Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 91. Senangnya Mendapat Pengakuan Dan Pujian.


__ADS_3

Ketukan di pintu membuat Rai mengernyitkan matanya. Ia masih enggan untuk bangun. Namun ketukan itu tidak berhenti dan terus terdengar.


Sambil mengucek-ucek matanya, Rai bangun kemudian membuka pintu. Tapi rasa kantuknya tiba-tiba melayang saat mendapati Esta yang tengah berdiri di depannya. Sontak saja ia langsung sumringah dan merentangkan tangannya sambil merangsek mendekati Esta. Ia spontan ingin memeluknya.


“Mau ngapain?”


Esta mengernyit kemudian segera memundurkan langkahnya. Menatap aneh kepada Rai yang kini hanya bisa garuk-garuk kepala saja menyadari kekonyolannya.


“Hehehehehe. Aku pengen peluk kamu. Kangen.” Bisik Rai di dekat telinga Esta. Membuat Esta semakin mengernyit saja.


“Dasar mesum. Buruan keluar. Aku mau mandi dan ganti baju.” Ujar Esta kemudian. Ia nyelonong begitu saja melewati Rai dan masuk ke dalam kamarnya.


“Mau kemana?” Selidik Rai. Ia membuntuti Esta ke dalam kamar.


“Kenapa pengen tau?”


“Mau ikut dong.” Jawab Rai santai. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari Esta yang sedang mengambil baju di lemari.


“Yakin mau ikut?” Ejek Esta.


Rai segera menganggukkan kepalanya dengan kuat. “Mau kemana?”


“Mau ke pasar. Belanja.”


“Harus kamu kah? Emangnya gak ada yang bisa disuruh belanja?” Suara Rai nampak keberatan.


“Memangnya kenapa kalau aku yang belanja? Lagian Buk Narsih lagi kurang sehat. Kasihan kalau dia di suruh belanja.”


Rai mengangguk-angguk tanda mengerti. Ekor matanya tetap mengikuti Esta yang masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu setia menunggu Esta selesai dan keluar dari sana.


Setelah selesai mandi, Esta keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan siap. Ia hanya perlu menyisir rambutnya saja. Sementara Rai segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah selesai merapikan rambutnya, Esta keluar dari kamar dan masih di ikuti oleh Rai. Esta membiarkan saja pria itu megekori dirinya.


Di luar kamar, ternyata Giri sudah menunggunya. Ia berencana mengantarkan Esta ke pasar seperti biasa saat ia mengantarkan Bu Narsih. Pria itu manatap kesal kepada Rai. Ia bahkan sempat mencibir sedikit.


“Udah siap, Mbak?” Tanya Giri sumringah. Saat berdua bersama dengan Esta adalah waktu paling menyenangkan baginya. Maka dari itu Giri nampak sangat senang.


“Ayok.” Ajak Esta sambil berjalan ke arah parkiran mobil box laundry.

__ADS_1


Namun suatu kejadian tak terduga terjadi. Saat Rai dengan sigapnya menyambar kunci mobil dari tangan Giri dan terjadilah perebutan kekuasaan, eh, perebutan kunci mobil. Keributan itu membuat Esta langsung menoleh ke belakang.


Ternyata Giri kalah cepat karna Rai langsung memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya dan memeganginya dengan sangat erat.


“Kalian ini ngapain, sih? Kayak anak kecil banget.” Dengus Esta yang lama-lama merasa kesal juga dengan tingkah kedua pria itu.


“Ini si combro ini ngerebut kunci mobilku, Mbak.” Adu Giri berharap mendapat pembelaan.


“Kali ini biar aku aja yang nganterin nyonya Esta belanja. Ayo.” Ajak Rai yang langsung ngeloyor begitu saja masuk ke dalam mobil.


Esta hanya bisa menghela nafas saja. Ia tidak ingin terpancing emosi karna sikap kekanak-kanakan Rai.


“Terus aku gimana?” Tanya Giri yang tidak terima tempatnya di serobot oleh Rai.


Esta hanya menjawabnya dengan tatapan datar. Kemudian iapun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk manis di samping kemudi.


“Berangkatt!!” Pekik Rai dengan rianganya. “Kasih tau arahnya ya. Soalnya aku gak tau jalannya.” Imbuhnya kemudian.


