Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 32. Merasa Di Asingkan. Keberadaanya Memang Tidak Berarti.


__ADS_3

Esta masih sibuk beradu dalam mimpi. Ia benar-benar merasa sangat mengantuk. Ia tidak bisa lagi mengendalikan kelopak matanya untuk terbuka.


“Ta, bangun. Udah sampai, lho...” Lirih Rai. Ia masih bertengger di atas motor dan membiarkan Esta tidur di pungungnya.


Namun, Esta masih tidak mau bangun juga. Dia hanya menggeliat sedikit kemudian melanjutkan tidurnya.


“Ta?”


“Hemmhhhh...”


“Kalau ku gendong jangan marah ya?”


“Hmmmm.....”


Akhirnya dengan susah payah Rai berusaha untuk menggendong Esta. Ia meniggalkan plastik belanjaan tetap tergantung di stang motor dan meletakkan helm mereka begitu saja di samping motor. Ia akan mengambilnya nanti setelah mengantarkan Esta ke rumah.


Dengan hati-hati Rai menggendong Esta di pungungnya. Ternyata Esta tidak seberat itu walaupun pipinya nampak chubby. Rai bahkan dengan mudah menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.


Saat bu@h d@da Esta menempel lekat di punggungnya, ingatan Rai melesat ke saat Esta tertidur tanpa baju dan hanya menggunakan b h saja. Sialnya, bir@hinya langsung naik dan membuatnya menegang. Rai bahkan sampai menggigit bibirnya demi menahan diri.


Rai menidurkan Esta dengan sangat perlahan. Ia meluruskan kaki Esta, membuka jaket dan sepatunya kemudian menyelimutinya dengan baik. Ia terus memperhatikan wajah Esta yang sedikit gembul kemudian beralih ke arah perut gadis itu.


Perlahan Rai meletakkan tangannya di bagian atas perut Esta. Walaupun terhalang selimut, namun ia seolah bisa merasakan debaran bayi yang ada di dalamnya. Ia tidak tau akan seindah ini rasanya menjadi orang tua. Apa ayahnya juga merasakan hal yang sama, dulu?


“Se senang itu?” Lrih Esta yang entah kapan bangunnya. Yang jelas, gadis itu sudah membuka mata dan menatap Rai dengan pias. Ia memperhatikan senyum samar di bibir Rai.


“Dasar. Udah sampai di dalem aja, bangun. Dari tadi di bangunin susah banget. Sengaja ya pengen di di gendong?” Goda Rai.


“Kamu gendong aku? Bukan aku yang jalan ke sini sendiri?” Esta tidak percaya dengan ucapan Rai. Ia merasa kalau tadi ia jalan dengan menggunakan kakinya sendiri.


“Anggap aja begitu.” Rai mengangguk-angguk kemudian berdiri dengan membetulkan selimut yang menutupi tubuh Esta terlebih dahulu. Padahal selimut itu sudah baik-baik saja tanpa di sentuhpun.

__ADS_1


“Camilanku, mana?” Tuntut Esta.


“Masih di bawah. Tanganku cuma dua dan udah ku pakai buat gendong kamu. Bentar ku ambilin.”


Esta mengangguk dengan antusias. Tiba-tiba ia merasa ingin memakan sesuatu. Sebenarnya ia tidak lapar, hanya saja mulutnya ingin terus mengunyah sesuatu.


Beberapa saat kemudian Rai sudah kembali denagn menenteng dua helm dan satu kantung plastik. Esta tidak jadi tidur walaupun kelopak matanya masih tidak bisa terbuka sepenuhnya. Ia menatap camilan dengan tatapan beringas. Dengan baik hati Rai membuka satu bungkus camilan dan memberikannya kepada Esta.


Esta langsung melahap camilan yang berupa keripik kentang itu. Satu persatu ia masukkan kedalam mulutnya. Sementara Rai hanya memperhatikannya saja dengan seksama.


“Kenapa? Mau?” Tanya Esta menyodorkan bungkusan keripik.


Rai langsung merogoh dan mencomot isinya kemudian memakannya.


“Rai?” Lirih Esta. Ia memanggil Rai tapi tidak berani menatap pria itu. Ia hanya terus mengalihkan pandangannya ke dalam bungkus keripik.


“Apa?”


“Kamu bahagia? Dengan kehamilanku?”


“Kok gak jawab?” Akhirnya Esta berani menatap Rai dan tatapan merekapun bertemu.


