Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 119. Rindu Yang Tidak Bisa Di Ibaratkan Dengan Apapun.


__ADS_3

Rai menepikan mobilnya di sebuah tempat parkir taman pemakaman. Ia mengajak Esta untuk keluar dari dalam mobil. Dan ia tetap menggenggam tangan wanita itu dan enggan untuk melepaskannya.


Rai terus menuntun Esta menuju ke sebuah makam milik nenek. Letaknya tak jauh dari tempat parkir. Berada di antara ratusan makam yang lainnya.


Rai berhenti di samping sebuah makam, dan begitu juga dengan Esta. Nisannya jelas bertuliskan nama Salamah. Membaca nama itu membuat Esta meneteskan airmata. Ia merindukan sosok Salamah yang selalu mendukung dan memperlakukannya dengan hangat.


“Ini makam Nenek.” Lirih Rai. Sepertinya ia juga sedang menahan kesedihan atas kerinduannya pada sang nenek.


Rai berjongkok di samping makam sambil mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh di atasnya. Esta tak tinggal diam. Ia menyeka airmatanya kemudian juga ikut duduk di samping makam. Membacakan doa untuk Salamah kemudian ikut mencabuti rumputnya.


Setelah Rai selesai membacakan doa untuk neneknya, Rai mengajak Esta beralih ke makam yang berselang beberapa makam di sebelah makam Salamah.


“Ini mama sama kakakku.” Lirih Rai kemudian. Nada suaranya jelas menunjukkan kerinduannya kepada dua sosok penting dalam hidupnya itu. Ia juga mengedip-ngedipkan mata untuk mendesak airmatanya kembali masuk ke dalam.


Mereka juga membacakan doa untuk mama dan kakak Rai. Rai bahkan memperkenalkan Esta sebagai calon menantu almarhumah ibunya. Ia meminta restu dalam hati.


Selanjutnya, Rai berjalan ke sebuah makam kecil yang ada di dekat pagar pembatas. Di nisannya tertulis, ‘Buah Hati Tercinta Semesta Rai’.


Membaca tulisan itu membuat Esta langsung menghambur dan tak kuasa menahan airmatanya. Itu adalah puncak kesedihannya atas kehilangan bayi mereka. Betapa ia merindukan bayi yang bahkan tidak sempat ia sentuh itu.


“Maafin Mama, Dek. Mama baru bisa dateng sekarang. Huhuhuhu.” Isak Esta.


Rai segera merengkuh bahu Esta dan mengelusnya. Berharap bisa sedikit mengurangi kesedihannnya. Namun yang ada Esta justru semakin terisak saja.


Rasa kehilangan itu kembali menyesakkan dada Esta. Kenangan menyakitkan itu kembali merangsek ke dalam ingatannya. Membuat airmatanya tak mau berhenti mengalir.


Rai sengaja membiarkan Esta untuk memuaskan rasa kesedihannya. Ia sama sekali tidak mau mengganggu pertemuan antara Esta dan buah hati mereka itu.


Namun, setelah lama sekali melihat Esta terus terisak, akhirnya membuat Rai tidak tega juga. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Esta dan bebisik,


“Udah, jangan di tangisin terus. Nanti kita buat adek buat dedek.” Bisik Rai.

__ADS_1


Tingkah konyol Rai itu langsung mendapatkan balasan pukulan di lengannya dari Esta. Tapi hal itu berhasil membuat Esta berhenti menangis dan berganti menatap kesal kepada Rai.


“Kalau bercanda lihat momen, dong. Ngeselin.” Hardik Esta.


“Hehehehehe. Dedek pasti gak mau ngelihat kamu nangis terus kayak gini. Kita harus bahagia buat dia.” Lirih Rai.


Setelah lama menghabiskan kerinduan kepada buah hati mereka, Rai dan Esta kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan ke tujuan mereka selanjutnya. Yaitu makam kedua orang tua Esta.


Bahkan setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, Esta masih mengingat jalan ke makam dengan sangat jelas. Hatinya pias membayangkan kerinduan kepada kedua orang tuanya. Bukan apa, ia tidak bisa mengingat jelas wajah keduanya. Dan itu membuat hatinya semakin mencelos.


Esta dan Rai sudah berdiri disamping dua makam yang nampak masih terawat dengan baik. Kali ini, Esta yang memperkenalkan Rai kepada mereka. Tidak lupa ia juga meminta restu walaupun di dalam hati.


