Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 41. Memperhatikan Secukupnya Saja.


__ADS_3

Sabtu pagi yang cerah, dan Esta masih enggan untuk menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bahkan tambah mengeratkan selimut itu. Menekuk kaki dan jemarinya. Pokoknya, ia masih ingin tidur lebih lama. Lagipula hari ini libur, jadi ia akan bersantai saja.


Ia membalikkan tubuhnya dan melihat kasur Rai yang sudah terlipat rapi. Kasur itu masih dalam posisi seperti itu sejak kemarin. Sepertinya Rai tidak tidur di kamar malam ini.


Merasa penasaran dengan Rai, akhirnya Esta memaksa tubuhnya untuk bangun. Ia menyibakkan selimutnya begitu saja tanpa melipatnya terlebih dahulu.


Ia keluar kamar dan tidak mendapati sosok Rai di dalam rumah. Rumahnya sepi sekali. Lantas iapun berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi. Tapi setelah ia selesai melakukan semua itu juga Rai tak kunjung pulang.


“Kemana sih dia?” Gumamnya pada dirinya sendiri.


Esta keluar dari rumah dengan hanya mengenakan daster batik berlengan pendek. Ia penasaran kemana Rai kok sepagi ini sudah tidak ada di rumah.


“Mau kemana, Ta?” Tanya Mbok Nur yang juga baru keluar dari rumahnya.


“Gak ada, Mpok. Mpok mau kemana? Rapi bener?” Tanya Esta kepada wanita yang memang selalu berdandan menor itu.


“Mau beli sayur di depan. Mau ikut?”


“Boleh, tunggu bentar, Mpok.” Ujar Esta yang langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang dan mengunci pintu. Tidak lupa ia memakai blazer tipisnya untuk menepis udara panas.


Lantas keduanyapun langsung turun dan pergi menghampiri gerobak sayur keliling yang biasa mangkal di depan rusun.


“Si Rai mau kemana pagi-pagi udah pergi?” Tanya Mpok Nur sambil memilih sayuran.


“Gak tau, Mpok. Gak bilang sama aku. Aku bangun dia udah gak ada.”


“Berapa ini, Bang” Mpok Nur bertanya kepada penjual sayur.


“Biasa, dua rebu.”


“Mahal amat, serebu yak?”


“Jangan lah, Mpok. Modalnya juga kagak nutup kalau segitu.” Jawab si abang sayur.


Walaupun sempat protes, tapi Mpok Nur tetap mengambil beberapa ikat daun singkong untuknya. Sementara Esta, ia hanya mengambil sebungkus tahu kuning, satu ikat daun singkong, sebungkus kecombrang, cabai hijau, tomat, dan setengah kilo udang basah.

__ADS_1


Total semua belanjaan Esta mencapai 46 ribu rupiah. Ia tidak pernah menawar saat berbelanja di pedagang kecil seperti itu. Ia tau pasti untungnya juga tidak seberapa. Anggap saja saling membantu.


Sebenarnya Esta masih ingin membeli buah jeruk yang hanya tersisa satu kilo lagi, tapi ia tidak membawa uang lebih. Itu saja, yang ia pakai adalah uang yang biasa di sisipkan oleh Rai di atas kulkas untuk keperluan Esta.


Rai selalu memberinya uang jajan setiap  hari. Namun ia enggan untuk menerimanya. Jadi Rai menaruh uang itu di atas kulkas agar Esta bisa menggunakannya sewaktu-waktu ingin membeli sesuatu.


“Noh si Rai udah pulang.” Ujar Mpok Nur menunjuk Rai dengan dagunya.


Nampak Rai yang sedang berjalan menghampiri mereka di gerobak sayur. Ia menenteng sebuah kantung plastik berukuran besar berisi tumpukan koran-koran tak terpakai.


“Sini aku bawain.” Tawar Rai meminta belanjaan Esta.


“Gak usah. Itu aja kayaknya udah berat gitu.” Tolak Esta. “Mpok aku duluan, ya.” Pamit Esta kemudian.


“Iya udah sono. Mpok nanti aja.”


Rai dan Esta berjalan beriringan pulang ke rumah mereka. Rai meletakkan kantung plasiknya ke dekat pintu sementara Esta menaruh belanjaanya di atas meja dapur.


