Semesta Rai

Semesta Rai
bab 95. Pelarian. Butuh Alasan Agar Tidak Menyalahkan Dri Sendiri.


__ADS_3

Rai segera berlari kecil menghampiri Esta yang nampak baru turun dari mobil. Tatapannya terlihat takut dan khawatir. Ada rasa bersalah yang berkelebat di netranya.


“Esta, please. Tolong maafin aku.” Mohon Rai dengan sungguh-sungguh. Ia mencegat lagkah Esta yang hendak masuk ke dalam gedung laundry.


Esta melangkah ke kanan untuk menghindari Rai. Tapi Rai mengikutinya. Kemudian ia menggeser ke kiri, dan Rai tetap mengikutinya.


“Hhhhh!” Hela Esta kesal. “Minggir.” Tegasnya.


“Enggak, aku gak mau minggir. Please maafin aku.” Mohon Rai sambil menggelengkan kepalanya. Matanya nampak berkaca-kaca menahan tangis dan kekecewaan atas kecerobohannya sendiri. Ia bahkan berusaha untuk meraih lengan Esta tapi wanita itu langsung mengelakkan lengannya.


Untung pada saat itu Giri bersama dengan temannya datang. Mereka baru saja mengantarkan cucian ke rumah pelanggan. Giri langsung berlari merangsek mendekati Esta dan Rai.


“Ada apa, Mbak?” Tanya Giri.


“Ri, tolong jangan pernah biarin orang ini masuk. “ perintah Esta tegas kepada Giri.


Giri sempat menoleh kepada Rai. Namun ia segera mengangguk menerima perintahnya dan maju menghalangi antara Esta dengan Rai.


Dengan bantuan Giri, Esta berhasil pergi dan masuk ke dalam laundry. Sementara Rai yang hendak mengikuti harus berhadapan dengan Giri yang menghalanginya.


“Ta!” Pekik Rai lagi. Ia berusaha keras untuk menaklukan Giri.


Esta benar-benar marah. Bagaimana tidak? Selama ini ia menganggap bahwa Sena itu adalah sahabatnya, teman bercerita yang tetap mau mendengarkan keluh kesahnya. Dan iapun dengan senang hati menceritakan semua hal kepada Sena. Termasuk tentang perasaannya yang masih tersimpan rapi untuk Rai. Ia merasa di tipu dan di permainkan oleh Rai. Itu membuatnya sangat marah.


Bukan hanya rasa marah saja yang sedang menggeluti hatinya. Melainkan rasa malu juga. Sebagian kisah yang ia bagikan dengan Sena adalah perihal Rai. Pias hatinya saat mengetahui kalau Sena adalah Rai.


Esta membanting tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya. Ia bisa mendengar kalau Rai masih berteriak memanggil-manggil namanya. Menutup telinganya dengan kedua tangan dengan bertumpu di atas meja.


“Tolong minggir, Ri.” Pinta Rai dengan frustasi.


“Kan udah denger tadi Mbak Esta bilang apa? Mendingan Om Bro cepetan pergi dari sini kalau gak mau Mbak Esta tambah marah.” Ancam Giri. Ia senang melihat mereka bertengkar seperti itu.

__ADS_1


Rai mengacak rambutnya dengan kasar. Ia benar-benar frustasi saat ini. Tidak pernah melihat Esta semarah itu sebelumnya.


Rai mendongakkan kepalanya ke arah kantor Esta. Berharap wanita itu akan terlihat disana. Namun harapannya sia-sia karna justru Esta malah menutup tirai jendelanya dengan rapat.


Dengan rasa kecewa, Rai memilih untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah ia duduk sempurna di belakang kemudi, Hera, sekretarisnya segera menutup pintu mobil kemudian melajukan mobil itu menjauhi area laundry.


Di dalam mobil, Rai terus menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak bisa di uraikan bagaimana kekecewaan yang tengah melanda hatinya. Ia menyesal, sungguh sangat menyesali perbuatannya. Lagi-lagi, ia tidak brefikir panjang tentang akibatnya.


Seolah Rai sedang menghianati hati dan tujuannya untuk melindungi Esta. Kini ia malah membuat wanita itu tersaiki karna ulahnya. Ia menyesal telah memberitahu Esta. Tapi ia hanya tidak ingin menyembunyikan apapun dari Esta. Ia hanya ingin bersikap jujur kepada wanita yang sangat di cintainya itu.


