
Rai tidak menghentikan maupun mengganggu Esta yang nampak sedang berbicara serius dengan seorang wanita di dekat tangga basement. Ia hanya memperhatikan saja dari kejauhan. Sekarang ia sudah ingat, wanita itu adalah tante Esta.
“Kamu kelihatan semakin baik, Ta. Kayaknya hidupmu udah jauh berubah.” Kata Kanti.
Esta mengangguk. “Aku berusaha keras buat bangkit, Bi. Ini siapa?” Esta bertanya tentang anak kecil yang terus memainkan hijab Kanti dan menarik-nariknya.
“Anakku.” Jawab Kanti datar.
Esta terkejut mendengarnya. Karna yang ia tau, Kanti tidak pernah berniat untuk memiliki anak dengan Ringgo.
“Mama ayo cepet masuk...” Rengek bocak perempuan itu sambil terus memainkan hijab ibunya. Menggulung-gulungkannya di tangannya.
“Iya, sebentar.” Ujar Kanti.
“Bibi masih tinggal di rumah itu?”
Kanti mengangguk. Entah kenapa ia tidak berani menatap lurus kepada Esta. Ada sebongkah rasa malu kepada keponakannya itu.
“Maaaaa....” Rengek bocah itu kembali. Kali ini ia menarik hijab ibunya karna kesal tidak dituruti keinginannya. Ia ingin segera masuk ke dalam mall untuk bermain.
“Ya ampun, Bi!” Pekik Esta yang terkejut saat hijab Kanti terlepas dari kepalanya. Ia mendelik tidak percaya kepada Kanti.
Di kepala Kanti, sudah tidak ada sehelai rambutpun lagi. Sudah gundul. Dan hanya menyisakan bekas terbakar yang sudah mengelupas dan berwarna putih.
Kanti yang juga terkejut langsung mengenakan khijabnya kembali. Ia buru-buru hendak meninggalkan Esta sambil menggendong putrinya.
Namun Esta segera mencegahnya. Ia butuh penjelasan tentang keadaan Kanti yang seperti itu.
“Bi. Bibi kenapa kok bisa begini?”
“Enggak apa-apa kok, Ta.” Jawab Kanti sambil terus berusaha menghindari tatapan Esta.
“Bi! Apa Ringgo yang ngelakuin ini sama Bibi?”
Kanti terdiam. Ada genangan airmata di kedua sudut matanya.
Dan dengan diamnya Kanti, Esta bisa menyimpulkan kalau ucpannya adalah benar.
“Tinggalin aja dia kenapa sih, Bi? Kenapa Bibi mati-matian mempertahankan makhluk gak berotak itu?” Geram Esta.
“Aku takut, Ta. Karna dulu aku pernah berniat buat minta pisah sama dia, makanya aku jadi kayak gini.” Lirih Kanti.
“Maksud Bibi apa?”
“Dia nyiram air keras ke kepalaku karna aku minta pisah sama dia.”
Pias sekali hati Esta mendengarnya. Bahkan Ringgo tidak pernah berubah sifat binatangnya. Malah semakin parah karna ia berani menyakiti istrinya.
Padahal dulu, Ringgo tidak pernah memukul Kanti. Mereka memang selalu bertengkar tapi lewat mulut saja. Tak pernah Ringgo bermain fisik kepada Kanti. Hanya kepada Esta Ringgo bisa melampiaskan kemarahannya.
“Bibi udah laporin dia ke polisi?”
“Dia baru keluar dari penjara dua bulan yang lalu. Cuma tiga tahun aja dia masuk.”
“Tiga tahun? Secepat itu? Seharusnya seumur hidup dia meringkuk di penjara.” Esta semakin marah saja. “Kenapa Bibi gak pergi ninggalin dia aja sih?”
“Gak ada yang bisa ku lakuin, Ta. Kemanapun aku pergi, dia selalu menemukan kami. Dan akhirnya dia memaksa kami buat pulang ke rumah.”
__ADS_1
“Bi, ayo ikut aku. Kita pulang ke Semarang. Kalian bisa tinggal sama aku.” Bujuk Esta. Hatinya luluh melihat luka di kepala Kanti.
Ia memang tidak pernah menyimpan dendam kepada Kanti. Karna wanita itu juga yang selalu menolongnya walaupun kadang-kadang caranya terbilang menyakitkan.
“Gak mungkin lah, Ta. Aku masih punya rasa malu.”
“Malu kenapa? Bibi mau hidup begini terus di bawah tangan Ringgo? Bibi gak mikirin anak Bibi? Gak kasihan sama dia? Bibi gak ingat apa yang udah di lakuin Ringgo ke aku? Gak nutup kemungkinan dia ngelakuin itu juga sama dia.”
Kanti terhenyak. Kenapa selama ini ia tidak memikirkan kemungkinan itu? Tiba-tiba hatinya menjadi panik dan takut. Menatap anak yang ada di gendongannya itu dengan pias.
“Maaa.. Ayo masuk. Cepetan.” Rengek anak Kanti lagi.
“Iya, bentar ya.” Rayunya.
“Ini nomorku, kalau Bibi berubah fikiran, cepat telfon aku. Dan aku yang akan ngurus semuanya.” Ujar Esta sambil memberikan kartu namanya kepada Kanti.
