
Ekspresi Rai sedang merengut masam sambil fokus menatapi jalan raya di hadapannya. Sesekali ia melirik kesal kepada Esta yang duduk sampingnya. Sementara gadis itu, masih terkekeh mengingat hasil perbuatannya. Ia puas bisa membalas mengerjai Rai.
“Kok jadi kamu yang marah sih? Kan kamu yang ngulah.”
“Ya tapi kamu balesnya gak main-main. Pake pura-pura pingsan segala lagi. Gak kira-kira kamu tuh. Hufh! Jantungku udah hampir copot tau gak?” Dengus Rai. Ia benar-benar kesal rupanya.
“Hahahahhahahahaha. Siapa suruh pake naruh ulat segala di tanganku. Kamu fikir aku takut, gitu? Gak mempan.”
“Kamu ngeselin, Ta.”
“Eh, tapi,, tadi aku lihat ada yang nangis lho. Cengeng rupanya. Hahahahahaha.” Esta masih tidak kuasa menahan tawa.
“Ya karna aku fikir anakku kenapa-napa!” Dengus Rai lagi.
Seketika tawa itu menghilang dari wajah Esta. Jawaban Rai berubah menjadi tidak lucu sama sekali. Esta mengalihkan wajanya ke samping. Ada nyeri di hatinya. Yang di pedulikan Rai hanya anak, anak, dan anak. Seolah Esta tidak berarti apa-apa.
“Kok jadi diem?” Tanya Rai.
“Ngantuk. Jangan ganggu.”
Seketika atmosfer di dalam mobil berubah dingin dan canggung. Rai tidak tau kenapa, tapi dia bisa merasakan kalau Esta sedang marah padanya.
“Ta? Kok diem?”
Tidak ada tanggapan.
“Esta?”
Tetap tidak ada tanggapan. Sebenarnya Esta masih terjaga. Ia hanya malas menanggapi panggilan Rai saja.
__ADS_1
Hari sudah malam saat Rai dan Esta sampai di jakarta. Dan gadis itu, ia benar-benar tertidur pulas sekarang. Ia bahkan tidak merespon saat Rai membangunkannya.
Dengan terpaksa, Rai menggendong tubuh Esta untuk keluar dari mobil.
“Sini, biar aku aja yang gendong.” Suara Akash yang datang entah dari mana mengejutkan Rai. Ia bahkan baru saja berhasil mengeluarkan Esta dari mobil.
Akash mendekat dan hendak meminta Esta untuk ia gendong. Tapi Rai segera mengalih dan bergeser.
“Gak usah. Biar aku aja.” Tegas Rai.
Akash tidak punya pilihan lain. Ia hanya membantu Rai untuk menutup pintu mobilnya kemudian berjalan mengikuti Rai di belakangnya.
Di tengah perjalanan, Rai berbalik dan menatap ke netra Akash langsung.
“Kash, maaf aku harus ngomong gini. Tapi, kamu harus membatasi diri. Tolong jangan lewati batasan itu. Esta ini istriku. Aku gak nyaman kalau kamu bersikap begitu baik ke dia.”
“Enggak. Aku gak mau. Yang pertama ngelihat Esta, aku dulu. Yang suka sama Esta aku dulu. Yang sayang sama Esta, juga aku dulu. Kamu gak usah ngelarang-ngelarang gitu. Gak akan ngaruh. Aku tau kalau kamu suaminya. Tapi itu gak lebih cuma status doang, kan? Apa gak aneh kalau kamu ngomong begitu sekarang? Bukannya yang kamu peduliin cuma anakmu aja?”
Akash membuang wajahnya dengan senyum sinisnya. Ia tidak percaya kalau sekarang Rai berani berbicara tentang pernikahannya. Bawa-bawa agama pula.
Kedua pria itu tidak tau, kalau gadis yang nampak terlelap di punggung Rai itu, sebenarnya sudah terbangun. Hanya saja ia terlalu malu untuk menunjukkannya. Jadi ia memilih untuk tetap pura-pura tertidur dan mendengarkan kedua pria itu berseteru.
Ada perasaan hangat yang mengaliri hati Esta. Apalagi saat Rai menyebutkan bahwa ia adalah istrinya. Tapi, hatinya kembali mencelos saat mendengar pria itu membenarkan tuduhan Akash kalau ia hanya peduli dengan anaknya, tidak menganggapnya sama sekali.
