Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 86. Butuh Waktu Lama Untuk Menjadi Kuat.


__ADS_3

Esta mengernyitkan keningnya. Ia faham dengan yang di katakan oleh Giri. Seketika Esta keluar dari kamar untuk menemui pelanggan itu. Ia sudah lupa dengan rekaman suara Rai yang baru saja memenuhi otaknya.


“Kan ada Nisa.” Ujar Esta. Ia sudah biasa menadapati pelanggan yang seperti itu.


“Udah di urus juga sama Mbak Nisa. Tapi si Om itu gak mau. Katanya harus sama Mbak Esta.” Jelas Giri sambil jalan.


Esta dan Giri buru-buru pergi ke laundry yang berada di bagian depan mess. Nisa nampak berdiri di luar ruangan dengan mimik wajah cemas.


“Orangnya nunggu di dalam, Buk.” Jelas Nisa.


“Yaudah kalian tunggu disini.” Perintah Esta kepada Nisa dan Giri.


Esta mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangannya. Ia bisa melihat seorang pria dengan mengenakan celana hitam dan kemeja hitam yang di gulung sampai lengan, berdiri membelakanginya. Pria itu berkacak pinggang tepat di depan mejanya.


“Maaf, Pak. Saya Semesta. Pemilik Semesta Laundry. Maaf kalau ada kesalahan dari kami. Kami akan mengganti rugi berapapun biayanya.” Ujar Esta lirih. Pria itu masih dengan posisinya. Tidak mau menoleh kepada Esta.


“Kalau Bapak berkenan, kami akan me...........” Kalimat Esta langsung terputus begitu pria itu berbalik.


Ia tercengang. Bahkan bibirnya tak sempat lagi mengatup. Menatap lurus kepada pria yang sedang tersenyum itu. Waktunya berjalan sangat lamba tseolah sedang berhenti berputar. Ia terus menatap pria yang kini sudah berjalan ke arahnya itu dengan ekspresi terkejut dan tidak menyangka.


Kaki Esta seolah tertancap di lantai. Tidak bisa bergerak sama sekali. Terlebih saat pria itu yang kemudian merengkuhnya ke dalam pelukannya. Membuat kelopak mata Esta enggan berkedip dengan jantung yang sudah berdebar tidak karuan.


“Hhhhh. Kangennyaa....” Ujar pria itu lirih mendekap erat tubuh Esta yang mematung.


Esta masih tidak bisa merespon. Tubuhnya membeku dan mati rasa. Jantungnya sudah diambang meledak. Bahkan saat pria itu sudah melepaskan pelukannya dan tersenyum kepadanya.


Tiba-tiba lutut Esta melemas. Nafasnya menjadi tidak beraturan dan ia ambruk ke lantai karna lututnya sudah tidak kuat menopang tubuhnya lagi.


“Esta!” Pekik pria itu yang langsung menahan tubuh Esta. Ia kemudian mengarahkan Esta untuk duduk di sofa.


Esta masih belum tersadar dengan kenyataan bahwa pria itu kini ada di sampingnya. Mengusap kepalanya dan mengelus pipinya. Pria yang ia rindukan itu, kini ada di hadapannya.

__ADS_1


Apakah ini mimpi?


“Kamu gak apa-apa?” Tanya Rai dengan wajah khawatir. Ia panik melihat wajah Esta memucat seperti habis melihat hantu.


“Mbak!” Pekik Giri yang langsung menghampiri Esta bersama dengan Nisa. Dengan sigap Nisa mengambilkan minum untuk Esta.


“Anda apakan mbak Esta?!” Ujar Giri yang sudah kepalang emosi. Ia hampir meninju wajah Rai.


“Aku gak ngapa-ngapain dia.” Rai membela diri. Ia terkejut dengan kemarahan bocah lelaki itu.


Setelah beberapa saat, Esta berhasil menguasai dirinya. Ia menoleh kepada Rai. Seolah ingin meyakinkan penglihatannya.


“Gak mungkin anda gak ngapa-ngapain. Kenapa Mbak Esta sampe pucet gini?!” Giri masih diliputi oleh emosi.


“Giri, Nisa. Kalian bisa keluar.” Pinta Esta.


Giri menatap protes kepada Esta. Seolah ia tidak terima dengan pengusiran itu. Ia khawatir kepada Esta. Namun Nisa segera menggeretnya untuk keluar dari ruangan Esta dan menutup pintu rapat-rapat. Ia menahan Giri agar pria itu tidak kembali merangsek masuk ke dalam ruangan.


