
Matahari sudah muncul di ufuk timur. Bersiap menyambut aktifitas setiap makhluk yang ada di bumi. Menemani mereka dan memberi penerangan hingga tugasnya di ambil alih oleh bulan.
Sebenarnya semalam Esta tidak langsung terlelap. Dalam perjalanannya menjemput mimpi, ia sedang berfikir keras.
Benarkah Rai benar-benar menyukainya? menyayanginya? Apakah perasaan itu tulus adanya?
Jauh di dalam inti hatinya, ia merasa takut. Ia merasa tidak pantas untuk di cintai oleh Rai. Ia takut kalau Rai hanya berpura-pura saja kepadanya.
Tapi tatapan itu, Esta menemukan ketulusan di sana. Apa dia salah menafsirkannya?
Dan, ia sedang bertanya kepada hati kecilnya. Kenapa tadi ia tidak menolak cium@n Rai? Kenapa ia diam saja saat Rai menyatakan cintanya? Kenapa ia tidak menjawab apapun dan hanya pasrah saja kepada pria itu? Kenapa ia tidak bisa mengendalikan hatinya? Begitu tersihirkah ia terhadap seorang Rai Kenandra?
‘aku bodoh! Bener-bener bodoh!’ makinya dalam hati.
Menurut rencana, pagi ini rombongan akan kembali bertolak ke Jakarta. Namun mendengar banyaknya siswa yang belum sempat berbelanja oleh-oleh, akhirnya panitia memutuskan untuk menunda satu hari lagi.
“Ya udah. Hari ini kalian puas-puasin berburu ya. Nanti malam kita udah harus berangkat pulang ke Jakarta.” Tegas Trio.
Semua setuju. Dan akhirnya mereka kembali lagi ke kota Jogja untuk berburu oleh-oleh.
“Ta? Udah pagi lho. Kok masih molor aja?” Akash membangunkan Esta yang masih tidur di kursinya.
“Ngantuk...” Karna hampir semalaman ia tidak tidur dan memikirkan ucapan Rai padanya. Ia sedang berbunga-bunga.
Bahkan saat bus berhenti di area parkir Malioboro, Esta tidak langsung turun. Ia ingin menuntaskan kantuknya dulu baru ia turun dan mungkin membeli sesuatu.
Ddrrtt,, ddrrtt,, ddrrtt. Ponsel Akash berbunyi.
Akash turun dari bus untuk mengangkat telfonnya. Tidak lama kemudian ia kembali naik dan langsung membereskan barang-barangnya.
“Mau kemana?” Tanya Rai.
“Aku harus balik ke Jakarta sekarang juga.” Jawab Akash yang terus membereskan barangnya.
“Kenapa gitu?”
“Barusan di telfon sama pelatih. Katanya ada hal penting yang harus dilakukan oleh calon atlet. Nanti siang.”
“Jadi?”
“Aku balik duluan aja. Naik pesawat. Soalnya gak keburu. Kalau aku gak datang, aku bisa gugur.” Begitu pentingnya menjadi atlet bagi seorang Akash. Ia rela pulang lebih dulu dengan naik pesawat.
“Perlu di anter gak?” Tawar Rai.
“Gak usah. Aku naik taksi aja. Kalian lanjut aja. Dan,, jaga Esta. Awas kalau dia sampai kenapa-napa.” Ancam Akash dengan berbisik.
__ADS_1
Dalam hati Rai sedang tertawa terbahak-bahak. Tidak perlu di suruh, ia juga akan menjaga Esta dengan baik.
“Jadi beneran kamu balik sekarang, Kash?” Tanya Esta yang sudah terbangun.
“Iya. Sorry ya, Ta.”
“Iya, udah. Gak apa-apa. Hati-hati aja di jalan.” Pesan Esta. Sempat-sempatnya ia melirik Rai yang duduk di baris sebelahnya.
Dan beberapa menit kemudian, Akash sudah menghilang bersama taksi yang membawanya.
Esta dan Rai saling bertatap. Kemudian keduanya tersenyum geli sendiri.
“Semua udah turun ya?” Tanya Esta.
“Udah dari tadi kali.”
“Putri juga? Kok dia gak kesini?”
“Tadi dia udah kesini. Udah bangunin kamu juga. Tapi kamunya gak bangun-bangun.” Jelas Rai.
Esta mencibir. Ia tidak merasa ada yang membangunkan. Apa mungkin karna ia terlalu nyenyak tidurnya?
“Turun, yuk. Aku mau beli oleh-oleh buat Nenek sama tante Citra, Afni, Afdal, dan om Pras.” Ajak Rai.
Rai dan Esta berjalan beriringan. Tak jarang Rai akan mencuri-curi kesempatan untuk menggenggam tangan Esta. Namun segera di tepis oleh Esta karna ia tidak mau teman mereka memergokinya dan menjadi bahan gunjingan.
