
Rai dan Esta baru saja makan siang dengan sayur hasil masakan Esta. Udang bumbu kuning yang di campur dengan tumbukan daun ubi. Serta tumis tahu dan kecombrang dengan sambal terasi sebagai pelengkapnya.
Ternyata Esta pintar memasak. Hasil masakannya terasa sangatenak dan cocok di lidah. Rai bahkan sampai tambah dua kali saking enaknya.
Sekarang, keduanya sedang sibuk mencuci piring. Esta yang menyabuni, sementara Rai yang membantu membilas piring-piring itu. Di lihat sekilas, mereka sudah seperti gambaran pasangan pengantin baru yang bahagia. Apalagi di selingi dengan canda tawa sesekali.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam...” Jawab Rai dan Esta berbarengan. Rai melongokkan kepalanya dari balik dinding dan ia sangat terkejut karna melihat Prasetyo yang sudah berdiri diambang pintu rumahnya.
“Om!” Pekik Rai yang langsung menaruh piring yang ia pegang ke rak piring dan menghampiri Prasetyo.
“Lagi ngapain, sih?” Tanya Prasetyo.
“Masuk, Om.” Tawar Rai yang langsung membereskan bekas sisa prakaryanya yang masih berantakan di lantai.
“Jadi cuman Om mu ya yang di suruh masuk?” Suara renta Salamah yang baru muncul dari balik pintu.
“Nenek!!” Pekik Rai langsung menghambur kepada neneknya. Disana juga ada Citra dan putri kecilnya Afni. Ia menyalami mereka semua.
Mendengar ada tamu, Esta segera menyelesaikan pekerjaannya dan ikut bergabung dengan mereka. Ia juga menyalami semua keluarga Rai. Salamah bahkan memeluknya dengan penuh kehangatan.
“Apa kabarnya, sayang?” Tanya Salamah kepada Esta.
“Baik, Nek. Nenek apa kabar?”
“Nenek ya begini-begini aja. Sudah tua.”
“Yang penting sehat, Nek.”
“Lagi ngapain kamu?” Timpal Citra.
“Baru selesai cuci piring, Tante. Nenek udah pada makan? Esta ambilin ya?” Tawar Esta ramah. Rasanya ia dekat dengan keluarga itu. Ia senang melihat mereka. Ia bahagia berada di antara kehangatan keluarga Rai.
“Kami udah makan. Abis makan terus kemari. Kami mampir cuman mau lihat kalian aja. Nenek kangen katanya.” Ujar Prasetyo.
__ADS_1
“Ikut yukk,,” ajak Citra.
“Mau pada kemana?” Tanya Rai.
“Ke villa. Udah lama gak kesana.”
Rai melihat kepada Esta. “Mau?”
“Bo-leh.” Jawab Esta ragu. Tidak ada alasan ia menolak acara jalan-jalan seperti itu.
Dengan segera Esta mengepak baju gantinya dan juga Rai. Ia bahkan sudah tidak malu lagi untuk mengambil pakaian dalam milik Rai dan menggabungkannya di dalam tas bersama miliknya. Tidak banyak pakaian yang di bawa. Hanya dua set miliknya, dan dua set milik Rai. Karna besok, mereka sudah harus kembali.
Setelah siap, Esta dan Rai beserta keluarganya kembali ke mobil mereka yang di parkir di depan rusun. Rai memilih untuk membawa mobil sendiri bersama dengan Esta. Karna keluarganya berencana menginap di sana untuk beberapa hari. Sementara ia dan Esta harus kembali sekolah pada hari senin.
“Bawa mobil sendiri? Emang udah punya SIM?” Tanya Esta ragu. Kan tidak lucu kalau mereka kena tilang nanti di jalan.
“Udah dong. Ayo, masuk.” Dengan manisnya Rai membukakan pintu untuk Esta.
‘Sabar, Ta. Sabar. Jangan baper cuma karna perhatian kayak gitu doang. Inget, Rai cuma gak mau anaknya kenapa-napa.’
Perjalanan yang akan mereka tempuh kurang lebih dua jam-an lebih. Tergantung kondisi kemacetan jalan.
Di perjalanan, Rai kembali menawari Esta untuk membeli sesuatu, namun Esta menggeleng karna ia sedang tidak ingin makan apa-apa.
“Kalau ngantuk tidur aja. Nanti kalau udah nyampe aku bangunin.”
