Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 118. Bukan Bermaksud Untuk Pamer, Tapi Memang Ada rasa Bangga.


__ADS_3

Hera mengemudikan mobil tanpa banyak bicara. Ia hanya sesekali menjawab jika Esta bertanya. Ternyata Hera tipe gadis yang kaku yang selalu menegaskan posisinya sebagai sekretaris dari Rai. Sama sekali tidak bisa di ajak bercanda.


Mobil sudah memasuki halaman gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Entah ada berapa lantai, Esta tidak sempat menghitungnya. Yang jelas tinggi sekali. Di bagian atas lobi terdapat tulisan ‘SKY AIR AVIATION’ berwarna merah yang mentereng sehingga nampak mendominasi di antara cat gedung yang berwarna putih.


Setelah memarkirkan mobil di basement gedung, Hera membukakan pintu mobil untuk Esta dan mempersilahkannya untuk turun. Hera kemudian mengajak Esta untuk pergi ke arah lobi yang nampak sangat ramai oleh karyawan yang berlalu lalang.


“Mari, Buk. Saya antar ke ruangan Bapak.” Ujar Hera kemudian.


Esta merasa sangat tidak nyaman dengan beberapa tatapan yang tertuju ke arahnya dan juga Hera. Mereka seolah bertanya-tanya siapa yang sedang bersama dengan sekretaris dari wakil direktur mereka itu. Membuat Esta agak menundukkan wajahnya saat berjalan mengikuti Hera.


“Ra, aku tunggu di sini aja ya. Tolong bilang sama Mas Rai.” Ujar Esta hendak berjalan menuju ke sofa tunggu yang berada di samping mereka.


“Tapi Bapak bilang Ibu disuruh nunggu di ruangannya.” Tegas Hera yang berhasil menghentikan langkah Esta.


Esta tidak jadi berjalan ke arah sofa. Ia mengubah arah untuk kembali mengikuti Hera masuk ke dalam lift. Hera memencet tombol 9 di dalam lift dan liftpun langsung melesat ke atas.


Di dalam lift itu tidak hanya ada mereka berdua. Tapi beberapa karyawan lain juga ada disana.


“Siapa itu, Ra?” Bisik seorang wanita yang nampak akrab dengan Hera.


“Maaf aku gak bsia jawab sekarang. Nanti juga tau.” Tegas Hera.


Esta hampir ternganga mendengar betapa kakunya Hera menjawab pertanyaan itu. Sangat cocok dengan kontur wajahnya yang terkesan judes.


Mendapatkan jawaban spontan seperti itu, langsung membuat karyawan itu terdiam dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Lift berhenti di lantai 9 dan Hera mempersilahkan Esta untuk keluar lebih dahulu. Sikap itu justru semakin membuat orang-orang penasaran. Mereka berfikir pasti Esta orang penting sehingga Hera memperlakukannya dengan sangat sopan begitu.


Hera terus menuntun Esta menuju ke sebuah ruangan yang ada di ujung koridor. Dan Esta terus mengikuti Hera tanpa membantah. Ia tahu kalau Hera hanya menjalankan perintah dari Rai saja.


“Silahkan tunggu di sini, Buk. Sebentar lagi Pak Rai selesai rapatnya. Ibuk mau minum apa?” Tawar Hera.


“Gak usah, Ra. Aku gak haus.” Tolak Esta.

__ADS_1


Hera mengangguk mengerti. Kemudian ia permisi untuk keluar ruangan dan kembali ke pekerjaannya. Meninggalkan Esta yang duduk sendirian di sofa ruangan Rai.


Ruangan kerja Rai nampak luas. Ada dua rak besar di dinding yang penuh berisi buku-buku. Ada tanaman hias juga yang berdiri di pojok ruangan dekat jendela. Sedangkan meja kerjanya ada di dekat jendela kaca dan membelakanginya.


Esta hanya berani memperhatikan saja dari sofa. Tidak berani beranjak untuk mengelilingi tempat itu. Sampai suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangannya. Ternyata itu adalah Rai yang langsung tersenyum begitu melihat Esta yang sedang menunggunya.


“Udah lama ya nunggunya?” Tanya Rai yang langsung berjalan ke mejanya untuk menaruh berkas-berkasnya.


Esta menggeleng. “Belum. Baru sekitar sepuluh menitan. Udah selesai rapatnya?”


“Udah. Mau berangkat sekarang apa gimana?”


