Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 92. Dasar Hati Kecil. Senangnya Bukan Main.


__ADS_3

Rai baru menyadari kalau Esta sudah meninggalkannya saat ia selesai menutup pintu mobil. Sudah terlambat untuk berteriak dan memanggilnya. Karna sekejab mata kemudian, Esta sudah menghilang berbelok di sekitar penjual sayur mayur.


“Hhemmpph.” Rai tersenyum saja. Kemudian ia juga ikut melangkah untuk menyusul Esta.


Rai terus mengedarkan pandangannya untuk mencari Esta. Ia kesal karan tidak berhasil menemukannya. Entah kemana Esta pergi.


“Buk, nila, ya. Di bersihin sekalian.” Ujar Esta kepada penjual ikan langganannya.


“Siap, Mbak Esta. Tumben sendiri. Kemana Mbak Narsih?” Tanya penjual. Ia sudah tau berapa kilo ikan yang di butuhkan Esta.


“Lagi kurang sehat Buk.” Jawab Esta.


“Ooh. Gitu.”


Sambil menunggu ikannya selesai, Esta terus memperhatikan ponselnya yang terus berdering. Itu adalah panggilan dari Rai. Sepertinya pria itu kebingungan mencarinya. Ia hanya terkekeh kecil saja. Rasanya balas dendamnya terbalaskan kali ini.


“Ini, Mbak. Udah selesai.” Ujar ibu penjual sambil menyerahkan palstik berisi ikan kepada Esta.


“Makasih, Buk.”


Esta tercekat dan langsung menoleh mengikuti arah plastik ikan yang sudah mendarat di tangan Rai. Entah kapan pria itu muncul di sana.


“Kok bisa ke sini?” Tanya Esta heran. Perasaan tadi ia sudah berhasil menghilang dari pria itu.


“Aku punya antena. Jadi aku selalu tau dimana kamu. Hehehehehe. Mau belanja apa lagi?” Tanya Rai dengan memasang senyuman mematikannya.


“Suaminya Mbak Esta ya? Guanntengeee, Mbak.” Seloroh ibu penjual.


“Doain kami langgeng ya Buk.” Pinta Rai kepada si ibu  lagi.


“Apaan sih?!” Hardik Esta tidak terima.


“Aminnn.. Semoga pernikahan kalian langgeng sampe nenek kakek. Sampe di panggil sama yang di atas.” Doa ibu penjual ikan terdengar tulus.


“Makasih banyak, Buk. Semoga dagangan ibu laris manis.” Balas Rai. Ia benar-benar tidak peduli dengan Esta yang melirik kepadanya.

__ADS_1


Setelah membayar belanjaannya. Esta berterimakasih kepada ibu penjual kemudian beralih dari sana. Kali ini Esta menuju sentra penjualan sayur mayur. Dan Rai masih setia mengikutinya dengan menenteng barang-barang belanjaan di tangannya.


“Eh, Mbak Esta apa kabar? Lama gak jumpa.” Kali ini Esta berhenti di penjual sayur langganannya juga.


“Kabar baik, Mbak. Belakangan agak sibuk, jadi gak bisa sering-sering ke pasar.” Jawab Esta ramah sambil memilih beberapa sayuran di depannya.


“Makasih banyak lo, tempo hari udah di bantuin laundryin baju sekolah si Amar. Gratis pula.” Seloroh mbak sayur.


“Sama-sama, Mbak. Aku seneng kalau bisa bantu.”


“Eh ngomong-ngomong ini suaminya mbak Esta? Wadduh. Kok guantenge puol to Mbak? Mbak Esta pinter deh milih suami. Hehehehehehe”


Baru saja Esta hendak membuka mulut, tapi sudah keduluan oleh Rai.


“Makasih, Mbak. Mbaknya tau aja mana yang bening. Hehehehe. Minta doanya ya, Mbak. Semoga kami langgeng.”


“Aminn. Aminnn. Tak doain juga semoga cepet dapet momongan. Duuh. Seneng aku tu kalau lihat pengantin baru begini. Bawaannya segerrr gitu.”


Sudah. Esta tidak mengelak atau menyangkalnya. Ia tidak ingin membuang-buang tenaganya untuk itu.


“Makasih banyak, Mbak Mur.” Ujar Esta setelah membayarnya.


Esta terus melangkah berkeliling pasar untuk mencari jajanan. Ia berhenti di beberapa kedai yang menjajakan jajanan pasar kemudian membelinya untuk di bagikan kepada karyawannya.


Sama seperti penjual-penjual sebelumnya. Disanapun Esta terus digoda karna punya suami yang tampan.


