
Mobil yang di kemudikan oleh Pras sudah memasuki kawasan Pondok Pesantren Terpadu Darussa’adah di kawasan Duren Sawit. Ia segera memarkirkan mobilnya di area parkir yang tersedia. Salah seorang santri laki-laki langsung berlari kecil mendekati mereka.
“Pa!” Panggil Afdal, putra sulung Pras.
“Oh, kok kamu disini?” Tanya Pras.
“iya, lagi gotong royong bersih-bersih.” Jelas Afdal. “Papa sama Bang Rai kok kesini? Tumben.”
“iya, ada perlu dikit sama Gus Kiayi. Beliau ada di rumahnya, kan?” Tanya Pras.
“Iya, ada. Coba aja kesana. Yaudah kalau gitu, aku balik ke sana lagi, ya...” Pamit Afdal kemudian mencium tangan papanya dan juga Rai.
Pras memandang punggung anaknya itu dengan tatapan bangga. Ia tersenyum lirih kemudian mengajak Rai untuk pergi menuju ke rumah Gus Kholiq.
Sesampainya di depan rumah, ternyata Gus Kholiq sedang duduk membaca kitab di beranda rumahnya. Pria yang sudah berusian sekitar 40an tahun itu langsung berdiri dan menyambut kedatangan Pras dan Rai.
“Assalamu’alaikum, Gus.” Sapa Pras.
“Wa’alaikum salam, Mas Pras rupanya. Sini, mari, mari masuk.” Ujar Gus Kholiq.
Pras dan Rai menyambut keramahan itu dengan menyalami Gus Kholiq. Kemudian mereka masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
“Apa kabarnya Mas Pras? Kayaknya sudah lama tidak kemari.”
“Alhamdulillah baik, Gus. Baru kemarin lusa saya dari sini, memang gak jumpa sama Gus, katanya Gus sedang pergi ke Depok.”
“Oh, iya, iya, betul. Kemarin lusa saya ada acara di daerah Depok. Ini,,, anaknya Mas Fandi, bukan?” Tanya Gus Kholiq lagi kepada Rai.
“Iya, Gus.” Jawab Rai dengan nada bicara yang sangat sopan. Ia merasa sedang menciut di hadapan pria yang memancarkan wibawa itu.
__ADS_1
“Walah, sudah besar sekali kamu ya. Sudah kelas berapa?”
“Kelas 3 SMA, Gus.”
“Sebentar lagi udah tamat ya. Ganteng kayak papamu.” Seloroh Gus Kholiq sambil tersenyum.
Dalam waktu jeda pembicaraan, Gus Kholiq meminta salah satu putrinya untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Tidak berapa lama kemudian, tiga gelas teh hangatpun sudah tersaji di atas meja.
“Jadi, apa yang mau disampaikan, Mas Pras?” Tebak Gus Kholid.
Pras yang memang umurnya tidak jauh di bawah Gus Kholiq hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Ia menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Sementara Rai sedang merem@s jemarinya sendiri. Ia sedang merasa takut, pun malu. Hatinya sedang mengempis.
“Begini, Gus. Kami ingin meminta pendapat dan saran dari Gus Kholiq.” Pras berhenti berbicara, ia ragu untuk menyampaikan maksudnya. Ia menoleh kepada Rai yang sedang tertunduk di sampingnya.
“Gak usah ragu, Mas. Insha Allah, kalau saya bisa saya akan bantu semampunya.”
“Jadi gini, ehm,,, keponakan saya ini, sudah berbuat dosa yang sangat besar, Gus. Dia sudah menghamili teman perempuannya.” Lirih Pras.
“Saya mau tanya, apakah sah kalau Rai menikahi anak itu? Atau apa yang lebih baik Rai lakukan?”
“Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpamu, Nak Rai. Ini bener-bener cobaan yang luar biasa. Tapi Allah gak pernah menyulitkan hambanya walaupun kita udah ngelakuin dosa besar seperti itu. Jadi, apa kamu berniat buat nikahin dia?” T anya Gus Kholiq kepada Rai.
Rai mengangguk. “Iya, Gus. Saya ingin mempertanggung jawabkan perbuatan saya.” Jawab Rai lirih. Sedikit demi sedikit, perasaan malunya mulai menghilang karna Gus Kholiq menanggapinya dengan santai.
“alhamdulillah, kalau begitu.”
“Tapi, apakah boleh menikahi wanita yang sedang hamil, Gus?” Pras yang bertanya.
