Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 127. Kenangan Yang Terselip Dalam Angka.


__ADS_3

Pagi ini ibu kota sedang di guyur hujan gerimis sedang. Tapi tetap tidak menyurutkan langkah orang-orang yang bersiap menjemput rezeki mereka.


Esta sedang memejamkan matanya dan membiarkan seorang MUA memoles wajahnya. Hatinya sedang berdegup luar biasa kencang saat membayangkan bagaimana Rai akan mengucapkan ijab kabulnya nanti. Kenangan sepuluh tahun lalupun kembali berputar di kepalanya. Apalagi di saat ia memejamkan mata begini.


Ketukan di pintu tidak membuat mua menghentikan aktifitasnya. Bahkan Esta tidak membuka mata karna mengira itu adalah salah satu anak buah mua.


“Widiihhh... Cuantik bener, Mbak.”


Suara itu, suara yang sangat familiar di telinga Esta. Ia tidak tahan untuk tidak melihat kalau Giri benar-benar ada disana.


“Ri!” Pekiknya senang. “Nisa juga?” Ujarnya tidak percaya melihat kepada Nisa yang tersenyum di samping Giri. “Kalian dateng? Katanya gak jadi dateng?” Protes Esta.


“Kejutan. Pak Rai yang nyuruh kami dateng, Bu. Dia yang bayarin ongkos kami semua kesini.” Jelas Nisa.


“Kami semua?”


“Iya, semua karyawan Semesta Laundry dateng, Mbak. Itu mereka ada di depan.” Jelas Giri lagi.


“Semuanya?” Esta tidak percaya dengan penjelasan dari Giri.


“Iya, semuanya. Semua orang dari cabang dateng tanpa terkecuali.” Jelas Giri sejelas-jelasnya.


Esta ternganga tidak percaya. Ini adalah kejutan yang sangat luar biasa dari Rai. Calon suaminya itu bahkan tidak pernah memberitahunya sama sekali.


“Ta, udah selesai belum? Udah hampir jam 9 nih.” Putri muncul dari balik pintu. “Oh, hai, Ri, Nisa.” Sapanya kepada Giri dan Nisa.


“Hai juga, Mbak Putri.” Jawab Giri dan Nisa kompak.


“Ehem!” Suara deheman itu membuat semua yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah pintu.


Akash sedang berdiri sambil bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Tersenyum kepada Esta kemudian berjalan mendekatinya.


“Kash!” Pekik Esta lagi. Karna kedatangan mereka semua, membuat kegiatan rias merias jadi  terhenti sementara.


“Wiiiiih, cantik banget yang mau jadi pengantin.” Seloroh Akash sambil memberikan sebuket bunga kepada Esta. “Selamat ya, Esta...”


“Makasih, Kash. Kirain gak dateng.” Ujar Esta.


“Ya dateng, dong. Masak sahabat nikah aku gak dateng.”


“Hei. Udah ngobrolnya nanti lagi. Udah jam 9 nih. Penghulunya udah pada dateng.” Putri memperingatkan.


Dan kemudian MUA berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Membuat wajah Esta menjadi pangling dan memancarkan kecantikannya.

__ADS_1


*****


Esta sudah duduk di kursi yang sudah di hias sedemikian rupa. Di sampingnya duduk pula Rai yang mengenakan pakaian dengan warna yang sama sepertinya. Aura pria itu memancar memenuhi seluruh gedung. Ketampananan memang mutlak menjadi miliknya.


Di seberang mereka, duduk Gus Kholiq yang akan menjadi wali nikah dari Esta. Dan satu orang perwakilan dari kantor KUA.


Saksi dari pihak mempelai laki-laki adalah Prasetyo. Sedangkan saksi dari pihak perempuan adalah Pak Guntur,  Direktur Sky Air Aviation.


Wajah Rai nampak tenang. Tidak ada yang tau kalau hatinya sedang melompat-lompat tak terkendali. Pernikahannya kali ini terasa lebih mendebarkan dibanding dengan pernikahan mereka yang pertama.


Kali ini, perasaannya luar biasa bahagia karna bisa mempersunting wanita yang di cintainya. Perjuangannya membuat semua kini terasa lebih indah dan sempurna.


Rai tidak berani melirik kepada Esta. Wlaupun keinginnya sedang memaksakan kepalanya untuk menoleh, tapi ia menahan diri sekuat mungkin. Ia takut, kalau ia menoleh dan menatap wajah calon istrinya itu sekarang, maka keberaniannya akan runtuh seketika.


“Saya terima nikahnya Semesta binti Alwin Danang dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar tiga ratus tujuh puluh ribu rupiah.”


“Bagaimana saksi?” Tanya penghulu.


