
Rai sedang menyuapi Esta makan saat
ponselnya terus berdering. Itu adalah telfon dari Pras. Omnya itu pastilah khawatir
tentang keadaannya dan juga Esta.
“Aku bisa makan sendiri. Kamu angkat aja telfonnya.” Lirih Esta. Ia seperti sudah kehabisan semangat untuk hidup. Wajahnya pucat dan kelopak matanya tidak bisa terbuka dengan sempurna.
“Sebentar, ya.” Ujar Rai yang kemudian mengangkat panggilan video dari Pras.
“Halo Rai!” Sapa Pras. Ternyata Pras tidak sendiri, melainkan sedang bersama dengan Citra dan Salamah.
“Iya, Om?”
“Gimana? Kalian baik-baik aja kan? Esta gak kenapa-napa kan?” Tanya Salamah.
Rai mengalihkan kamera kepada Esta. Esta tersenyum dengan sangat terpaksa.
“Aku gak apa-apa, Nek. Kami baik-baik aja.” Jawab Esta lirih. Rasanya sulit sekali mengeluarkan suaranya.
“Nek, Om. Udah duu ya. Esta masih makan. Nanti aku telfon lagi.”Ujar Rai.
Dan panggilan video itu segera berakhir. Setelah meletakkan ponselnya di atas kasur, Rai kembali menyuapi Esta. Namun baru dua suapan, Esta sudah menolak untuk makan.
“Di abisin. Ini dikit lagi.” Rayu Rai. Namun Esta menggeleng.
Rai tidak ingin memaksa Esta. Ia meletakkan piring ke atas meja kemudian duduk di samping Esta. Ia kembali merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya.
Saat ini Rai juga sedang merasa hancur. Ia merasa sangat lemah hingga tidak bisa melindungi Esta. Ia prustasi jika memikirkan kelemahannya sendiri. Ia ingin mejadi kuat dan melindungi Esta, namun ia tidak tahu bagaimana caranya.
“Kenapa kamu gak tanya?” Ujar Esta. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rai.
“Tanya apa?”
__ADS_1
“Kenapa papamu kesini?”
Rai terdiam. Rasanya ia sudah tau alasan apa yang membuat ayahnya datang. Ia mengelus kepala Esta perlahan. Penyesalan sedang menumpuk di dada Rai. Penyesalan yang di sertai dengan kemarahan.
“Maafin aku...” Hanya kata maaf yang terus terucap dari bibir Rai.
“Ini terlalu berat, Rai. Aku udah berat dengan gunjingan orang-orang disini. Ditambah dari temen-temen sekolah. Dan sekarang di tambah dari papamu. Aku bisa maklumin kalau orang lain julidin aku. Tapi aku gak bisa terima saat papamu ngerendahin aku. Dia bahkan nyuruh aku buat gugurin kandunganku. Manusiawikah begitu? Sedangkan aku berusaha untuk menerima kehadirannya dan menekan lukaku. Ini cucunya lho, teganya dia nyuruh buat gugurin.”
Esta mengadu kepada Rai. Ia tidak peduli jika Rai tersinggung saat ia menjelek-jelekkan Fandi. Ia hanya ingin memberitahu kelakuan Fandi kepada Rai. Ia ingin melihat apa yang akan Rai lakukan selanjutnya. Tapi tetap, ia tidak bercerita kalau Fandi menyuruhnya untuk berpisah dengan Rai.
Ia baru saja melabuhkan perasaannya kepada pria itu. Ia tau betapa tulusnya Rai dengan perasaannya. Ia tidak bisa membayangkan kemarahan Rai jika ia terus memprofokasinya. Ia sudah tau kalau hubungan Rai dengan ayahnya tidak bagus.
Dalam keadaan seperti itupun, Esta masih memikirkan keadaan Rai. Ia memang marah kepada Fandi. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk semakin merusak hubungan anak ayah itu.
Karna rasanya hancur dan menyedihkan saat tidak ada orang tua. Maka dari itu Esta ingin membuat Rai tidak terluka sepertinya. Ia tidak ingin Rai mengalami hal yang sama seperti dirinya. Mumpung Rai masih punya orang tua, sebelum Rai menyesal nanti. Ia ingin melindungi Rai.
Sebenarnya Rai sangat geram sekali mendengarnya. Rasanya ia ingin pergi ke rumah ayahnya dan meninjunya. Tapi ia tidak ingin membuat Esta khawatir. Setidaknya tidak sekarang, saat Esta sedang membutuhkan perhatiannya.
“Istirahat ya. Besok udah ujian.” Lirih Rai. Ia membaringkan tubuh Esta di kasur. Mengecup keningnya dalam.
