
Rai terus menggenggam tangan Esta. Ia mengajak Esta menjauh dari gerombolan teman-temannya. Jauh di keremangan malam, menatap semburat riak putih yang di timbulkan gelombang laut di pantai. Duduk di atas pasir dengan kepala Esta yang bersandar di dadanya. Ah,, rasanya ia ingin seperti ini selamanya.
”Sejak kapan?” Tanya Esta lirih. Ia sudah menemukan tempat ternyamannya di dada pria itu.
“Gak tau pasti. Gak penting juga. Yang penting aku sayang sama kamu.”
Buk.
Esta memukul pelan paha Rai. “Kok di pukul?”
“Gak romantis banget jawabnya.” Dengus Esta.
“Hehehehe. Ya emang aku gak inget pasti kapannya. Terus, selama ini kamu marah-marah gak jelas itu kenapa?”
“Gak usah di ungkit-ungkit. Bikin bad mood.”
“Karna kamu fikir aku gak peduli gitu sama kamu?”
Esta terdiam. Ia gengsi mengakui.
“Ya ampun, lucu banget sih kamu. Jadi pengen nyosor lagi.”
Ciittt. Esta mencubit pinggang Rai.
“Aduh. Kok nyubit sih?”
“Nyebelin. Nyosornya aja di fikirin.”
“Kenapa memangnya? Udah halal ini. Sewa hotel yuk, Ta.” Goda Rai dengan seringai aneh yang muncul di senyumannya.
“Rai,, diem deh. Aku tinggal nih.” Ancam Esta sambil melepaskan diri dari dada Rai. Namun Rai segera menahannya dan kembali menempelkan kepala Esta di dadanya.
Cup.
Sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepala Esta. Dan kembali mengalirkan debaran halus ke hatinya.
“Jangan ngambek-ngambek lagi ya sama aku. Kalau aku salah, tegur. Jangan malah di diemin.”
Esta mengangguk.
Cup. Kecupan lain mendarat di tempat yang sama. Bahkan kali ini Rai menempelkan pipinya di kepala Esta. Mendekap bahu Esta untuk melindunginya dari terpaan hawa dingin.
“Balik yuk Rai. Nanti di cariin sama temen-temen. Nanti mereka malah curiga lagi kita ngilangnya lama..”
__ADS_1
“Bodo. Biarin aja mereka mau bilang apa. Bilang aja kita pacaran, beres.”
“Aku gak mau ya di demo sama cewek satu sekolahan.”
“Lebay.”
“Kok lebay sih? Kamu gak sadar apa kalau kamu ini idola LB? 80 % cewek di sekolah suka sama kamu.”
“99 %.” Rai membetulkan datanya. “Dan yang 1 % adalah kamu. Pemilik hatiku.”
Esta kembali tersipu dengan gombalan yang di lontarkan oleh Rai. Ia terkekeh kecil sambil kembali mencubit paha Rai.
Untuk menghindari kasus KDRT lanjutan, kini Rai menggenggam tangan Esta dengan erat. Ia tidak peduli kalau tangan itu kesemutan atau berkeringat. Ia hanya ingin mengalirkan perasaannya.
Dengan pengungkapan cinta itu, kini Rai sudah bisa menerawang rencana masa depannya dengan lebih jelas lagi. Ia tetap menempatkan Esta sebagai prioritas utamanya. Ia bisa mengalihkan cita-citanya untuk menjadi penerbang dan memilih profesi lain asalkan ia bisa tetap berada di dekat anak dan istrinya.
“Jangan pernah pergi dari aku ya, Ta? Dan jangan pernah menganggap kalau aku cuma peduli dan sayang sama anak kita. Aku peduli dan sayang juga sama kamu.” Rai membelai kepala Esta.
Esta mengangguk. Perasaannya sungguh trenyuh saat ini. Ia bahagia luar biasa. Ternyata bersandar di dada Rai rasanya senyaman ini. Ia seperti bisa merasakan ketulusan lewat belaian tangan pria itu. Menyapu seluruh keraguan yang ada di hatinya. Seperti senja yang menyapu awan gelap dan meninggalkan keindahan di bumi.
Lama sekali mereka dalam keadaan seperti itu. Sesekali mereka menoleh kearah kerumunan teman-teman mereka yang sedang tergelak tertawa bahagia juga. Sejauh ini, belum ada yang memperhatikan mereka atau memergoki mereka.
“Rai?”
“Hem?
Seketika Rai ternganga. Tengah malam begini dimana ia harus mencari jagung rebus?
“Mana ada yang jual lagi, Ta?”
Ya, Esta tau. Ia hanya ingin memberitahu saja tanpa bermaksud untuk memaksa Rai membelikannya. Kurang ajar memang.
