Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 109. Hanya Rai Yang Boleh Melindungi Semestanya.


__ADS_3

Percikan api asmara itu terus muncul di hati Esta. Perlahan namun pasti, mampu menutupi keraguan yang selama ini ia rasakan.


“Apaan sih.” Esta menghardik Rai dengan mengalihkan kepalanya.


Rai hanya tersenyum saja melihatnya. Ia gemas sekali saat melihat Esta tersipu seperti itu. Rasanya ingin mencium pipinya yang sedang merona.


Tatapan Rai berubah dalam. Ekspresi wajahnya berubah serius. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari Esta bahkan saat makanan pesanan mereka sudah terhidang di atas meja.


Esta tidak peduli. Ia mengalihkan perhatiannya kepada mangkuk soto yang sedang mengepulkan asapnya. Ia tau dan merasakan perasaan yang mengalir lewat tatapan pria itu. Ia bisa merasakan kehangatan di sekitarnya.


Esta mulai meniupi makanannya dan mulai mengunyahnya. Sesekali ia melirik kepada Rai yang masih konsisten menatapnya dalam.


“Semesta...” Lirih Rai kemudian.


Mendengar Rai memanggil nama lengkapnya, membuat Estamerinding dan jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Ia menantikan kalimat Rai yang akan terucap selanjutnya.


“Kamu tau, kamu adalah satu-satunya Semestaku. Gak akan ada yang bisa merubah itu. Dari dulu dan akan begitu selamanya. Semestaku hanya kamu. Di duniaku, tidak akan ada Semesta lain selain kamu. Kamu adalah Semesta milik Rai. Hanya Rai yang boleh melindungi Semestanya. Tanpa Semestaku, hidupku tidak ada keindahan. Semesta, kamu adalah tujuanku.”


Dada Esta terasa mau melompat keluar mendengar kalimat itu.Gendang telinganya saja masih menggemakannya bahkan setelah beberapa detik berlalu. Ia menatap Rai. Ketulusan dari kilatan netra Rai membawanya menuju ruang penuh bunga dengan dinding kebahagiaan. Menjebaknya di sana untuk waktu singkat yang terasa sangat lama.


Tidak kuat menatap Rai lama-lama, akhirnya Esta kembali mengalihkan pandangannya kepada mangkuk sotonya. Ia mengaduk-aduk isinya tanpa berniat untuk memakannya.


“Kalau gitu, ayo kita nikah.” Esta mengatakan itu tanpa melihat kepada Rai dan fokus mengaduk sotonya.


Suara lirih Esta yang bahkan semutpun tidak mendengarnya, justru terdengar jelas di gendang telinga Rai. Pria itu sepenuhnya terpaku. Tapi tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.


“Hah? Kamu bilang apa?” Desak Rai.


Esta bahkan belum mengulangi kalimatnya, tapi hati Rai sudah senang luar biasa. Berdebar bukan main.


“Aku bilang ayo kita nikah.”


Srrttt!


Tingkah Rai yang berdiri tiba-tiba membuat kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara. Membuat orang-orang jadi memperhatikannya.


“Kamu serius?! Beneran?!” Tanya Rai tidak percaya.


Selama ini kalimat itulah yang selalu ia tunggu-tunggu. Kalimat itulah yang selalu ia harapkan dan ia bayangakn keluar dari mulut Esta. Tapi setelah mendengarnya, kenapa ia merasa kalau ini cuma mimpi saja?

__ADS_1


“Kenapa? Udah gak mau? Ya udah.” Tanting Esta sambil kembali bersikap biasa saja dan menyuapkan soto ke mulutnya. Padahal ia sedang menahan tawanya melihat eskpresi Rai yang nampak sangat lucu.


“Enak aja! Ya mau lah!” Pekik Rai dengan ekspresi senang bukan main.


“Yess!!!!” Pekiknya kemudian tanpa malu. Padahal semua mata sedang tertuju kepadanya.


Kebahagiaan yang sedang meluap-luap itu, membuat Rai tidak lagi merasakan malu akan kondisi sekelilingnya.


“Akhirnya dia mau nikah sama aku!” Teriaknya kembali kepada para pengunjung restoran. Ia mengumumkannya kepada semua orang yang ada disana untuk menjadi saksi kalau akhirnya ia berhasil mendapatkan pengakuan dari Esta.


