
“Tante Esta!!!” Pekik suara mungil yang sangat di kenal Esta. Itu adalah Starla. Gadis kecil itu sedang berlari menuju ke arahnya. Rambutnya yang di kepang dua melambai-lambai dengan aksen pita berwarna kuning bunga matahari.
Starla langsung memeluk Esta dengan erat. Dibelakangnya, Oza dan Leka mengikutinya dengan mendorong koper masing-masing.
“Udah dari tadi, Mbak?” Tanya Leka.
Esta menggeleng. “Belum, baru nyampe juga.”
“Ayok.” Ajak Oza yang kemudian mendahului mereka untuk berjalan ke pintu masuk bandara.
Setelah check ini, mereka semua menunggu di ruang tunggu dengan Starla yang terus menerus bergelayut di pangkuan Esta.
“La, sini. Tante Esta cepek mangku kamu terus.” Panggil Leka.
Starla meringsut. Ia malah ganti mencibir kepada Leka.
“Ih, ini anak. Bandel kalau di bilangin.” Leka menatap penuh ancaman.
“Gak apa-apa kok, Ka. Gak capek.” Ucap Esta. Ia malah memeluk tubuh Starla dengan erat di pangkuannya.
Starla memang sangat manja kepada Esta. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali saja. Esta membuat bocah kecil itu merasa nyaman.
“Starla seneng gak mau dapet mama baru?” Tanya Esta.
Starla mengangguk antusias. “Seneng. Mama Putri orangnya baik. Cantik juga.” Jawab Starla dengan polosnya.
Bahkan Esta tdak menyangka kalau ternyata Oza dan Putri diam-diam menjalin hubungan setelah malam tahun baru itu. Padahal menurut Akash, Oza menaruh perhatian kepada Esta. Ternyata dia salah besar.
Kedekatan Esta dengan Oza hanya karna Oza butuh informasi tentang Putri yang sudah menarik perhatiannya. Tapi Esta memang tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.
“Orang tua Mas Oza, beneran gak jadi ikut?”
Oza yang sedang fokus dengan ponselnya langsung menoleh kepada Esta kemudian menggelengkan kepala.
“Gak bisa ninggalin kerjaan. Lagian ini kan cuma acara pertunangan sederhana aja. Cuma buat tanda ikatan. Nanti kalau kami nikah mungkin mereka pulang.”
“Memangnya orang tua Mas Oza dinasnya dimana?”
“Di Sulawesi.”
“Wah, jauh ya.”
__ADS_1
“Iya, makanya belum bisa pulang. Kalau pas nikah nanti baru pulang.” Jelas Oza lagi. “Nak, sini. Itu Tante Esta pegel kakinya pangku kamu terus.” Oza memanggil Putrinya.
Namun Starla masih menggeleng dan tidak mengindahkan panggilan ayahnya. Sibuk menggerak-gerakkan boneka teddy bearnya.
Esta hanya tersenyum saja melihatnya. Tidak masalah, karna ia juga tidak keberatan untuk memangku Starla.
Esta melakukan itu hanya agar ia bisa mengalihkan fikirannya. Sebenarnya ia sedang gugup dengan perjalanan ini. Bukan apa, Jakarta adalah kota yang sangat ia hindari setelah berhasil melepas masa remajanya di sana. Kota itu, penuh dengan rasa sakit untuknya. Disana tidak pernah memberikan kebahagiaan untuk seorang Esta.
Semua masa lalu terburuknya ada di Jakarta. Tapi ternyata ia tidak pernah bisa sepenuhnya lepas dari kota itu.
Kalau bukan untuk menghadiri acara Putri, ia tidak akan pergi kesana. Kali ini, ia harus menekan egonya demi sahabatnya itu. Tidak apa-apa ia terkenang dengan rasa sakit. Karna semua rasa sakit itu hanya bagian dari masalalunya saja.
Ah, andai saja semudah itu meyakinkan hatinya. Untung saja ada Starla sehingga ia jadi merasa terhibur.
“Tante, Om ganteng udah sembuh?” Tanya Starla.
“Om ganteng? Oh... Iya. Udah. Udah pulang ke Jakarta malahan. Nanti kita telfon dia supaya mau ngajak Starla keliling Jakarta. Oke?”
“Oke.”
Esta tersenyum. Ternyata Starla teringat dengan Rai. Padahal hubungan mereka tidak terlalu baik.
