
Pukul 5 sore, rombongan sudah berkumpul di tempat parkir dan siap untuk kembali bertolak ke Jakarta.
Akash yang sudah pulang lebih dulu, membuat Esta hanya duduk sendiri di depan. Hal itu menjadi kesempatan besar bagi Rai. Dengan tidak tau malu, ia segera duduk di kursi Akash.
Esta terkejut dan langsung membuang wajahnya ke luar jendela. Ia pura-pura tidak peduli padahal ia sedang senang setengah mati. Wajahnya sudah merona. Senyum terus merekah di bibirnya.
Rai membuka jaketnya dan menutupi bagian depan tubuhnya. Ia juga sedang berpura-pura tidak peduli dengan Esta. Padahal hatinya sedang berdisko luar biasa.
Hari semakin malam. Karna banyak yang lelah, sebagian besar siswa sudah tertidur. Kondektur bus langsung mematikan lampu agar penumpang merasa nyaman.
Esta terhenyak saat ada yang menelusup dan mengambil tangannya. Ia menoleh kepada Rai yang tetap memalingkan wajah ke arah kiri, namun tangannya menggenggam tangan Esta di balik jaketnya. Ia menyenggol lengan Rai dengan siku untuk memperingatkannya.
Bukannya menarik tangannya, Rai malah semakin mengeratkan genggamannya. Meletakkan tangan Esta di Perutnya dengan terus bersikap seolah-olah ia sedang tertidur.
Saat Esta mencoba untuk melepaskan tangannya, maka Rai akan semakin erat menggenggamnya. Kelakuan Rai itu sungguh membuat Esta merasa was-was.
“Rai. Lepasin.” Bisik Esta.
Rai tidak peduli. Ia hanya terus menggenggamnya erat.
Akhirnya Esta menyerah. Ia membiarkan Rai terus melakukan keinginannya. Lagipula, rasanya nyaman juga di genggam seperti itu. Mengalirkan kehangatan di hati Esta. Membuat hatinya terus bergetar.
Rai menoleh kepada Esta karna tidak lagi mendengar protes dari gadis itu. Ia tersenyum saat melihat Esta yang ternyata sedang menguap sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
“Sini.” Rai menepuk pundaknya mempersilahkan Esta untuk bersandar disana.
Esta nampak ragu. Maka dari itu Rai langsung meraih kepala Esta dan menyandarkannya di pundaknya. Ia bahkan mengusap-usap pelan pipi Esta untuk memberikan kenyamanan.
Sikap manis Rai itu membuat hati Esta semakin bergetar. Untuk sesaat ia merasa sudah tidak peduli lagi kalaupun ada yang melihat kemesraan mereka. Ia hanya ingin selamanya tidur di pundak Rai. Merasakan kehangatan yang di alirkan oleh pria itu.
Semakin lama, bahkan Rai semakin berani menunjukkan kemesraannya. Berkali-kali ia mengecup puncak kepala Esta dengan lembut. Ia suka wangi rambut Esta yang menyeruak diam-diam lewat rongga hidungnya.
Hati Rai juga sedang berbunga-bunga. Rasanya nyaman sekali saat ia berada di dekat Esta. Dalam hati ia bertekad untuk melindungi Esta dan bayi mereka apapun yang terjadi. Ia akan mencintai mereka sampai mati.
“Akash lulus apa gimana sih?” Tanya Esta lirih. Ia bosan saat terus menerus diam. Hanya suara detak jantungnya saja yang terdengar.
“Katanya sih lulus.”
“Berarti dia udah jadi atlet dong sekarang?”
__ADS_1
Rai mengangguk.
Di balik jaket. Jemari Rai sedang merem@s-rem@s jemari Esta. Ia memilin-milin ujung jari Esta dengan perlahan. Sepertinya ia menikmati hal itu. Namun tiba-tiba punggung tangan Esta merasakan sesuatu yang mengeras. Ia tau apa itu.
Sontak Esta langsung menarik tangannya dan memukul lengan Rai dengan keras. Ia melotot kepada Rai sebagai tanda protesnya. Hingga membuat kondektur menoleh kepada mereka.
Bukannya marah, Rai malah terkekeh saat Esta menyadari perbuatannya. Ternyata ia sengaja menggesek gesekkan tangan Esta di areanya.
“Dasar mesum.” Bisik Esta geram.
“Xixixixixixi. Sadar ya?”
“Nakal banget sih.”
