
Tidak terasa sudah dua jam berlalu sejak Rai dan Esta meninggalkan rumah. Mereka terus berkeliling tak tentu arah. Mengelilingi kota Jakarta di tengah cuaca mendung yang seolah mendukung.
“Ta?”
“hem?”
“Istirahat bentar yuk, pegel nih tangan.”
“Oke.”
Rai menghentikan motornya di sebuah minimarket. Ia masuk dan membeli minuman segar untuk mereka berdua.
Esta duduk lesehan di teras minimarket. Sementara Rai juga ikut duduk di samping Esta. Sebenarnya pinggangnya juga terasa pegal. Tapi ia masih ingin berlama-lama jalan bersama dengan Rai sampai ia merasa puas.
“Gak nyangka ya hubungan kita sampai di sini juga.” Lirih Esta membuka percakapan.
“He-em. Rasanya beruntung banget aku bisa milikin kamu.”
“Habis ini terus kemana?”
“Ya jalan lagi lah. Katanya kamu mau keliling.”
“bukan itu. Maksudku hubungan kita, setelah ini terus gimana?”
Rai mengernyit. Ia menatap Esta penuh tanya. “Gimana apanya?”
“Kita menikah karna ada dedek. Dan sekarang dedek udah pergi. Dan kamu juga udah bisa ngelanjutin rencana masa depan kamu lagi.”
“Kamu ini ngomong apa sih Ta? Rencana masa depanku udah sepenuhnya berubah. Kamulah rencana masa depanku sekarang.” tegas Rai yang sudah duduk menghadap Esta.
Esta tersenyum. Ia bahagia mendengarnya. Ia lantas melemparkan pandangan jauh ke arah depan. Rasanya sungguh menakjubkan saat bisa mendapat cinta sebesar ini. Ini adalah pertama kalinya Esta benar-benar merasa sangat bahagia.
“Makasih, Rai.”
“Makasih buat apa?”
“Karna kamu udah hadir di hidup aku. Kamu udah buat hidupku bahagia. Sejak menikah sama kamu, aku jadi punya tujuan hidup. Aku jadi serakah dan pengen sama kamu selamanya.” Walaupun sekarang tujuan itu sudah lenyap dari hidupnya.
“Aku juga. Aku bahagia banget bisa mencintai kamu sesuka hati. Jadi, ikut ke luar negeri, ya? Nenek juga udah setuju kok.”
“Kapan perginya?”
__ADS_1
“Besok.”
“Kamu seneng ya? Apa itu cita-citamu dari dulu? Kerja di penerbangan?”
“He-em. Dulu aku pengen jadi pilot. Cita-cita umum buat anak kecil umur 5 tahunan. Tapi sekarang, aku pengen kerja di belakang layar aja.”
“Keren.”
“Hehehehe. Kamu, apa cita-citamu?”
Cita-cita? Entahlah, apa Esta punya cita-cita. Ia tidak pernah berfikir lebih dari tamat SMA.
“Uang.”
“Hem?? Uang?”
“He-em. Aku pengen kerja trus dapet uang biar hidupku enak. Biar bisa beli makanan tanpa memikirkan berapa harganya.” Sesederhana itu keinginan Esta.
“Apa sih. Itu bukan cita-cita. Uang itu tujuan. Semua orang kepengen jadi ini, kepengen jadi itu. Itu semua supaya biar dapet kerjaan dan bergaji mahal. Kan ujung-ujungnya uang.”
“Hehehehe. Bener juga kamu.”
“Makasih ya, Ta.”
“Karna udah kembali jadi Esta yang dulu. Aku lega ngelihatnya.”
“Udah yuk. Kita lanjut lagi.” Ajak Esta yang langsung bangkit dan membuang botol minumannya ke tempat sampah.
Rai segera menenggak habis minumannya dan ikut membuang botol ke tempat sampah. Setelah itu ia memakaikan helm kepada Esta dan mereka melanjutkan perjalanan.
Esta tetap memeluk tubuh Rai dengan erat. Ia terus memejamkan matanya sambil menempelkan wajahnya ke punggung Rai. Sementara Rai yang sedang merasa bahagia, terus mengelus tangan Esta yang melingkar di perutnya. Ah, dia ingin seperti itu selamanya.
Esta meminta berhenti saat mereka melewati sebuah waduk yang nampak indah. Raipun menurutinya dan menghentikan motornya di dekat waduk.
