yang lebih dewasa? Atau yang lebih muda?”


“Lebih dewasa kayaknya enak ya, Mas. Ngerasa ada yang neglindungin gitu gak sih?”


“Hmmmm.. Ide bagus. Pas banget Mas punya banyak temen yang seumuran. Apa mau sama Mas aja?”


“Bang!! Berisik banget sih? Diem napa!” Secara terang-terangan Akash memberontak.


“Iya, berisik, bang.” Timpal Rai. “Jadi gak konsen ini, aku lagi nonton.” Rai beralasan. Memang Rai sedang fokus dengan ponselnya. Tapi ia tidak menonton apapun. Ia hanya melihat pesan yang masuk ke ponselnya.


“Wahh,, gak jadi deh, Ta. Kayaknya banyak yang keberatan kalau kamu sama aku. Hehehehehe.”


Esta hanya ikut tersenyum gamang kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela. Akmal kembali fokus ke jalan raya sementara Akash masih mengomelinya.


Dan Rai, ia sedang berusaha untuk menetralkan rasa was-was di hatinya. Ia kepikiran tentang ucapan Esta yang menyukai pria yang lebih dewasa darinya. Entah kenapa itu membuatnya menciut dan geram setengah mati.


Tidak berapa lama kemudian, mobil mereka telah sampai di sekolah. Di sana, sudah nampak banyak anak yang hadir. Mungkin tinggal menunggu beberapa saja yang belum datang.

__ADS_1


Sebelum turun, tidak lupa Esta mengucapkan terimakasih kepada Akmal dan Akmal kembali melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.


__ADS_2