Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 24. Airmataku Tidak Akan Keluar Semudah Itu.


__ADS_3

Tepat setelah adzan maghrib berkumandang, Rai mengantarkan Esta ke warung pakde Karya. Disana, dia hanya berhenti sebentar.


“Selesai jam berapa?”


“Jam 11.”


“Tunggu aku, jangan pulang sendirian.”


Setelah berkata begitu, Rai langsung tancap gas meninggalkan Esta yang hanya bisa mengernyit heran. Namun ia kembali menghela nafas saat teringat kalau sikap Rai itu semata-mata hanya karna bayi yang ada di dalam pertunya.


Esta terhenyak saat ia hendak masuk ke dalam warung, jantungnya berdetak dengan sangat kencang ketika ia melihat sosok Ringgo yang sedang menyantap makanan di salah satu meja pelanggan.


Ia bisa merasakan kalau lututnya sedang gemetar ketakutan. Tapi untungnya, sepertinya Ringgo tidak melihatnya. Saat itulah Esta berkesempatan untuk pergi ke tempat biasa ia mencuci piring agar Ringgo tidak melihatnya. Setelah beberapa saat kembali, Esta bisa bernafas lega karna Ringgo sudah tidak terlihat disana. Pria itu sudah pergi.


Semuanya berjalan lancar seperti malam-malam sebelumnya. Bahkan kini Esta dan Karyawan warung yang lain sedang membereskan barang-barang dagangan. Sudah saatnya untuk menutup warung.


“Udah tutup, Mas?” Sebuah suara yang langsung membuat dada Esta bergemuruh dan lututnya melemas.


“Udah habis. Kenapa? Ada yang ketinggalan?” Tanya pakde Karya.


“Enggak. Cuma mau ngomong sama Esta bentar.”


Esta menatap Ringgo dengan pias. Ia tahu kalau ia harus segera melarikan diri tapi kakinya sedang membeku. Ia malah hanya berdiam diri saja saat melihat Ringgo yang perlahan berjalan mendekatinya.


Dari tatapannya, Ringgo seolah menegaskan kalau Esta harus segera mengikutinya. Jadi gadis itu segera mengikutinya sambil mencengkeram ujung bajunya.


Ringgo berhenti di tempat yang tidak jauh dari tenda warung. Ia langsung berbalik dan menatap marah kepada Esta.


“Ngapain Paman kesini?” Tanya Esta dengan suara yang gemetar.


“Kamu minggat dari rumah?”


Esta diam saja.


“Cepetan balik.”


“Kenapa? Paman mau hajar aku lagi?” Esta memberanikan diri untuk memberontak.

__ADS_1


“Apa?”


“Aku gak akan balik lagi ke rumah itu.”


“Kamu lagi ngelawan sama aku?”


“Aku bukan ngelawan. Tapi aku lagi minta supaya paman lepasin aku dan biarin aku hidup sesuka hatiku.”


“Waahhhh. Udah hebat ya kamu. Udah berani bantah omonganku. Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus pulang.” Tegas Ringgo lagi.


“Enggak. Aku udah muak jadi pelampiasan nafsu Paman.”


“Kamu gila apa!” Ujar Ringgo yang langsung membekap mulut Esta. Gadis itu langsung memberontak dan melepaskan dirinya.


Plak!!!


Esta terhenyak saat telapak tangan Ringgo mendarat di pipinya.


“Paman!!!” Esta berteriak. Ia sengaja melakukan itu untuk menjadi perhatian orang-orang yang ada di sana.


“Kenapa, Ta?” Tanya pakde Karya dari dalam tenda.


“Lepasin!!!” Esta semakin berteriak tak karuan sehingga membuat orang-orang semakin tertarik dengan mereka.


Plakk!!


Sebuah tamparan kembali mengenai pipi Esta.


“Hei! Apa-apaan kamu ini, Ringgo!” Ujar pakde Karya yang langsung merangsek untuk membantu Esta. Begitu juga dengan Karyawan yang lain. Beberapa orang bahkan ikut mendekat walau hanya sekedar menonton saja.


“Gak usah ikut campur, Mas. Ini urusanku sama Esta.” Hardik Ringgo.


“Gilak kamu ya! Lepasin Esta!” Ujar pakde Karya yang berusaha melepaskan tangan Ringgo dari rambut Esta. Namun tenaga Ringgo yang jauh lebih besar dengan tubuh yang kekar, membuat pakde Karya kewalahan untuk mengimbanginya.