Entahlah, apa ini termasuk alasan untuk pelariannya karna rasa bersalah? Ia butuh pelarian agar tidak terlalu dalam menyalahkan dirinya sendiri.


“Bapak mau saya antar ke hotel, apa kemana?” Tanya Hera sambil fokus mengemudikan mobil.


“Antar ke hotel aja.” Jawab Rai. Kini ia sudah lumayan bisa mengendalikan perasaannya. Ia hanya terus memandangi foto Esta yang ada di ponselnya.


Itu adalah foto yang ia ambil saat mereka pergi ke puncak dulu. Bahkan sampai saat ini, senyuman itu masih bisa mengalahkan jingga. Karna senyuman itu pulalah ia bisa menjadi kuat.


Rai menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidur presidential room di hotel L. Ia menutup matanya dengan lengan sambil menengadah ke atas. Ia sedang mencari cara agar Esta mau memaafkannya.


Rai mencoba meraih ponselnya dan menghubungi Esta. Namun panggilannya langsung di tolak dan kemudian tidak dapat tersambung lagi. Sepertinya Esta benar-benar sangat marah padanya.


“Hhhhh.” Esta menghela nafas kasar saat ada panggilan masuk dari Rai. Ia langsung mematikan ponselnya saat itu juga dan berusaha fokus untuk mengerjakan pekerjaannya.


Ia baru terkejut saat mendengar ketukan di pintu ruangannya.


“Masuk.” Ujarnya.


Nisa muncul dari balik pintu dengan melongokkan kepalanya.


“Kenapa, Sa?” Tanyanya.

__ADS_1


“Buk, dari siang ibuk belum makan, kan? Ini aku bawain makanan.” Ujar Nisa yang menenteng sebuah kantung plastik berisi makanan kemudian meletakkannya di atas meja di samping Esta.


“Udah jam berapa emangnya?” Tanya Esta melirik jam tangannya. “Beneran udah jam 5?” Tanya Esta terkejut. Ia sama sekali tidak menyadari perputaran waktu yang berjalan.


“Ibuk ngerjain apa, sih? Sampe gak keluar-keluar?” Tanya Nisa penasaran.


“Oh, ini. Laporan dari cabang Solo, kok gak cocok sama datanya. Entah dimana selipnya. Udah kucariin dari tadi tapi gak nemu.”


“Masak sih, Buk? Padahal kemarin udah ku cek, gak ada yang salah kok.” Jawab Nisa. Ia jadi takut kalau ia lalai dalam pekerjaannya.


“Coba lihat ini.” Ujar Esta mengalihkan laptopnya kepada Nisa.


Dengan seksama Nisa memperhatikan layar laptop Esta. Ia mencari dengan cermat di bagian mana yang dikatakan Esta tidak sesuai. Ia bahkan menggeser-geserkan mousenya untuk mencarinya.


“Mana sih, Buk? Gak ada kok.” Ujar Nisa yang masih tidak menemukan kesalahan.


“Yang ini.” Ujar Esta dengan menunjuk salah satu sisi layar.


Nisa kembali mendekatkan wajahnya. “Ini udah bener kok, Buk. Udah sesuai sama yang di atas.” Jawab Nisa lega.


“Masak sih, Sa?” Esta tidak percaya. Ia juga ikut mendekatkan wajahnya ke layar leptop.


Esta mengernyit Heran. Entah kenapa penglihatannya kali ini sama benarnya dengan Nisa. Padahal ia yakin kalau bukan seperti itu yang ia lihat tadi.


Ternyata rasa sakit hatinyalah yang mengacaukan konsentrasinya. Otaknya tidak lagi bisa fokus dengan apa yang ia kerjakan.


“Mending Ibuk makan dulu, deh. Biar konsentrasi lagi.” Saran Nisa sebelum keluar meninggalkan Esta.


Esta mengangguk kemudian melirik bungkusan yang ada di sampingnya. Sebenarnya ia tidak merasa lapar. Namun ia tetap meraih makanan itu dan membukanya. Perlahan Esta mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


Rasa nasi padang itu terasa hambar di mulutnya. Entah kenapa di saat seperti ini Nisa malah membelikannya nasi padang. Karna fikirannya langsung tertuju kepada sosok Rai yang sudah membuatnya sakit hati dan menambah rasa teriris yang muncul di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2