
Hai! Selamat datang di season kedua.
Untuk beberapa episode mendatang mungkin ceritanya akan berfokus kepada Esta. Perjalanannya setelah merantau ke kota Semarang dan meninggalkan keluarga Rai. Jadi mohon tetap bersabar untuk menantikan jalan ceritanya ya.
Love se upiel.
*****
Seminggu setelah kepergian Rai ke luar negeri, Esta memilih untuk pergi dari rumah Salamah. Saat ini ia sedang terpaku di rusun. Menatapi setiap kenangan yang ditinggalkan oleh Rai.
Begitu banyak kenangan mereka di sana. Hingga membuat Esta hampir tidak kuasa menahan tangis.
hari ini, Esta berencana untuk mengambil sisa barang-barangnya yang masih ada di rusun. Ia mengambil satu barang yang paling penting baginya. Yaitu, foto hasil USG yang masih ia simpan dengan rapi di atas meja kamar.
Esta menatapi selembar foto hitam putih itu. Ia tersenyum sambil mengelusnya kemudian menyimpannya rapi di dalam dompetnya.
hari ini juga, Esta berencana pergi merantau ke kota Semarang. Disana ia akan bekerja di sebuah toko kain milik kenalan Mpok Nur. Mpok Nur juga yang sudah berbaik hati membukakan jalan kepada Esta.
Esta menatapi satu persatu barang-barang yang ada disana. Ia terbayang saat Rai mendengkur di atas kasurnya dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman hingga ia kesal.
Mengingat kenangan indah itu, membuat Esta tersenyum dengan hati yang getir. Sakit.
Setelah membereskan barang-barang miliknya, Esta duduk sejenak di meja komputer. Berusaha mengatur ritme nafasnya yang serasa ingin meledak. Ia menatapi amplop pemberian Salamah yang ia letakkan di dalam tasnya.
Amplop itu berisi uang yang di beri oleh Salamah. Padahal Esta sudah menolaknya, tapi wanita itu terus memaksanya menerima uang itu.
“Pakai uang ini untuk kebutuhanmu disana sebelum kamu nerima gaji.” Ujar Salamah waktu itu.
“Tolong jangan di tolak, Esta. Nenek gak bermaksud apa-apa. Nenek cuma gak mau kamu susah disana sendirian.” Citra menimpali.
Dan begitulah. Akhirnya Esta tetap menerima uang itu.
__ADS_1
Komunikasi Esta dengan Rai tetap berjalan baik. Setidaknya itu berlangsung selama setahun setelah Rai pergi.
Tapi setelah itu, pria itu jadi jarang menghubunginya. Kalau tidak, ia yang tidak punya kesempatan untuk mengangkat telfon dari Rai.
Lama-kelamaan, komunikasi mereka semakin jarang dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Dua tahun bekerja di toko kain, membuat Esta memiliki sedikit tabungan untuk memulai usaha. Ia selalu menabung separuh gajinya untuk modal usaha laundry kecil-kecilan.
Kini hasil tabungannya sudah cukup untuk menyewa sebuah ruko kecil dan membeli beberapa mesin cuci untuk usahanya. Di tambah dengan pemberian Salamah yang belum ia gunakan sama sekali. Ia mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri.
Dan di tahun ketiga, Esta sudah berhasil membuka cabang kedua usaha laundrynya. Dan di tahun ke sembilan, ia sudah berhasil membuka lebih dari 21 cabang laundry di seluruh wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya dengan mempekerjakan lebih dari 200 karyawan.
Dan selama sembilan tahun ini, ia sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan Rai. Ia sibuk dengan kehidupan nyatanya. Ia bahkan sudah tidak pernah lagi mendengar kabar dari pria itu.
Sampai tidak terasa 10 tahun sudah berlalu begitu saja. Dan sekarang Esta sudah berumur 29 tahun. Tidak ada yang berubah dari diri seorang Semesta. Bahkan bentuk tubuhnya masih sama seperti dulu. Agak sedikit gemuk. Hanya saja ia bertambah tinggi beberapa centimeter. Bedanya sekarang ia sudah bisa merawat dirinya sendiri. Jadi penampilannya sudah jauh lebih cantik dari sebelumnya.
