Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 63. Cinta Masa Muda Ternyata Juga Bisa Menyakitkan.


__ADS_3

Sejak pagi, Rai sudah pergi untuk bertanding bersama dengan teman-temannya. Mereka sekaligus hendak merayakan kelulusan Akash yang sudah resmi menjadi seorang atlet voli nasional.


Rai memacu mobilnya menembus jalanan ibu kota yang sepi. Karna ini hari munggu, jadi jalanan nampak lengang.


Dalam perjalanan ia terus berfikir. Mungkin ia akan mendapatkan bogem mentah dari Akash mengingat kabar hubungannya sudah tersebar di seantero sekolah. Jadi tidak mungkin Akash tidak mendengarnya juga.


Dan benar saja, begitu ia sampai di lapangan voli tempat di adakannya pertandingan, Akash langsung menyambangi Rai dan langsung melayangkan protes kepadanya. Menatap Rai dengan tatapan mematikannya.


“Apa?” Tanya Rai pura-pura tidak mengerti. Padahal ia sedang was-was kalau-kalau Akash melayangkan tinju padanya.


“Tega banget kamu nikung aku, Rai.” Tekan Akash. Ia sedang menahan diri untuk tidak melayangkan tinjunya. Soalnya sakit hatinya setelah mendengar kabar itu.


“Nikung gimana? Dia kan istriku.”


Akash tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tahu ikatan yang ada di antara Esta dan Rai tidak akan mudah untuk di putuskan begitu saja.


“Kamu bilang kamu gak sayang sama dia? Kamu bilang kamu cuma peduli sama anakmu aja. Kenapa sekarang kamu malah ngumumin pacaran sama semua orang?”


“Terus aku harus gimana? Apa kamu tau sulitnya Esta buat dateng ke sekolah bareng kita? Sementara kita gak ada hubungan apa-apa? Orang-orang udah pada julidin dia, lho. Aku gak akan biarin Esta di sakitin.”


“Jadi sekarang kamu mau sok jadi pahlawan buat dia?”


“Aku bukan sok, Kash. Tapi perasaanku memang tulus sama dia. Aku sayang sama dia. Maaf kalau aku harus duluin kamu.”


“Sialan kamu, Rai.”


Dan pada pertandingan kali ini, Akash dan Rai tidak berada di satu tim yang sama. Melainkan mereka menjadi rival.


Permainan berlangsung dengan sangat sengit. Kemampuan Akash meningkat pesat setelah ia resmi menjadi seorang atlet. Berkali-kali ia melayangkan pukulan smash kepada Rai. Untunglah Rai bisa menangkisnya


Dan permainan itu seperti sedang di kuasai oleh dua orang saja. Saat menerima serangan dari Akash, begitu ada kesempatan Rai langsung kembali membalas serangannya.


Semua orang bisa melihat kalau itu bukanlah pertandingan biasa, tapi perang antar rival dalam hal cinta.


Teman-teman mereka tidak ada yang tidak tau kalau Akash menyukai Esta. Tapi sekarang justru Railah yang menjalin hubungan dengan gadis itu. Mereka bisa mengerti kekesalan dan kemarahan Akash dalam hal ini. Jadi wajar saja kalau Akash sedang melampiaskan kemarahannya lewat pukulan-pukulannya.

__ADS_1


“Woi! Profesional dikit napa sih!” Pekik Trio yang sudah tidak sabar dengan kelakuan keduanya.


“Kalian ini lagi perang cinta apa gimana?! Lihat temen-temen yang lain!” Danu ikut menimpali.


Seketika Rai dan Akash melihat sekeliling. Mereka bisa merasakan tatapan aneh dari semua orang yang melihat kearah mereka.


“Sorry.” Ujar Rai sambil mengangkat tangannya. Dan teman-teman mereka kompak beralih melihat kepada Akash yang belum meminta maaf.


“Iya, iya. Maaf.” Ujar Akash pada akhirnya. Keduanya merasa tidak enak hati karna membawa masalah pribadi dalam permainan.


Selesai bertanding, mereka berkumpul dan duduk di Tribun. Ada yang minum. Ada yang mengelap keringat, dan ada yang saling tatap dengan penuh kebencian.


“Udahlah, Kash. Kayak gak ada cewek lain aja. Anggep aja dia bukan jodohmu. Masih banyak cewek yang antri buat jadi pacarmu.” Seloroh Danu sambil menepuk-nepuk punggung Akash.


