Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 125. Rencana Hilang Ditelan Ketidaksabaran.


__ADS_3

Esta sudah berkali-kali menghela nafas kesal karna menunggu Rai selesai meeting. Padahal tadi janjinya Rai hanya meeting sekitar satu jam saja. Tapi ini sudah hampir dua jam dan ternyata Rai belum selesai meeting juga.


Rasa bosan itu membuat kelopak mata Esta memberat. Ia membaringkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Rai selesai sambil bermain ponsel. Dan pada akhirnya, ia benar-benar tertidur lelap disana.


Rai yang baru selesai meeting masuk ke dalam ruangannya. Melihat Esta yang sedang tertidur di sofa dan menghampirinya. Memandangi wajah Esta lekat seperti itu sudah menjadi candu bagi Rai.


“Sayang, bangun.” Lirih Rai.


Esta mengerlik-ngerlikkan matanya yang terasa sepat. Menatap kepada Rai yang sedang berjongkok di hadapannya dan tersenyum. “Udah selesai?” Lirihnya.


Rai mengangguk kemudian duduk di pinggiran sofa. “Maaf ya, meetingnya lama. Padahal seharusnya gak selama ini.” Rai menyesal karna membuat kekasihnya menunggu.


“Gak apa-apa kok, Mas.”


“Tunggu bentar, ya.” Ujar Rai yang berjalan mendekati meja kerjanya dan membuka laci. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam laci kemudian kembali berjalan mendekati Esta dan berlutut di depan wanita itu.


“Semesta, ayo kita nikah, lagi.” Ujar Rai sambil membuka kotak cincin dan mengeluarkan isinya kemudian langsung menyelipkan ke jari manis Esta.


Esta hanya bisa terkekeh saja melihat kelakuan Rai yang jauh dari kata romantis itu.


“Gini kan yang kamu suka? In tim, cuma kita berdua.”


“Hahahahahaha. Ya tapi gak gini juga kali, Mas. Gak ada romantis-romantisnya tau gak. Ngeselin, ih.” Hardik Esta yang tidak bisa menahan tawanya.


Rai juga ikut terkekeh. Padahal ia sudah menyiapkan rencana manis. Tapi rencana itu hilang di telan ketidak sabarannya sendiri. Ia memeluk Esta dengan masih tertawa.


“Kita bisa menikah minggu ini. Aku akan pergi ke pondok Darussa’adah untuk meminta Gus Kholiq buat jadi walimu.”


“Hah? Minggu ini? Gak ke cepetan?!” Esta terkejut dengan rencana gila Rai.


“Ya enggak lah. Lebih cepet lebih bagus malah. Aku udah gak sabar buat ngabisin kamu.” Rai mengerlingkan alisnya naik turun. Menatap goda kepada Esta yang langsung melayangkan pukulan ke lengannya.


“Mas, pernikahan itu butuh persiapan lho. Gak bisa dadakan gini, kayak tahu bulat aja di goreng dadakan.”


“Aku bahkan bisa nyiapain pesta mewah cuma dalam sehari, Ta. Lagian aku udah siap sejak sepuluh tahun lalu.”


“Idih. Sombong. Gak boleh gitu, ah!” Hardik Esta.


“Hehehehehe.. Jadi kamu mau mahar apa?”


“Ehm... Apa aja. Terserah kamu. Aku gak terlalu mikirin itu sih. Yang penting sah.”


“Kita nikah di Jakarta apa di Semarang?”


“Di Jakarta aja. Kan keluargamu semuanya disini. Biar gak jauh juga.”

__ADS_1


“Oke. Hera!” Panggil Rai kepada sekretarisnya.


Hera masuk ke dalam ruangan Rai. “Iya, pak? Ada apa?”


“Tolong kamu carikan gedung yang besar buat acara pesta pernikahan kami. Sekaligus WO yang terbaik.” Perintah Rai.


Hera nampak terkejut namun ia langsung menganggukkan kepala. “Yang kapasitas berapa, Pak?”


“Limaribu orang.” Jawab Rai santai. Sedangkan Hera mengangguk dan langsung mencatat perintah bosnya itu.


“Limaribu orang? Buat apa?” Sela Esta.


“Tamuku banyak, Sayang.” Rai beralasan.


Esta tidak bisa berkutik walaupun menatap Rai heran.


“Abis ini aku gak ada jadwal lagi, kan?”


“Gak ada, Pak.”


“Oke. Carikan butik terbaik dan buatkan janji sekarang juga.”


Hera mengangguk sambil mencatat. “Ada lagi, Pak?”


“Pokoknya semua kamu yang urus, ya? Catering dan souvenirnya juga. Aku mengandalkanmu, Ra.”


“Mas, apa gak keburu-buru, kita ini?” Tanya Esta cemas.


Rai menggeleng. “Enggak. Kamu tenang aja. Biar Hera yang urus semuanya. Kita siap jadi aja. Kamu tinggal bilang sama Hera tentang apa yang kamu mau, pesta seperti apa yang kamu inginkan, ya?”


