Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 98. Perasaan Itu Semakin Menciut.


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal pemotretan untuk Akash bersama dengan Semesta Laundry. Pemotretan di lakukan di sebuah studio milik kenalan Leka.


Dalam kesempatan ini, Leka terus memperlihatkan perhatiannya kepada Akash. Ia membuat Akash nampak sempurna di depan kamera.


“Ya ampun. Kenapa aku baru sadar kalau aku punya temen dengan wajahnya yang menjual?” Lirih Esta sambil serius menatapi Akash yang sedang bergaya di depan bidikan kamera.


“Saya bilang juga apa, Buk. Ibuk sih yang gak percaya.” Desis Nisa.


“Iya deh, iya. Percaya sama kamu.” Hibur Esta.


“Hehehehehe. Kegantengan Mas Akash memang gak di ragukan lagi.”


“Dia lebih ke, manis sih kalau menurutku.”


Nisa mengangguk menyetujui. “Manis juga iya.”


Pemotretan itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar dua jam saja. Selebihnya mereka sibuk untuk memilih hasil foto terbaik melalui rundingan.


“Tante!!!” Pekik suara seorang gadis kecil yang baru masuk ke dalam studio. Membuat semua orang menoleh kepadanya.


“Starla?!” Ujar Esta menatap tidak percaya. Ia heran karna bisa bertemu dengan Starla di sana.


“Oh? Tante Esta?” Ujar Starla juga. Ia tersenyum dan langsung menghampiri Esta.


“Kok kamu bisa ada disini? Kalian udah saling kenal?” Tanya Leka kepada Starla dan Esta.


“Kenal, dong. Tante Esta kan temennya Papa.” Jawab Starla.


Leka semakin dibuat bingung dengan keadaan itu. Terlebih Akash, yang hatinya sudah mencelos melihat keakraban gadis kecil itu dengan Esta.


“Kalau kalian?” Tanya Esta kepada Leka.


“Starla ini keponakanku, Mbak. Anaknya masku.” Jawaban itu membuat semua menjadi jelas. “Kamu sama siapa kesini?” Tanya Leka lagi.


“Sama Papa. Itu.” Tunjuk Starla ke arah pintu masuk.


Seketika semua orang kompak melihat ke arah yang di tunjuk. Oza melangkahkan kaki dengan tersenyum kepada semua orang.

__ADS_1


“Waaah,, ternyata semuanya lagi ngumpul disini.” Ucap Oza.


“Mas Oza? Apa kabar?” Tanya Esta ramah. Ia tetap merasa berterimakasih karna Oza telah menolongnya tempo hari.


“Baik, baik. Apa kabar, Kash?” Sapa Oza kepada Akash yang kemudian menyambut uluran tangan Oza padanya.


“Baik juga, Mas.”


“Mas Oza ngapain kesini?” Selidik Leka.


“Gak ada, cuma mau main aja. Gak taunya kalian malah pada ngumpul disini.” Jawab Oza santai karna memang pemilik studio itu adalah teman baiknya.


“Udah pada selesai belum? Kalau udah, ayo ngopi di depan.” Ajak Oza lagi.


Dan semua sepakat untuk menyetujui ide Oza. Setelah mereka selesai melakukan pekerjaan, Oza, Esta, Akash, Leka, dan si kecil Starla, pergi ke cafe depan studio untuk minum kopi dan sekedar mengobrol santai. Sementara Nisa dan karyawan Leka yang lain harus kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


Satu hal yang membuat perasaan Akash semakin menciut adalah, kedekatan Esta dengan Starla. Bahkan gadis kecil itu terus bergelayut di pangkuan Esta dengan manjanya. Ditambah dengan senyuman samar yang terus terlihat dari kedua sudut bibir Oza saat melihat putrinya nyaman di pangkuan aEsta.


Akash bahkan lebih banyak tidak mendengarkan saat Leka terus menerus memujinya dan berbicara padanya.


“Tante kapan kita main?” Tanya Starla kepada Esta.


“Kemana aja, yang penting sama Tante Esta.”


“La. Tante Esta itu sibuk. Jangan ganggu dia.” Hardik Leka dengan nada sinis khas ‘tante jutek’.


“Heheheh. Enggak sibuk, kok. Kapan Starla ada waktu, main ke rumah Tante ya. Nanti Tante ajak jalan-jalan.” Janji Esta.


“Beneran? Yeeesss!” Pekik Starla kegirangan.


