Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 44. Berusaha Mati-Matian Melawan Debaran.


__ADS_3

Esta masih sibuk bertarung dengan rambutnya. Belum lagi udara dingin menyeruak menelusupi setiap rongga pakaian yang ia kenakan. Membuat tubuhnya merinding tidak karuan. Ia langsung menoleh saat Rai datang dan meletakkan nampan berisi dua cup mie cup dan dua buah jagung bakar yang di lumuri saus.


“Makan dulu biar gak dingin.” Ujar Rai.


“Wah,, enaknya...” Seloroh Esta saat melihat kepulan asap yang keluar dari cup mie. Ia nggosok-gosokkan kedua telapan tangan dengan antusias sementara menunggu Rai membukakan bungkusan sendok untuknya.


“Pelan-pelan. Panas.” Ucap Rai memperingatkan Esta yang hampir saja melahap mie itu. Padahal di lihat dari asapnya juga itu masih sangat panas.


Esta sibuk. Antara meniupi makanannya dan menyingkirkan rambutnya yang di terpa angin. Melihatnya saja membuat Rai tidak sabar dan gemas sendiri.


Rai kembali meletakkan cup mienya di sampingnya, kemudian kembali beranjak pergi meninggalkan Esta yang kebingungan karna Rai pergi tanpa berkata apa-apa. Esta hanya bisa menatap punggung Rai yang menjauh dengan tatapan bingung.


Beberapa saat kemudian, Rai sudah kembali dan langsung duduk lagi di tempatnya semula.


“Hadap sana.” Perintah Rai saat melihat tangan Esta yang sudah belepotan saus akibat memakan jagung bakar.


Walaupun bingung, namun Esta tetap menuruti perintah itu. Namun ia langsung terhenyak saat tiba-tiba ia merasakan tangan Rai yang menyentuh bagian lehernya. Pria itu sedang mengikat rambutnya dengan hati-hati.


Dan lagi, Esta tidak bisa mengendalikan hatinya yang bergetar. Sentuhan Rai membuat percikan api di seluruh tubuhnya hingga tubuhnya meremang.


Esta hendak menyingkir dari Rai namun pria itu keburu menghalanginya.


“Ssshhppp! Udah, diem.” Hardik Rai dengan tetap menahan rambut Esta.


Saat sudah tidak merasakan tangan Rai di rambutnya, Esta langsung berbalik pada posisi semula. Ia menoleh kepada Rai yang ternyata sudah sibuk dengan cup mienya.


“Dari mana dapat ikat rambut?” Tanya Esta penasaran. Padahal di dalam hatinya ia sedang bertarung mati-matian melawan debaran.


“Di warung. Beli lotre dapet ikat rambut.” Jawab Rai.


Yang tidak Esta tau adalah, kalau Rai mencari ikat rambut tapi tidak ada yang menjualnya. Lantas ia melihat ada deretan lotre dan ia melihat salah satu hadiahnya berupa ikat rambut kecil. Dan ia meminta kepada penjualnya untuk mengijinkannya membeli ikat rambut itu walaupun ia harus membeli seluruh lotrenya.

__ADS_1


“Gak dingin?” Tanya Rai kemudian. Ia melirik ke lengan Esta yang merinding.


“Gak begitu...” Alasan Esta. Padahal ia sudah hampir membeku.


Namun Rai tidak percaya begitu saja dengan sanggahan Esta. Ia yakin kalau gadis itu sedang kedinginan dengan melihat lengannya saja.


Tidak tahan melihat Esta yang sudah berkali-kali menggigil, akhirnya Rai membuka jaketnya dan langsung menyampirkannya di punggung Esta.


“Pakai yang bener.” Perintahnya lagi.


“Aku gak dingin kok.”


“Udah, jangan cerewet. Pakai jaketnya yang bener.”


“Tapi kamu juga cuma pakai kaus pendek begitu, lho.”


“Aku gak dingin. Udah biasa kesini.” Rai beralasan.


“Iya kah? Yaudah deh, makasih.”


“Karna aku gak biasa ngerepotin orang. Aku gak mau ngerepotin kamu.”


“Apa karna itu juga kamu gak mau aku tanggung jawab kemarin itu?”


Esta langsung menoleh. Begitu juga dengan Rai. Pandangan mereka saling bertemu.