Esta sedang tersenyum nakal saat ia merasakan tangan Rai yang meraba bagian perutnya. Kemudian tangan itu bersemayam di sana. Hangat sekali.
“Anak Papa baik-baik ya. Jangan ngerepotin Mama. Dan jangan ngerepotin Papa juga. Masak tengah malem minta jagung rebus, sih.” Seloroh Rai. Membuat Esta langsung terkekeh geli. Entah kenapa geli sekali rasanya melihat Rai bersikap seperti itu. Terdengar sangat aneh.
“Aduh!” Pekik Esta tiba-tiba sambil menjingkat-jingkatkan kakinya. Membuat Rai langsung kalang kabut tidak karuan.
“Apa? Kenapa?” Tanya Rai panik.
“Gak tau apaan yang gigit kakiku. Sakit banget.” Esta mengusap-usap bagian kakinya.
Rai segera mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan menyalakan senter. Ia meneliti kaki Esta untuk mencari tau. Ia bisa melihat bekas gigitan disana, tapi ia tidak bisa melihat hewan apa yang telah menggigit kaki Esta karna hewan itu mungkin saja sudah pergi.
__ADS_1
“Ya udah kita balik ke bus aja yuk. Udah malem juga. Kamu harus istirahat. Kasihan dedek.” Ujar Rai yang kembali mengelus perut Esta.
Kali ini Esta menurut. Ia memang sudah mengantuk. Hanya saja ia menahan diri karna masih ingin berlama-lama berduaan dengan Rai.
Bahkan saat berjalan ke bus, Rai tidak melepaskan genggaman tangannya. Padahal Esta takut setengah mati kalau ada yang melihat perbuatan mereka itu.
“Rai,, lepasin.” Lirih Esta meminta Rai melepaskan tangannya.
“Gak mau ah. Nanti kamu kabur.”
“Xixixixxixi. Mana mungkin aku kabur sih Rai. Ada-ada aja kamu. Aku takut ada yang lihat.”
“Santai aja kali, Ta. Ngapain peduli mau orang lihat kek, mau enggak kek. Terserah sama mereka. Aku gak peduli. Biar aja mereka semua tau kalau kita pacaran.”
“BTW, kita udah nikah, Rai...” Bisik Esta.
“Oh iya. Hehehehe.”
Sepertinya Rai benar-benar sudah tidak peduli dengan pandangan orang terhadap hubungan mereka. Ia tidak bermaksud untuk menutup-nutupi lagi. Hanya saja ia tetap merahasiakan kehamilan Esta tentu saja.
Sesampainya di bus. Ternyata bukan hanya ada mereka saja. Ada beberapa anak juga yang sedang tertidur di bus di kursi mereka masing-masing.
Rai menata tempat untuk Esta menjadi senyaman mungkin. Iamengatur sandaran kursi sehingga Esta nyaman tidur disana. Membuang barang-barang Akash dari atas kursi ke bawah kursi agar Esta bisa meluruskan kakinya.
“Gimana? Udah nyaman?” Tanyanya.
Esta mengangguk. “Udah. Kamu gak tidur?”
“Aku belum ngantuk.” Jawabnya. Kini ia duduk di bangku nomor dua dan membuka galeri ponselnya. Ia menunjukkan foto-foto Esta yang ia ambil diam-diam saat di alun-alun kemarin malam.
“Jadi kamu motoin aku diem-diem? Kaya penguntit aja kamu ini.” Mereka tetap bicara dengan berbisik. Tidak ingin mengganggu orang yang sedang tidur.
“Ya abisnya aku gak bisa lihat senyum kamu itu lho. Bikin senam jantung.”
“Gombal.” Hardik Esta. Ia menggeser-geser semua foto dirinya yang sedang tertawa di atas mobil hias. Rai segaja tidak memfoto putri yang saat itu bersama dengan Esta dan hanya membidik Esta saja.
“Jadi kamu udah nguntitin aku ya? Pantes aja. Aku heran kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di depan aku.”
“Betul sekali. Aku ngikutin kemanapun kamu pergi. Dan satu lagi. Cepet buang ikat rambut yang dari Akash.” Nada bicara Rai penuh ancaman.
“Kenapa? Gak boleh buang pemberian orang. Gak sopan.” Tolak Esta. Sayang sekali kalau ia harus membuang ikat rambut yang cantik itu.
“Gak mau tau. Aku bakalan beliin kamu iket rambut yang jauuuuuuuhhhhh lebih cantik dari itu. Pokoknya kalau sampai kamu pakai tu iket rambut. Aku tarik langsung dari rambutmu.” Ancam Rai lagi.
__ADS_1
“Ah,, udahlah. Aku mau tidur. Udahin bawelnya.”
Rai kembali tersenyum melihat Esta yang memaksakan matanya untuk terpejam. Setelah memastikan Esta terlelap, barulah Rai juga ikut terlelap.