
“Gila kamu ta!! Minggu depan?!!” Pekik Putri tidak terima dengan pengakuan yang baru saja meluncur dari mulut Esta.
Esta hanya bisa menampakkan deretan gigi-giginya saja.
“Soory, ngeduluin kamu.” Sesalnya.
“Apa itu penting sekarang? Masalahnya, nikah di waktu yang sesingkat ini. Kamu yakin gak bakalan ada kesalahan?” Tanya Putri khawatir.
Esta mengangguk. “Mas Rai udah ngurus semuanya. Jadi aku percaya aja sama dia.”
“Gila... Gila... Gila... Parah sih kalian.”
Selebihnya, keadaan kamar Putri semakin ramai oleh teriakan gadis itu. Tidak percaya dengan keputusan instan yang di buat oleh Esta.
Sedangkan Esta hanya bisa nyengir saja memperhatikan sahabatnya itu yang berjalan mondar-mandir seperti sedang melicinkan lantai.
“Terus kamu gak pulang ke Semarang?”
“Enggak. Aku udah telfon Nisa sama Giri dan kasih tau mereka.”
“Mereka bilang apa?” Tanya Putri yang ikut duduk di samping Esta.
“Aku dimarahin habis-habisan sama mereka.”
Putri menganggukkan kepala sambil mengerling. “Wajar mereka marah. Untung aja gak pingsan.”
“Mereka ku suruh dateng ke sini, tapi katanya gak punya ongkos. Padahal aku udah bilang kalau mereka bisa pakai uang kas laundry buat ongkos kesini, tapi Nisa nolak. Katanya gak tega kalau harus pergi sendiri sementara yang lain gak pergi.”
“Terus, Akash udah di kasih tau?”
“Udah. Udah ku telfon kemarin.”
“Memang sih, kalian udah mendam perasaan begitu lama. Selamat ya, Ta. Akhirnya merrid juga sama Rai.” Putri memeluk sahabatnya itu.
Rencana Putri yang akan bertolak ke Jogja sore nanti, menjadi batal akibat rencana dadakan dari Esta. Sementara keluarga Oza sudah kembali ke Semarang kemarin karna Starla tidak bisa libur terlalu lama.
Kini, hari pernikahan Esta Tinggal 4 hari lagi. Rencananya sore ini ia akan pergi ke rumah citra dan Tinggal di sana sementara waktu sampai mereka menemukan rumah untuk di Tinggali.
Esta sedang duduk di teras rumah Putri sambil mengobrol ringan sambil menunggu kedatangan Rai. Mereka langsung menghentikan obrolannya saat melihat ada sebuah sepeda motor matic keluaran lama yang berhenti di depan gerbang. Kedua wanita itu mengernyit penasaran siapa pemilik motor itu.
“Ya ampun! Kelakuanmu, Rai! Ada-ada aja. Pakai bawa motor segala.” Protes Putri saat Rai melepas helmnya. Sementara Esta hanya terkekeh saja di buatnya. Ia mendekati Rai yang sedang tesenyum lebar padanya.
“Apa ini? Kok motor ini masih ada?” Tanya Esta heran menatapi sepeda motor yang penuh akan kenangan mereka waktu muda dulu.
“Masih, dong. Aku rawat dia karna punya banyak kenangan sama kamu.” Jawab Rai.
“Huuueeeekkkk.” Protes Putri. “Udah buruan minggat kalian dari sini. Daripada sengaja manasin-manasin aku kayak gitu. Mana calon suamiku udah pulang lagi.” Dengus Putri kesal.
__ADS_1
Kemarahan Putri itu hanya di balas dengan kekehan dari Rai dan Esta. Lucu melihat wajah kesal Putri.
“Kami pergi dulu ya... Daaaa.” Pamit Esta. Putri hanya mendengus saja.
Rai memakaikan helm ke kepala Esta. Kemudian mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah Putri. Ia mengeratkan pegangannya di pinggang Rai.
“Peluk dong.” Pinta Rai.
“Gak mau. Aku gak mau pamer di jalan raya. Meluk kamu bukan buat konsumsi publik.” Jawab Esta santai. Membuat Rai kecewa tapi tertawa mendengarnya. “Kita mau kemana, Mas?”
“Mau lihat apatemen buat tempat tinggal kita sementara sebelum rumahnya di buat.” Jawab Rai.
”Apartemen?”
“Iya. Kenapa? Kamu gak suka apartemen? Atau kita cari rumah jadi aja buat sementara?”
“Enggak. Gak apa-apa, kok. Aku gak masalah.”
Rai membelokkan sepeda motornya memasuki kawasan apartemen mewah di kawasan Bilangan. Ia segera memarkirkan sepeda motornya kemudian menemui seorang pria muda yang sudah menunggunya. Pria itu menyambut kedatangan Rai dengan senyum lebar.
“Selamat datang, Pak Rai.” Sapa pria itu. “Mari.” Ajaknya kemudian.
Rai menggandeng Esta untuk mengikuti si pria muda itu naik ke lantai 5. Disanalah unit apartemen yang akan di sewa Rai.
