
Esta terhenyak di pintu kelas saat melihat Rai yang sedang membaca buku di mejanya. Ternyata hari ini Rai sudah masuk sekolah lagi. Dengan memberanikan langkah, Esta berjalan dan duduk di mejanya. Sekilas ia melirik kepada Rai yang sepertinya tidak peduli dengan kedatangannya.
Dengan hati-hati, Esta memasukkan tasnya ke dalam laci meja sambil menggigit bibirnya. Entah kenapa rasanya canggung sekali pagi ini.
“Rai, maaf.” Bisik Esta kemudian. “Harusnya aku gak pernah ngasih tau kamu. Kamu sampai sakit gini gara-gara aku.” Rai diam saja. Ia melengos dan tetap fokus pada bukunya.
Esta menghela nafas pelan karna Rai sama sekali tidak menanggapinya. Ya, sepertinya pria itu sudah memutuskan kalau ia tidak peduli pada dirinya. Itulah kesimpulan Esta untuk saat ini. Sedikit lega, tapi juga kecewa. Sepertinya Rai tidak akan bertanggung jawab pada dirinya. Ya sudah.
Jam pelajaran pertama sudah selesai dan murid-murid sedang menunggu untuk pelajaran kedua. Seperti biasa, saat ada waktu luang, Esta akan sibuk menulis di buku bindernya. Seperti kali ini, Esta sedang menuangkan ide-idenya di kertas binder. Ia fokus sampai sesuatu menghentikannya menulis.
Rai menyodorkan secarik kertas padanya. Disana tertulis,
Nomor telfon:
Alamat lengkap:
Esta yang tidak mengerti untuk apa kertas itu, menoleh kepada Rai yang ternyata sedang melihat juga ke arahnya.
“Apa ini?”
“Tulis disitu.” Tegas Rai dengan nada dingin khasnya.
Walaupun tidak mengerti apa tujuan Rai sebenarnya, Esta tetap mengisi kertas itu sesuai permintaan Rai. Setelah selesai, Rai langsung menarik kertas itu dan melipatnya kemudian memasukkannya ke dalam saku.
Esta tetap mengernyitkan keningnya. Sikap Rai tetap terasa dingin dan penuh batasan. Tidak ada yang berubah dari pria itu walaupun ia sedang mengandung anaknya.
Seperti baisa, saat jam istirahat tiba, Esta setia mengikuti Tina dan teman-temannya yang lain untuk sekedar ‘nongkrong’ di tribun lapangan volly. Apalagi kalau bukan untuk melihat Rai dan teman-temannya yang sedang bermain disana.
Pandangan Esta menjadi kabur saat sinar matahari menerpa kertas bindernya dan membuatnya silau. Ia memilih untuk menyingkir dan duduk di bangku di bawah pohon damar di samping lapangan. Disana, ia melanjutkan untuk menulis.
“Sibuk nulis apa, sih?” Sebuah suara mengejutkan Esta. Ia langsung mendongak dan mendapati Akash yang sedang bediri di depannya. Tubuh pria itu menghalangi sinar matahari yang mengintip lewat sela-sela pepohonan. Menimbulkan siluet dengan latar cahaya yang berpendar di belakanag Akash.
Esta segera menutup buku bindernya dan tersenyum kepada Akash. “Gak nulis apa-apa, kok.” Jawab Esta terbata. Ia malu kalau tulisannya di baca orang lain.
Akash tertawa kecil kemudian duduk di samping Esta.
“Ngomong-ngomong, makasih kemarin udah ngaterin aku pulang.” Esta baru teringat kalau kemarin ia belum sempat bilang terimakasih kepada Akash.
“Sama-sama. Kenapa gak gabung sama yang lain?”
__ADS_1
“Enggak. Disana panas.”
Sebuah kondisi dimana ini baru pertama terjadi kepada Esta. Ada orang yang duduk di sebelahnya dan mengajaknya bicara, selain Tina.
“Kamu kerja di warung Pakde Karya, ya?” Akash seperti sedang mencari bahan pembicaraan untuk mereka.
“Kok tau?”
“Aku sering lho makan disana.”
“Oh ya? Kok aku gak pernah lihat kamu ya? Sama siapa kamu kesana?”
“Sama Danu, pas aku kesana, bukan kamu yang ngelayanin. Kamu sibuk sendiri.”
“Hehe. Danu? Danu itu siapa?”
“Sepupuku.”
“Oooh...”
