Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 114. Jarak Tidak Lantas Membuat Perasaan Menjauh.


__ADS_3

Putri sedang terbelalak dan ternganga di depan pintu masuk rumahnya. Menatap tidak percaya akan keberadaan sosok pria yang berdiri dan sedang tersenyum lebar padanya.


Pria yang mengenakan kemeja hitam dengan lengan tersingsing sampai ke siku, dipadu oleh celana berwarna senada. Di permanis dengan sentuhan jam tangan mewah yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Hampir saja Putri tidak mengenali Rai dalam penampilan seperti itu.


“Hai, Put.” Sapa Rai sambil mengangkat tangannya.


“Rai?!” Pekik Putri. Ia mengalihkan tatapannya kepada Esta yang sedang mengatupkan bibirnya rapat.


“Kok... Kamu...” Putri tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia beralih menatap curiga kepada Esta.


“Maaf, Put. Aku yang ngasih tau alamatmu.” Lirih Esta merasa bersalah karna tidak bisa jujur sejak awal kepada Putri.


“Apa ini? Bentar, bentar. Kalian...?” Putri menunjuk Esta dan Rai bergantian.


“Hehehehe.”


Seolah tawa itu menjadi jawaban atas keterkejutan Putri. Di tambah dengan Rai yang langsung menyambar tangan Esta dan menggenggamnya sambil tersenyum.


Semua kalimat Putri tercekat. Ia tidak bisa berkata-kata lagi karna saking terkejutnya. Dia memang pernah mendengar rumor bahwa Rai sudah kembali ke Indonesia. Tapi siapa sangka kalau Rai dan Esta justru telah kembali bersama? Sebuah kejutan yang sedikitpun tidak pernah terlintas di benak Putri.


“Tega kamu, Ta. Bisa-bisanya gak ngasih tau aku kalau kamu udah balikan sama Rai?” Putri marah.


“Bukan gitu. Aku memang rencana ngasih tau kamu hari ini.” Esta beralasan.


“Huh!” Dengus Putri tidak terima.


“Siapa, Put? Ada tamu kok gak di suruh masuk?” Mama Putri datang menghampiri setelah mendengar sedikit keributan di depan rumahnya.


“Halo, Tante.” Sapa Rai sopan.


“Temennya Putri? Ayo, masuk. Kita lagi mau makan malam.”


Rai mengangguk. “Maaf, Tante. Saya cuma mau jemput tunangan saya aja.”


Lagi-lagi, kalimat Rai itu membuat Putri terbelalak tidak percaya.


“Tunangan? Sejak kapan?” Protes Putri.


“Gak usah didengerin. Dia cuman bercanda.” Sanggah Esta.


“Putri, di ajak masuk dulu temennya.” Desak mama Putri.


“Ayo masuk.” Ajak Putri pada akhirnya.

__ADS_1


“Masuk dulu, aku mau ganti baju sama ambil tas ku dulu.” Esta berujar.


Dan akhirnya Rai mau ikut masuk ke dalam rumah Putri. Dia menunggu Esta dan duduk di ruang tamu bersama dengan ayah Putri yang sedang mengobrol dengan Oza.


“Halo, Om. Mas Oza.” Sapa Rai. Ia melirik Esta yang masuk ke dalam kamar dengan ekor matanya.


“Oh, hai, Rai. Mau jemput Esta?” Tanya Oza.


“Iya, Mas. Starla mana?”


“Lagi tidur. Kecapekan mungkin.” Jawab Oza. Dan mereka melanjutkan dengan mengobrol ringan di ruang tamu sambil menunggu Esta selesai berganti baju.


Sementara di dalam kamar, Putri masih menyidang Esta dengan berbagai macam pertanyaan. Intinya, dia tidak terima dan mengkhawatirkan kondisi Esta. Karna ia tahu betul bagaimana terlukanya Esta dengan kepergian Rai.


“Kamu beneran gak apa-apa kan, Ta?” Tanya Putri khawatir.


“Aku gak apa-apa.”


“Gimana ceritanya kalian bisa balikan?” Putri penasaran.


Dan akhirnya Esta menceritakan semuanya kepada Putri. Bahkan perihal Sena juga. Dia menceritakan kalau Sena itu ternyata adalah Rai.


Putri kembali ternganga tidak percaya. Kisah percintaan sahabatnya itu sangatlah rumit. Terlalu banyak drama.


“Akash tau kalau Rai udah balik ke Indo. Tapi aku belum ngasih tau dia kalau kami udah balikan. Takut baku hantam lagi.”