“Kenapa kamu bisa ada disini?” Lirih Esta. Memaksa suara nya untuk keluar.


Rai mengangkat sebelah tangannya lagi. Kini kedua tangannya sudah sempurna menangkup wajah Esta. Sorot kerinduan jelas terpancar dari kedua bola matanya. Hatinyapun ikut bergetar menahan kerinduan itu. Dan akhirnya, ia kembali merengkuh tubuh Esta kedalam pelukannya. Ia ingin mencurahkan seluruh kerinduannya kepada mantan istrinya itu.


“Maaf. Maafin aku karna butuh waktu lama untuk jadi kuat. Maaf karna aku lama menepati janjiku.” Lirih Rai. Ia mengelus belakang kepala Esta dengan lembut.


Untuk sesaat Esta terbuai dengan pelukan hangat itu. Kalau saja kesadarannya tidak menampar hatinya tentang kenyataan, mungkin ia masih betah lama berada disana.


Esta melepaskan diri dari pelukan Rai sambil mendorong pelan dada pria itu untuk menjauh darinya. Rai nampak sedikit terkejut dengan perlakuan itu. Namun ia bisa mengerti. Wajar saja. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah hampir sebelas tahun tidak bertemu. Wajar kalau Esta menjadi canggung padanya.


Hati Esta sedang di penuhi intrik. Ia marah kepada takdir yang seolah sedang mempermainkan perasaannya.


Saat ia benar-benar merasa bisa melepas semuanya, takdir malah memunculkan Rai di hadapannya secara langsung. Sekarang ia harus bagaimana?

__ADS_1


“Ta? Kok malah ngelamun gitu?” Tanya Rai sambil meneliti wajah Esta.


Esta mengedip-ngedipkan matanya untuk menguasai situasi. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak ingin menatap wajah Rai. Ia benci menatapnya. Pun ia malu pada gengsinya untuk mengakui kalau ia juga merindukan pria itu.


“Jadi, bisa kita kembali pada topik pembicaraan? Separah apa kerusakannya?” Tanya Esta. Pengalihan pembicaraan yang sempurna.


Rai hanya mengernyit saja. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang di fikirkan oleh Esta dengan sikap sedingin itu. Ia bahkan jadi tidak bisa berkata-kata lagi.


“Nisa!!” Panggil Esta.


Nisa yang memang masih menunggu di luar ruangan langsung masuk setelah mendengar Esta memanggilnya.


“Iya, Buk?”


“Tolong bikinin minum, ya.” Perintahnya kepada Nisa.


Nisa mengangguk kemudian keluar dari ruangan. Nampak Giri yang masih memperhatikan lewat celah pintu yang terbuka dengan tatapan curiga.


Rai masih mengernyit heran dengan perubahan suasana yang tiba-tiba itu. Ia tidak menyangka kalau Esta sama sekali tidak sumringah bertemu dengannya.


Padahal Rai sudah membayangakn kebahagiaan yang mungkin terjadi saat mereka bertemu. Ia sudah membayangkan setidaknya Esta akan senang menerima kedatangannya. Sama sekali bukan seperti ini yang ada dalam bayangannya.


“Apa pakaiannya yang rusak dibawa?” Esta masih mengalihkan pembicaraan. Ia berkata dengan nada sopan seperti pada pelanggannya yang lain.


“Ta......” Lirih Rai tidak percaya.


Esta tidak mau menatap kepada Rai secara langsung. Gadis itu selalu melemparkan pandangannya ke arah lain dan tidak mau melihat ke netra Rai. Membuat Rai merasa kecewa. Padahal ia sudah membayangkan keindahan saat mereka bertemu. Tapi ternyata Esta sudah melupakan dirinya dan menganggap pertemuan itu hanyalah pertemuan biasa saja.


Rai memaksa Esta untuk menatap lurus padanya. Ia memegang pipi Esta dan mengarahkannya untuk melihatnya. Namun lagi-lagi Esta membuang pandangannya. Membuat hati Rai mencelos karna kecewa.


“Kamu beneran gak mau ngelihat aku?” Ujar Rai lagi.

__ADS_1


Esta terdiam. Ia benar-benar tidak berani menatap Rai. Ia terus membuang pandangannya. Membuat Rai lantas melepaskan tangannya. Pria itu nampak sangat kecewa.


__ADS_2