“Pulang, Kash. Aku mau bawa Esta masuk. Udah malem.” Paksa Rai. Ia lantas meninggalkan Akash begitu saja di halaman parkir.
Walaupun preasaannya sedang marah dan tidak terima, namun Akash tetap tahu diri. Ia tidak mengikuti Rai masuk ke dalam rumahnya dan memilih untuk berbalik dan pulang. Padahal sudah sejak lama ia menunggu kepulangan mereka.
Tetap kecewa dengan perlakuan Rai padanya, Akash memilih untuk kembali ke rumahnya. Tapi tetap, ia tidak akan menyerah semudah itu untuk mengambil miliknya. Ia yang lebih dulu menyukai Esta dan ia tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia tetap menjaga hubungan baiknya dengan Rai hanya demi Esta semata, tidak ada alasan lain.
__ADS_1
Akash bisa melihat celah yang terbuka lebar di layar bahtera pernikahan Esta dan Rai. Ia yakin kalau celah itu akan semakin terbuka dan membuat bahtera itu terbelah. Ia yakin itu.
Rai membaringkan Esta dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Kemudian ia membantu melepaskan sepatu dan menyelimuti tubuh gadis itu.
Esta masih terjaga. Ia sedang menunggu Rai untuk keluar dari kamar. Namun pria itu tak kunjung keluar dari kamar. Beruntunglah, setelah beberapa saat, akhirnya Rai keluar dari kamar.
Akhirnya Esta bisa bernafas lega. Ia bangun dan duduk kemudian menatap pias ke arah pintu yang tertutup. Sungguh, sebenarnya apa yang ia harapkan dari Rai? Apa ia berharap Rai akan melihatnya? Menyukainya? Harapan bodoh.
Esta melirik sebuah foto hasil USG yang ia letakkan di atas dipan tempat tidur. Ia meraih foto itu dan memandanginya lama.
‘kamu pasti seneng bisa dapet perhatian sebesar itu dari papamu.’ lirih Esta dalam hati. Apa ia sedang cemburu kepada bayinya?
Tiba-tiba, terbersit sebuah ketakutan dalam benaknya. Bagaimana jika Rai akan mengambil anak itu setelah ia lahir? Rai pasti akan melakukan itu karna Rai tidak membutuhkannya lagi. Pria itu pasti akan memisahkannya dengan bayinya.
Esta mendekap perutnya dengan erat. Seolah ia ingin melindungi bayinya. Kini ia benar-benar takut jika harus berpisah dengan bayi itu. Tidak, ia tidak akan sanggup jika Rai mengambil bayi itu darinya.
Sementara Rai, ia sedang duduk di meja belajar sambil menelfon Dokter Hafis. Ia ingin menanyakan, apakah boleh Esta ikut pergi ke Jogja?
“Boleh, gak masalah itu. Kandungannya sangat sehat. Gak apa-apa kalau dia mau ikut pergi.” Jawab Dokter Hafis.
Rai lega sekali mendengarnya. Karna ia akan sangat khawatir jika meninggalkan Esta di rumah sementara ia tidak mungkin untuk tidak ikut acara itu.
Biar bagaimanapun, raga mereka tetap masih remaja. Masih butuh bersenang-senang dengan teman-teman sebayanya. Dan Rai, ia akan tetap kecewa kalau ia tidak bisa ikut ke Jogja. Tapi untungnya ia tidak perlu khawatir karna Dokter Hafis mengijinkannya untuk membawa Esta.
Selesai bertelfon dengan Dokter Hafis, Rai kembali fokus pada galeri ponselnya. Ia menatapi satu persatu foto Esta saat mereka di puncak pass malam itu. Rasanya tidak bosan-bosannya ia memandangi senyum yang nampak begitu bahagia. Melihatnya saja, mengalirkan kehangatan di hatinya.
Rai terus tersenyum menatapinya. Ia menjadikan salah satu foto terbaik untuk di jadikan wallpaper. Namun ia segera menggantinya setelah beberapa saat. Ia takut jika ada orang yang melihatnya dan itu akan menimbulkan kecurigaan padanya.
Malam itu, Rai terlelap dengan membawa sebuah senyuman hangat yang terus menetap di hatinya. Membawanya ke alam mimpi yang membuatnya tersenyum sepanjang malam.
__ADS_1
...****************...
ternyata buka cuma Rai aja yang kena prank.. 😭😭😭😭😭