
Rai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai si rumah. Ia takut kalau Esta sudah bangun dan mencarinya.
Untung saja saat ia sampai di rumah, Esta belum bangun. Ia berterimakasih kepada Mpok Nur karna sudah bersedia menjaga Esta.
Esta bahkan tidak terbangun sampai pagi. Tidak seperti biasanya. Biasanya Esta akan sering terbangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi malam ini, ia sama sekali tidak bangun dan hanya meringkuk di bawah selimutnya saja.
Bahkan setelah pagipun, Esta masih saja meringkuk. Kalau Rai tidak memperingatkan tentang ujian, mungkin ia hanya akan tidur sepanjang hari.
“Aku gak berani keluar. Orang-orang pada julidin aku. Aku malu. Mereka semua udah tau kalau aku hamil.”
“Beberapa hari. Cuma beberapa hari lagi. Abis itu, kita bebas mau ngapain aja. Kalau kamu mau pindah dari sini, kita akan pindah. Tapi aku mohon, bertahan dulu sampai ujian selesai. Ya?” Mohon Rai.
Rai ada benarnya. Toh selama ini ia bertahan hanya karna ujian akhir.
Perlahan Esta bangun dari kasur dan mulai mandi. Setelah itu mengganti seragamnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia bahkan melewatkan sarapannya. Padahal Rai sudah memaksa untuk makan, tapi Esta tidak mau. Gadis itu benar-benar sedang hilang semangat.
Sepanjang perjalanan ke tempat parkir, orang-orang melihat Esta dengan tatapan mengejek. Bahkan ada yang berbisik secara terang-terangan. Membuat Esta semakin tertekan. Rasanya ia tidak sanggup kalaupun hanya tinggal satu menit lagi saja disini.
Bahkan setelah sampai disekolah pun, Esta masih saja di cibiri oleh teman-temannya. Mereka bilang kalau Esta sama sekali tidak pantas untuk Rai. Kalau Esta pasti sudah menggunakan jampi-jampi untuk memikat hati Rai. Pokoknya, mereka tidak cocok. Titik.
Sedangkan Rai hanya bisa memberikan dukungannya lewat genggaman tangannya. Ia selalu menggenggam tangan Esta kemanapun ia pergi. Walaupun ruang ujian mereka terpisah, namun Rai memastikan kalau tidak akan terjadi apa-apa kepada Esta.
Untung saja ada Akash dan Putri yang ikut menjaga Esta. Penilaian Esta tentang Putri tidak salah. Gadis itu baik walaupun wajahnya terkesan judes. Buktinya, Putri tidak termakan omongan teman-temannya dan tetap menemani Esta.
Hari ini, ada dua mata pelajaran yang di ujikan. Yaitu matematika dan bahasa ingris. Untuk ujian bahasa ingris, Esta tidak menemukan kesulitan yang berarti karna ia lumayan menguasai pelajaran itu.
Namun ia sangat kesulitan saat harus berhadapan dengan angka-angka. Ia berusaha untuk fokus dan mengerjakannya sebaik mungkin. Walaupun ia berhasil selesai tepat waktu, tapi ia tidak yakin kalau jawabannya banyak yang benar.
Waktu ujian sudah berakhir. Semua murid di ruangan Esta sudah mengumpulkan lembar jawabannya dan pengawas ujianpun sudah meninggalkan ruangan itu.
Saat Esta hendak bersiap-siap keluar, tiba-tiba beberapa orang temannya mendatangi mejanya. Itu adalah Tina, Desi, dan beberapa temannya yang lain.
“Mau ngapain?” Tanya Esta yang sudah menduga kalau mereka pasti akan melabraknya perihal Rai. Padahal ia sudah tidak punya tenaga untuk berurusan dengan mereka.
“Tega banget sih kamu, Ta. Bisa-bisanya kamu nikung temen sendiri?” Ujar Tina dengan nada sinis.
“Temen? Memangnya aku temenmu? Sejak kapan kamu anggap aku temenmu?”
__ADS_1
“Apa?” Tina terkejut dengan perlawanan Esta.
“Kalian? Memangnya pernah nganggep aku temen? Memangnya kalian pernah ngelihat aku sebagai temen? Kalian ngelihat aku sebagai manusia aja gak pernah. Kalian selalu abai padahal aku ada di tengah-tengah kalian.
Kalian bahkan gak sadar kan kalau aku ada di kelas ini?”
“Esta kamu udah gila ya? Udah jadi pacar Rai jadi kamu udah berani ngelunjak ya?” Desi menimpali.
“Aku jadian sama Rai karna dia yang nembak aku. Bukan aku yang ngerayu dia. Jadi kalau kalian mau protes, proteslah sama Rai, kenapa kalian protes sama aku?”
“Esta! Pokoknya aku gak terima kamu jadian sama Rai.” Hardik Tina. Ia bahkan hampir menangis sambil mangatakannya.
“Terserah.” Esta berlalu dan mengabaikan mereka. Lelah sekali batinnya menghadapi berbagai tekanan demi tekanan yang datang.
Namun ternyata Tina tidak membiarkan Esta pergi. Ia segera menghentikan Esta dengan mencengkeram lengan Esta.