“Baku hantam gimana?”


“Kemarin itu Akash sama Rai baku hantam waktu Akash dateng ke Semarang. Sampai masuk ke rumah sakit segala. Babak belur gak karuan.” Adu Esta.


“Gila!!! Kok bisa sampe segitunya?”


Esta menggeleng. “Entahlah. Akupun gak ngerti.”


“Aku seneng kalau kamu udah bisa nyembuhin lukamu, Ta. Tapi aku bener-bener gak tau harus bereaksi gimana karna orang yang nyembuhin kamu itu ternyata adalah orang yang buat kamu sakit. Tapi yang jelas, aku akan tetep ada di pihakmu.”


“Aku tau. Makasih banyak, PUT.”


“Semoga kali ini Rai bener-bener bisa ngelindungin kamu. Atau kalau enggak, aku cakar muka gantengnya itu.” Geram Putri.


“Hahahahaha. Ya udah. Aku pergi dulu ya. Sorry gak bisa makan malam bareng kalian.”


Putri mengangguk. Ia mengikuti Esta untuk menghampiri Rai di ruang tamu.

__ADS_1


Esta mengernyit saat Rai dan Oza nampak mengobrol akrab. Sangat berbeda dengan sikapnya tempo hari saat di rumah sakit.


“Jadi gak ikut makan malam dulu, nih?” Tanya ayah Putri.


“Maaf banget nih, Om. Kayaknya gak bisa.” Ujar Rai.


“Yaudah. Hati-hati aja di jalan.” Pesan ayah Putri kepada Rai saat ia berdiri dan hendak pergi bersama dengan Esta.


Di saat yang bersamaan, mama Putri juga muncul dari arah dapur. Dan itu menjadi kesempatan Esta untuk berpamitan.


“Tante, maaf banget aku gak bisa ikut makan malam.” Pamit Esta merasa tidak enak hati.


“Iya, gak apa-apa. Tante ngerti.”


“Kalau gitu kami pamit dulu, Om, Tante, Mas Oza dan juga Putri.” Ujar Rai.


“Iya. Jaga Esta ya. Awas aja kalau di apa-apain.” Ancam Putri sambil melotot. “Dan jangan lupa besok dateng ke sini lagi ya. Jadi saksi pertunanganku.”


“Ehm,, kayaknya gak bisa deh, Put. Soalnya banyak kerjaan. Nanti ku usahain. Tapi jangan kecewa ya kalau aku gak bisa dateng.”


Putri hanya mengangguk mengerti.


Tingkah Putri itu hanya di jawab dengan kekehan kecil dari Rai maupun Esta. Kemudian mereka berdua keluar dari rumah dengan di antar oleh Putri dan Oza.


Rai membukakan pintu mobil untuk Esta. Selanjutnya, ia segera melajukan mobilnya menuju ke jalan raya dan bergabung dengan kendaraan lainnya.


“Putri cocok banget sama Mas Oza.” Ujar Rai tersenyum sambil fokus mengemudi.


Esta mencibir. Ia tahu maksud dari ucapan itu. Rai lega karna ia dan Oza ternyata tidak punya hubungan apapun.


“Halahh. Kemarin itu siapa yang cemburu?” Goda Esta.


“Ya emang aku cemburu. Eh, enggak. Bukan cemburu. Tapi takut kalau kamu beneran ada hubungan sama Mas Oza. Soalnya aku udah mempersiapkan diri bertahun-tahun cuma buat balik sama kamu lagi. Bayangain aja kalau sampe kamu di ambil sama Mas Oza. Bisa gila aku, sayang.”


“Di ambil. Emangnya aku barang pake ambil-ambil aja.”


“Hehehehehe. Tapi ternyata keyakinanku gak pernah salah. Aku bisa ngerasain perasaanmu walupun aku berada sangat jauh darimu.”


“Sok puitis.” Hardik Esta tersipu.


“Eh. Beneran lho ini. Emangnya kamu gak bisa ngerasain perasaanku? Kangenku?”


Esta menggeleng. Itu hanya sebuah rayuan saja. Bagaimana bisa dia merasakan perasaan Rai saat pria itu berada di belahan bumi lain dari dirinya?

__ADS_1


Perasaan akan bisa tersalurkan dengan sentuhan, dengan tatapan, dan dengan ungkapan. Mana bisa di rasakan saat dua orang saling berjauhan. Yang ada hanyalah sisa-sisa rindu yang semakin menumpuk dan mengalihkan perasaan itu sendiri.


__ADS_2