Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 67. Guntur Yang Membuat Dunia Serasa Runtuh.


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir ujian. Mata pelajaran yang di ujikan adalah fisika dan biologi. Hari ini wajah Esta semakin pucat saja. Perutnya juga semakin tidak nyaman. Bahkan sesekali timbul rasa nyeri di bagian bawah perutnya.


Namun Esta tetap bertahan. Ia harus menyelesaikan ujian hari ini dan semuanya akan berakhir. Ya, ia harus bertahan sedikit lagi.


Mendekati menit-menit terakhir, rasa sakit di perut Esta semakin menjadi. Mungkin itu karna sudah dua hari ini ia tidak nafsu makan. Apalagi sarapan. Mungkin maghnya kambuh sehingga perutnya terasa sakit. Tapi rasa sakit yang dia rasakan sekarang tidak seperti sakit magh yang biasanya.


“Kamu sakit?” Tanya pengawas ujian yang sedang berkeliling kelas.


“Enggak, Pak.” Jawab Esta. Hanya tinggal tiga soal lagi yang belum ia jawab.


“Tapi mukamu pucet gitu. Udah selesai belum? Kalau udah pergi ke UKS aja.”


“Dikit lagi kok Pak.” Esta bersikeras untuk menyelesaikan ujiannya. Sesekali ia memegangi perutnya yang terasa di pelintir.


Setelah mengumpulkan lembar jawaban, Esta kembali duduk di kursinya. Ia menangkupkan tangannya di atas meja sebagai sandaran kepala. Berkali-kali ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya untuk membuat perutnya kembali nyaman.


Semakin lama, perutnya semakin terasa sakit. Ia merasa seperti ingin buang air besar. Ia ingin pergi ke kamar mandi namun ia tidak punya sisa tenaga lagi. Esta seperti bisa merasakan ada rembesan cairan yang mengalir dari selangkangannya. Karna sudah tidak ada orang lagi di dalam kelas, ia mencoba merabanya.


Esta terkejut saat melihat sebuah cairan merah seperti darah segar yang merembes dari celana da lamnya. Seketika ia di serang rasa takut yang luar biasa. Nafasnya seolah sedang berhenti di tenggorokan. Dadanya menjadi sesak tak karuan.


“Ta? Kok malah diem aja? Pulang yuk.” Ujar Rai menghampiri.


Esta menatap Rai pias tanpa ekspresi. Ia menunjukkan bercak darah yang ada di ujung jari-jarinya. Sontak Rai langsung terbelalak melihatnya. Ia meraih tangan Esta untuk melihatnya lebih dekat.


“Kamu kenapa? Kamu luka? Kenapa? Mana yang luka?” Tanya Rai panik.


“R-Rai. Ayo kita ke r-rumah s-sakit. Ak-ku ngelu-arin darah.” Lirih Esta terbata. Pandangannya menjadi berkunang-kunang. Ia tidak bisa fokus lagi melihat wajah Rai. Dan seketika, pandangannya menjadi gelap. Esta jatuh pingsan.

__ADS_1


“Esta!!” Rai nampak ragu walapun panik. Ia sempat mengira kalau Esta sedang mengerjainya seperti saat mereka di puncak dulu. Tapi melihat wajah Esta yang pucat pasi, Rai segera menggendong tubuh Esta dan berlari ke mobilnya.


Tidak ada Akash atau Putri. Akash sudah pulang lebih dulu karna harus latihan. Sementara Putri juga sudah pulang sejak tadi.


Hal itu membuat beberapa orang yang masih berada di sekolah melihat kepada mereka. Ingin tau apa yang terjadi, kenapa Esta di gendong oleh Rai?


Sebenarnya Esta masih sadar. Hanya saja tubuhnya merasa sangat lemah. Tulang-tulang sendinya serasa terkoyak. Ia masih sadar saat Rai menggendongnya. Namun matanya tidak mau terbuka berapapun ia berusaha untuk membukanya.


“Esta! Bangun! Tahan ya. Bentar lagi kita nyampe klinik.” Ujar Rai khawatir. Ia terus membunyikan klakson saat ada mobil yang berjalan lambat di depannya.


Sebuah keberuntungan kalau klinik Dokter Hafis berada tak jauh dari sekolah. Hanya sekitar 10 menit. Rai segera melajukan mobilnya ke arah klinik.


Sesampainya disana, para petugas medis segera membantu Rai untuk mengeluarkan Esta dari dalam mobil kemudian membawanya masuk ke ruang tindakan.


