
Taman rumah sakit nampak ramai oleh para pengunjung yang juga sedang membawa pasien. Esta mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang nyaman untuk Rai. Namun ia tidak melihat ada tempat duduk yang kosong.
Mereka baru saja mengantarkan Oza yang sudah kembali untuk menjemput putrinya.
“Di sana aja mau, gak?” Tanya Esta menunjuk ke arah bawah pohon yang rindang.
Rai mengangguk. Ia nampak pasrah kemanapun Esta membawanya. Yang penting bersama Esta, ia akan bersedia pergi kemanapun.
“Ah,, aku kangen sama Nenek...” Lirih Rai.
Ya, Esta juga.
“Pas Nenek meninggal kamu pulang?” Tanya Esta.
“Pulang. Tapi gak bisa lama. Cuma tiga hari abis itu langsung balik lagi.” Jawab Rai. Ia memandangi kerumunan keluarga yang nampak sangat bahagia dengan seorang wanita renta yang juga duduk di atas kursi roda seperti dirinya.
“Gak kerasa ya, udah sekian tahun aja yang lewat. Padahal kalau di ingat-ingat lagi, sulit banget ngelewatin hari-hari yang udah berlalu itu. Gak nyangka sendiri.” Lirih Esta.
“Ya namanya juga hidup, Ta. Di nikmatin aja.”
“Sok bijak.”
“Hahahahaha.” Rai malah tertawa mendengar cibiran itu. “Ta, coba sini lihat tanganmu ada apanya itu.”
“Apa? Gak ada apa-apa.” Jawab Esta yang membolak-balik tangannya.
“Sini.”
Esta mengernyit. Ia sudah meneliti dan tidak menemukan sesuatu yang aneh di tangannya. Tapi ia tetap memberikan tangan kanannya kepada Rai. Namun ternyata Rai hanya ingin menggenggam tangan Esta saja.
“Heh. Ngapain? Lepasih.”
“Gak mau.” Acuh Rai. Ia semakin mengeratkan genggamannya.
“Rai?”
“Udah diem. Kamu bilang aku harus nikmatin waktu selama kita ada disini. Jadi diem aja. Ini caraku menikmati waktu kita.”
Bukan apa, Esta hampir tidak bisa mengendalikan rona wajahnya sendiri. Ia malu kalau sampai Rai memergokinya.
“Dari dulu, cuma kamu yang bisa buat aku nyaman, Ta. Megang tangan kamu kayak gini tuh, rasanya sampe gak bisa di ungkapin pake kata-kata.”
“Lebay.” Hardik Esta. Padahal dia sendiripun merasakan hal yang sama.
“Hehehehehe.”
Esta sontak menarik tangannya saat ponselnya berbunyi. Ia segera merogoh kantung celananya untuk mengambil ponsel.
__ADS_1
“Iya, Kash?”
Rai langsung menoleh saat mengetahui kalau Akash yang menelfon.
“Pulang? Kapan? Emangnya udah baikan?”
Sementara Esta hanya mengangguk-anggukan kepala saja.
Rai berusaha mendekatkan telinganya kepada Esta untuk menguping pembicaraan mereka. Tapi sayangnya ia tetap tidak bisa mendengar apapun.
“Oke. Tunggu aku bentar.” Ujar Esta yang kemudian langsung mematikan ponselnya.
“Kenapa?” Tanya Rai curiga.
“Aku antar kamu ke dalam aja ya? Aku harus pulang sebentar. Katanya Akash mau pulang ke Jakarta nanti sore.”
Rai ingin menolak dan mencegah Esta untuk pergi. Tapi ia tidak mau bersikap egois saat ini. Ia tidak mau membuat Esta semakin menciptakan jarak dengannya.
“Ya udah.”
Esta kembali mendorong Rai masuk ke dalam ruangannya. Setelah menyelimuti Rai, ia pamit untuk pulang.
“Hati-hati di jalan. Jangan lama-lama!” Pekik Rai saat Esta hendak keluar.
Namun Esta hanya tersenyum saja sebelum menghilang di balik pintu. Meninggalkan Rai yang kembali di landa kesepian.
Disana, ia melihat Akash yang masih bergurau bersama dengan Bik Narsih di dapur. Pria itu sedang menyantap ayam goreng hasil masakan Buk Narsih dengan lahap.
“Oh, hai. Udah sampe?” Tanya Akash sumringah.
“Kamu beneran mau pulang? Dalam kondisi seperti itu?” Tanya Esta tidak yakin.
Namun Akash mengangguk mantap sambil terus menggigiti ayam goreng dan mengunyahnya.
