
Rai mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah perumahan yang sangat familiar bagi Esta. Ia tahu kemana Rai akan membawanya.
“Kita mau kemana?” Tanya Esta mencoba mencari tau. Padahal dalam hati ia sedang merasa gugup luar biasa.
“Jangan bilang kamu udah lupa jalan ini?”
Tidak. Esta sama sekali tidak lupa. Walaupun ia hanya beberapa kali melewatinya, tapi Esta masih belum melupakan jalan ini.
Jalan menuju ke perumahan sudah banyak berubah selama sepuluh tahun terakhir. Nampak berbeda, tapi Esta masih bisa mengingat beberapa bagiannya.
Dan benar saja dugaan Esta saat mobil mulai masuk ke halaman sebuah rumah besar yang sangat di kenal oleh Esta.
Ya, itu adalah rumah almarhumah nenek Rai.
Dada Esta sedang bergemuruh hebat. Semua kenangan-kenangan itu kembali mengusik ingatannya. Rasa rindu kepada sosok Salamah memenuhi rongga dadanya. Orang yang memperlakukannya dengan sangat baik padahal dia hanyalah orang luar saja. Dan sekarang sosok itu sudah tiada.
“Ayo, turun. Tante Citra udah nungguin kita.” Ajak Rai setelah mobil terparkir sempurna.
Ternyata, Rai sudah menyiapkan kejutan ini untuk Esta. Ia memberitahu Citra dan Pras tentang hubunganya dengan Esta yang sudah kembali membaik. Dan Rai juga memberitahu mereka kalau Esta sedang ada di jakarta. Langsung saja Citra menyuruh Rai untuk membawa Esta ke rumah. Dan disinilah mereka.
Esta keluar dari mobil dengan perlahan. Memandangi rumah yang ternyata tidak berubah sama sekali. Masih banyak tanaman kesukaan mendiang Salamah yang terjaga dengan baik di sekeliling halaman.
“Den Rai udah pulang?” Panggil Danang yang sudah berusia paruh baya.
Esta tersenyum dan mengangguk kepada Danang. Bahkan wajah Danang sudah dipenuhi oleh keriput samar. Ternyata sudah begitu banyak waktu yang berlalu. Dan ia masih tetap berada pada kenangannya.
“Tante di dalam kan, Mas?” Tanya Rai.
Danang mengangguk. Ia menatap kepada Esta seolah ragu untuk mengenalinya. Wajah Esta terlihat familiar, namun ia ragu.
“Iya, Mas. Ini Esta. Yang dulu itu...” Rai menjawab pertanyaan Danang.
“Ya ampun. Bener ternyata. Mbak Esta, apa kabar? Udah lama banget ya...”
“Baik, Mas. Mas Danang apa kabar?”
“Baik, baik. Ya ampun. Gak nyangka bisa ketemu lagi.”
“Ya udah, Mas. Kami mau masuk dulu.” Ujar Rai menyudahi obrolan mereka.
__ADS_1
Rai menggenggam tangan Esta dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Jujur, jantung Esta sedang dilanda kerinduan sekarang ini.
“Assalamu’alaikum, Tante!” Teriak Rai saat masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikum salam!” Jawab suara Citra yang langsung muncul dari dapur. “Ya ampun, Esta!!”
Citra langsung menghampiri Esta, menatapi wajahnya lekat-lekat dan kemudian memeluknya. Esta juga mencurahkan kerinduan itu dan kembali memeluk Citra.
“Tante apa kabar?” Tanya Esta yang airmatanya sudah menggenang di pelupuk.
Citra, wanita itu kenggunannya tidak berubah. Bahkan kecantikannya masih terpancar seperti sepuluh tahun yang lalu. Tanda-tanda orang yang pandai merawat diri.
“Baik, baik. Kamu gimana kabarnya? Makin cantik aja.” Seloroh Citra sambil mengusap airmatanya yang sempat meleleh.
“Baik, Tante.”
“Hhhh. Sayangnya nenek gak bisa ngelihat kamu datang sekarang.” Ujar Citra. Nada suaranya menyiratkan kesedihan.
Esta hanya tersenyum pias menanggapinya. Hatinya juga jadi mencelos.
“Om mana, Tan?”
“Lagi mandi. Tunggu aja bentar. Ayo kita tunggu di meja makan.” Ajak Citra kemudian.
Di meja makan, ternyata ada seorang gadis yang tengah sibuk dengan ponselnya. Itu adalah putri Citra yang sudah beranjak dewasa.