Esta belum siap menerima berbagai gunjingan yang membedakan dirinya dengan Rai. Karna bisa di tebak, saat mereka tau hubungannya, mereka akan mencibir dan mengatakan kalau Esta sangat tidak cocok dengan Rai.
“Kenapa sih gak mau di pegang?” Tanya Rai pada akhirnya. Ia gemas saat Esta terus saja menampik tangannya.
“Nanti ada yang lihat.”
“Ya wajarlah kalau ada yang lihat. Namanya juga di tempat umum begini.”
“Maksudku, temen-temen kita. Aku belum siap nerima penghakiman dari mereka. Aku malu kalau sampai di olok-olok.”
“Kenapa peduli sama tanggapan orang lain? Yang jalanin kan kita, bukan mereka.”
Esta berhenti. Sulit sekali rasanya menjelaskannya kepada pria ini. Ia menatap Rai dalam diam.
“Aku pengen ngerasa nyaman, Rai. Bukan masalah kamu, tapi orang-orang. Apa kamu fikir kita bisa nyaman berhubungan kalau banyak yang mencibir kita? Cibiran itu, pada akhirnya akan menggoyahkan hati kita sendiri,
Rai. Karna itu aku butuh kenyamanan, bukan cuma dari kamu, tapi dari orang-orang di sekitar kita. Memang yang jalanin itu kita. Tapi apa kamu tahan kalau ada yang ngehina aku karna mereka fikir aku gak cocok buat kamu?”
Rai berfikir sejenak. Kenapa tidak ada yang mudah dalam hidup? Saat kita butuh kenyamanan untuk diri kita sendiripun, kita masih harus memikirkan anggapan orang lain di sekitar kita. Memangnya apa ruginya buat mereka?
__ADS_1
“Kalau aku masa bodoh, Ta. Aku hidup bukan buat nyenengin orang lain, kok. Kenapa harus peduli? Yang penting hidupku dan hidup orang-orang yang ku sayangi aman, tentram, dan bahagia. Itu udah cukup. Lihat aja nanti apa yang bakal ku lakuin kalau ada orang yang ngehina kamu.”
Rai masih tidak mengerti kekhawatiran Esta. Namun Esta juga membenarkan ucapan Rai.
Ya, kenapa kita harus pusing memikirkan anggapan orang lain? Selama tidak merugikan orang lain, tidak perlu di fikirkan.
Esta memilih untuk mengalah. Percuma menjelaskan kepada Rai atau mereka bisa berdebat seharian di sana. Akhirnya ia kembali berjalan dan Rai segera mengikutinya.
“Ada yang pengen kamu beli, gak?” Tanya Rai.
“Entah. Bingung aku. Pengen beli semuanya, tapi buat apa?”
“Semuanya itu apa?”
“Ya baju-baju batik. Pernak-pernik...” Ucapan Esta berhenti seiring langkahnya yang terhenti. Ia menatap sebuah manequin yang di pajang di dalam sebuah toko. Manequin itu mengenakan gaun batik dengan motif yang manis. Sepertinya itu cukup besar dan muat di badannya.
“Mau? Beli aja. Aku yang bayarin.” Tawar Rai dengan sombongnya. Ada senyum kebanggan di bibirnya. Menyebalkan sekali.
“Kayaknya gak muat deh.”
“Coba dulu.”
Akhirnya Esta masuk ke dalam toko itu dan bertanya kepada pegawai toko.
“Yang ini, ada ukuran XL gak, Mbak?” Tanya Esta.
“Ada, Kak. Mau lihat?”
Esta mengangguk. Dan pegawai toko segera membawakan baju ukuran XL kepada Esta yang segera masuk ke ruang pas untuk mencoba gaunnya.
Esta tersenyum senang saat melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun itu pas sekali di tubuhnya. Ia ingin membeli gaun itu. Ia segera melepas gaun dan berganti dengan pakaiannya yang semula.
“Berapaan ini, Mbak?” Tanya Esta.
“itu, 1.700.000 ribu, Mbak. Bisa tawar kok.”
Esta langsung ternganga mendengar harganya. Mungkin bagi sebagian orang itu merupakan harga normal mengingat kualitas kain terbaik yang di gunakan. Tapi bagi Esta, itu adalah jumlah yang sangat mahal.
Esta tersenyum kepada pegawai toko lantas berbalik secara perlahan. Sepertinya pegawai itu tau kenapa Esta mundur. Ia sudah sering melihat pelanggan seperti itu.
“Kenapa gak jadi beli?” Tanya Rai yang menunggui Esta.
“Enggak. Gak enak di pake. Ayo. Cari yang lain aja.” Esta berbohong.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk berburu oleh-oleh.
__ADS_1