“Dalam islam, menikahi wanita hamil hukumnya boleh alias sah, baik secara agama, maupun negara. Tapi, ada tapinya ini lo,,, ada urusan nasab yang harus diperhatikan betul-betul. Disini ada 4 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, kalau anak itu udah lahir, dia gak boleh pakai bin bapaknya meskipun kalian udah nikah, dia tetap harus memakai bin ibunya. Kedua, kalau anak yang lahir itu laki-laki, maka dia gak bisa jadi wali nikah adik-adik perempuannya nanti. Yang ke tiga, kalau anaknya perempuan, kalau dia besar dan mau nikah nanti, maka yang bisa jadi wali nikah itu hakim yang menikahkan ibunya. Dan yang ke empat, anak itu gak bisa dapet warisan dari bapaknya.” Jelas Gus Kholiq panjang lebar.
__ADS_1
Rai menghela nafas dalam. Ternyata serumit itu hukumnya dalam islam. Penyesalan semakin menumpuk di dadanya. Membayangkan kesulitan hidup yang akan di tanggung oleh anak itu kelak, membuat Rai menghela nafas penuh sesal.
“Masalah ini memang selalu di pandang sepele, tapi jangan salah, justru inilah masalah paling pentingnya, bukan cuma sekedar nikah lalu selesai masalah. Makanya Allah sangat mewanti-wanti perbuatan zina, Dia sangat membenci perbuatan itu. karna ya itu, sayang anaknya. Belum lagi sanksi sosialnya nanti yang pasti gak akan mudah bagi si anak. Kalau kita mikir jauh ke depan, kasihan anaknya, toh? Cuman kita yang namanya manusia, terkadang kalah sama nafsu dan jadi kebablasan. Tempatnya salah itu manusiawai. Siapapun manusia bisa salah. Yang penting jangan di ulangi lagi dan terus memperbaiki diri supaya jauh dari hal yang tidak baik.”
“Iya, Gus,,,”
“Jadi kalau kamu memang udah mantap mau nikahin dia, siapkan mentalmu. Karna menikah bukan perkara sah-nya saja. Tapi ada tanggung jawab yang mengikuti di belakangnya. Kamu laki-laki, statusmu akan berubah jadi kepala keluarga saat ijab kabul selesai. Dan tanggung jawab kepala keluarga itu sama sekali gak mudah. Ada hidup istri dan anakmu di telapak tanganmu. Menikah itu yang di cari berkah, salah bersikap sedikit, bisa mengundang kemurkaan Allah. Kamu harus jadi imam dan pemimpin yang baik untuk keluargamu.”
Rai menundukkan kepalanya dalam. Ia menangis dalam hati menyesali segala yang pernah ia lakukan. Perbuatan bodoh itu sudah menutup pintu masa depannya. Fikirannya langsung membayangkan jika nanti anak itu lahir dan ia tidak bisa memakai nasabnya, betapa hal itu akan sangat memalukan bagi anak itu.
“Menyesal, itu udah pasti. Tapi gak ada yang bisa dilakuin karna semua itu udah terjadi. Kamu udah bener karna mau bertanggung jawab. Insha Allah, semua bakal baik-baik aja, Nak Rai.” Gus Kholiq menghibur kepedihan hati Rai. “Setan itu punya banyakkk sekali cara untuk menjerumuskan manusia. Tapi kita, hanya butuh satu cara saja untuk menangkisnya, yaitu, berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan cara apa? Dengan cara mentaati perintah-perintahnya. Allah sudah menjabarkan sejelas-jelasnya dalam Al-Qur’an dan Hadist. disana, ada banyak jalan keluar dari semua permasalahan yang di hadapi oleh manusia. Jadi jangan khawatir.”
“Terimakasih, Gus.” Lirih Rai.
“Dan kalau boleh kami minta, supaya nanti Gus berkenan untuk mendampingi mereka saat menikah.” Pinta Pras.
“Isha Allah, saya tunggu kabar baiknya.”
“Nanti saya kabari lagi, Gus. Terimakasih atas nasehatnya. Maaf sudah merepotkan Gus Kholiq.” Imbuh Pras.
“gak apa-apa. Alhamdulillah kalau pengetahuan saya masih berguna untuk orang lain, saya senang sekali bisa membantu.”
“Terimakasih banyak, Gus.” Rai ikut berucap.
“Kalau begitu kami permisi dulu, Gus. Sekali lagi terimakasih.” Pamit Pras.
“Lho kok buru-buru?”
“Gak apa-apa, Gus. Mama di rumah sendirian. Assalamu’alaikum...”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.”
Rai kembali mencium punggung tangan Gus Kholiq seraya meminta ijin untuk pamit. Dan kemudian ia dan Pras keluar dari rumah Gus Kholiq dan berjalan menuju ke mobil mereka. Ada perasaan sedikit lega yang di rasakan oleh Rai. Tapi tetap, rasa bersalah itu masih menggunung di hatinya. Rasa bersalah untuk anak yang akan lahir ke dunia karna sudah memberinya ketidaknyamanan dalam hidupnya kelak.