“Gak ngantuk, kok.” Jawab Esta.
Untuk sementara suasana menjadi sedikit canggung. Rai sedang berfikir keras untuk menemukan bahan obrolan yang pas untuk suasana itu.
“Ta?”
“Hem?” Esta menoleh.
“Emang gak susah ya?”
__ADS_1
“Apanya?”
“Keadaan ini. Memangnya kamu gak ngerasa berat gitu?nyesek apa gimana?”
Esta mengerti maksud Rai.
“Terus, kalau aku ngerasa nyesek, aku bisa apa? Udah terlanjur begini, Rai. Kita gak bisa apa-apa.”
“Ada gak sih penyesalan dalam diri kamu selama ini?”
“Ya pastilah. Siapa yang gak nyesel dengan keadaan seperti ini? Semua cewek nyesel kalau ada di posisiku, Rai. Tapi balik lagi, kita bisa apa?”
‘Maafin aku, Esta. Aku yang buat kamu berada di posisi ini’
“Kamu benci gak sama anak itu?”
Pertanyaan Rai terasa menohok ke dalam jantung. Walaupun bisa di bilang Esta tidak bahagia dengan kehamilannya. Tapi ia juga tidak membenci bayinya. Ia memang tidak senang, tapi ia menyayangi bayinya. Kalau ia tidak sayang, ia sudah memutuskan untuk membuangnya daripada harus hidup repot seperti ini.
“Tolong jangan benci dia ya, Ta. Dia gak salah, aku yang salah. Kalau kamu butuh pelampiasan rasa bencimu, kamu bisa benci aku sesukamu. Tapi tolong, jangan benci dia.”
“Aku gak pernah benci dia, Rai. Dan aku juga gak pernah benci sama kamu. Aku gak benci siapapun. Bukan cuma kamu, aku juga sayang sama anak ini. Aku juga pengen dia lahir dan sehat. Malahan aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Cewek jelek kayak aku malah jadi ibu dari anakmu. Harusnya dia punya mama yang cantik, biar seimbang sama papanya yang ganteng. hehehe...”Lirih Esta. ia tertawa kecil. tawa yang jelas-jelas penuh kebohongan.
Tiba-tiba Esta menjadi rendah diri jika memikirkan jauh ke arah sana. Jujur dalam hati kecilnya, ia merasa tidak pantas berada di dekat seorang Rai Kenandra. Di lihat dari sisi manapun, ia tidak pantas.
“Kalau nanti anak ini jelek nurun kayak aku, gimana?”
“Kamu ini ngomong apa, sih? Gak penting jelek apa cantk. Itu semua cuma kulit luar aja, Ta. Yang penting kita didik dia dengan baik supaya punya sifat yang baik, gak kayak kita.”
Kita didik dia?
Salahkah jika Esta senang menafsirkan bagian itu? Rai menggunakan kata ‘kita’ disini. Itu berarti mereka akan membesarkan anak mereka dengan bersama-sama. Dalam waktu yang lama. Apakah itu mungkin? Begitukah?
Esta terlalu berlebihan berfikirnya. Padahal bisa saja mereka mendidiknya bersama-sama walaupun mereka sudah berpisah nanti. Terlalu dini untuk merasa senang.
Padahal Esta harus mempertegas batasannya. Padahal ia sudah bersikeras untuk begitu. Ia tidak ingin melambung dengan perhatian yang di berikan oleh Rai. Karna ia tau ia pasti akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Ia tidak ingin itu terjadi.
__ADS_1
Ia harus fokus pada dirinya sendiri. Seperti sebelumnya. Ia tidak boleh terpengaruh dengan keberadaan bayi di perutnya hingga ia berani mengharapkan lebih dari Rai. Bayi itu adalah satu-satunya pengikat hubungan antara dirinya dengan Rai. Tidak lebih. Tidak ada hal seperti perasaan cinta yang akan ikut campur dalam hubungan ini.
Tidak, dia tidak menyukai Rai, begitu juga sebaliknya. Rai tidak menyukainya. Dunia mereka terlalu berbeda. Sangat tidak pantas jika ia berani menyukai pria itu. Gadis buruk rupa tidak akan pernah bersanding dengan pangeran tampan. Di dalam dongeng manapun, pangeran hanya akan menikahi gadis cantik yang menawan. Bukan gadis buruk rupa.