Sementara Esta masih meringis menahan sakit. Ia sama sekali tidak menangis dan hanya berusaha bertahan sementara orang-orang membantunya.


Rai yang baru saja tiba di lokasi langsung berhenti dan ikut melihat keramaian itu. Ia terbelalak terkejut saat melihat seorang pria kekar sedang menarik rambut Esta dengan sangat kuat.

__ADS_1


“Esta!” Pekik Rai yang langsung merangsek maju ke depan kerumunan. Sedangkan Esta sama sekali tidak mendengar Rai, ia bahkan tidak tau kalau Rai ada disana. Saat ini ia sedang berusaha untuk terus bertahan.


Dengan di bantu oleh beberapa orang, akhirnya pakde Karya berhasil melepaskan tangan Ringgo dari rambut Esta walaupun hal itu membuat rambut Esta banyak yang rontok dan melekat di genggaman Ringgo.


Tercabutnya rambut-rambut itu membuat Esta meringis dan mengusap kepalanya yang terasa perih. Airmatanya tetap tidak keluar, hanya nafasnya saja yang terdengar memburu seiring irama detak jantungnya yang meningkat. Airmatanya memang tidak pernah kelaur semudah itu. Saat ia sudah benar-benar merasa hancur, barulah ia akan menangis.


Ringgo sedang berteriak dan memberontak berusaha melepaskan diri dari pegangan orang-orang yang menahannya. Semua orang tau kalau Ringgo sedang dalam pengaruh minuman keras dan berusaha untuk tetap menahannya.


“Esta...” Panggil Rai yang tiba-tiba sudah berada di samping Esta.


Masih dengan nafas yang memburu, Esta menoleh dan terkejut dengan keberadaan Rai.


“Kamu gak apa-apa?” Tanya Rai.


Betapa malunya Esta saat Rai memergokinya dalam keadaan kacau seperti itu. Rambut yang berantakan dan bibir yang sedikit mengeluarkan darah. Saking malunya, Esta sampai tidak berani menatap Rai lebih lama. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ringgo yang masih tengkurap di trotoar dengan dipegangi oleh beberapa orang.


Pakde Karya langsung menelfon polisi untuk mengamankan Ringgo. Tidak lama kemudian beberapa polisi datang dan langsung memasukkan Ringgo ke dalam mobil polisi. Sementara pakde Karya mendampingi Esta untuk ikut ke kantor polisi untuk membuat laporan lengkapnya. Beberapa saksi yang ada di tempat kejadian juga di minta untuk ikut ke kantor polisi bersama mereka.


Begitu juga dengan Rai, ia mengikuti mobil polisi yang membawa Esta dengan sepeda motornya. Perasaannya kacau tidak karuan. Terbayang di benaknya kondisi Esta yang nampak sangat terpukul. Terlebih saat ia melihat bendungan air mata yang menumpuk di sudut mata gadis itu.


Di kantor polisi, Esta segera di mintai keterangan, begitu juga dengan pakde Karya dan beberapa saksi lain. Sementara Rai menunggu di ruang tunggu dan duduk di sebuah kursi.


Rai melihat seorang wanita yang datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung masuk ke dalam ruangan penyidik. Tidak lama kemudian Esta keluar dengan wajah tertunduk. Gadis itu nampak menghela nafas dengan membelakangi pintu sambil memegangi knopnya.


“Esta...” Lirih Rai yang langsung menghampiri Esta. Namun Esta tidak menjawab bahkan tidak menatap kepada Rai. Ia hanya terus berjalan dan duduk di bangku sementara Rai mengikutinya dan ikut duduk di sebelahnya.


“Kenapa kamu bisa ada di sana?” Tanya Esta lirih.


“Aku mau jemput kamu pulang. Kamu bilang selesainya jam 11, jadi aku dateng.”


Rai ingin bertanya tentang apa yang terjadi, namun ia tidak tega jika harus mengulik kejadian itu sekarang mengingat Esta yang masih nampak terguncang. Jadi ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar Esta tidak terlalu terpuruk.


Ia bahkan hanya menatap punggung gadis itu saat Esta bilang ingin pergi ke kamar mandi sambil menghela nafas. Rai bingung mau bersikap bagaimana. Ia ingin mengabaikan, tapi kasihan.


*****


Sampai disini semoga kalian gak bosen ya....

__ADS_1


buat yang nanya kok hidup esta sedih mulu, nanti akan ada waktunya esta bahagia. jadi mohon sabar buat menunggu.


__ADS_2