Lift berhenti di lantai 5 dan pintu lift pun terbuka. Rai masih mengikuti pria itu berjalan ke salah satu unit dan berhenti di depan rumah nomor 502.
“Silahkan, Pak, Bu.”
Apartemen itu memiliki 2 kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya, satu dapur, ruang cuci, balkon, ruang tamu, dan satu kamar mandi luar yang di peruntukkan untuk tamu yang datang.
“Ini besar banget, Mas.” Liirh Esta. Sudah terbayangkan betapa lelahnya membersihkan seluruh rumah.
“Gak apa-apa biar luas.”
Setelah puas melihat-lihat. Rai pergi menemui pria muda itu yang sedang menunggu di ruang tamu.
“Kami ambil ini saja. Nanti sekretaris saya yang akan mengurus semuanya.” Jelas Rai.
“Baik, Pak. Kalau begitu silahkan di lihat-lihat dulu. Saya kembali ke kantor dulu.” Pria itu pamit meninggalkan Rai dan Esta.
Rai kembali menghampiri Esta yang sedang berada di kamar utama yang masih kosong itu. Ia sedang menerka-nerka dekorasi tentang rumah mereka.
Pelukan Rai yang tiba-tiba dari belakang tidak membuat Esta terkejut. Ia malah memegangi tangan Rai yang sedang melingkar di perutnya.
“Kamu suka, Sayang?” Tanya Rai.
Esta mengangguk. “Walaupun pasti capek banget pas bersihinnya.”
__ADS_1
“Hehehehe. Ngapain pusing. Kita bisa sewa jasa cleaning.” Jawab Rai santai.
Esta memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Rai. Memegangi kedua pipi pria itu dan menatapnya dalam.
“Makasih, Mas. Udah mau nunggu dan berjuang buat aku. Kamu luar biasa.”
“Sama-sama. Dibandingkan aku, kamu lebih hebat lagi. Makasih juga udah tetep nyimpen namaku di hatimu selama sepuluh tahun ini. Itulah yang membuat aku bisa terus kuat buat kembali sama kamu, sayang.” Rai merengkuh tubuh Esta ke dalam pelukannya. Menikmati setiap desiran yang timbul karna bersatunya cinta mereka.
“Udah, Yuk. Kita cari makan.” Ajak Esta kemudian.
“Masih jam 11 lho. Udah laper emangnya?”
Esta mengangguk. “Perutku udah keroncongan ini.”
“Hehehehe. Ya udah. Ayo.” Rai mengacak puncak kepala Esta kemudian mengajaknya pergi meninggalkan apartemen.
Keduanya sedang menunggu pintu lift terbuka saat seorang wanita cantik berjalan mendekati mereka.
“Rai!” Pekik Tina yang berjalan mendekati mereka dengan senyumannya. Namun, senyuman itu menghilang saat melihat kalau ternyata Rai sedang bersama dengan Esta.
“Oh, hai, Tina.” Sapa Rai ramah.
“Kamu ngapain disini?” Tanya Tina. Ia mengacuhkan keberadaan Esta disana.
“Kami lagi ngeliat-liat rumah soalnya mau pindah kesini. Kamu?”
“Rumahku disini. Itu, unit 501.” Jelas Tina semangat.
Esta mengernyit. Berarti itu mereka harus bertetangga. Astaga, kebetulan macam apa ini.
Pernahkan kamu punya seseorang yang tidak kau sukai? Dalam hal Esta, orang itu adalah Tina. Dan sebuah kebetulan kembali mempertemukan mereka sebagai tetangga. Ini seperti mimpi buruk saja.
“Ya ampun. Berarti kita bakalan jadi tetangga, dong. Kamu Tinggal sendiri?” Ternyata Tina tidak mendengarkan saat Rai menyebut kata ‘kami’ di kalimatnya tadi.
“Enggak lah. Yang jelas aku bakalan tinggal sama istriku.”
Tina ternganga. Ia melirik ke arah Esta dan kemudian ke arah tangan mereka yang saling menggenggam.
“Kami mau nikah hari sabtu ini. Dateng ya, Tin. Nanti undangannya nyusul.” Ujar Esta penuh rasa percaya diri.
Jelas sekali tatapan tidak suka yang terpancar dari netra Tina. Apalagi setelah mendengar tentang pernikahan.
“e,, e,, oke.” Jawab Tina singkat.
Ting! Pintu lift terbuka dan Rai menarik Esta untuk masuk ke dalam lift. Esta melihat Tina yang masih berdiri di tempatnya dan tidak segera masuk ke dalam. Ia kembali memencet tombol agar pintu tetap terbuka.
“Gak jadi masuk?” Tanya Esta kepada Tina.
__ADS_1
“Eehmm. Kalian duluan aja. Ada barangku yang ketinggalan di rumah.” Alasan Tina. Padahal ia ingin menghindari pasangan itu.
“Ya udah kalau gitu. Kami duluan, ya...” Esta memang sengaja membuat Tina merasa terintimidasi. Dan ia berhasil. Ia mengu lum senyum dan melirik kepada Rai yang sedang melihat ponselnya.