Esta langsung berlari dan berhenti di tepi waduk yang berair keruh itu. Namun ia merasa sejuk melihatnya.
“Mau p*p ice gak?” Tawar Rai.
“Boleh.”
Dan Rai pergi untuk membelinya di pedagang yang tak jauh dari mereka. Tak berapa lama kemudian, Rai sudah kembali dengan membawa dua cup di tangannya.
__ADS_1
“Aaah. Segernya.” Seloroh Esta setelah tegukan pertama.
Esta menyandarkan kepalanya di bahu Rai yang duduk di sampingnya. Keduanya memandangi waduk yang sedikit beriak karna terpaan angin itu. Disana tidak hanya ada mereka.
Rai sama sekali tidak tau apa yang sedang di fikirkan dan di persiapkan oleh Esta. Sesuatu yang akan membuatnya sangat terkejut. Esta berhasil menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya dan berpura-pura tersenyum saat sedang bersama dengan Rai.
Pdahal hati Esta masih sedih. Padahal perasannya masih hancur. Ia belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian bayinya. Disisi lain, ia juga sedang menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa tidak becus menjaga bayi yang ada diperutnya.
Seharusnya ia tidak perlu termakan omongan-omongan orang di luar sana. Seharusnya dia tidak usah peduli dengan perkataan dan cibiran mereka. Karna tidak ada satupun di antara mereka yang bisa memahami rasa sakitnya. Tidak ada seorangpun yang mengerti betapa rapuhnya dia.
“Rai, aku gak akan ikut kamu pergi.” Lirih Esta pada akhirnya. Ia baru berani mengatakan itu setelah mengumpulkan keberaniannya.
“Hem? Maksudnya?”
“Kuliah. Maaf aku gak bisa ikut kamu kuliah.”
Rai nampak terkejut dengan pernyataan Esta itu. Ia fikir Esta tidak akan menolak tawarannya. Rai kembali dilanda kebingungan.
“Kenapa?”
“Sebenernya, aku gak pernah kefikiran untuk kuliah. Rencanaku, setelah tamat SMA, aku bakalan cari kerjaan. Gak muluk-muluk, jadi pelayan di cafe-cafe juga udah lumayan. Lagipula, aku gak bisa bahasa inggris. Hehehehehe.”
“Kamu kok bercanda sih Ta? Kalau soal bahasa, kamu akan terbiasa kalau udah disana.”
Esta terdiam. Ia tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa dia menolak tawaran itu. Jujur Esta merasa berat dan tidak enak hati jika terus-menerus menerima kebaikan dari keluarga Rai. Apalagi kuliah di luar negeri, yang pastinya biaya yang dibutuhkan akan sangat besar. Kalau dia menerima tawaran itu, ia merasa menjadi orang yang tidak tau diri.
“Kamu kan tau sendiri kapasitas otakku gak memadai. Percuma juga kalau aku kuliah. Aku bakalan tinggal disini aja. Nunggu kamu.”
“Jangan ngaco kamu. Kalau kamu gak ikut, aku juga gak akan jadi pergi. Aku cari kuliah di sini aja. Yang jelas, aku gak akan ninggalin istriku kemana-mana.”
Istri.
Kenapa saat Rai menyebutkan istrinya, hati Esta terasa sangat sakit? Ucapan itu terdengar seolah statusnya sebagai istri Rai, membuat langkah Rai terhambat. Seolah ia membuat masa depan Rai menjadi kabur.
“Jadi karna kamu punya istri, kamu jadi gak bsia meraih cita-citamu, gitu?”
“Kamu tau maksudku bukan begitu, Ta. Aku gak mungkin ninggalin kamu disini sendirian. Siapa yang bakalan jagain kamu disini sementara aku jauh disana? Lagian aku gak akan sanggup nahan kangen sama kamu. Bisa gila aku nanti.”
“Tapi kan di sana pasti banyak cewek cantiknya. Kamu bisa cuci mata setiap hari. Hahahahaha.” Esta tertawa sumbang tanpa makna.
“Kamu tambah ngelantur aja. Sebenernya kamu itu mau ngomong apa?”
__ADS_1
Esta kembali terdiam. Ia menoleh dan menatap wajah Rai dalam-dalam. Ia tersenyum. Dan kali ini, senyuman itu jelas menampakkan kesedihannya. Kedua bola matanya bahkan sudah berair. Ia sedang menahan tangis.
“Aku minta kamu buat ceraiin aku.”