Rai segera menelfon Dokter Hafis yang sedang mengontrol pasien. Dokter itu segera mengalihkan sisa pekerjaannya kepada Dokter lain kemudian segera berlari menemui Rai di UGD.


“Dokter. Tolong Esta, Dok. Dia lemah. Katanya tadi dia ngeluarin darah.” Ujar Rai di penuhi rasa panik dan khawatir.


“Biar aku periksa dulu.” Ujar Dokter Hafis. Ia segera memeriksa kondisi Esta.


Namun wajah Dokter Hafis berubah pias denga alis yang berkerut. Ia semakin mendekatkan statoskop ke perut Esta. Merasa tidak yakin, Dokter Hafis meminta perawat untuk mengambilkan sebuah alat dan dia langsung kembali memeriksa Esta.


Sementara Rai sedang panik sambil menggigiti bibirnya. Ia terus melihat tindakan yang di lakukan oleh Dokter Hafis pada Esta. Ia tidak peduli saat orang-orang berbisik-bsik tentang Esta karna Esta yang mengenakan seragam sekolah. Ia tidak peduli dengan berbagai pendapat negatif yang muncul di tengah-tengah mereka.


Dokter Hafis kembali mendekati Rai setelah yakin dengan pemeriksaannya. Dari wajahnya, ia nampak ragu dan sedih saat hendak menyampaikan hasilnya kepada Rai. Dalam hati ia bedoa agar ia masih bisa menyelamatkan janin itu. Ia sedang mencari cara untuk menyelamatkannya. Namun setelah beberapa kali memeriksa, akhirnya ia tetap tidak menemukan jalan untuk menyelamatkan janin itu.


“Rai, maaf banget. Tapi anakmu udah gak tertolong lagi. Kita harus segera mengoperasi Esta. Kalau gak kondisinya bisa dalam bahaya.”

__ADS_1


Seketika dunia tempat Rai berpijak terasa runtuh. Ucapan Dokter Hafis seperti guntur yang menyambar di telinganya. Waktunya sedang berhenti berputar. Ia mengalihkan pandangannya kepada Esta yang nampak masih mengerang kesakitan.


“Rai?”


“I-i-iya Dok. Lakukan aja. Yang penting Esta baik-baik aja.” Ujarnya kemudian. Ia berjalan mendekati Esta, menggenggam tangannya dan mengusap kepala gadis itu. Kemudian ia mengecup kening Esta yang masih mengerang.


Petugas medis segera membawa Esta ke ruang operasi setelah mendapatkan instruksi dari Dokter Hafis. Operasi ini, Dokter Hafis sendiri yang menanganinya.


Rai sedang duduk termangu di depan ruang operasi saat Salamah dan Citra datang tergopoh-gopoh menghampirinya. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan Esta. Sebenarnya ia ingin menangis namun airmatanya tidak mau keluar. Kesedihannya dikalahkan oleh rasa khawatir tentang kondisi Esta.


“Rai? Gimana?” Tanya Citra.


Rai menggeleng. “Dokter Hafis bilang, anakku gak bisa di selamatin lagi, tante.” Ujarnya pias.


“astahgfiullah haladzim. Inalillahi wa’inailaihi raji’un.” Lirih Salamah mengelus dada. Kemudian ia memeluk cucu tersayangnya itu dengan sangat erat.


Baru setelah di pelukan Salamah, Rai bisa menumpahkan tangisnya. Airmatanya mengalir begitu saja tanpa permisi.


“Aku harus gimana, Nek? Gimana kalau terjadi apa-apa sama Esta? Hiks, hiks.”


“Sabar. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa sama Esta. Kita berdoa aja. Kamu yang sabar. Jangan putus doa.” Salamah berupaya untuk menenangkan cucunya.


Begitu juga dengan Citra. Ia ikut mengelus pundak Rai dengan perlahan. Ia juga menitikkan airmata saat melihat Rai menangis. Pilu sekali rasanya.


Menunggu operasi selesai adalah waktu terlama yang pernah dirasakan oleh Rai. Ia terus menggigiti jemarinya untuk mengusir panik. Berkali-kali ia merasa sudah tidak sabar untuk menunggu operasi selesai. Berkali-kali ia juga hendak masuk menerobos ruang operasi kalau Citra tidak menghentikannya.


Hati Rai sedang hancur berkeping-keping. Terlebih saat ia membayangkan bagaimana perasaan Esta saat tahu kalau ia sudah kehilangan bayinya. Pasti Esta lebih hancur daripada dia.

__ADS_1


__ADS_2