Dan seperti di komando, semua pengunjung kompak bertepuk tangan dengan sangat meriah. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Rai saat ini.


Berbeda halnya dengan Esta. Ia malah jadi tersipu malu dan meletakkan telapak tangannya di samping wajah untuk menutupi pipinya yang kembali merona. Ia malu dengan euforia Rai di tengah-tengah para pengunjung restoran yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


“Selamat, Mas!” Pekik salah satu pria yang duduk bersama pasangannya. “Doain saya juga supaya ngikutin jejak Masnya!”


“Siap, siap, Mas. Makasih banyak.” Balas Rai.


“Rai, apaan sih. Buruan duduk.” Bisik Esta dengan menekankan suaranya. Ia mendelik kepada Rai dengan masih menutupi samping mukanya.


Tapi bukannya duduk, Rai malah berjalan menghampiri Esta dan langsung memeluknya dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di depan dada Esta. Dia sedang bahagia luar biasa.


“Hemmmmhh.” Rai menggeleng tidak peduli. Ia hanya ingin memperlihatkan rasa suka citanya.


Awalnya Esta merasa risih dengan tingkah Rai itu. Tapi beberapa detik kemudian, ia malah mengelus lengan Rai yang melingkar di dadanya dan ikut tersenyum senang. Lucu melihat ekspresi Rai.


“Sesenang itu?” Bisik Esta lagi.


“Ya iyalah. Ini yang aku tunggu-tunggu. Makasih, Sayang.”


Sayang?


Kata itu langsung masuk dan meresap ke dalam hati Esta. Menimbulkan debaran yang menyenangkan. Debaran yang sama dari orang yang sama pula. Debaran yang sempat tenggelam dan membisu di sudut hatinya. Debaran yang kembali muncul setelah satu dekade bersembunyi.


“Udah ah. Di lanjut makan dulu. Malu sama orang-orang. Di liatin terus tuh.” Lirih Esta dengan paksaan.


Kali ini Rai menurut. Ia melepaskan pelukannya dan kembali ke kursinya. Dengan senyuman lebar  yang terus mengembang tentu saja.


“Hehehehee.” Tawa Rai tidak lepas menatap Esta lekat.

__ADS_1


“Cepetan di abisin, ih.”


“Iya, sayangku...” Turut Rai. Ia segera menyendokkan sotonya yang sudah dingin itu ke mulutnya. Sementara Esta hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat reaksi Rai yang kekanak-kanakan itu.


Rai terus menggandeng tangan Esta dan tidak melepaskannya. Bahkan saat mereka berjalan keluar dari restoran, Rai terus menebarkan senyumannya. Giginya sudah hampir kering.


Hera yang melihat tingkah aneh bosnya itu hanya bisa mengernyit saja. Ia segera memahami situasi setelah melihat ke arah tangan mereka. Dan Herapun ikut tersenyum lega melihatnya.


“Abis ini mau kemana, Pak?” Tanya Hera sopan.


“Tolong anterin ke laundry ya.” Pinta Esta.


“Kok ke laundry? Ngapain?” Rai tidak terima. Ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Esta.


“Kerjaanku banyak, Rai.”


“Ah gak asik. Baru jadian udah di tinggal kerja.”


“Lah? Kok malah ngambek? Kayak anak kecil aja.” Gerutu Esta. Ia seperti sedang ngemong anak-anak.


“Pak Rai juga ada meeting di zum jam setengah lima ini.” Hera memperingatkan.


Raut kekecewaan dan rasa tidak terima langsung muncul di wajah Rai. Ia melirik tajam kepada Hera lewat kaca spion. Sekretarisnya itu langsung menunduk di tatap mematikan begitu. Ternyata ia bicara di waktu yang tidak tepat.


“Tuh, kan. Kamu juga ada kerjaan. Kerja dulu. Baru nanti pacaran lagi.” Tawar Esta.


“Yaudahlah. Nanti malam ku jemput lagi. Kita makan malam di luar sekaligus jalan-jalan.” Rai menerima penawaran dengan syarat.


Esta mengangguk menyetujui.


Cup.


Rai mengecup punggung tangan Esta yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Menatap semestanya itu dengan senyuman penuh arti dan rasa terimakasih yang tak terhingga.


Esta membalasnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Saling merasakan kehangatan akan perasaan tulus dari masing-masing hati.


*********


kalian nagapain senyum-senyum sendiri? 🤭🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2