
Esta mengangguk mengerti dengan petunjuk yang di berikan oleh Putri. Lagipula ia sudah memperhatikan orang-orang yang ada di sana sejak tadi. Ia hanya perlu menutup mata rapat-rapat dan menyeberangi celah beringin itu tanpa berbelok arah.
Oke, sepertinya itu gampang. Tapi ternyata tidak juga. Buktinya banyak yang tidak bisa berjalan lurus dan malah berbelok ke segala arah.
Permainan ini sangat mengandalkan insting. Terlihat gampang tapi susah.
“Ayo, Ta!!!” Putri memberi semangat kepada Esta dari belakangnya.
Esta menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia memfokuskan diri pada satu titik, yaitu celah antara dua pohon. Lalu, perlahan ia mulai memejamkan matanya dan iapun mulai melangkahkan kakinya.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Dan Esta masih percaya pada instingnya. Ia masih bisa mendengar teriakan semangat dari Putri walaupun tersamarkan dengan gelak tawa orang-orang di sekitarnya.
Hanya satu harapan Esta, semoga hidupnya lebih mudah kedepannya. Hanya itu. Karna dalam satu harapan itu, sudah mencakup banyak hal.
Esta merasa, ia sudah berhasil melewati tantangannya. Ia percaya pada instingnya kalau ia telah berhasil berjalan lurus melewati beringin kembar itu.
Dengan yakin, Esta mulai menghentikan langkahnya. Perlahan ia membuka matanya sambil menghela nafas lega. Ia tersenyum pada dirinya sendiri.
Esta terhenyak dan terdiam ketika matanya terbuka. Sosok manusia yang sedang bediri di hadapannya membuatnya membeku. Detak jantungnya jadi meningkat pesat membuat sebuah desiran di hatinya. Siapa lagi kalau bukan Rai.
Pria itu menatap dalam kepada Esta dengan mimik wajah yang sulit di artikan. Serius sekali. Ia berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan Esta. Menatap Esta di sela-sela temaramnya lampu-lampu yang berpendar.
Esta bahkan sampai lupa apa dia berhasil berjalan lurus atau tidak. Ia sedang sibuk dengan debaran hatinya sendiri.
“Ta! Kamu berhasil!” Pekik Putri yang sedang berlari kecil mendekat kepada Esta.
Suara Putri menyadarkan Esta. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain dan tersenyum kaku kepada Putri.
“Oh? Hai Rai?” Sapa Putri yang juga nampak terkejut dengan keberadaan Rai di sana. “Kamu disini juga ternyata.”
Rai mengangguk dan tersenyum. “Kalian lagi ngapain?” Tanyanya.
“Ini nemenin Esta. Katanya pengen nyoba nyeberang.”
“Apa harapan kamu, Ta?” Tanya Rai kepada Esta.
“Rahasia.” Jawab Esta ketus. Ia berbalik dan menggandeng lengan Putri untuk menjauh dari Rai.
Namun, Rai segera menghentikan Esta dengan meraih lengan Esta terlebih dahulu.
“Aku mau ngomong.” Ujar Rai.
“Gak mau.” Tegas Esta.
“Esta!”
“Ku bilang gak mau ya gak mau.” Esta menepiskan lengannya hingga tangan Rai terlepas.
__ADS_1
Esta benar-benar menjaga jarak dari Rai. Ia seperti tidak mempedulikan keberadaan Rai di dekatnya. Ia terus mengajak Putri mengobrol.
Sebenarnya Putri heran dengan sikap dua orang temnanya itu. Jadilah ia berbisik kepada Esta dan bertanya.
“Kalian berantem? Tanya Putri berbisik.
Esta menggeleng.
“Terus kenapa kamu marah-marah sama dia?”
“Sebel aja sama dia. Selalu paksa aku buat belajar. Udah kubilang otakku kapasitasnya gak memungkinkan, masih aja di paksa. Bahkan kemarin aku sampai mimisan.”
“Hah? Serius? Kenapa dia begitu?”
“Gak tau. Aneh.”
“Kejar target dari Pak Jamil kali, Ta.”
“Ya tapi gak segitunya juga lah. Ngeselin banget.”
Semua yang dikatakan Esta adalah kebohongan. Semua alasan itu hanya pura-pura. Lagipula ia tidak mungkin berkata jujur kepada Putri.