“Tapi aku bener-bener gak nyangka lho, Mbak. Ternyata mbak Esta temennya mas Oza, dan mas Akash. Wah, kebetulan yang luar biasa.” Seloroh Leka.


Leka gadis yang periang. Pembawaannya selalu ceria sehingga menyebarkan aura positif ke sekitarnya. Tapi sayang, ia tetap tidak bisa membuat Akash tersenyum karnanya.


“Starla, Tante Esta itu banyak kerjaan. Starla gak boleh ganggu, ya?” Pesan Oza kepada putrinya.


“Hehehe. Gak ganggu kok, Mas. Nanti kapan-kapan kalau Starla libur, boleh di anterin ke laundry.” Jawab Esta.

__ADS_1


Esta suka dengan Starla. Gadis kecil itu mengingatkannya kepada calon anaknya dulu. Ia membuat Esta berandai-andai tentang bayinya. Dan itu perlahan mampu menghangatkan hatinya yang sudah membeku dan hampir membusuk karna luka akibat kehilangan yang menyakitkan.


“Beneran boleh?” Tanya Oza antusias.


“Boleh lah, Mas. Dia ini lucu, tau.” Jawab Esta sambil mengacak-acak puncak kepala Starla. Perbuatannya itu bahkan tidak mendapat penolakan dari si kecil Starla.


“Oke.” Oza menyetujui.


Obrolan itu terus berlanjut. Leka terus saja menyerbu Akash dengan pertanyaan-pertanyaan dan gurauan yang mengharuskan Akash menjawabnya. Perlahan, Akash seperti sudah bisa mengimbangi Leka dan sesekali juga mengeluarkan candaannya sehingga mereka semua tertawa.


Sekitar pukul 11 siang, obrolan itu harus berakhir karna Leka harus segera kembali ke kantor setelah mendapat telfon dari karyawannya. Leka di antarkan oleh Oza dan juga Starla. Sedangkan Esta diantar pulang oleh Akash.


Sejak masuk ke dalam mobil, baik Esta dan Akash sama-sama sibuk dengan fikirannya masing-masing. Ada sesuatu yang mengganjal di benak Akash mengenai kedekatannya dengan Oza, terlebih dengan putrinya. Dari kaca mata Akash, sikap Esta kepada Oza, sama seperti sikapnya kepada Rai dulu.


Dan entah kenapa hal itu membuatnya merasa sedikit lega. Jika memikirkannya, ia sudah tidak terlalu merasa sakit kalaupun kemungkinannya Esta akan berakhir bersama dengan Oza. Itu lebih baik ketimbang harus melihat Esta terkubur dalam masa lalunya.


Dan Esta, ia sedang berfikir untuk memberitahu tentang kedatangan Rai kepada Akash. Ia tau kalau Akash pasti akan marah. Tapi ia juga tidak tega jika harus menyembunyikannya.


“Kalian kelihatan akrab banget.” Akash memulai pembicaraan.


Esta langsung menoleh kapada Akash. “Siapa?”


“Kamu sama Starla.”


“Ooh. Abisnya anaknya lucu. Gemesin.” Jawab Esta dengan tersenyum.


“Aku seneng kalau kamu udah mulai membuka hati buat Starla. Dan aku juga gak keberatan kalau seandainya kamu mau sama mas Oza.” Lirih Akash. Suaranya terdengar dalam. Ia berbicara dengan tetap melihat ke arah jalan raya dari balik kemudinya.


“Kamu ini ngomong apa, sih? Ngaco banget.”


“Aku serius, Ta. Mas Oza kelihatannya baik. Aku yakin kalau dia pasti bisa ngelindungin kamu. Gak kayak....” Akash langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak jadi menyebut nama keramat itu.


Sekali lagi, Esta menoleh kepada Akash. Ia menghela nafas dalam.


“Aku cuma sebatas suka sama Starla. Karna bagiku dia itu lucu dan gemesin. Kenapa jadi bawa-bawa Mas Oza?”


“Bukan karna kamu keinget sama anakmu dulu?”

__ADS_1


Jleb!


Akash membaca hatinya dengan sempurna. Rupanya pria itu bisa melihat kilasan kerinduan yang tersirat di netranya. Padahal ia sudah menyembunyikannya sebaik mungkin agar Akash tidak melihat semua itu. Namun ternyata ia kebobolan. Ia memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Terlebih jika itu menyangkut dengan masa lalu membahagiakannya.


__ADS_2