“Aku udah jauh lebih baik kok.” Jawab Akash. “Gimana keadaan Rai?” Tanya Akash. Karna tadi pagi ia tidak sempat bertemu dengan Esta.
“Udah mendingan.” Jawab Esta dengan wajah murung. Ia mengambil 7duduk di depan Akash.
“Ada apa? Kenapa mukamu begitu?” Selidik Akash.
“Entahlah. Aku bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Mana jalan terbaik untukku dan Rai?”
“Kamu kan masih sayang sama dia?”
__ADS_1
“Huuuufffhh..” Hela Esta.
“Kenapa? Kamu takut akan kesalahan yang sama kayak dulu? Kamu takut di sakitin lagi?”
“Setelah aku fikir-fikir, itu bukanlah sebuah kesalahan, tapi sebuah pilhan. Malam itu, aku bisa aja memilih buat gak nurutin nafsuku. Aku bisa aja memilih buat gak biarin Rai melakukannya. Dan aku bisa aja memilih buat gak ngasih tau dia kebenarannya. Tapi balik lagi, aku memilih untuk membiarkan dia melakukannya dan memberitahu kehamilanku.”
“Kalau kamu udah berfikir begitu, apa yang buat kamu ragu?”
“Aku takut, Kash. Aku gak akan sanggup kalau harus terluka untuk ke dua kalinya. Cukup sekali aku ngerasain rasanya kehilangan. Itu udah cukup buat aku berfikir berkali-kali untuk kembali dengan Rai.”
“Di dunia ini, gak ada orang yang gak sakit kalau berurusan sama yang namanya kehilangan, Esta. Semua orang begitu. Gak ada yang siap. Tapi ini udah sepuluh tahun, Ta. Kenapa kamu nyimpen sakitmu begitu lama? Kalau Rai menyebab rasa sakitmu, biarin dia yang nyembuhin.” Ujar Akash. Ia meletakkan ayam gorengnya ke atas piring kembali.
“Karna gak ada orang lain yang bisa nyembuhinnya selain dia. Buktinya aku. Sepuluh tahun aku tetep ada di sampingmu, dan aku tetep gak bisa nyembuhin luka itu. Kamu pasti berani kok, Ta. Jangan takut. Rai yang sekarang udah berbeda dengan Rai yang dulu.”
“Dulu dia masih remaja dan labil. Dan kita semua begitu dulu. Tapi sekarang udah beda. Rai gak akan ngelakuin sesuatu tanpa berfikir panjang lebih dulu. Aku tau betul sifat dia kayak apa.”
Esta mengernyit mendengar rentetan nasihat itu. Ia mencibir Akash yang seolah tidak punya masalah apapun dengan Rai.
“Ngeliat kamu se antusias ini, kalian pasti udah baikan.” Ejek Esta.
“Kami gak bener-bener marahan kok.” Jawab Akash. Ia kembali mengambil ayam gorengnya. “Apa jangan-jangan, kamu mau sama Mas Oza?”
Pertanyaan itu membuat Esta melemparkan sedotan yang ada di atas meja ke pada Akash.
“Kenapa di hubungin sama Mas Oza, sih? Kan udah ku bilang kalau kami itu gak ada hubungan apapun.”
“Ya siapa tau. Mungkin jodohmu bukan Rai, tapi Mas Oza. Kamu cocok jadi ibu sambung Starla.”
“Bisa diem gak?” Ancam Esta.
“Beneran lho Ta. Mas Oza juga gak kalah keren dari Rai. Kan mereka itu sama-sama idola LB pada masanya.” Akash terus menggoda esta dan membuatnya terkekeh.
“Aku sama Mas Oza gak akan bisa bersama, Kash.”
“Kenapa?”
“Pokoknya gitu lah. Aku gak bsia ngasih tau kamu alesannya.”
“Kok gitu? Main sembunyi-sembunyi ya sekarang.”
Esta hanya menjulurkan lidah saja untuk mengejek Akash. “Dasar plin plan. Sebenernya kamu ini dukung siapa? Rai? Apa Mas Oza?”
“Aku gak dukung mereka berdua. Aku dukung kamu. Kamu inget aku dukung apapun keputusan kamu.”
Esta hanya tersenyum saja. Jujur, mendengar nasihat Akash, sedikit keraguannya mulai terkikis.
Memang ia tidak bisa selamanya hidup dalam cerminan masa lalu. Ia tidak bisa terus-menerus takut akan luka yang sama. Tapi yang namanya trauma, ia tidak bisa mengendalikannya.
__ADS_1