“Bukan, Mbak. Dia bukan suamiku.” Kali ini Esta menyangkalnya. Jengah juga rasanya terus menerus di tuduh.


“Tapi calon suami, Mbak. Hehehehe.” Timpal Rai kemudian.


Esta berjalan cepat meninggalkan Rai di belakangnya. Ia kesal karna tidak pernah bisa mengalahkan pria itu. Ia seperti wayang yang di kendalikan oleh dalangnya.  Bibirnya tidak pernah bisa menyangkal pria itu.


“Ta! Tunggu. Berat lho ini!” Pekik Rai yang juga mempercepat langkahnya untuk menyusul Esta.


Esta tidak peduli. Ia terus berjalan ke tempat parkir dan langsung masuk ke dalam mobil. Duduk diam di sana sambil bersedekap.

__ADS_1


Sementara Rai memasukkan barang belanjaan ke dalam box belakang. Lalu ia juga masuk ke dalam mobil dan siap di balik kemudi.


Sebelum menghidupkan mobil, Rai menghadapkan diri kepada Esta. Meneliti wanita yang sedang marah itu.


“Aku salah apa lagi, sih?” Tanyanya.


“Hemph.” Esta menghela nafas. Iapun menoleh kepada Rai. “Sampai kapan kamu mau di sini?” Suara Esta terdengar serius. Bahkan tatapannya pun terkesan serius.


“Sampai...... Aku berhasil bujuk kamu. Sampai kamu balik lagi ke aku.”


“Rai...”


“Ta. Aku mau negaskan sesuatu sama kamu. Dengerin baik-baik. Aku, gak akan pernah ninggalin kamu. Sekeras apapun kamu ngusir aku, aku gak akan pernah pergi dari sisimu. Gak. Aku gak mau ngulangin kesalahan yang sama lagi kayak dulu. Dulu aku bodoh karna iya-in permintaan kamu gitu aja. Tapi sekarang, kamu yang harus ngikutin keinginanku. Jadi percuma kalau kamu mau ngusir aku juga.” Nada suara dan pancaran dari netra Rai terlihat berbeda. Ada ketulusan dan kesungguhan di sana.


“Aku mohon sama kamu, Rai. Hubungan kita gak akan pernah bisa kembali kayak dulu lagi.”


“Siapa bilang? Kita bisa kok kembali kayak dulu. Gak ada yang berubah dari perasaan kita. Aku masih sayang sama kamu, dan kamu juga masih sayang sama aku. Jadi apanya yang gak bisa?”


“Siapa bilang aku masih sayang sama kamu? Saat dulu kubilang ikhlas ngelepas kamu, itu aku beneran udah ikhlas buat ngelepas kamu. Gak ada lagi sisa perasaanku buat kamu...”


“Pembohong. Aku tau semuanya. Aku bisa ngerasain kalau perasaan itu masih ada. Aku juga tau kalau selama ini kamu gak pernah bisa ngelupain aku. Buktinya kamu gak pernah deket sama siapapun lagi setelah kita pisah. Bahkan kamu terang-terangan buat batasan dengan Akash.”


Esta terdiam. Ia tidak bisa menyangkalnya. Mulutnya terkunci rapat seolah mencegah suaranya untuk keluar. Ia hanya memandangi Rai dengan pias. Tidak tau harus berkata apa.


“Esta, aku tulus dan aku datang buat nepatin janjiku. Butuh waktu sepuluh tahun buat aku jadi kuat demi bisa ngelindungin kamu. Aku gak akan pernah ngelepasin kamu lagi. Mau gak mau, suka gak suka, kamu harus nerima perasaanku.”


“Kok maksa?”


“Kenapa? Dulu aja kamu bisa maksa aku buat pisah, kok. Dan sekarang aku punya hak buat maksa kamu balik lagi sama aku.”


Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Rai terus membuat hati Esta bergetar. Rasanya mengerikan dan menyeramkan. Hatinya terus berdesir tidak karuan. Apalagi saat pandangannya bertemu dengan netra Rai. Sungguh, sebuah keteduhan sedang di persembahkan oleh pria itu untuknya.


Esta memalingkan wajahnya karna merasa tidak sanggup lagi untuk saling tatap dengan pria itu. Ia menggigit bibir bawahnya dengan alis yang berkerut. Entah kenapa mata Esta jadi berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menangis saja.


Inilah yang tidak Esta suka. Saat ia berubah menjadi wanita cengeng ketika berada bersama Rai. Ia jadi wanita lemah jika berada di dekat pria itu. Ia tidak bisa menjadi wanita kuat jika di dekat Rai.

__ADS_1


Dan itu rasanya sangat menjengkelkan sekali. Seolah ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri.


__ADS_2