Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 18. Menyerah Pada Setumpuk Cita-Cita Demi Pilihan Yang Bijaksana.


__ADS_3

Dan sore yang gerimis itu, Pras langsung pergi ke pondok Darussa’adah untuk menjemput Gus Kholiq. Tempat pukul 17.00, Gus Kholiq datang bersama dengan dua pengajar di sana sebagai pendampingnya.


Sekarang, semua orang sedang berkumpul duduk di ruang tamu. Mengobrol ringan sebelum masuk kedalam inti permasalahan yang sesunguhnya


“Oh, jadi ini calon istrinya Nak Rai?” Seloroh Gus Kholiq tersenyum kepada Esta.


Ia memperhatikan gadis setengah gemuk dengan rambut terikat ke belakang, mengenakan celana jeans hitam dan kaus abu-abu yang tertutup bleezer hitam itu dengan seksama.


Esta yang merasa tidak nyaman karna semua orang sedang memperhatikannya, hanya bisa mengangguk sambil memaksakan tersenyum.


“Tidak usah malu dengan keadaanmu sekarang, ini cobaan yang besar. Jadi, apa sekarang kamu sudah siap menikah dengan Nak Rai?” Tanya Gus Kholiq kemudian.


Ia sudah mendengar pertanyaan itu berkali-kali, namun saat Gus Kholiq menanyakannya, entah kenapa rasanya berbeda. Ia menoleh dan melihatRai yang masih duduk di samping pamannya. Dari tatapannya, sebenarnya ia masih ragu untuk menerima pernikahan ini. Ia takut jika mereka akan di keluarkan dari sekolah karna ketahuan sudah menikah.


Namun keraguan yang dirasakan oleh Esta malah membuatnya mengangguk tipis kemudian menundukkan kepala.


Gus Kholiq menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian ia menjelaskan perkara apa-apa saja  yang harus menjadi perhatian seperti yang sudah ia jelaskan kemarin kepada Pras dan Rai.


Esta nampak memperhatikan penjelasan itu dengan seksama. Tadi Pras juga sudah menyinggung perihal nasab anak yang lahir dari hubungan di luar nikah. Jadi Esta sudah sedikit mengerti tentang hal itu.


“Apa ada keluarga atau saudara yang bisa datang kemari?” Tanya Gus Kholiq lagi.


Esta menggeleng. “Saya tidak punya keluarga, Pak Kiayi.”


“Keluarga yang  bisa jadi wali nikahmu, juga tidak ada? Coba di fikir lagi, karna ini akan menjadi penentu sah atau tidaknya pernikahan kalian.”


Esta menggeleng lagi. Ia benar-benar tidak punya satupun keluarga. Dia menceritakan tentang Ringgo dan Kanti, keluarga yang ia tau namun Gus Kholiq berkata kalau mereka bukanlah wali bagi Esta karna sudah lain darah.

__ADS_1


“Jadi gimana Kiayi?” Tanya Prasetyo.


“Tidak apa, biar saya saja yang menjadi wali hakimnya Nak Esta. Sekarang, mari kita persiapkan semuanya. Nak Rai, apa kamu punya sesuatu yang bisa di jadikan mahar?”


Rai berfikir kemudian menggeleng. “Saya tidak sempat beli cincin, Gus.”


“Tidak harus cincin. Uang juga bisa.”


Rai mengeluarkan dompet dari saku celananya kemudian menghitung uang yang ada di dalamnya.


“Saya cuma punya ini, Gus.” Rai menunjukkan uang yang sudah ia pegang.


“berapa itu?”


“370.000.” Jawab Rai setelah menghitung uangnya.


“Alhamdulillah, itu saja Insha Allah cukup.”


Walaupun dengan riasan tipis, namun riasan itu mampu merubah Esta menjadi gadis yang sangat cantik. Mungkin karna Citra yang merupakan seorang pramugari jadi dia mahir berdandan.


Esta bahkan sampai pangling dengan bayangannya yang terpantul di cermin. Baru kali ini ia nampak luar biasa cantik dalam versinya. Memang dia tidak pernah merias diri sebelumnya. Yang ada hanyalah tato yang terbuat dari tamparan dan tendangan Ringgo padanya.


