
“Aku udah ketemu sama Rai. Dia datang beberapa waktu lalu dan sempet nginep di rumah juga.”
Pengakuan itu membuat Akash sangat terkejut. Untung saja ia masih bisa mengendalikan kemudinya dengan baik sebelum ia memilih untuk menepi dan berhenti di bahu jalan.
Akash menoleh kepada Esta dan menatapnya dengan kening yang berkerut. Ada binar kekecewaan yang terpancar dari kedua bola matanya. Ia tidak percaya kalau kalimat itu baru saja meluncur dari mulut Esta begitu saja.
“Kenapa gak ngasih tau aku?” Tekan Akash.
“Aku memang berencana mau ngasih tau kamu. Cuman waktunya belum pas aja.” Esta beralasan. Padahal ia hanya takut kalau Akash akan marah.
Jawaban itu membuat Akash semakin mengerutkan keningnya. Ia tahu kalau keadaan ini tidak baik untuk hati Esta. Awalnya Akash ingin marah tapi ia tidak tega saat melihat wajah Esta yang tiba-tiba nampak murung.
“Kamu gak apa-apa?”
Esta mengangguk samar sebelum kemarahannya memuncak.
“Aku marah, sama dia. Bisa-bisanya dia mempermainkan aku kayak gini? Tiba-tiba muncul sesuka hati setelah gak ada kabar selama bertahun-tahun.”
“Tapi bukannya kamu yang nyuruh dia pergi?”
“Aku memang nyuruh dia pergi. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya gini mempermainkan aku. Pakai pura-pura jadi Sena segala.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu inget Sena? Temenku di medsos?”
Akash mengangguk.
“Itu Rai.”
“Apa?”
“Sena itu adalah Rai. Gimana aku gak marah, coba? Tega-teganya dia giniin aku.” Geram Esta. Ia marah tapi entah kenapa matanya malah berkaca-kaca karna hatinya merasakan kesedihan.
Akash semakin ternganga saja mendengarnya. Dan ia juga semakin marah. Dadanya berubah menjadi bergemuruh oleh amarah.
“Dimana dia sekarang?”
Esta menggeleng. “Aku gak tau.”
__ADS_1
Bruk!!!
Esta terkejut saat Akash tiba-tiba memukul kemudi mobil dengan sangat kuat. Ia menatap pias kepada Akash yang sedang memejamkan mata untuk mengurai emosinya.
Sejak saat itu, Esta tak berani lagi membuka suara. Ia memilih untuk diam bahkan sampai mereka sampai di mess.
“Makasih udah nganterin. Gak masuk dulu?” Tawar Esta dengan suara bergetar.
Akash tau kalau Esta sedang merasa tidak enak kepadanya. Karna itu ia tetap mengembangkan senyumannya dan mengacak-acak kepala Esta.
“Hei! Aku bukan anak kecil.” Hardik Esta sambil menggeser kepalanya. Suasana hatinya sudah kembali normal.
“Hahahaha. Dasar. Aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa, cepet telfon aku. Awas kalau kamu nyembunyiin dari aku lagi.” Ancam Akash.
Esta mengangguk tersenyum. “Iya, iya. Aku tau. Yaudah kalau mau pulang. Hati-hati.”
Esta melambaikan tangannya sampai mobil Akash menghilang dari pandangannya. Kemudian ia masuk dan langsung beristirahat di kamarnya. Ia merasa sangat lelah hari ini. Bukan tubuhnya, melainkan fikirannya.
Akash melajukan mobil sewaannya ke arah hotel tempatnya menginap. Ia tidak keluar kamar sampai malam hampir tiba. Ia tidak punya semangat sama sekali untuk menggerakkan tubuhnya.
Baru saat ia merasa lapar, ia keluar dari kamar dan hendak pergi ke restoran hotel. Ia mengunci pintu kamar dan berjalan menyusuri koridor lantai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku hoodienya.
Dan sesaat kemudian, Akash sudah merangsek maju dan menarik kerah kemeja Rai dan menekan tubuhnya ke dinding. Ia terus mencengkeram sambil mengangkat tubuh pria itu.