“Dapet koran sebanyak itu darimana?” Tanya Esta.


Rencana Rai hari ini adalah, ia akan membuat tugas prakarya untuk ia dan Esta. Ia akan membuat beberapa perlengkapan rumah berbahan koran bekas. Seperti kotak tisu, vas bunga, bahkan piring dan tempat pensil.


“Aku mau masak dulu ya, nanti aku bantuin kalau udah selesai masaknya.”


“Oke...”


Ah, ternyata ada yang tertinggal. Rai lupa membeli lemnya. Ia lantas berdiri dan menghampiri Esta di dapur.


“Aku mau ke minimarket bentar, mau beli lem. Tadi lupa. Mau nitip apa?”


“Beliin snack.”


“Apa?”


“Terserah. Apa aja.”

__ADS_1


Rai langsung pergi ke minimarket di seberang jalan untuk membeli kebutuhannya. Sementara Esta sibuk memasak di dapur. Ia sedang membersihkan udang basah saat Rai kembali dari minimarket.


Rai mulai mengerjakan tugas prakaryanya dengan menggulung-gulung lembaran koran itu kemdudian mengelemnya. Perhatiannya memang nampak sedang fokus pada tangannya. Tapi ujung matanya sudah berkali-kali melirik punggung berdaster yang sedang sibuk kesana kemari di depan kompor. Ia tidak bisa menahan diri. Rasanya ia ingin berlari dan memeluk Esta dari belakang.


Gambaran adegan romantis yang entah kapan bisa ia tunaikan. Perasaannya terus tumbuh tapi ia tidak berani mengutarakannya walaupun hanya dengan tindakan. Ia merasa tidak pantas melakukan itu kepada Esta. Gadis itu sudah cukup terluka karna dirinya. Ia tidak ingin menambah bebannya lagi. Ia akan memperhatikan secukupnya saja.


Rai berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya. Sampai ia hampir menyelesaikan satu buah kotak pensil. Saat ia kembali melirik ke arah dapur, ia melihat Esta yang sedang selonjoran di lantai sambil memijati kedua lututnya.


Melihat itu Rai langsung berdiri dan berlari menghampiri Esta.


“Kenapa? Jatuh?” Tanyanya panik.


“Ha? Enggak, kok. Cuma lemes aja kakinya. Kebanyakan berdiri dari tadi.”


“Udah, gak usah masak lagi. Kita pesen aja.” Kali ini Rai sudah berjongkok dengan sempurna di samping Esta.


“Udah selesai juga masaknya. Tinggal makan.”


“Besok gak usah masak lagi. Kalau pengen apa ngomong aja, aku beliin.”


“Gak usah lebai deh, Rai. Aku cuma capek dikit aja, kok.”


“Aku cuman gak mau terjadi apa-apa sama anakku, Ta.” Nada bicara Rai berubah tegas. Padahal bukan itu yang ingin dia katakan. Yang sebenarnya ia khawatirkan adalah keadaan Esta.


Esta menatap sebal kepada Rai. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresinya lagi. “Anakmu gak bakal kenapa-napa. Gak usah takut.” Lantas Esta berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Rai menggaruk batang pelipisnya. Ia mengumpati dirinya sendiri karna tidak bisa mengutarakan apa yang sedang ia fikirkan.


Rai terpaku di depan pintu kamar mandi. Ia ingin mengetuk dan meminta maaf kepada Esta karna sudah menyinggungnya. Tapi ia masih tidak punya keberanian untuk melakukannya. Akhirnya ia berbalik dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tidak lama kemudian, Esta keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan Rai. Ia membantu Rai menyelesaikan tugas mereka.


Keadaan menjadi cair dengan di selingi candaan dari Rai maupun Esta. Sesekali Rai bahkan menyuapkan stik kentang ke mulut Esta saat tangan gadis itu sedang sibuk. Kalau keadaannya semenyenangkan begini, rasanya Rai ingin berlama-lama saja menyelesaikannya.


Padahal tadi Rai fikir kalau Esta akan marah karna tersinggung dengan ucapannya. Tapi untunglah, gadis itu tidak marah sama sekali padanya.

__ADS_1


__ADS_2