“Aku udah ngangguk, kok.”


“Kamu gak benci sama anak ini?”


“Ya gak mungkin lah aku benci sama anak aku sendiri. Aku malah udah gak sabar buat ketemu sama dia.” Jawab Rai santai.


Ah, Esta hampir lupa kalau selama ini seluruh perhatian Rai memang tertuju kepada bayinya. Kenapa ia melupakan hal jelas begitu dan bertanya pertanyaan yang sudah jelas pula jawabannya? Membuatnya terlihat bodoh saja.


“Awalnya aku cuma mau ngilangin rasa bersalah aku aja. Aku cuma gak mau nyesel di kemudian hari. Tapi waktu aku lihat dia di klinik tadi, dadaku deg-degan dan tiba-tiba aku ngerasa seneng banget. Aku jadi makin sayang sama dia.” Ujar Rai menunjuk perut Esta dengan dagunya.

__ADS_1


Rupanya Rai benar-benar tulus dengan kasih sayangnya terhadap bayinya. Entah kenapa Esta merasa seperti di asingkan. Keberadannya memang tidak berarti tanpa bayi di dalam perutnya. Apalagi bagi seorang Rai Kenandra, pria dengan sejuta pesona yang mengelilinginya. Apalah dia bagi Rai.


“Kenapa? Kamu gak senang?” Rai seperti sedang mengajukan pertanyaan bodoh. Ia mengutuki dirinya sendiri dalam hati setelah pertanyaan itu terlontar.


Bagaimana mungkin Esta merasa senang dengan kehamilannya? Itu adalah sebuah kecelakaan yang sangat merugikan bagi diri wanita seperti Esta.


“Aku gak senang, aku juga gak sedih. Perasaanku biasa aja. Aku cuma takut gak bisa ikut ujian dan gak lulus SMA.”


“Gak usah takut. Kalau kita simpan ini rapat-rapat dan hati-hati, gak bakalan ada orang yang tau, seenggaknya, sampai kita lulus. Aku janji.”


Ada ketulusan yang berkelebat di netra Rai. Esta bisa merasakannya. Tapi tetap saja ketulusan itu tidak mampu menepis rasa khawatirnya.


Semua yang ada di hadapan mereka masih abu-abu. Tidak ada yang jelas sama sekali. Baik Rai maupun Esta, tidak bisa menentukan jalan apa yang bisa mereka susun untuk masa depan. Setidaknya untuk saat ini, yang bisa mereka lakukan adalah tetap berhati-hati dengan orang-orang di sekitar mereka.


“Aku bakalan jaga anak ini baik-baik kok, Rai. Dia pasti seneng, rupanya papanya sesayang itu sama dia.” Ucap Esta sambil mengelus perutnya. Ia tersenyum yang entah kenapa senyum itu nampak pahit bagi Rai.


“Maaf ya, Ta.”


“Berhenti minta maaf. Tanggung jawabmu udah cukup, Rai. Jadi gak perlu ngerasa bersalah lagi. Kamu udah nikahin aku, kamu udah bertanggung jawab sama aku dan anak ini, jadi udah cukup nyeselnya.”


“Hemmppph...” Rai tersenyum tipis kemudian memegang perut Esta.


“Heheheheheheheee...”


“Jangan ketawa terus, nanti nangis, lho..” Seloroh Rai


Kegiatan itu langsung berhenti saat suara ketukan di pintu membuat Rai menoleh dan keluar dari kamar. Ia heran saja sambil mengira-ngira siapa yang datang bertamu malam-malam begini. Tapi ia juga tetap berjalan untuk membukakan pintunya.


Matanya terbelalak saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia sampai ternganga saking terkejutnya. Sebuah kejutan yang tidak pernah ia harapkan telah muncul tepat di depan mukanya.


“Siapa Rai?” Tanya Esta yang ikut melongok dari balik pintu kamar. Ia juga langsung terkejut bukan main. Tubuhnya seorang melemas seketika. Ia manatap pias pria yang masih berdiri dengan ekspresi marah di depan Rai itu.

__ADS_1


“Akash?!!”


Akash hanya menatap Rai dan Esta bergantian dengan nafas yang memburu. Jelas sekali pria itu sedang menahan amarah. Ia bahkan hampir melayangkan sebuah tinjuan kepada Rai. Untung saja ia bisa menahan diri.


__ADS_2