
Tatapan mata Rai tak mau lepas dari mahluk mungil yang sedang tertidur di hadapannya. Bayi tampan dengan hidung mancung dan wajah yang sedikit berwarna pink itu membuat Rai terpana dan enggan untuk mengalihkan pandangannya.
Ia menyentuhi pipi bayi itu dengan telunjuknya. Seakan tidak percaya kalau mahluk semungil itu bernyawa.
Esta yang sedang terbaring di ranjang hanya terkekeh saja melihat tingkah suaminya. Padahal ia Masih belum punya cukup tenaga untuk tertawa. Tenaganya seakan baru saja terkuras untuk mengeluarkan mahluk mungil yang ada di sampingnya tersebut.
“Dia mirip aku?” Lirih Rai tanpa mengalihkan pandangannya.
“Iya. Mirip kamu, Mas.” Ujar Esta agar suaminya itu merasa senang.
Dan benar saja, Rai langsung tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi-giginya.
“Hai.... Nak. Ini aku, papamu.” Lirih Rai di dekat telinga bayinya. “Namamu, Ren. Ren Kaba Prianggoro. Keren kan? Mama sama papa berdebat semalaman saat membuatnya.”
Sedangkan dari kaca pintu ruangan rumah sakit itu, fandi sempat mengusap airmatanya yang jatuh begitu saja tanpa permisi. Rasa bahagia sedang membumbungnya tinggi. Ia ingin Masuk tapi tidak ingin mengganggu momen Rai bersama buah hatinya. Ia akan menunggu waktunya tiba.
“Mas, mau minum.” Ucapan Esta itu membuat Rai mengalihkan diri dari bayinya. Berjalan ke arah nakas kemudian mengambilkan minuman untuk istrinya.
Rai juga membantu istrinya untuk minum. Ia mengelus kepala Esta dengan lembut. Entah kenapa tiba-tiba ada air yang menggenang di kedua sudut matanya.
“Makasih banyak, sayangku. Kamu hebat bisa ngeluarin dia. Kamu hebat. Love you.”
Cup.
Rai menghadiahi Esta sebuah kecupan di puncak kepala wanita itu.
Hanya tiga hari saja Esta dan bayinya berada di rumah sakit. Selepas itu, mereka sudah di perbolehkan untuk pulang.
Rai memapah istrinya memasuki rumah mewah milik mereka yang baru di tempati selama seminggu itu. Dua orang asisten rumah tangga langsung membantu mereka dengan membawakan barang-barang.
Rai membaringkan istrinya di atas tempat tidur kamar utama. Sementara seorang asisten yang menggendong baby Ren menidurkannya di keranjang bayi di sebelah tempat tidur Esta.
“Mas, papa gak kesini?” Tanya Esta.
“Masih di kantor. Katanya nanti malam kesini.” Jelas Rai. Ia membelai kepala sang istri dengan lembut.
Esta tidak tau, kalau sebenarnya Rai sedang menyiapkan sebuah kejutan untuknya.
Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu kamar di ketuk.
__ADS_1
Esta langsung menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka itu. Disana, sedang berdiri Putri, Oza, Nisa, Giri, Leka, dan Akash. Putri membawa kue di tangannya. Sedangkan Akash membawa sebuket bunga.
“Selamat yaa mami Esta!!!!” Pekik Putri yang langsung berjalan mendekat ke tempat tidur. ia menyodorkan kue kepada Esta agar wanita itu bisa meniup lilinnya.
“Ya ampun! Kaliannn!!!” Teriak Esta tidak percaya. Semua teman-temannya ada disana. Kebahagiaannya semakin bertambah. Ia meniup lilin kemudian menghambur ke pelukan Putri.
“Selamat ya, Ta.” Ucap Akash yang kemudian menyodorkan buket bunga pada Esta.
“Makasih, Kash. Ya ampun. Gak nyangka kalian semua ada disini.”
“Kami selalu siap, Mbak. Soalnya gak pake ongkos. Hahahahaha.” Seloroh Giri yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Nisa.
“Selamat ya, Ta.” Oza menimpali.
“Jadi gak sabar pengen cepet nyusul, Mbak.” Seloroh Leka sambil melirik kepada Akash.
“Hadeuuh, Kash, Kash. Jangan terlalu gengsi. Gak pengen apa ligat begitu?” Ujar Rai sambil menunjuk baby Ren dengan dagunya.
Akash melihat ke arah baby Ren yang sedang tertidur kemudian tersenyum dan melihat kepada Leka.
“Doain aja, mbak Esta, Mas Rai. Semoga perjuanganku gak sia-sia nantinya.” Ujar Leka.