“Afni, ini Tante Esta. Kamu inget gak? Yang dulu pernah tinggal disini.” Ujar Citra mengejutkan putrinya.
Afni menoleh kepada Esta dan menatapnya lekat. Ingatannya terlalu samar untuk mengingat siapa Esta. Saat itu ia masih kecil dan tidak punya banyak kenangan dengan Esta.
“Ya ampun, ini Afni? Udah gede aja kamu. Udah kelas berapa sekarang?” Tanya Esta ramah yang kemudian mengambil duduk di samping Afni.
“Kelas dua smp, Tante.” Jawab Afni yang merasa sangat canggung terhadap Esta.
“Wah. Keren. Maaf ya, Tante Esta gak bawa apa-apa soalnya om Rai gak bilang kalau mau kesini.” Sesal Esta merasa tidak enak hati.
“Gak apa-apa kok, Ta. Dateng aja kami udah seneng.” Citra yang menimpali. Sementara Afni nampak tidak peduli dan kembali sibuk dengan ponselnya.
“Oh, kalian udah dateng?” Sapa Pras yang baru turun dan bergabung ke ruang makan.
__ADS_1
“Om...” Sapa Esta tersenyum dan mengangguk kepada Pras yang langsung mengambil duduk di tempatnya.
“Apa kabar, Ta?”
“Baik, Om. Om apa kabar?”
“Baik juga. Makin dewasa makin keliatan cantik kamu, Ta.” Puji Pras juga.
Esta tersipu karna semua orang memujinya cantik. Entah itu hanya sebatas basa basi, atau sebuah kejujuran. Tapi Esta tidak peduli. Ia merasa senang bisa bergabung dengan kehangatan keluarga Pras.
“Kita makan dulu ya. Lanjut ngobrolnya nanti lagi.” Ucap Citra. “Sar! Hidangin makanannya.” Pinta Citra kepada sisten rumah tangganya yang masih sangat muda.
Citra tidak tinggal diam, dia juga membantu untuk menghidangkan makanan ke atas meja, dan Esta ikut membantu juga.
Makan malam itu berlangsung dengan kehangatan antara mereka. Di selingi obrolan ringan dan tawa bahagia mereka. Rindu itu seolah terbebas dari hati Esta. Mengisi kekosongan hatinya selama ini tentang kehangatan keluarga. Sikap Citra dan Pras tidak berubah padanya. Tetap ramah dan hangat seperti dulu.
“Sekarang di jaga baik-baik Estanya, Rai. Jangan sampai lepas lagi.” Seloroh Citra setelah selesai makan.
“Hehehehehehe. Udah pasti, Tan. Kali ini aku gak akan nglepasin lagi. Udah di lem biar nempel terus. Biar gak hilang.” Rai ikut menimpali.
Selorohan Rai itu langsung di sambut oleh gelak tawa semua orang.
“Jadi Rai, kamu udah nemuin papamu?” Tanya Pras.
Rai menggeleng. “Belum, Om. Cuma aku udah ketemu sama pengacaranya kemarin.”
“Jadi kamu belum jenguk Mas Fandi?” Timpal Citra.
“Males banget mau jenguknya, Tan.”
“Mau jenguk bareng? Biar aku temenin.” Tawaran Esta itu membuat Rai terperanjat dan langsung menatapnya.
Tatapan Rai itu menunjukkan setumpuk pertanyaan dan perasaan khawatir dari Rai. Ia sangat menyadari seperti apa sikap ayahnya dengan Esta dulu. Dan ia beranggapan kalau Esta pastilah sangat membenci ayahnya. Tapi kenapa Esta malah menawarkan diri untuk menemaninya menjenguk ayahnya di penjara? Padahal banyak rasa sakit yang di sebabkan oleh ayahnya untuk Esta.
Tapi Esta hanya tersenyum saja. Tidak terlihat raut dendam atau marah dari wajahnya. Membuat Rai mengernyit tidak mengerti.
“Beneran kamu mau nemenin Rai, Ta? Kamu mau ketemu Mas Fandi, lho.” Tanya Citra tidak percaya.
Esta mengangguk. Dan anggukan itu membuat suasana berubah diam dan tenang. Tidak menyangka dengan sikap Esta yang ternyata sama sekali tidak membenci Fandi setelah apa yang Fandi perbuat kepadanya.
__ADS_1
*****
selamat hari senin teman-teman. mumpung hari ini pembagian vote, ayo doonngg kasih votenya buat semesta rai...