Esta menyadari kalau sepertinya Kanti masih butuh waktu untuk berfikir. Jadi ia memberi Kanti pilihan agar Kanti bisa memutuskannya dengan baik.
Kanti mengangguk sambil menerima kartu nama Esta. Ia memasukkan kartu itu ke dalam dompet lusuhnya kemudian berusaha tersenyum kepada Esta.
Esta menatapi punggguk Kanti yang mulai menjauh darinya. Tersenyum kepada bocah kecil yang bergelayut di gendongan ibunya yang membalas tersenyum.
Hhhhhhh...... Desis Esta.
Setelah itu, Esta membalikkan badan dan berjalan kearah Rai yang sedang menunggunya. Dari raut wajahnya, ia sedang memikirkan sesuatu.
“Maaf, Mas. Lama ya nunggunya?”
Rai menggeleng. Ia melemparkan senyumannya kepada kekasihnya itu kemudian menarik tubuh Esta kedalam pelukannya.
“Gak ada gunanya juga nyimpen dendam, Mas. Malah bikin kita penyakitan nanti. Hehehehhe.”
“Uluh, uluh.” Rai mengusap puncak kepala Esta setelah melepaskan pelukannya. “Ayo, masuk. Kita beli pakaian buat kamu.”
“Kayaknya gak usah jadi aja deh, Mas. Lain kali aja aku nginep di rumahmu. Aku udah gak semangat. Sekarang anterin aku pulang ke rumah Putri aja ya.”
“Yaaaah. Kok gitu.” Rai nampak kecewa. Ia memanyunkan bibirnya tidak terima dengan keputusan Esta.
“Idih. Lucu banget sih kalau gitu. Coba lebih maju.” Ledek Esta.
Dan Rai semakin memajukan bibirnya yang sudah mengerucut. Membuat Esta terkekeh senang.
“Ya udah. Ayo aku antar.”
Dan akhirnya Rai dan Esta tidak jadi masuk ke dalam mall itu.
“Besok jemput jam berapa?” Tanya Esta saat mobil sudah melaju di jalanan aspal ibu kota.
“Jam-jam delapan aja ya. Soalnya abis siang aku ada meeting sama pihak Angkasa Pura.”
“Oke.”
Obrolan itu terhenti saat ponsel Esta berbunyi. Ia segera mengangkat telfon dari putri itu.
“Iya, Put?”
“Kamu pulang kan Ta?” Tanya putri langsung.
__ADS_1
“Pulang dong. Ini lagi di jalan. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Soalnya Mama nanyain kamu. Kirain gak pulang.
“Pulang lah. Sepuluh menit lagi nyampe.” Kata Esta.
“Yaudah. Sorry udah ganggu kencan kalian. Hahahahahhaa.” Seloroh Putri yang langsung mematikan sambungan telfonnya. Membuat Esta hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja.
“Kenapa?” Tanya Rai penasaran.
“Cuma nanya pulang apa enggak.”
“Tuh kan, harusnya kamu gak usah pulang, sayang. Tidur di rumah aja. Biar bisa ngobrol sama tante Citra sampe puas.”
“Besok-besok aja lah. Gak enak juga sama keluarganya Putri.”
“Ehm, sayang...” Panggil Rai lirih.
“Hem?” Esta menoleh kepada Rai.
“Masalah om-mu itu. Mau aku yang urus? Aku bisa buat dia tinggal di penjara seumur hidup.” Ujar Rai. Ia memang mendengar semua percakapan antara Esta dan Kanti tadi. Karna ia berdiri tidak jauh dari mereka.
“Emangnya kamu bisa?” Tanya Esta tidak yakin.
Rai mengangguk. “Bisa bangettttt.”
“Menurutmu itu yang terbaik?”
Rai mengangguk. “Orang semacam itu, harus di asingkan biar gak bisa melampiaskan perbuatan gilanya.”
Esta terdiam.
“Kenapa? Kamu gak tega?”
Esta segera menggelengkan kepalanya. “Boleh lah di coba caramu itu, Mas. Hehehhe.”
“Okkeee.”
Mobil sudah berhenti di depan rumah keluarga Putri. Esta segera turun dan begitu juga dengan Rai.
“Ya udah, buruan masuk aku pulang dulu kalau gitu.” Ujar Rai. Namun ia tetap berdiri di tempatnya dan tidak bergerak sedikitpun. Ada rasa tidak rela di netranya untuk berpisah dengan Esta.
“Ya udah. Hati-hati.” Jawab Esta. Ia juga belum beranjak dari tempatnya. Menunggu Rai yang pergi lebih dulu.
“Kenapa gak ditahan? Aku mau pulang lho...” Desis Rai dengan ekspresi kesalnya.
“Ye kenapa harus nahan? Kan kamu mau pulang, Mas. Besok pagi juga udah ketemu lagi.”
Nampak sekali kalau Rai tidak rela berpisah dari Esta. Ia memanyunkan bibirnya dan mulai berbalik badan.
“Mas!” Panggil Esta pada akhirnya. Membuat Rai menghentikan langkah dan menoleh
Cup!
Esta menghadiahi Rai sebuah kecupan singkat di pipi. Membuat Rai terhenyak kemudian tersenyum dengan perlahan. Hatinya senang luar biasa.
Dan Esta. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sudah merona.
__ADS_1