Pukul 14.05 wib, pesawat sudah mendarat di bandar udara Soekarno-Hatta, Tangerang. Disana, ternyata Putri sudah menunggu kedatangan mereka.
“Baik.”
“Starla tidur?” Tanya Putri kembali yan gmelihat Starla tertidur di gendongan Leka.
“Iya nih, Mbak. Kecapekan dia.” Jawab Leka.
“Oi! Aku disini.” Seloroh Esta.
“Hahahahaha. Cantikku juga ada disini. Ayok. Biar bisa istirahat.” Ajak Putri sambil membantu memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil di bantu oleh sopirnya.
Kedatangan Oza dan keluarganya di sambut dengan hangat oleh kedua orang tua Putri dan keluarganya. Malam ini, rencananya mereka akan menginap di rumah itu sebelum besok acara lamaran dan pertunangan sederhana.
Awalnya Oza hendak menginap di hotel, namun keluarga Putri melarangnya. Karna memang keluarga Putri merupakan keluarga pengusaha yang lumayan terpandang. Rumahnyapun tidak main-main besarnya. Jadi wajar kalau terdapat banyak kamar disana.
Esta dan Putri, juga Leka sedang berada di dalam kamar Putri. Ketiga wanita itu sedang mencoba-coba gaun tunangan yang akan di kenakan Putri besok.
“Wah, mbak Putri cantik banget padahal ini belum di makeup. Kalau udah di poles sedikit, beuuuh, bisa mimisan Mas Oza besok.” Seloroh Leka yang langsung di sambut oleh gelak tawa Esta dan Putri yang merona.
__ADS_1
Putri t au. Di balik suara tawa yang terdengar dari Esta, ada luka yang masih tersimpan di hatinya. Ia merasa tidak enak saat memaksa Esta untuk datang ke Jakarta. Karna ia tau cerita apa yang di lalui Esta selama berada di Jakarta dulu.
Putri meraih tangan Esta dan menggenggamnya kuat. Kemudian merengkuh tubuh Esta dan memeluknya.
“Maafin aku ya, Ta. Seharusnya aku gak maksa kamu buat dateng ke sini. Tapi aku gak punya temen kalau kamu gak dateng.” Bisik Putri.
Esta tersenyum. Padahal ia sudah menyembunyikan raut wajah sedihnya. Tapi ternyata Putri bisa membacanya.
“Gak apa-apa. Udah saatnya aku move on dari masa lalu. Aku udah gak mau kabur lagi.” Esta sedang menghibur dirinya sendiri.
Putri melepaskan pelukannya, menatap Esta sambil tersenyum. “Aku tau. Kan kamu perempuan kuat. Kamu bisa sehebat ini berkat usahamu sendiri. Aku bangga sama kamu, Ta...”
“Makasihhh...” Esta senang mendapat pujian itu.
Esta belum menceritakan perihal hubungannya dengan Rai yang sudah membaik. Ia masih bingung cara memberitahu Putri. Karna sudah bisa di pastikan bagaimana reaksi Putri saat mendengarnya. Resiko terburuk, dia bisa mengomelinya seharian penuh.
Astaga! Esta lupa untuk memberitahu Rai tentang kedatangannya.
Dan di saat yang bersamaan, ponsel Esta berbunyi. Tentu saja itu adalah telfon dari Rai.
“Ehm, aku keluar bentar ya. Mau angkat telfon.” Pamit Esta yang segera keluar dari kamar Putri.
Dengan hati-hati Esta mengangkat telfon itu. Dan benar saja, Rai langsung mengomel dari seberang.
”Ya ampun Sayang. Aku udah nungguin telfon kamu dari tadi.”
“Hehehehe. Maaf, Mas. Aku lupa.”
“Padahal aku udah rencana buat jemput kamu di bandara. Sekarang lagi dimana?”
“Lagi di rumah Putri”
“Aku jemput, ya. Kita makan malam di luar.”
“Tapi aku gak enak sama keluarganya Putri, Mas. Mereka udah masak banyak soalnya.”
“Gak apa-apa. Aku kangen. Shareloc yaa...” Ujar Rai setengah memaksa.
“Yaudah deh. Bentar aku shareloc.” Ujar Esta yang kemudian mengirimkan lokasinya kepada Rai.
“Oke, tunggu. Abis maghrib aku meluncur.” Janji Rai.
__ADS_1
“Iya.”