“Terserah Mas aja. Emangnya gak capek?”


Rai langsung menggelengkan kepalanya. “Capekku udah langsung hilang kalau lihat kamu.” Goda Rai.


“Eiii. Gombal.”


“Hera, kosongkan jadwalku sore ini. Aku mau kencan.” Ujar Rai kepada sekretarisnya.


“Iya, Pak. Selamat berkencan.” Ujar Hera dengan polosnya.


Membuat Esta langsung cekikikan membayangkan kencan di pemakaman bersama dengan Rai.


“Sekretarismu itu lucu banget sih. Bisa-bisanya dia gak ketawa. Mukanya seriusan terus.” Ujar Esta saat mereka sudah berada di dalam lift. Kali ini, hanya ada mereka berdua di sana.


“Emang anaknya gitu. Sama sekali gak bisa di ajak bercanda. Lemot kalau soal candaan. Tapi kalau masalah kerjaan, jangan tanya. Gercep banget.” Puji Rai.


“Kamu gak pernah gitu tergoda sama dia?” Ejek Esta. Ia sengaja memancing. Ingin tau bagaimana reaksi Rai.


“Eiiii... Dia itu bukan perempuan. Luarnya aja yang perempuan. Tapi dalemnya gak ada feminim-feminimnya sama sekali. Lagian mau secantik apapun dia, statusnya gak akan lebih dari cuma sekedar sekretarisku. Cuma nyampek situ aja. Soalnya hatiku udah penuh sama kamu.”


Astaga. Rasanya Esta ingin melompat karna saking girangnya mendengar gombalan Rai.

__ADS_1


“Mas, lepas dong tangannya. Banyak orang yang lihat. Aku malu.” Bisik Esta saat pintu lift mulai terbuka.


“Kenapa malu. Lagian gak lama lagi juga mereka bakalan tau kalau kamu itu istriku. Kali ini, anggap aja pengenalan. Hehehehe.”


Dan benar saja. Mereka langsung menjadi pusat perhatian begitu keluar dari lift. Karna Rai tetap tidak mau melepaskan genggaman tangannya, akhirnya Esta memilih diam saja dan tidak banyak protes.


Bukan maksud untuk pamer, tapi Esta benar-benar merasa senang di perlakukan begitu oleh Rai. Ada rasa bangga yang muncul di hatinya. Ia terus tersenyum menunjukkan betapa bahagianya dirinya.


“Maaf ya kamu harus di jemput sama Hera. Padahal rencananya aku mau kesana sekalian ngasih selamat sama Putri.” Ujar Rai saat mereka berjalan menuju ke basement gedung.


“Gak apa-apa. Sama aja. Dia nanyain kamu sih. Tapi untungnya ada Akash juga.”


“Kamu jadi ngasih tau Akash soal hubungan kita?”


Esta menganggukkan kepala. “Aku udah kasih tau.”


“Terus gimana reaksinya?” Rai penasaran. Ia membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya. Kemudian ia berlari dan memutari mobil kemudian duduk di balik kemudi.


“Reaksinya biasa aja. Dia bahkan bilang selamat buat kita.”


“Serius? Akash bilang gitu?”


Esta mengangguk. Sedangkan Rai nampak Heran dan tidak percaya dengan reaksi Akash. Ia fikir kalau setidaknya pria itu akan marah dan kecewa. Tapi ini biasa saja? Sangat mengherankan.


“Iya, dia bilang gitu. Aku juga Heran. Aku fikir dia bakalan ngamuk. Hehehehehe.”


Entahlah, tapi menurut Rai, ada yang aneh dengan Akash. Sikapnya itu sama sekali tidak pernah diduga olehnya. Karna ia faham betul bagaimana Akash menjaga perasaannya untuk Esta. Mengingat betapa emosinya Akash waktu mereka bertemu terakhir kali. Ia bisa merasakan kemarahan Akash lewat pukulan-pukulannya.


“Apa dia udah move on dari kamu?”


“Aku harap dia bisa menemukan sosok yang baik untuknya. Soalnya aku terus ngerasa gak enak sama dia. Baiknya itu lho...”


Rai mengangguk. Ia setuju dengan Esta. Pria lain tidak akan bisa menunggu selama itu. Apalagi jelas di hati Esta hanya ada Rai. Dan Akash tidak pernah menyerah untuk mendukung dan terus berada di sisi Esta. Rai salut untuk Akash.

__ADS_1


__ADS_2