Sebelumnya, Rai mampir ke rumah Mpok Nur dan meminta wanita itu untuk menjaga Esta sebentar.
Rai memacu mobilnya menembus jalanan ibu kota yang padat merayap. Tujuannya hanya satu, yaitu rumah ayahnya.
Sesampainya disana, Rai bahkan tidak menggubris saat Danang menyambutnya. Ia hanya terus merangsek masuk ke dalam rumah untuk mencari ayahnya. Emosinya sedang berada di ubun-ubun.
“Dimana dia?” Tanya Rai pada istri Fandi.
“Rai? Kamu cari papamu? Dia belum pulang. Masih di kantor.”
Rai mengacuhkan jawaban wanita itu. Ia langsung berbalik dan kembali memacu mobilnya menuju ke kantor ayahnya.
Kedatangan Rai yang tiba-tiba membuat sebagian besar karyawan terkejut di buatnya. Apalagi saat Rai memaksa masuk untuk menemui ayahnya. Membuat sekretaris Rai kewalahan dengan perbuatannya.
__ADS_1
Fandi juga nampak terkejut dengan Rai yang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam ruangannya. Ia melemparkan senyuman bahagia kepada putranya itu.
“Rai? Tumben kamu datang kesini? Ada apa?”
“Kenapa Papa lakukan itu?” Ekspresi marah di wajah Rai sangat jelas. Ia memang tidak menyembunyikannya.
“Apa maksudmu? Datang-datang udah marah aja. Duduk dulu.”
“Apa Papa fikir aku datang kesini cuma mau duduk?!!!” Kali ini Rai meninggikan suaranya.
“Rai?”
“Kenapa Papa dateng ke rumahku dan buat kekacauan?”
“Oh, rupanya anak itu ngadu sama kamu?” Ejek Fandi. Membuat Rai semakin marah.
“Dia istriku. Jangan pernah mengusiknya. Atau aku bakalan bener-bener memutus hubunganku dengan Papa.” Ancam Rai.
“Hahahahahahahaha. Kamu ini. Jangan sok jagoan begitu. Kamu ini masih bocil, gak usah sok kadi pria sejati. Nanti ketemu cewek yang lebih cantik juga kamu bakalan berpaling.”
“Apa Papa fikir aku sama kayak Papa? Yang rela membuang Mama demi wanita murahan itu?!”
“Rai!!! Jaga mulutmu!”
“Papa marah kan kalau aku ngerendahin istri Papa? Jadi apa Papa fikir aku bakalan diem aja kalau ada orang yang ngerendahin istriku? Dia itu lagi ngandung anakku. Tega-teganya Papa nyuruh dia buat gugurin cucu Papa sendiri?! Apa papa memang udah gak punya hati?”
“Kamu! Di biarin kok semakin ngelunjak?! Gak ada untungnya kamu pertahanin dia di usia yang masih bau kencur begini. Jalan hidupmu masih panjang, Rai. Masih banyak yang harus kamu raih.”
“Gak usah sok peduli deh sama aku. Dalam hidup gak semua hal harus di hitung utung ruginya. Yang ada di fikrian Papa kan cuma untung, untung, untung. Papa sok peduli sama aku, sok memperhatikan masa depanku, padahal yang Papa peduliin cuma nama baik Papa aja.”
“Sampai kapan kamu bisa ngerti kalau semua yang Papa jaga ini buat kamu nantinya? Nama baik yang papa bangun ini cuma buat kamu. Supaya jalanmu nanti mulus dan gak ada kendala? Kenapa kamu gak pernah mikirin niat Papa sih Rai?”
“Aku gak peduli, aku bisa buat jalanku sendiri. Aku gak peduli kalau jalanku penuh batu dan lumpur. Yang jelas aku gak bakalan mau jalan di jalan yang udah Papa buat! Dan satu lagi. Jangan pernah lagi urusin hidupku. Jangan ganggu rumah tanggaku kalau Papa gak mau kehilangan aku selamanya.”Ancam Rai. Lalu ia meninggalkan ruangan itu. Dadanya sudah sedikit lega. Ia sudah melampiaskan kemarahan kepada ayahnya. Ia harap ayahnya bisa mengerti kalau kali ini ia benar-benar serius denngan ucapannya.
__ADS_1
Sementara Fandi hanya melengos saja. Ia yakin kalau kemarahan Rai itu hanyalah sebuah pelampiasan saja. Rai
belum sepenuhnya mengerti tentang aturan main didalam hidup ini. Rai masih kecil dan emosinya masih labil. Dia hanya mempedulikan perasaan saja sementara hal semacam itu sama sekali tidak berguna untuk masa depannya nanti. Fandi memastikan, tanpa nama besarnya, Rai tidak akan bisa berbuat apa-apa.