“Pak Rai!” Pekik Hera yang terkejut bukan main saat melihat bosnya yang tiba-tiba di serang. Ia berusah melepaskan cengkeraman tangan Akash di kerah Rai. Tapi itu percuma karna Akash sama sekali tidak bergeming.
Rai tak kalah terkejut. Namun ia segera mengusai situasi dan meminta Hera untuk mundur.
“Kamu ini apa-apaan?” Tanya Rai dengan suara berat karna lehernya agak tercekik.
“Kan udah ku bilang, jangan pernah kembali apalagi muncul di hadapan Esta. Tapi apa? Kamu malah berani nemuin dia dan bahkan nipu dia pakai nama Sena? Belum puaskan kamu nyakitin dia? Dasar breng sek.” Maki Akash.
Rai hanya menghela nafas saja. Kemudian ia menampis tangan Akash sampai terlepas dari lehernya. Sikapnya itu membuat beberapa kancing kemejanya terlepas dan berhamburan.
Di samping mereka, Hera hanya berani memperhatikan dengan perasaan was-was. Tidak berani ikut campur.
“Memangnya kamu siapanya Esta? Kenapa kamu selalu ngelarang aku buat memperjuangkan perasaanku? Sedangkan kamu bisa ngelakuin itu kenapa aku gak bisa?!! Memangnya kamu siapa?!!!” Pekik Rai yang sudah kepalang emosi.
Kondisi Rai sudah tidak baik sejak kemarin. Itulah kenapa ia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak marah.
__ADS_1
Ia melotot dengan bahu yang naik turun akibat menahan nafas yang tersengal-sengal.
“Sialan!” Geram Akash.
Buk!
Satu tinju Akash berhasil mengenai tulang pipi Rai. Namun kali ini ia tidak tinggal diam sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Kali inipun, ia mencoba membalas Akash.
Buk! Dan pergulatan itu terus terjadi dengan saling pukul dan saling tinju. Menangkis dan menyerang.
Posisi Rai yang kini sudah berada di atas Akash, membuatnya leluasa melayangkan pukulan demi pukulan kepada pria itu. Akash berusaha melindungi wajahnya dengan lengannya.
“Memangnya kamu siapa berhak ngelarang-ngelarang aku? Hah?!!” Pekik Rai.
Buk! Buk!
“Pak! Sudah Pak!” Pekik Hera yang semakin histeris. Ia ingin melerai tapi ia tidak punya keberanian. Takut kalau malah ia yang jadi sasaran.
Sialnya, tidak ada satupun orang yang berani melerai dua pria yang sedang bergulat dan berguling-guling di lantai itu. Orang-orang hanya melihat saja.
Buk!
“Pukul yang benar!” Pekik Akash geram sambil melayangkan pukulannya.
Kali ini Akash berhasil membalikkan posisi. Ia yang kini sudah berada di atas tubuh Rai berhasil melayangkan tinjunya berkali-kali.
Untunglah tak berapa lama kemudian datang dua orang security untuk melerai. Mereka di bantu oleh beberapa orang yang akhirnya berani membantu.
Wajah Rai sudah babak belur. Berbeda dengan akas yang hanya sobek di salah satu sudut bibirnya saja. Rai memang sengaja tidak mengenai wajah Akash. Hatinya tidak tega untuk melakukannya.
Sebaliknya, ia menyerahkan diri sepenuhnya lewat pukulan Akash. Walaupun ia sudah berusaha untuk melindungi wajahnya, namun pukulan Akash tetap berhasil mengenai wajahnya. Akash benar-benar melampiaskan kemarahannya kepada Rai.
“Lepasin!” Pekik Akash kepada orang-orang yang memeganinya.
“Pak, tenang Pak. Tolong jangan membuat keributan disini. Tamu lain jadi tidak nyaman.” Ujar salah satu security.
Di sisi Rai, ia hanya diam saja. Tidak berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari pegangan orang-orang. Ia hanya sedang menahan rasa sakit di hatinya yang terasa jauh lebih perih dibandingkan dengan luka-luka memar di sekujur tubuhnya.
Rai dan Akash saling tatap. Seolah mengerti akan dalamnya luka satu sama lain. Akash mengernyit saat ia melihat setetes air mata yang jatuh dari netra Rai. Entah kenapa ia jadi trenyuh melihatnya.
__ADS_1