“Gak usah segitunya memperjuangkan cinta monyet. Kita masih muda woi. Masih banyak kesenangan-kesenangan di luar sana yang nungguin. Gak perlu patah hati cuma gara-gara di tolak sama Esta.” Trio ikut menimpali.


Akash hanya melirik mereka saja dengan ujung matanya. Ucapan sama sekali tidak membantunya.


“Lagian kamu. Bisa-bisanya tiba-tiba pacaran sama Esta? Gimana ceritanya sih?”


“Gila kamu, Rai. Di butakan oleh cinta. Kamu ganteng begitu, masak pacaran sama cewek kayak Esta sih?” Ujar Trio.


“Memangnya Esta kenapa?!!” Rai dan Akash kompak melotot kepada Trio. Mereka sama-sama tidak terima jika ada yang menjelek-jelekkan Esta.


Merasa terancam, Trio jadi mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


“Waaahhhh.. Gila ni anak dua. Udah di butain sama cinta.” Timpal Danu yang heran dengan kekompakan Rai dan Akash dalam membela gadis yang mereka suka.


Dan kali ini lirikan tajam dari Rai dan Akash gantian menyerang Danu.


“Kalian ini jangan cuma nilai cewek dari luarnya doang. Tapi dari hatinya.” Rai membela pujaan hatinya. Sementara


Akash mencibirinya dengan kesal. Kalah start.


Selesai bermain mereka semua memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe yang berada tepat di seberang lapangan. Mereka memaksa Akash untuk mentraktir mereka makan sebagai bentuk syukuran karna Akas sudah menjadi seorang atlet. Akash juga tidak keberatan dengan hal itu. Dengan senang hati ia melakukannya walaupun hatinya tengah sakit karna kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Esta.

__ADS_1


Tapi tidak apa-apa. Karna memang sudah seharusnya ia mengalah dan berhenti untuk mendapatkan gadis itu. Karna ia sadar kalau ikatan yang ada tidak mungkin untuk ia tembus.


Saat sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya, tiba-tiba ponsel Rai berdering. Itu adalah telfon dari Pras. Rai segera mangangkatnya.


“Dimana kamu, Rai?” Tanya Pras dengan nada panik.


“Lagi di luar, Om. Kenapa?”


“Papamu gak datang ke rusun kan? Soalnya tadi dia datang ke rumah dan marah-marah. Dia udah tau soal kamu dan Esta.”


“Apa?! Kok bisa?!” Rai terkejut hingga membuatnya langsung berdiri dan menjadi pusat perhatian teman-temannya.


“Om juga gak tau dia tau darimana. Coba telfon Esta.” Ujar Pras.


Dengan wajah panik, Rai langsungmematikan sambungan telfonnya kemudian beralih menghubungi ponsel Esta.


Sudah berkali-kali di hubungi, tapi Esta tak kunjung menjawabnya. Membuat Rai semakin khawatir saja. Di saat yang bersamaan, ada panggilan masuk dari Mpok Nur. Untung saja Mpok Nur punya nomor Rai karna beberapa waktu yang lalu mereka saling bertukar nomor.


“Halo, Mpok?! Mpok di rumah? Bisa coba lihatin Esta gak Mpok?”


“Iya makanya Mpok nelfon kamu. Tadi ada yang dateng ke rumah, abis itu si Esta ngurung diri di dalam. Udah ku panggil-panggil tapi kagak nyaut. Mana aku denger suara nangis lagi.”


“Apa?!!” Pekik Rai kemudian yang langsung mematikan ponselnya.


“Kenapa Esta?” Tanya Akash yang masih ingin tahu keadaan Esta. Melihat Rai panik, membuatnya ikut panik juga.


Rai tidak menjawab. Hanya saja nampak sekali raut kekhawatiran di wajahnya. Ia langsung menyambar jaket dan


kunci mobil dari atas meja dan keluar begitu saja tanpa sepatah katapun kepada teman-temannya.


Akash segera menyusul Rai. “Rai!” Panggilnya dengan melemparkan kunci motornya kepada Rai.


“Bawa motorku aja. Kalau bawa mobil kelamaan nyampenya.” Ujar Akash kemudian.


Rai mengangguk cepat kemudian memberikan kunci mobilnya kepada Akash. Dan iapun melaju menuju rumah dengan membawa sepeda motor milik Akash.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan perasaan Rai tidak menentu. Ia takut kalau ayahnya telah menyakiti Esta. Ia khawatir kalau Esta kenapa-napa. Memikirkan hal itu, membuat rasa bencinya kepada ayahnya semakin membesar.


__ADS_2