Entahlah, Esta merasa tidak yakin. Ia takut akan terjadi kesalahan. Seminggu bukanlah waktu sederhana untuk melangsungkan sebuah pernikahan. Bagaiman jika ada yang tidak sesuai nantinya?


“Sayang, kamu khawatir ya?” Ujar Rai. Menatap dalam kepada Esta.


Esta mengangguk pelan. “Apa gak apa-apa kita menikah secepat ini?”


“Bagiku ini bukan waktu yang cepat, Sayang. Aku udah mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari. Bahkan sudah sepuluh tahun lamanya aku mempersiapkan diriku untuk menikahimu. Jadi buang rasa cemasmu, ya. Semua akan berjalan dengan semestinya.” Rai mencoba mengusir kegundahan dalam hati Esta. Ia menyingkap helaian  rambut di wajah wanita itu.


Tok, tok, tok, Hera muncul dari balik pintu.


“Pak, saya sudah membuatkan janji di butik I. Bapak dan Ibuk bisa ke sana sekarang.” Hera memberitahu.


“Oke. Ayo, Sayang.” Ajak Rai. Ia bangkit sambil menggenggam tangan Esta.


Hera menyupiri Rai dan Esta menuju ke sebuah butik paling terkenal di indonesia milik seorang desainer wanita yang karya rancanangannya sudah tidak di ragukan lagi keindahannya. Dan setengah jam kemudian, mobil sudah berhenti di depan sebuah gedung dengan arsitektur unik dengan dinding kaca di bagian depannya. Di sana, berjejer manequin dengan gaun-gaun indah pengantin yang di pajang.

__ADS_1


Rai mengajak Esta untuk turun dari mobil. Disana, mereka segera di sambut oleh manajer toko yang langsung mengajak mereka ke sebuah ruanagn VIP.


“Halo, selamat datang, Pak. Mari silahkan duduk.” Ujar wanita paruh baya yang rambutnya di sanggul itu ramah.


Rai dan Esta langsung duduk di sofa.


“Jadi, gaun seperti apa yang Ibu inginkan?” Tanya wanita itu kepada Esta.


“Saya maunya kebaya aja, Bu. Yang simple. Warna putih, ya.” Ujar Esta mengutarakan keinginannya.


“Kebaya. Oke. Saya akan siapkan beberapa desainnya, dan lusa Ibu sudah bisa memiliih desain terbaik untuk di  buat rancangannya.”


“Tapi kami menikahnya minggu depan, Buk.”


Pemilik butik nampak terkejut dengan ucapan Rai itu. “Munggu depan? Waah, kalau minggu depan, maaf saya tidak bsia menyanggupi, Pak. Soalnya butuh waktu untuk desain, dan memilih bahan juga. Paling tidak, dua minggu.”


Esta dan Rai nampak kecewa mendengarnya.


“Atau begini saja. Saya punya koleksi beberapa kebaya pengantin yang sudah jadi. Tapi gak tau apa cocok dengan selera ibu atau tidak. Kita bisa langsung fitting sekarang, biar bisa di rombak. Kalau ngerombak, palingan cuma butuh waktu 3 sampai 4 hari aja. Begitu juga dengan jas untuk Bapak.”


Esta nampak berfikir. Sementara Rai menatap menunggu pendapatnya.


Perlahan, Esta menganggukkan kepala. Ia setuju dengan ide pemilik butik itu.


Pada akhirnya, Esta dan Rai memilih kebaya-kebaya yang sudah jadi yang  baru saja di antarkan noleh keryawan butik. Banyak sekali pilihannya sehingga membuat Esta kebingungan. Kebaya-kebaya itu tak kalah cantiknya dengan rancangan yang ada di kepalanya.


Pemilik butik sengaja memilihkan beberapa kebaya yang berukuran sedikit besar untuk Esta. Dan mereka segera melakukan fitting kepada Rai dan juga Esta.


“Aku suka yang ini.” Ujar Esta mematut dirinya di depan cermin. Penampilannya nampak berbeda dengan balutan kebaya berwarna putih dengan dihiasi payet di hampir semua bagian.


Begitu juga dengan Rai. Ia tersenyum memamerkan setelan jasnya kepada Esta.


“Woah.” Puji Esta tersenyum. “Orang ganteng mah mau di pakein apa aja tetep ganteng.” Puji Esta.


Semua setuju dengan ungkapan Esta itu. Termasuk si pemilik butik.


...****************...



Pengumuman!


Undangan terbuka untuk seluruh warga kebun labu. Dimohon kehadirannya besok sambil bawa kado yang mahal. Kalo gak bawa kado mahal gak bakalan di kasih masuk sama security.


Untuk jadi perhatian juga, agar membawa bekal masing-masing dari rumah. Karna cathering hanya khusus buat tamu vvvvvvvvvvvip saja. Bawa tikar juga jangan lupa. Jaga-jaga kalau gak kebagian tempat duduk.

__ADS_1


Yang bersedia hadir harap konfirmasi di kolom komentar👇👇.


NB. Dimohon agar bersedia menyebarkan undangan ini ke medsos masing2, grup keluarga, grup NovelToon, semakin banyak yang hadir, maka semakin baik bagi totor.. 🤭🤭🤭


__ADS_2