Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 51. Bertindak Diam-Diam Dengan Mengumpulkan Keberanian.


__ADS_3

Saat bus sudah kembali melaju, tidak ada yang memperhatikan kalau Rai sudah pindah tempat duduk tepat di belakang Esta.


Tadi ketika bus berhenti, Rai berhasil merayu salah satu temannya untuk bertukar tempat duduk. Ia beralasan kalau Trio mendengkur jadi ia tidak bisa tidur. Untungnya temannya itu bersedia bertukar tempat dengannya.


Saat bus sudah kembali melaju, kondektur kembali mematikan lampu kabin agar penumpang nyaman untuk tidur. Hanya lampu samping yang remang saja yang di biarkan menyala.


Dari pendaran lampu itu, Rai bisa melihat pantulan wajah Esta dari kaca di sampingnya. Ia senang sekali bahkan hanya dangan melihat pantulan wajahnya.


Nampaknya Esta benar-benar mengantuk berat. Gadis itu kembali melengserkan kepalanya di kaca samping. Melihat hal itu, Rai segera menyisipkan tangannya di antara sandaran kursi dan kaca. Ia melindungi kepala Esta agar tidak terantuk lagi. Ia menjadikan tangannya pelindung kepala gadis itu.


Walaupun mengantuk, tapi Rai menahan diri untuk tidak tidur. Ia senang bisa melindungi dan menjaga Esta diam- diam. Untungnya gadis itu tidak menyadari perbuatannya. Padahal dalam hati Rai was-was juga kalu Esta sampai tau dan semakin marah padanya.


Setelah tiga jam berlalu, dan tangan Rai mulai kesemutan. Ia masih bertahan dalam posisinya. Untungnya kali ini Esta beralih dan menggeser kepalanya kembali ke sandaran kursi.


Perlahan Rai menarik tangannya yang sudah terasa kaku. Memijitnya sebentar untuk menghilangkan kesemutannya. Barulah setelah itu ia bisa tidur nyenyak. Sebelumnya ia memastikan kalau Esta sudah nyaman dengan posisinya.


Pukul tujuh pagi, bus rombongan sudah sampai di pusat kota Jogja. Bus berhenti di salah satu rumah makan yang tidak jauh dari alun-alun kota Jogja. Disana, para murid di persilahkan untuk sarapan pagi dan mandi serta bersiap-siap untuk memulai tournya. Sebelum menginap di hotel nanti malam.


Tujuan pertama hari ini adalah Candi Borobudur. Setelah itu mereka akan melanjutkan ke daerah wisata Kaliurang.


Setelah semua siswa selesai mandi dan sarapan. Bus segera melaju menuju ke Candi Borobudur yang berada di kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Butuh waktu sekitar lebih dari satu jam perjalanan dari kota Jogja.


Walaupun lelah, semua orang nampak sangat senang dan antusias. Tidak terkecuali Rai dan Esta.


Setiap ada kesempatan, Rai selalu berusaha untuk mendekati Esta dan mengajaknya mengobrol. Namun seperti yang sudah di duga oleh Rai, gadis itu masih memberi batasan dan enggan menanggapi Rai. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu mengobrol dengan Akash dan teman-teman yang lain.


Keberadaan Esta sudah semakin nampak di mata teman-temannya. Hal itu tidak lepas dari pengaruh Akash yang selalu ada di dekat gadis itu. Juga Rai yang bersedia meluangkan waktu untuk mengajarinya.


Setelah Trio dan Pak Jamil selesai mengurus tiket masuk, para petugas candi segera membagikan kain untuk di pakai oleh setiap wisatawan yang datang ke candi sebagai bentuk penghormatan di tempat ibadah.


Setelah itu barulah mereka di perbolehkan untuk masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Akash tak pernah lepas mendampingi Esta kemanapun Esta pergi. Begitu juga dengan Rai. Ia selalu membuntuti kemanapun dua manusia itu melangkah. Ia akan mencari seribu alasan saat Trio dan Tina protes kepadanya. Yang penting, Esta tidak luput dari pandangannya.


Saat ada kesempatan, maka Rai akan memotret Esta diam-diam agar tidak ada yang tau. Tanpa ia sadari galeri ponselnya penuh dengan foto-foto yang selalu menampakkan Esta di dalamnya.


Esta sedang duduk di pinggiran candi dengan mengipasi wajahnya menggunakan tangan. Teriknya matahari membuat Esta tidak sanggup berjalan berkeliling seperti teman-temannya yang lain.


