
Esta berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia berfikir bagaimana kalau ia tidak usah ikut saja karna ia memang tidak punya uang sama sekali. Belum lagi keadaan dirinya yang tengah berbadan dua.
Walaupun sudah di setujui kalau teman-temannya akan membantu biaya kekurangannya, namun ia tetap harus menyiapkan sejumlah uang. Tidak mungkin ia akan membebankan semuanya kepada teman-teman satu kelasnya kan? Padahal, ia sama sekali tidak punya uang.
Saat sedang melamun itu, ponsel Esta berdering dan ia segera mengangkatnya.
“Halo?” Tanyanya malas karna itu adalah telfon dari Rai.
“Udah selesai beres-beresnya?” Tanya Rai dari seberang.
“Udah.”
“Aku kirim alamatnya dan kamu bisa kesana naik taksi. Aku gak bisa jemput karna aku juga sibuk.”
“Aku naik trans aja. Gak punya uang buat bayar taksi.”
“Nanti aku yang bayarin kalau udah sampe.”
“Ya udah. Iya.”
“Jam 3. Jangan lupa.”
“Iya.”
Setelah itu sambungan telfon terputus.
Tidak lama menunggu sampai jam tiga. Setelah menurunkan satu-persatu kardus, Esta kemudian memesan taksi lewat aplikasi online yang ada di ponselnya. Tidak lama kemudian taksi datang dan sopir membantu Esta memasukkan barang-barangnya. Tidak lupa Esta berpamitan kepada ibu kos sebelum taksi membawanya pergi dari sana.
Esta menunjukkan alamat yang di kirimkan Rai ke ponselnya tadi kepada sopir. Sopir taksi yang seorang pria muda itu langsung mengemudikan taksi menuju ke alamat itu.
Sesampainya di halaman rusun, Esta mencari-cari sosok Rai dari balik jendela. Saat ia tidak menemukan pria itu, ia segera menelfon Rai.
“Aku udah di depan rusun. Kamu dimana?”
“Oh, iya. Bentar.” Ujar Rai yang langsung mematikan telfon secara sepihak.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Rai datang dengan berlari menghampiri Esta yang berdiri di samping taksi. Ia langsung mengeluarkan uang untuk membayar ongkos taksi dan setelah itu membantu Esta dengan menjinjing dua kardus dan mengajaknya pergi ke rumah yang akan mereka tinggali.
“Kamu bisa taruh baju-bajumu di lemari itu.” Rai menunjuk ke arah lemari pakaian yang ada di dalam kamar. Esta hanya menganggung mengiyakan.
Selebihnya, Rai sibuk menata barang-barang dan buku-buku mereka. Sementara Esta sedang terpaku di depan lemari pakaian.
“Kamu beneran nyuruh aku buat naruh baju di lemari ini?” Tanya Esta dari dalam kamar.
“Iya. Kenapa?”
“Tapi udah ada baju-bajumu di sini.”
“Ya memangnya kenapa?”
Esta terdiam. Ia hanya menghela nafas pelan sambil kemudian menaruh pakaiannya di lemari, bersama dengan pakaian milik Rai. Hanya pakaian dalamnya saja yang ia tarus secara terpisah dan menyembunyikannya.
Semua itu terasa seolah menyadarkan Esta. Kalau mereka benar-benar sudah menikah dan berstatus sebagai suami istri. Sebuah kejutan takdir yang terasa aneh mengingat mereka masih sekolah.
Esta memang tidak mempunya cita-cita apapun dalam hidupnya. Namun, ia menginginkan satu hal yaitu, setidaknya ia harus tamat dan mempunyai ijazah SMA. Ia sama sekali tidak ingin melanjutkan kuliah karna memang uangnya terbatas untuk itu. Dengan ijazah SMA, ia rasa sudah cukup untuk mencari pekerjaan yang bayarannya lumayan besar. Terlebih lagi, kecerdasannya sangat terbatas dan ia tidak mau pusing memikirkan pelajaran.