“Enak, Ta. Lagi ya? Gak ada yang tau kok. Ya? ” pintanya memelas.
“Awas aja kalau berani. Aku pindah duduk, nih.” Ancam Esta. Enak
saja rmembiarkan Rai melakukan keinginannya. Di tempat umum pula.
“Plissss....”
“Udah halal, Ta. Pegang aja.” Bisik Rai.
“Ya tapi gak disini juga kali.”
“Yeessss.. Berarti nanti kalau udah di rumah boleh ya.”
“Iihh,, ngomong apa sih?! Udah diem.” Bentak Esta.
“Hehehehehehehe.”
Mereka benar-benar tidak peduli saat beberapa teman melihat ke arah mereka. Dan Esta masih terus memukuli lengan dan paha Rai saat Rai mencoba melakukan aksi gilanya kembali.
Pukul 06.12 wib, rombongan sudah sampai di Jakarta. Bus segera parkir di halaman sekolah dan para muridpun segera turun. Mereka semua sibuk mengambil barang-barang mereka dari bagasi bus.
Tidak terkecuali Rai dan Esta. Saking sibuknya, mereka bahkan tidak menyadari beberapa orang yang melihat aneh kepada mereka. Mereka mencurigai ada sesuatu yang terjadi antara Rai dan Esta melihat kedekatan mereka selama di dalam bus.
“Rai! Mau sekalian sama aku, gak? Itu aku udah di jemput sama papaku.” Tawar Tina.
__ADS_1
“Gak usah. Aku udah pesen taksi. Bentar lagi juga udah dateng.” Tolak Rai.
“Sini aku bawain.” Ujar Rai kepada Esta sambil mengambil tas yang di jinjing oleh Esta.
Sikap Rai itu semakin menimbulkan kecurigaan di kalangan teman-temannya.
“Apa itu? Kenapa kamu begitu ke Esta?” Tanya Tina heran.
“Begitu gimana?”
“Kamu, baru aja nawarin buat bawain barangnya Esta, Rai!”
“Memangnya kenapa? Gak boleh?” Jawab Rai acuh.
Tina hanya ternganga saja. Ia juga jadi curiga dengan Rai dan Esta.
“Kalian... Jangan bilang kalian lagi pacaran?” Tina terus mendesak Rai. Ia tidak terima dengan perlakuan manis Rai kepada Esta.
“Emang kami pacaran. Kenapa rupanya?” Tegas Rai.
Seketika semua orang langsung menatap kepada Rai dan Esta. Mereka tidak percaya dengan pengakuan yang baru saja terlontar dari mulut Rai.
Heran, kecewa, marah, bahkan lucu. Itulah eskpresi teman-teman mereka ketika Rai mengatakan hal itu. Ada yang tidak percaya dan menganggap kalau Rai hanya bergurau saja.
Sedangkan Esta, ia tidak berani berkutik sedikitpun. Ia malu saat semua orang memperhatikannya dan melihatnya tidak terima. Seolah ia sudah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa di maafkan.
Esta kesal kepada Rai. Padahal ia sudah mewanti-wanti pria itu untuk tidak memberitahu siapapun. Tapi malah Rai mengumumkannya secara gamblang begitu.
“Kamu lagi becanda kan, Rai?” Tanya Tina lagi.
“Iya nih. Kamu pasti lagi becanda.” Timpal Trio yang tidak kalah heran dengan sikap temannya itu.
“Aku serius. Aku dan Esta, kami udah resmi pacaran. Jadi, aku harap kalian bisa hati-hati di depanku.” Ujar Rai kemudian. ia bahkan merangkul pundak Esta dan menarik tubuh gadis itu ke arahnya.
Itu seperti pengumuman akan sebuah rencana besar. Ada penekanan ancaman di nada suara Rai. Seketika semua kembali membisu. Jelas sekali mereka sedang menghakimi Esta melalui tatapan. Dan itu sangat tidak nyaman untuk Esta.
Sedangkan wajah Rai nampak biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Ia malah menunjukkan kemesraan itu dengan menggenggam tangan Esta dan membukakan pintu taksi untuknya. Kemudian ia sendiri masuk lewat pintu lainnya dan taksipun segera melaju meninggalkan area sekolah.
Tina dan teman-temannya yang lain hanya bisa ternganga saja melihat taksi yang di naiki oleh Esta dan Rai. Banyak yang sakit hati mendengar pengakuan itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karna sepertinya Rai tidak sedang berbohong kepada mereka.
__ADS_1