“Saaahhhhhh!!” Semua yang ada menyaksikan momen sakral itu kompak menjawab.


Dada Esta sedang bergemuruh luar biasa. Bagaimana tidak, mahar yang di berikan oleh Rai adalah jumlah mahar yang pernah di berikan dulu. Bukan soal jumlah, tapi kenangan yang terselip dalam angka itu terlalu berarti bagi mereka. Angka itu penuh dengan kenangan menyayat sekaligus membahagiakan dari pernikahan singkat mereka.


Setelah merasa lega, barulah Rai memberanikan diri untuk menoleh kepada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


Setelah acara akad nikah itu, barulah kedua pengantin kini bersanding di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir.


Benar kata Rai, kalau ia mengundang sangat banyak tamu. Buktinya, gedung itu nampak penuh dan sesak oleh tamu-tamu mereka. Untung saja ada anggota Semesta Laundry yang dengan sigap membantu panitia. Bahkan tamu tak berhenti datang sampai jam 10 malam.


Esta sedang merasakan betisnya yang sudah menegang akibat terlalu banyak berdiri. Belum lagi ia harus mengganti gaun sebanyak dua kali. Ia ingin mengakhirinya tapi merasa tidak enak dengan para tamu yang masih terus berdatangan dan meminta berfoto dengan mereka.


Barulah setelah waktu menunjukkan pukul 11 malam, tamu sudah benar-benar berhenti datang. Esta merebahkan dirinya di sofa pengantin sambil memijat-mijat kakinya pelan.


“Kamu gak apa-apa, Sayang?” Tanya Rai khawatir.


“Capekkkk..” Eluh Esta.


“Udah selesai kok. Kita udah bisa pulang sekarang.”


“Bentar ya, aku hapus make-up sama ganti baju dulu.” Pamit Esta yang kemudian pergi bersama Putri ke ruang make-up.


Untung saja ada Putri yang membantunya membersihkan semuanya. Sehingga tidak memakan banyak waktu.


Saat Esta keluar, begitupun dengan Rai yang baru muncul dari ruang sebelahnya. Mereka sudah selesai mengganti pakaian dan saling melempar senyum.

__ADS_1


“Udah? Ayo.” Ajak Rai.


“Eleh, eleh. Kalian gak neglihat aku?” Protes purti tidak terima saat Rai tidak menganggap keberadaanya.


“Put, jangan ganggu pengantin baru dong. Aku serahin semua sama kamu dan Hera ya..” Seloroh Rai tak merasa bersalah.


“Hemmm.. Demi hari bahagia sahabatku, kali ini aku ngalah deh. Udah sana buruan pulang. Kasihan kakinya Esta udah sakit tuh.”


“Makasih banyak ya, Put.” Ujar Esta.


“Kalian mau pulang?” Tanya Citra menghampiri.


“Iya, Tan.”


“Ya udah. Pulang aja. Gak usah mikirin yang disini. Biar tante ikut bantu-bantu beresin juga.” Ujar Citra.


“Makasih, Tante...” Kata Esta.


Dan setelah itu Rai dan Esta berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan gedung. Melihat bosnya datang, Hera segera membukakan pintu mobil untuk Esta dan kemudian melajukan mobil mengantarkan Rai dan Esta pulang ke apartemen.


Sepanjang perjalanan, Esta terus memijati betisnya yang terasa kaku dan pegal. Rasanya sangat tidak nyaman.


“Kenapa? Sakit banget?”


Esta mengangguk.


“Coba sini lihat.” Rai tiba-tiba memegangi betisnya membuat Esta terjingkat karna terkejut. Dan sebuah tendangan berhasil melayang kepada suaminya itu. Tepat mengenai lengannya.


“Aduh!” Pekik Rai yang meringis memegangi lengannya.


“oh,, maaf, Mas. Aku gak sengaja. Lagian kamu ngagetin ih.” Bela Esta dengan tatapan menyesalnya.


“Ya kan aku cuma mau bantuin kamu.”


“Hehehe. Iya, maaf.” Sesal Esta lagi.


Tapi Rai tidak mempermasalahkan kelakuan istrinya itu. Ia malah terkekeh melihat wajah ketakutan dari Esta. Ia menarik kepala istrinya dan menyandarkannya di dadanya sambil mengelusnya perlahan.


“Gak apa-apa. Aku tau kamu pasti capek banget ya hari ini. Nanti sampe rumah langsung istirahat aja.” Janji Rai.


*****


Yakin mau di suruh istirahat? Hahahahahaha. Totor gak percaya sama kata-kata Rai. Dia itu penuh modus.

__ADS_1


Udah yaaa,,, pulang.. pulang.. acaranya udah selesai...hahahahahahahah. Tikarnya jangan lupa di bawa lagi....


__ADS_2