“Kamu ini, orang yang begini apa gimana?”
“Selalu menyendiri. Asyik dan sibuk sendiri.”
Bukan! Bukan karana Esta senang dengan kesendiriannya. Itu lebih kepada, ia melarikan diri dari kesepian karna tidak pernah ada yang menganggapnya ada.
“Tumben kamu merhatiin.”
“Udah lama kali aku merhatiin kamu.”
Esta langsung menoleh kepada Akash yang memilih untuk memandang lurus ke depan.
“Kenapa?”
“Kok kenapa? Ya karna kamu udah narik perhatian aku.”
“Itu maksudku, aku diam, tapi kenapa malah narik perhatian kamu?”
“Aduh, udahlah. Susah di jelasinnya.” Wajah Akash tersipu malu.
__ADS_1
“Apanya yang susah? Tinggal jelasin doang.”
“Ya pokoknya susah aja.”
“Terserah kamu, deh. Kok gak ikut main sama temen-temenmu?”
“panas banget. Gak tahan aku.” Jawab Akash. Ia membuka bungkus makanan ringan miliknya dan meletakkannya di atara ia dan Esta. Ia juga membawa minuman jeruk dalam botol. “Nih, makan.” Tawarnya.
“Em, makasih.”
“Enak gak duduk sama Rai?” Sepertinya Akash masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Esta. Walaupuan topik pembicaraan mereka sama sekali tidak penting.
“Gak enak. Pendiem banget anaknya. Ngomong kalau pas ada perlunya aja.” Jujur Esta.
“Hahahaha. Dia emang gitu anaknya. Sama kami juga gitu, jadi gak usah kaget. Tapi sebenernya dia itu anaknya perhatian banget kok. Perhatiannya itu detail sampe hal-hal kecil.”
“Ooh.” Sebenarnya Esta sama sekali tidak peduli dengan cerita tentang Rai. Dia hanya merasa seanng saja saat Akash datang dan menemaninya sambil mengobrol ringan. Ia jadi merasa punya teman yang benar-benar teman.
Ia tau kalau beberapa orang melirik aneh kepada mereka, namun ia tidak peduli selama itu tidak merugikan orang lain.
Akash anak yang supel. Dia punya banyak sekali lelucon sampai ia tertawa terbahak-bahak. Perasaan bahagia ini, mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang sepele. Namun bagi Esta, ini adalah pengalaman yang luar biasa. Senang saat ada yang mengajakmu bicara dan membuatmu merasa tidak di abaikan. Ini bahkan jauh lebih menyenangkan saat Tina mulai menganggap kehadirannya.
*****
Akash Ahmad, sudah lama menaruh perhatian kepada gadis sekelasnya yang pendiam bernama Semesta. Gadis yang lebih sering di panggil es teh itu, begitu menarik perhatiannya. Gadis itu tidak banyak tingkah dan tidak pernah mencolok dari teman-teman sekelasnya yang lain. Terlebih, Esta memiliki senyuman yang sangat manis. Tapi sayang, ia jarang sekali tersenyum.
Akash diam-diam selalu memperhatikan Esta, tapi ia tidak punya cukup keberanian untuk menunjukkan perhatian kecilnya itu.
Kemarin, Akash senang bukan main karna bisa membonceng Esta saat mereka pergi menjenguk Rai di kosnya. Jantungnya berdegup sepanjang perjalanan. Ia terus tersenyum di balik helm full face yang ia kenakan. Entah kenapa ia merasa kalau mereka akan mempunyai hubungan yang baik setelah itu.
Maka dari itu, hari ini dia memberanikan diri untuk mendekati Esta saat gadis itu sendirian di taman samping lapangan. Ia sangat ingin perteman dengan Esta karna itu membuatnya senang. Ya, untuk sementara, mereka akan berteman dulu.
Obrolan ringan itu berakhir saat bel sekolah berbunyi. Ia melihat Esta yang kemudian meraih buku bindernya dari samping dan berdiri. Ah, rasanya cepat sekali waktu berlalu. Bahkan sepertinya mereka belum banyak bercerita.
“Kamu mau di sini aja?” Pertanyaan Esta membuat lamunannya buyar.
“Oh, iya. Hehee.” Akash segera berdiri dan mensejajarkanlangkah dengan Esta.
Bahkan sampai mereka masuk ke dalam kelas, Akash masih terus mengoceh tentang apapun yang bisa di jadikan bahan pembicaraan.
__ADS_1