“Kalau perjuangan kamu disia-siain sama dia, aku siap carikan jodoh yang lebih baik dari dia, Ka.” Jawab Rai sekenanya. Dan ia berhasil mendapat tatapan tajam dari Akash.
“Sssttttt” Putri meletakkan telunjuknya di depan mulut. “Baby Ren lagi tidur. Kalian ini, berisik banget.” Hardiknya kemudian.
Seketika semua menutup mulut walau masih tertawa tanpa suara.
“Nisa, makasih banyak ya, udah ngurusin laundry selama ini. Gak salah aku milih kamu dan Giri buat ngurusinnya.” Ujar Esta kepada Nisa.
“Sama-sama, Mbak.” Jawab Giri.
“Bu Esta gak usah mikirin laundry lagi. Biar aku sama Giri yang ngurus. Supaya Ibu bisa fokus sama baby Ren.” Ujar Nisa.
“Kalau butuh bantuan manajemen, aku bisa carikan orang, Sa.” Rai menawari.
“Kalau sekarang masih belum butuh, Pak. Mungkin nanti kalau Semesta Laundry udah mulai melebar ke beberapa kota besar lainnya.”
“Waaaahhh. Keren kamu, Sa.” Puji Esta.
__ADS_1
“Iyalah, Bu. Siapa dulu gurunya...” Ujar Nisa mengarah kepada Esta.
“Hehehehe. Bisa aja kamu.”
Setelah itu mereka mengobrolkan semua hal yang bisa menjadi bahan obrolan.
Suasana di rumah Rai dan Esta nampak ramai dengan kedatangan mereka. Mereka tertawa bahagia seolah ikut merasakan kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh Rai dan istrinya.
“Mau kemana, Kash?” Tanya Rai saat melihat Akash yang hendak keluar dari kamar.
“Ke bawah bentar.” Jawab Akash kemudian segera berlalu keluar dari kamar.
Tidak menunggu waktu lama, Leka segera menyusul Akash di belakangnya. Ia mengikuti Akash hingga pria itu duduk di teras depan rumah. Ia masih mengintip saat Akash menyulut sebatang rokok kemudian menghembuskan asapnya ke udara.
“Ngapain disini, Mas?”
Suara Leka mengejutkan Akash. Ia menoleh kepada Leka yang berdiri di sampingnya, kemudian menarik rokok dari mulutnya dan melemparkannya ke lantai begitu saja serta menginjak puntung itu hingga gepeng. Ia tidak jadi menghabiskannya.
“Gak ada. Duduk aja.”
“Boleh aku ikut duduk?”
Akash mengangguk.
Leka segera mengambil duduk disamping Akash. Memandangi wajah pria itu Lekat dari samping.
“Awas kalau pipiku jadi bolong karna tatapanmu.” Ancam Akash. Membuat Leka terkekeh lucu.
“Udah hampir setahun aku berjuang buat dapetin perasaan kamu, Mas. Strategiku udah habis nih. Tapi kamu masih belum bisa buka hatimu buat aku.”
“Dari awal kan aku udah bilang. Jangan kecewa kalau pada akhirnya kamu tetep gak bisa nerima kamu. Aku cuma bisa ngasih kamu kesempatan, Ka.”
“Sampe kapan? Mbak Esta udah bahagia sama Mas Rai. Udah ada baby Ren juga. Sampai kapan kamu mau nutup hati begini, Mas?”
“Hhhhhhhuuuuufffffhhhhh...” Akash hanya bisa menghela nafas saja.
“Aku minta maaf, Mas. Tapi ini terlalu sulit buat aku. Kayaknya aku memang gak pernah bisa gantiin posisi mbak Esta di hatimu. Aku udah lelah berjuang sendirian. Sementara kamu gak ada niat sedikitpun buat buka hati kamu.”
Akash menoleh kepada Leka dengan wajah yang berkerut. “Aku bukan gak niat, Ka. Tapi gak bisa. Sulit.”
__ADS_1
“Bukan, Mas. Kamu bukan gak bisa. Tapi gak mau berusaha menerimaku. Kamu gak pernah mau memaksa diri buat membuka hati. Terlalu menikmati perasaanmu yang gak tersampaikan. Kalau kamu begini terus, maaf aku harus menyerah disini.”
Akash semakin mengerutkan keningnya. Menatap punggung Leka yang berjalan masuk ke dalam rumah hingga menghilang dari pandangannya. Entah kenapa hatinya menjadi pias mendengar ucapan Leka itu. Ia merasa tidak terima jika Leka harus menyerah sekarang. Ia ingin Leka memperjuangkannya sedikit lagi.