Sebenarnya semua itu sama sekali tidak berguna. Toh kedua orang tuanya sudah pasti tidak akan mendengarkannya. Itu hanya agar ia merasa sedikit tenang karna sudah memberitahu tentang Rai. Dan tidak lupa mereka juga melantunkan doa untuk kedua orang tua Esta.


Di sini, Esta sama sekali tidak menangis. Ia sedih, tapi airmatanya tidak mau keluar. Ada sebuah perasaan yang memerintah kalau ia tidak seharusnya menangis di sini.


Baru setelah kembali ke dalam mobil, Esta bisa menumpahkan seluruh kesedihannya. Ia mulai terisak dan membuat Rai kebingungan.


“Aku kangennn.. Sama mereka. Aku kangen sama papa, mamaku.” Lirih Esta di sela isaknya.


Melihat itu, langsung saja Rai menarik tubuh Esta dan memeluknya erat. Ia bisa memahami bagaimana perasaan Esta. Karna wanita itu sudah lebih dulu kehilangan sosok orang tua di banding dirinya.


“Udah dong sayang. Jangan nangis terus.” Ucap Rai sambil mengusap-usap punggung Esta.


Butuh waktu lama bagi Esta untuk menenangkan diri. Namun pada akhirnya ia berhasil juga menenangkan dirinya.


Selama sepuluh tahun terakhir, baru kali ini Esta bisa menangis karna merindukan sosok orang tuanya. Rasa rindu itu, tidak akan pernah bisa di ibaratkan dengan apapun. Dan kehilangan itu, tidak akan bisa di gantikan oleh apapun.


Rai tersenyum saat melihat Esta yang sudah bisa tersenyum padanya. Ia mengusap pipi wanitanya itu sambil menyisihkan rambut yang tergerai di bagian wajahnya.


“Kita balik sekarang?” Tanya Rai. Kali ini ia mendapatkan anggukan kepala dari Esta.

__ADS_1


Dan mobil kembali melaju meninggalkan area pemakaman umum itu. Membawa Esta dan Rai pulang.


“Mau makan dulu, gak? Atau mau mampir kemana gitu?” Tawar Rai.


“Aku pengen mampir ke satu tempat lagi.” Ujar Esta. Ia memberitahu tujuan mereka berikutnya.


Mumpung sedang ada di Jakarta, Esta ingin menemui orang-orang yang pernah ia kenal dan banyak membantunya. Rai setuju saja dengan permintaan Esta. Namun sebelum mereka pergi, Rai mengajak Esta untuk makan terlebih dahulu. Karna sejak siang tadi perut Rai belum terisi apapun.


“Kita makan nasi goreng seafood aja ya?"


“Terserah Mas aja. Aku ngikut.” Jawab Esta. “Tapi kapan Mas jadi mau jenguk papamu?”


Rai terdiam setelah mendapati pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak berniat untuk menemui ayahnya. Hubungan mereka tidak sedekat itu untuk saling mengkhawatirkan. Kepulangannya hanya untuk mengurusi perusahaan milik ayahnya. Itupun karna paksaan dari dewan direksi dan pemegang saham.


Sebenarnya Rai juga malas mengurusinya. Tapi ia tidak tega mengingat perusahaan itu juga didirikan berkat usaha almarhumah ibunya. Jadi ia merasa punya sedikit kewajiban untuk menjaganya selama ayahnya tidak ada. Bukan karna ia khawatir kepada Fandi.


“Aku ikut kalau Mas mau kesana.”


“Ngapain ikut?”


“Aku mau bilang sesuatu sama Om Fandi.”


Rai mengernyit mendengarnya.


“Gak usah takut. Cuma mau ngomong bentaran aja kok.”


Rai terdiam beberapa saat. Ia sedang berfikir. Apakah tidak apa-apa membawa Esta untuk menemui ayahnya? Ia takut keadaan jadi di luar kendali seperti dulu.


“Ya udah, besok kita kesana.”


“Oke.” Jawab Esta antusias.

__ADS_1


Masih ada yang harus di selesaikan antara Esta dan Fandi. Esta tidak mau hidup dalam kebencian setelah apa yang pria itu lakukan terhadapnya dahulu. Lagipula, mau tidak mau, terima tidak terima, Fandi adalah ayah kandung Rai yang akan menjadi mertuanya. Ia harus menyelesaikan permasalahan yang masih mengganjal di hatinya sebelum benar-benar menikah dengan Rai. Ia tidak ingin menyesal dengan terus membawa kebencian di hatinya.


__ADS_2