Sikapnya menjadi lebih dewasa. Kini ia menjadi pimpinan dari perusahaannya yang ia beri nama Semesta Laundry.
Sebagian besar karyawannya adalah orang-orang yang menyandang status kesejahteraan sosial. Hanya ada beberapa orang yang berpendidikan tinggi yang ia pekerjakan untuk membantunya mengelola setiap cabang. Selebihnya, hanya ada orang-orang biasa yang mempunyai hidup hampir sama sepertinya dulu.
Terkadang, orang-orang berpotensi lahir dari orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi. Mereka tidak punya ijazah untuk pengakuan. Tak jarang Esta mengambil mereka dari panti sosial, ataupaun dari jalanan. Sebisa mungkin Esta ingin membantu orang-orang yang punya kehidupan yang sama sepertinya.
Memang ia tidak bisa serta merta membantu semua orang. Tapi setidaknya ia bisa melakukan yang ia bisa untuk meringankan beban mereka.
Pernah suatu hari, Esta sedang makan di pinggir jalan. Ia melihat segerombolan petugas Satpol-PP yang sedang menertibkan pengemis. Disana, ia melihat ada seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahunan dengan pakaian lusuh tidak karuan. Wanita itu terjaring razia dan langsung di bawa ke kantor untuk di data.
Esta mengikuti dan menunggu di luar kantor dinas sosial sampai wanita itu keluar. Setelah keluar, ia langsung menghampiri wanita yang sepertinya habis menangis itu.
“Ibu mau ikut saya? Saya memang gak bisa kasih uang yang banyak. Tapi saya jamin, ibu bisa makan tiga kali sehari dan bisa beli pakaian yang layak.” Rayu Esta.
Ibu yang bernama Narsih itu langsung menangis sejadi-jadinya. Dan kini, Bu Narsih bekerja sebagai juru masak di mess karyawan milik Semesta Laundry. Memang Esta sengaja menyediakan mess untuk semua karyawannya di tiap-tiap cabang karna sebagian besar dari mereka tidak punya tempat tinggal. Ia juga menanggung biaya makan mereka semua. Bahkan ia juga tinggal di mess yang sama dengan mereka. Ia senang bisa membantu dan berbagi.
__ADS_1
Dan untuk sampai di titik ini, itu bukanlah satu hal yang mudah bagi Esta. Ia sudah berkali-kali terjatuh, di tipu, dimarahi dan di maki pelanggan. Tapi kejadian masa lalu berhasil membentuk hati dan kepribadiannya untuk tidak mudah menyerah dan terus berusahan untuk bangkit.
Esta sedang duduk dan membaca laporan di meja kerjanya saat Giri, salah satu karyawan kepercayaannya masuk dan menghampirinya. Giri yang baru berusia 19 tahun itu langsung menyerahkan berkas kepada Esta.
“Gimana rapatnya?” Tanya Esta.
“Lancar dong, Mbak. Siapa dulu.” Ujar Giri membanggakan diri.
Giri adalah anak jalanan yang di ambil Esta untuk di pekerjakan menjadi karyawannya. Giri sangat menghormatinya seperti halnya karyawannya yang lain.
“Dan mulai minggu depan, mereka setuju untuk bekerja sama dengan kita. Semesta Laundry akan jadi partner resmi Ratu Hotel.” Ujar Giri berapi-api.
“Aku memang gak salah nilai kamu. Kamu ini anak yang cerdas.”
“Itu sih udah diakui dunia, Mbak. Bedanya cuman aku gak punya ijazah doang.” Seloroh Giri.
Esta hanya terkekeh kecil saja mendengarnya. Ia beruntung di berikan firasat baik dalam menilai seseorang, sementara otaknya hanya pas-pasan.
“Yaudah sana lanjut. Aku juga mau lanjut ngerjain ini.”
“Lanjut kerja apa lanjut chattingan?” Protes Giri.
“Chattingan sama siapa?”
“Ya sama temen dumay Mbak itu lah. Siapa itu namanya? Aku lupa.” Giri nampak berfikir keras.
“Maksudmu, Sena?”
“Oh, iya. Sena.”
“Jam segini dia lagi kerja. Udah sana.” Usir Esta
__ADS_1
Dan akhirnya Giri pergi dengan bibir manyun.