“Hihihihihi. Mungkin kamu satu-satunya orang yang gak suka deket sama Rai. Coba aja kenak tina, seneng banget dia tuh. Nempel terussssss....”
“Belum tau aja tina betapa nyebelinnya Rai.”
Esta dan Putri kompak menoleh. Mereka tidak menyangka kalau Rai ternyata masih mengikuti mereka.
“Liat tuh, aneh banget kan?” Bisik Esta lagi.
“Iya. Xixixixixi”
Drrt,, drrt,, drrt,,
Ponsel Esta berbunyi. Ia melihat nama Akash di layar ponselnya dan segera mengangkatnya.
“Apa, Kash?”
“Dimana?” Tanya Akash dari seberang.
“Aku? Di... Emmm. Dimana ini Put?” Esta lupa.
“Alkid.” Jawab Putri.
“Di Alkid.”
“Sama siapa?
__ADS_1
“Sama Putri. Kenapa memangnya?” Esta tidak mengatakan kalau mereka juga bersama dengan Rai.
“Udah malem, aku jemput ya? Nanti kena omel sama Pak Jamil.”
“Gak usah. Ini kami lagi nunggu taksi buat balik ke hotel.”
“Oh, gitu. Ya udah. Buruan.”
“Iya.”
Tanpa sepengetahuan Esta dan Putri, ternyata Rai sudah memesan taksi online untuk menjemput mereka. Tidak berapa lama kemudian taksi sudah datang.
“Ayo bareng.” Ajak Rai.
Esta nampak enggan untuk ikut. Ia melirik Putri yang langsung mengangguk setuju kepada Rai. Gadis itu bahkan langsung mengikuti Rai di belakangnya.
Esta segera berlari kecil untuk menyusul Putri. Melirik punggung yang sedang berjalan di depannya tu dengan perasaan aneh yang entah apa itu namanya. Yang jelas, ia selalu ingin marah saat melihat Rai apalagi berada di dekat pria itu.
Hanya ada satu penjelasan, yaitu, ia tidak terima saat Rai terus memperhatikan bayinya ketimbang dirinya.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, tidak ada yang berusara. Rai sibuk dengan fikirannya sendiri, begitu juga dengan Esta. Ia membuang wajahnya ke samping sambil berusaha mengalihkan fikirannya dari Rai. Sementara Putri asyik dengan ponselnya sendiri.
Sampai di hotel, ketiganya langsung turun. Lagi-lagi Esta langsung menggandeng lengan Putri dan mengajaknya jalan cepat pergi ke kamar mereka.
Namun saat tiba di loby, ternyata Akash sedang menunggu Esta. Pria itu langsung tersenyum sumringah ketika melihat kedatangan Esta. Sementara ia mencibiri Rai y ang berjalan di belakang mereka. Untungnya ia tidak curiga kenapa Rai bisa datang berbarengan dengan Esta.
“Aku udah nungguin kamu dari tadi.” Ujar Akash mendekati Esta.
“Aku duluan ya, ta.” Pamit Putri meninggalkan Akash dan Esta di loby.
Esta bahkan tidak bisa mencegah Putri yang sudah menghilang di balik dinding. Dan Rai, ia melengos begitu saja melewati Akash dan Esta. Tapi, ia segera berhenti dan mengintip dari balik pilar.
“Ngapain nungguin aku?”
“Mau ngasih ini.” Ujar Akash memberikan sebuah ikat rambut berwarna merah maroon kepada Esta.
“Wiihh,, cantiknya. Makasihh...”
“Jangan gak di pake ya. Kamu pasti tambah cantik kalau pakai ini.” Puji Akash.
“Iya, nanti aku pakai.” Janji Esta. Padahal ia mungkin tidak akan menepatinya.
Ia sudah senang dengan ikat rambut pemberian Rai walaupun dari hasil memenangkan lotre. Walaupun bentuknya kecil dan sederhana jiak dibandingkan dengan pemberian Akash, namun makna di balik ikat rambut itu yang membuat Esta senang memakainya.
Dari balik pilar, Rai menatap dengan penuh rasa kesal. Ingin ia berlari dan mencuri ikat rambut itu kemudian membuangnya ke tempat sampah. Ia mengutuki dirinya sendiri yang tidak peka. Harusnya ia juga membelikan Esta ikat rambut yang cantik seperti itu.
*****
__ADS_1
alhamdulillah, gays. akhirnya si babang pekak mulai peka juga....