Untuk sampai di titik ini saja, Esta harus berjuang antara hidup dan mati di tangan Ringgo. Entah sudah berapa puluh kali pelecehan yang ia terima dari pria yang mengaku sebagai pamannya itu. Belum lagi sakitnya tamparan dan pukulan yang menyisakan lebam di tubuh dan kehancuran di hatinya.
Tapi, sekarang ini rencana itu belum bisa ia susun. Ia buntu jika memikirkan tentang arah pernikahan ini. Belum lagi bayi yang akan lahir kelak. Satu pertanyaan, apa ia dan Rai akan tetap berada dalam satu bahtera yang di sebut pernikahan ini? Bahkan tanpa cinta yang ada di antara mereka?
“Udah selesai belum?” Tanya Rai.
Esta terhenyak dari lamunannya. “Udah.” Kemudian ia keluar dari kamar dan menghampiri Rai.
Ia membuka kardus yang berisi buku-bukunya kemudian menatanya di rak buku yang ada di samping meja. Ia melirik ke arah laptop milik Rai yang sudah ada di atas meja.
Lama sekali keduanya terdiam dan hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Esta sedang di bingungkan oleh biaya perjalanan perpisahan ke kota jogja. Ia harus punya uang setidaknya separuh pembayaran. Ia tidak ingin malu dan merasa tidak enak hati kepada teman-temannya. Yang jelas, ia harus tetap bekerja di warung Pakde Karya walaupun jaraknya cukup jauh dari sini.
“Aku mau beli makan, kamu pesen apa?” Tanya Rai memecah keheningan.
Esta melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 17.06 WIB. Kemudian ia menoleh kepada Rai dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Gak usah. Bentar lagi aku harus berangkat kerja. Beli buat kamu aja.”
“Kamu masih mau kerja?”
“Uangku belum cukup buat bayar biaya perpisahan. Masih kurang banyak.”
“Tapi kan kita udah sepakat buat gotong royong bayarnya.”
“Ya biarpun begitu, aku gak mungkin gak simpen uang buat kebutuhan di sana, kan? Lagian aku juga gak mungkin ngebebanin temen-temen kita. Aku harus bayar setidaknya separuh, kalau bisa ya lebih.”
“Biar aku yang bayarin ongkosmu. Gak usah khawatir. Uangmu bisa buat beli kebutuhan pas disana jadi di simpen aja.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kamu yang bayarin?”
“Karna kamu udah jadi tanggung jawabku sekarang. Gak usah banyak protes. Aku ngelakuin ini cuma biar rasa bersalahku jadi berkurang.”
Esta semakin bingung dengan pernyataan dari Rai itu. Jadi secara tidak langsung, pria itu mengatakan kalau ia sama sekali tidak peduli dengan Esta. Yang Rai pedulikan hanya penyesalananya saja, begitu?
Walaupun merasa kesal, tapi Esta berusaha untuk menahan dirinya. Ia kembali melanjutkan membereskan barang-barangnya.
“Gak jadi keluar?” Tanya Esta karna Rai tak kunjung keluar padahal pria itu mengatakan kalau ingin membeli makanan.
“Nanti aja, sekalian nganterin kamu kerja.”
“Nganterin aku kerja?”
“Jangan overthinking dulu. Aku cuma gak mau anak itu kenapa-kenapa kalau kamu pergi naik angkot.”
Esta kembali mengernyit. Berarti Rai masih peduli dengan anaknya, sementara tidak dengan dirinya? Astaga, membingungkan.
“Terserah kamu aja.” Akhirnya Esta menjawab dengan acuh. Hatinya sedikit sakit saat menyadari kalau Rai sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Memangnya apa yang dia harapkan saat Rai menikahinya hanya karna rasa tanggung jawab terhadap janin yang di kandungnya? Padahal Esta sudah menyadarinya selama ini.
__ADS_1
“Hari senin nanti, nenek minta kita buat periksain kandungan kamu ke klinik kenalannya.”
Esta hanya mendengarkannya saja. Ia beralih memandangi ikan-ikan hias yang berenang kesana-kemari di dalam akuarium. Membuat Esta berfikir, mereka mungkin merasa tidak bebas berenang di tempat yang kecil seperti itu. Namun mereka terpaksa harus menerima nasib mereka karna manusia kagum dengan keindahan sisiknya.