“Mungkin aku bakalan terima kalau Rai pacaran sama orang yang setara sama aku. Tapi aku gak terima dikalahin sama orang jelek kayak kamu. Kamu udah nginjak harga diriku. Aku gak bakalan maafin kamu, Ta.” Dendam Tina.
Seketika suasana menjadi mencekam. Tina dan Esta saling tatap penuh kebencian dan kemarahan. Untung saja Rai segera datang dan memisahkan mereka.
“Apa sih yang kamu lihat dari dia Rai? Dia itu gendut, jelek. Sama sekali gak pantes buat kamu.”
“Itu semua cuma kulit luar aja. Apa kamu fikir kamu udah cukup baik dari Esta? Kamu memang cantik dan semua orang bilang begitu. Tapi harusnya kamu malu sama kecantikanmu karna hatimu busuk.”
Jleb.
Kalimat itu langsung meruntuhkan harga diri Tina. Ia tidak lagi berani menjawab ucapan Rai apalagi menyanggahnya. Ia hanya bisa meneteskan airmata. Kesal, sedih, malu, bercampur menjadi satu.
“Ayo, kita pulang.” Ajak Rai yang langsung menggenggam tangan Esta dan mengajaknya pergi dari sana. Menyisakan pandangan tidak terima dari teman-teman mereka.
“Ta, kamu gak apa-apa?” Tanya Putri yang menunggu di luar kelas. Rupanya tadi Putri yang melaporkan kepada Rai kalau Esta sedang di rundung oleh taman-temannya.
“Aku gak apa-apa.” Jawab Esta lirih.
“Ish. Kenapalah mereka itu? Kayak anak kecil.” Dengus Putri sebal.
Esta tersenyum lirih. Ia senang masih ada Putri yang berpihak padanya.
__ADS_1
“Tapi mukamu pucet banget lho Ta.” Ujar Putri. Sontak Rai langsung memperhatikan wajah Esta.
“Kamu sakit? Apanya yang sakit? Kita kerumah sakit ya?” Tawar Rai khawatir.
“Aku gak apa-apa. Cuma perutku rasanya gak nyaman aja. Aku cuma mau tidur. Aku capek.”
“Yaudah. Buruan pulang. Tolong anterin Esta pulang ya Rai.” Ucap Putri. Ia sama sekali tidak tau kalau Rai tinggal satu rumah dengan Esta.
Rai hanya mengangguk saja. Kemudian Putri membantu Esta masuk ke dalam mobil Rai.
Rai mengemudikan mobil dengan hati-hati. Ia ingin membuat Esta merasa nyaman. Berkali-kali ia menoleh kepada Esta yang sudah tertidur di sampingnya. Baru setelah sampai di rumah, Rai membangunkan Esta.
Masih seperti tadi pagi. Orang-orang masih menatap aneh kepada Esta dan juga Rai. Rai bisa bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Esta, itu adalah sebuah tekanan untuknya. Seberapapun ia berusaha untuk tidak menggubrisnya, ia akan tetap saja kepikiran.
Mungkin itu pengaruh dari kehamilan juga. Padahal dulu Esta sama sekali tidak ambil pusing dengan apapun yang orang bicarakan tentang dirinya. Ia tidak peduli apa kata orang terhadapnya. Ia bahkan tahan saat ada yang menghinanya terang-terangan di depan matanya. Ia hanya menganggapnya anginlalu saja.
Tidak seperti sekarang. Saat ia sudah membuka hati, dan ia merasa menjadi lemah karna perasaannya.
*****
Halo gengs. Selamat hari senin... Kembali ke rutinitas dan berkutat pada pekerjaan. Mau jawab beberapa pertanyaan kalian soal kebahagiaan Esta.
"Kapan sih tor Esta bahagia?"
Ada. Nanti juga Esta bakalan bahagia. Jadi di tunggu aja yaaa.
"Kok ceritanya Esta sedih terus?"
Bagian ini adalah cerita tentang perjuangan Esta dalam menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi. Totor pengen menekankan tentang sulitnya menghadapi pandangan orang-orang di sekitar mereka, tentang akibat dan dampak dari hasil perbuatan mereka. Bahwa sanksi sosial itu tetap ada meski mereka sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya. Karna perbuatan mereka tetap akan dipandang sebagai aib. Jadi ngerti yaaaa...
"Jangan lama-lama tor, sedihnya."
Mohon maaf, totor gak mau ceritanya kecepeten alurnya. Kan gak lucu kalau tiba-tiba mereka bahagia sementara
masalah masih menumpuk. Harus ada puncak masalah dan penyelesaiannya biar ceritanya nyambung. Sebisa mungkin totor membuat semua kejadian tidak jauh dari realita. Ya walaupun masih ada detail yang terlewat juga sih. Makanya pantengin totor terus ya kalau ada detail kecil yang kelewatan, cetepan kasih tau totor. Supaya bisa di perbaiki.
Sekedar pemberitahuan, kalau beberapa episode kedepan bakalan menguras airmata. Sebelum kebahagiaan datang tentunya. Hehehehehe. Siapin tisu yang banyak buat nyeka air mata plus ingus yang bakalan meleleh.
__ADS_1