“Cantiknya. Senyum dong.” Seloroh Citra.


Esta menoleh kepada wanita itu dan tersenyum. “Terimakasih, Tante.” Ujarnya lirih.


“Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati ya. Inget ada bayi di dalam perutmu. Jalanin aja semua kayak biasanya. Dan satu lagi, sabar aja ngadepin sikap dingin Rai nanti. Anggap angin lalu aja.”

__ADS_1


Esta mengangguk. Ia mengerti maksud ucapan istri Pras itu. Karna ia juga tau sedingin apa sikap Rai bahkan dengan teman-temannya.


“Tapi, nanti kalau ada yang tau kalau kami udah nikah, gimana Tante? Aku bisa di keluarin dari sekolah.” Akhirnya Esta mengutarakan kekhawatirannya.


“Mudah-mudahan gak ada yang tau sampai kalian selesai ujian dan lulus.”


Ya, Esta juga berharap begitu. Astaga. Semuanya jadi kacau dan satu persatu kekhawatirannya mulai muncul. Ia benar-benar takut kalau ada temannya yang tau tentang ini sebelum mereka lulus.


Padahal kalau mereka tidak menikah, mungkin semua akan baik-baik saja seperti biasa. Dan ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ia sedikit menyesal telah membritahu Rai.


“Yuk, keluar.” Ajak Citra.


Esta keluar dari kamar dengan di gandeng oleh Citra. Sesaat, pandangannya bertemu dengan tatapan Rai. Esta nampak seperti gadis yang berbeda, cantik dengan pipi yang sedikit cubby.


Ia di dudukkan berdampingan dengan Rai yang sudah bersiap menjabat tangan Gus Kholiq sebagai wali hakim bagi Esta.


Tubuh Esta sedang gemetaran namun ia berusaha untuk mengendalikannya. Tidak bisa di pungkiri, ini merupakan sebuah peristiwa besar bagi dirinya. Dia memang tidak tau apapun tentang pernikahan, tapi dia tau satu hal, kalau pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main dan tidak bisa dianggap sepele.


“Saya terima nikahnya Semesta binti Alwin Danang dengan mas kawin berupa uang sebesar tiga ratus tujuh puluh ribu rupiah.”


Rai berhasil mengucapkan kalimat itu dengan satu tarikan nafas setelah dua kali gagal sebelumnya. Para saksi langsung mengucapkan ‘sah’ dan ijab itu di tutup dengan lantunan doa-doa yang dipanjatkan khusus oleh Gus Kholiq kepada kedua mempelai.


Setelah ijab kabul selesai, gemetar di tubuh Esta semakin menjadi. Ia bahkan harus merem@s jemarinya sambil meng-aminkan doa. Untung saja tangannya tersembunyi di balik hijab yang di kenakannya.


Setelah semua prosesi telah selesai, Rai dan Esta berkeliling untuk menyalami orang-orang yang ada disana. Saat sampai di hadapan Salamah, wanita itu tidak kuasa menahan tangis dan langsung memeluk Rai dan Esta dengan erat sekali. Ia membelai kepala keduanya yang berada di bahunya.


“Maafin aku, Nek...” Lirih Rai. Ia juga sedang menahan laju airmatanya.

__ADS_1


Rai merasa sudah mengecewakan neneknya. Ia tau betapa neneknya sangat menyayangi dirinya. Namun bukannya hal baik yang ia berikan kepada neneknya itu, justru kekecewaan dan masalah yang tidak main-main yang ia berikan. Padahal ia ingin membanggakan neneknya. Dia sudah menyusun setumpuk cita-cita untuk kebanggan itu. Namun sekarang semua terasa menjadi semu, tidak ada yang pasti.


Apalagi, dalam hati kecilnya, ia juga khawatir jika ada yang tau tentang pernikahan ini dan ia dikeluarkan dari sekolah. Namun untuk saat ini, ia berusaha menampik kekhawatiran itu dan memilih pilihan bijaksana untuk membayar kesalahannya. Masalah yang datang nanti, biar nanti saja di fikirkan solusinya.


__ADS_2