Di sana tidak ada tempat berteduh. Hal itu membuat Esta kewalahan mengatasi rasa lelahnya. Disaat itu Esta hanya sendirian. Sementara Akash yang sejak tadi bersamanya malah menghilang entah kemana. Sepertinya pria itu juga sibuk berfoto ria seperti teman-temannya yang lain.


Esta menenggak botol air mineral yang ia bawa hingga isinya habis tak bersisa. Tapi itu juga belum cukup untuk mengusir rasa hausnya. Ia membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


Sebuah bayangan tiba-tiba muncul entah darimana dan melindungi Esta dari teriknya matahari sehingga membuat gadis itu langsung mendongakkan kepalanya. Rai tersenyum sambil memegangi payung di atas kepala Esta sementara membiarkan matahari menyengat tubuhnya.


“Pake ini. Biar gak panas.” Ujarnya.


“Aku gak panas, kok. Cuman capek.”


“Bilang gak panas. Muka udah merah begitu. Nanti belang lho.”


Mendengar itu, Rai berjongkok dan mendekatkan wajahnya kepada Esta. Ia membisikkan sesuatu di dekat telinga Esta.


“Aku cuma gak mau anakku kepanasan.”


Ah, ya. Lagi-lagi Rai hanya peduli dengan anaknya saja. Begitu sayangkah dia terhadap bayi itu? Sehingga mengesampingkan wanita yang mengandungnya? Esta sangat kesal saat memikirkannya.


Esta berdiri dan langsung merebut payung dari tangan Rai. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri candi dan sesekali mengambil foto selfinya sendiri.


Rai masih setia mengekori Esta. Memperhatikan setiap tingkah laku gadis itu. Ia akan langsung memasang kuda-kuda saat Esta berjalan ke arah pinggir, seolah ingin langsung menangkapnya saat terjadi sesuatu kepada Esta. Padahal Esta hanya melongok saja ke bawah.


“Ngapain sih ngekorin mulu?” Hardik Esta yang merasa risih di ikuti terus oleh Rai.


“Siapa yang ngikutin kamu? Pe De.”

__ADS_1


“Aku gak bakal nyelakain dia.” Ujar Esta menunjuk perutnya. “Gak usah takut. Aku bisa kok jaga dia.”


“Aku gak ngikutin kamu, Ta. Orang memang aku mau jelan ke sana kok.” Ujar Rai ngeles.


Esta kesal. Ia memilih jalan yang berlawanan arah dari Rai. Ia  berbalik dan memutar. Membiarkan Rai yang sudah terlanjur melangkah melewatinya.


Debaran hatinya semakin menjadi. Apalagi saat Rai memberinya payung tadi. Sesaat dunianya berporos pada Rai. Ia tidak lagi melihat dan mendengar apapun selain wajah dan suara Rai.


Esta mengutuki dirinya sendiri sambil mendengus kesal. Bukan kepada Rai, melainkan ia kesal kepada dirinya sendiri. Padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk menghindar dari pria itu. Menahan diri untuk tidak berbicara lebih dari lima kata. Tapi seolah bayangan Rai menggodanya dan terus mengikutinya kemanapun ia pergi.


Seperti saat ini, saat ia melihat Rai berjalan ke arahnya dengan senyum samar yang hanya bisa di lihat oleh dirinya. Seketika waktu berjalan lambat dan membuatnya mematung.


Pilihannya untuk melawan arah malah mempertemukannya kembali dengan pria itu. Entah, dia harus menghindar kemana lagi sekarang.


“Haus gak? Aku punya minuman, mau?” Tawar Rai yang sudah berhenti di depannya.


Esta melengos. Ia memaksa tubuhnya untuk tidak peduli dengan Rai.


“Kasihan dia, kehausan.” Ucapan Rai mengarah pada perut Esta.


Dengan kesal Esta mengambil kotak jus dari tangan Rai dan langsung menenggaknya hingga habis tak bersisa. Rai sampai ternganga melihatnya. Tapi ia juga senang.


Esta mengembalikan kotak yang sudah kosong itu kepada Rai dengan kasar. “Udah? Puas?” Ujarnya kemudian. Ia benar-benar kesal sekali.


“Kamu nyebelin.” Hardiknya sebelum berlalu meninggalkan Rai yang bingung kenapa Esta memarahinya.


*****


sini yang mau nitip timpuk online buat si rai pekak.


hufh!

__ADS_1


__ADS_2