“Udah lama aku penasaran. Dulu, kenapa kamu gak pernah kelihatan panik atau bingung, atau sedih, marah? Waktu pertama tau hamil?”


“Aku panik, kok. Aku juga bingung waktu pertama tau. Tapi itu cuma sebentar aja. Abis itu ya udah, biasa lagi.”


“Kenapa gitu?”

__ADS_1


“Dari pada panik dan bingung. Aku sibuk mikirin cara buat lanjutin hidup. Lagian, kita sekolah tinggal sekitar dua bulanan lagi. Jadi aku fikir, kalaupun aku pertahanin anak ini, gak akan ada orang yang tau karna perutku belum besar. Dengan berfikir begitu, aku bisa tenang dan gak panik.”


“Terus kenapa kamu gak mau aku tanggug jawab?”


“Ya karna aku gak mau ngerepotin kamu. Kan aku udah pernah bilang, kalau aku bakalan baik-baik aja walaupun kita gak nikah. Aku gak punya keluarga yang bakalan malu. Tapi kamu beda. Keluargamu tersohor, orang penting.


Dan aib ini, bisa buat malu keluargamu seumur hidup. Buktinya aja, kamu gak berani kan ngasih tau papamu. Itu membuktikan kalau kamu masih punya banyak pertimbangan.”


“Aku bukan gak berani, tapi....”


Rai tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia tidak ingin menceritakan keburukan ayahnya kepada Esta. Ia tidak memberi tahu ayahnya hanya karna ia takut kalau ayahnya itu akan menyakiti bayinya dan juga Esta. Di lihat dari sifat keras ayahnya, dia bisa melakukan yang lebih dari itu. Ia melakukan ini untuk melindungi anaknya.


Waktu terus berjalan. Matahari mulai turun perlahan ke peraduannya. Menyisakan semburat warna jingga di ufuk timur di balik perbukitan. Mempesona siapapun yang memandangnya. Menyisakan perasaan haru akan keindahannya yang menyihir.


Tidak terkecuali Esta. Ia semakin terpana saja melihat pemandangan itu. Sudah berkali-kali ia mengambil foto menggunakan ponselnya yang retak.


“Sini aku fotoin. Pake hape ini aja, gambarnya lebih bagus.”Tawar Rai.


Esta mencibir. Tersinggung karna ponsel Rai jauh lebih bagus dari ponselnya. Tapi ia dengan senang hati menerima tawaran itu. Ia segera berpose dan memasang senyumannya yang paling indah menurut versinya.


Beberapa kali Rai mengambil foto Esta dengan latar matahari terbenam yang indah. Menampakkan siluet dengan senyum Esta yang mendominasi. Setelah itu, Esta kembali sibuk dengan sang matahari.


Sementara Rai, ia punya kesibukan baru, yaitu menatapi hasil jepretan di ponselnya. Ia tersenyum samar. Keindahan jingga matahari terbenam masih kalah indah dengan senyuman yang ada di ponselnya.


Ra merasa, senyuman itu seolah membukakan jalan untuknya. Memperjelas garis finish di dalam sirkuitnya. Samar, iapun bisa melihat jalan keluar dari sirkuit itu.


Oh hati, kenapa sulit sekali di kendalikan? Kenapa tidak bersedia memberi batasan?


Rai berfikir lagi setelah berkali-kali menampik perasaannya. Memangnya kenapa kalau dia suka kepada Esta? Memangnya kenapa kalau timbul rasa sayang di hatinya untuk gadis itu? Apa yang salah? Tidak ada yang melarangnya untuk mempunyai perasaan kepada Esta. Esta adalah istrinya!


Tapi, ia masih ragu. Ia tidak punya keberanian untuk menunjukkannya. Ia takut akan sebuah penolakan yang ada dalam bayangannya. Pun, ada Akash di antara mereka. Dan sepertinya Esta juga menaruh perasaan kepada Akash.

__ADS_1


Kalau saja ia tidak menghamili Esta dan menikahinya, mungkin saja waktu itu Esta sudah menerima pernyataan cinta Akash. Ia bisa melihat kelebatan perasaan mereka satu sama lain.


Ia tau, kalau Esta menolak Akash karna dirinya. Karna status  yang sudah ia sematkan kepada gadis itu membuat Esta menahan perasaannya untuk Akash.


__ADS_2