“Hem.” Jawab Esta singkat.


Dalam perjalanan, Rai terus bersiul senang. Tak jarang ia bersenandung riang. Membuat Esta hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkahnya itu.


“Ehmmm.. Sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu?” Jawab Rai santai.


‘Apa? Dan selama itu kamu gak pernah sekalipun hubungin aku?’Esta meliirk kepada Rai.


“Terus selama itu kamu tinggal di Jakarta?”


“Enggak. Aku masih lanjut tinggal di Purdue buat lanjutin studi s2 disana. Setelah itu aku tinggal di Kanada, 2 tahun. Terus ya, begitu. Kesana kesini ngurusin bisnis dan baru balik Indo sekitar setahun lalu.” Jelas Rai lantang. Ia senang jika Esta bertanya tentang dirinya seperti itu.


“Ooh.”


Respon singkat itu langsung membuat Rai menoleh. “Pasti sulit ya ngurusin bisnismu sampai sebesar ini. Aku gak nyangka banget lho kamu bisa sesukses ini sekarang. Buat aku bangga aja.” Ujar Rai yang kemudian mengelus puncak kepala Esta.


Kali ini Esta tidak menghindar lagi. Ia malah senang mendapat pengakuan dan pujian itu dari Rai.


“Dulu aku selalu bayangin, kapan ya aku bisa makan dan beli sesuatu tanpa harus mempertimbangkan harganya? Dengan tekad itu, syukurlah aku bisa sampai disini sekarang. Walaupun sama sekali gak mudah sih perjalanannya.” Lirih Esta sambil mengenang masa lalu perjalanan bisnisnya yang penuhperjuangan.


“Kamu tau, yang buat aku lebih bangga sama kamu?” Ujar Rai.

__ADS_1


“Apa?”


“Kamu memperlakukan semua karyawanmu tanpa memandang siapa mereka. Memperlakukan mereka kayak keluargamu sendiri. Kamu makan makanan yang sama kayak apa yang mereka makan. Dan tidur di tempat yang sama kayak mereka. Gak ada batasan antara kalian. Aku bangga banget sama kamu, Ta.” Ujar Rai sambil tersenyum.


Cup.


Sebuah kecupan berhasil mendarat di pipi Esta saat mobil berhenti di lampu merah.


“Hei!!” Pekik Esta tidak terima saat Rai mencuri pipinya dengan ciuman.


“Hehehehehehhe.” Yang ada Rai malah terkekeh senang. Ia kembali fokus menjalankan mobil karna lampu sudah berubah hijau. Tidak peduli walaupun lengannya mendapatkan pukulan dari Esta sebagai tanda protes.


“Ini kemana lagi?” Tanya Rai masih dengan sisa tawanya.


“Depan, kanan!” Dengus Esta kesal. Bukan apa, sekarang ini jantungnya sudah hampir melompat keluar dari dadanya.


Rai terus mengu lum senyum kemenangan di bibirnya. Salah satu kebahagiaannya adalah saat melihat wajah Esta merona karena ulahnya. Itu sangat menyenangkan.


“Masih jauh?”


Esta terdiam. Ia sedang ngambek dengan membuang wajahnya ke samping.


“Ta? Malah diem. Mau di cium lagi nih kayaknya.” Seloroh Rai kemudian.


“Awas aja kalau berani!” Dengus Esta.


“Berani. Coba sini...” Rai terus menggoda Esta. Ia tidak pernah merasa puas dengan ulahnya itu. Ia bahkan bersikap seolah mendekatkanwajahnya kepada Esta dengan bibir yang maju.


Plak!


Dan alhasil sebuah pukulan kembali mendarat di lengan Rai.


“Hahahahahahahaha.” Rai semakin terkekeh. “Ini beneran kemana lagi?”


“Lurus aja itu nanti juga udah sampe.” Akhirnya Esta menjawab karna takut di cium lagi.


Dan benar saja. Tak jauh di depan mereka, nampak sebuah pasar dan Rai segera memarkirkan mobil di tempat parkir.


Begitu mobil berhenti sempurna, Esta segera turun tanpa menunggu Rai. Ia ingin membalas pria itu dengan berlari meninggalkannya. Ia masih kesal dengan kelakuan Rai yang tanpa rasa bersalah dan canggung seolah mereka selalu berhubungan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2