
Rai sedang memijiti batang hidungnya. Ia pusing dan bingung. Ia ingin melindungi Esta. Tapi ucapan Fandi terus terngiang di kepalanya. Ia memang sangat ingin kuliah manajemen penerbangan. Terlebih di Purdue University. Itu merupakan cita-citanya sejak dulu selain menjadi pilot.
Tapi keadaannya sekarang berbeda. Ia punya Esta yang harus ia lindungi. Ia punya istri yang harus ia jaga. Terlebih keadaan Esta masih belum benar-benar stabil.
Rai memandangi berkas-berkas pendaftarannya yang berserak di atas meja. Disana juga terdapat satu tiket keberangkatan menuju Indiana, Amerika Serikat dimana universitas itu berada. Pada tiket itu juga tetera tanggal keberangkatan yang sangat dekat. Yakni dua hari lagi.
“Itu beneran dua hari lagi? Berarti lusa?” Ujar Pras tidak yakin. Ada nada keberatan disana.
“Gak usah pergi, Rai. Kalau kamu pergi, gimana Esta? Siapa yang bakal jaga dia?” Citra menimpali. Hatinya cenderung kasihan kepada Esta.
“Aku memang gak bakalan pergi kok, Tante.”
“Tapi kalau kamu gak pergi, papamu pasti akan ngelakuin apa aja buat misahin kalian berdua. Om tau kalau kamu sayang banget sama Esta, tapi Om juga ngerti kalau itu semua adalah cita-citamu. Mas Fandi bener. Kamu gak akan bisa ngelakuin apapun tanpa nama prianggoro. Dia itu orang yang sangat menakutkan, Rai. Skenario terburuk, dia bisa nyelakain Esta.”
Rai terhenyak mendengar penuturan dari Pras. Semua kemungkinan itu memang sempat terlintas di benaknya. Ia juga sempat mengkhawatirkan hal yang sama seperti Pras.
“Kalian ini kok bingung sih. Kita bisa ambil jalan tengahnya. Rai tetep bisa kuliah ke Purdue, dan dia juga bisa bawa Esta kesana. Dia bisa kuliah sekalian disana. Biar kita yang bantu biaya kuliahnya. Nenek kira gak ada yang salah dengan itu.” Salamah mengambil jalan tengah yang tidak ada yang akan dirugikan disini.
Rai dan Pras langsung mengangkat kepalanya menatap kepada wanita renta itu. Keduanya tersenyum dan langsung menghambur memeluk Salamah.
“Makasih, Nek. Kok aku gak kefikiran kesana ya. Ya ampun.” Seloroh Rai. Ia lega sudah mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya.
“Sekarang tinggal bujuk Esta supaya dia mau ikut sama kamu.” Citra menimpali.
Esta mendengar semuanya. Ia mendengar semua yang terjadi di ruang tamu. Ia juga tau saat Rai beradu mulut dengan ayahnya. Ia juga tau ketulusan Rai untuk mempertahankannya. Dan ia juga tau keluarga itu sedang berusaha untuk melindunginya.
Tapi entah kenapa hati Esta merasa sangat berat. Ia seolah tidak mampu untuk menopang kebaikan dari keluarga itu. Ia malu. Mereka bukan siapa-siapanya. Mereka hanya keluarga Rai yang merupakan suaminya. Ia merasa tidak pantas menerima semua kebaikan besar itu.
Esta kembali menutup pintu kamar dengan pelan dan hati-hati. Ia kembali berbaring dan meringkuk di atas kasur. Fikirannya sedang kalut. Ia bingung bagaimana cara untuk menolak semua itu.
Sedikitpun ia tidak punya keinginan untuk menerima penawaran itu. Apalagi sampai pergi keluar negeri demi mengikuti Rai.
Tidak, ia tidak ingin kembali merasakan sakit. Ia hanya ingin mengakhiri semuanya disini. Ia tidak ingin terus merasakan sakit yang sama.
Sejak ia bertemu dengan Rai, hidupnya berubah kacau. Perasaannya jadi lemah tak menentu. Ia jadi lebih banyak menangis dari sebelumnya. Dan sekarang, ia sudah kehilangan semangat hidupnya.
Ia hanya ingin kembali seperti dulu. Kembali ke kehidupannya sebelum terlibat dengan Rai Kenandra. Sekarang jalan hidupnya seolah menjadi buram dan kacau.
Esta pura-pura memejamkan matanya saat Rai masuk dan kemudian bergabung dengannya di bawah selimut. Pria itu langsung memeluknya dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut Esta.
__ADS_1
Rai mengecupi punggung kepala Esta berkali-kali. Ia mengeratkan pelukannya agar Esta melekat sempurna dengan tubuhnya.
“Ta?”
“Hm?”
Rai senang karna Esta menjawab panggilannya. Ia kembali mengecup belakang kepala gadis itu.
“Aku punya kabar gembira buat kamu. Buat kita.”
“Apa?” Esta pura-pura tidak tau. Padahal dia sudah mendengar semuanya.
“Kamu mau ya, kuliah di luar negeri, bareng aku?”
Kali ini Esta terdiam. Ia tidak berani menjawab karna ia akan menolaknya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan itu. Ia sudah tidak punya semangat. Karna memang kuliah tidak ada dalam daftarnya.
“Ta? Udah tidur? Kok diem aja?” Tanya Rai kemudian karna tidak mendengar reaksi Esta.
“Aku ngantuk.” Lirih Esta untuk melarikan diri dari perbincangan itu.
Rai memilih untuk mengalah. Ia tidak ingin berdebat. Ia tahu kalau Esta sedang tidak ingin membicarakan hal itu.
Dan pagi harinya, Esta sudah mau keluar kamar dan sarapan bersama dengan seluruh anggota keluarga. Itu adalah sebuah kemajuan dari Esta. Semua orang menyambutnya dengan tersenyum lega.
“Di tambah lagi lauknya, Ta.” Salamah mempersilahkan.
“Iya, Nek.” Ujar Esta.
Ada yang aneh dari Esta. Sikapnya tidak seperti biasanya. Ia memang nampak tersenyum. Tapi senyumnya terasa gamang dan kosong. Nampak jelas kalau ia memaksakan untuk tersenyum.
Selesai sarapan, ia dan Rai mengobrol ringan di teras depan rumah. Memperhatikan Pras yang sibuk dengan burung peliharaannya.
“Rai.”
“Hem?”
“Aku lulus kan?”
“Kamu lulus. Gak ada yang gak lulus dari sekolah kita. semuanya lulus.”
__ADS_1
“Rai?”
“Apa sayang?”
“Kita jalan-jalan yuk.”
“Jalan-jalan? Kemana? Kamu mau kemana? Bilang aja.” Rai nampak antusias. Ia senang dengan perubahan Esta.
“Kemana aja, keliling naik motor. Ngukur jalan.”
“Naik motor?”
Esta mengangguk.
“Panas lho. Kenapa gak naik mobil aja?”
“Aku pengen naik motor sama kamu. Yaudah kalau gak mau.” Esta pura-pura merajuk.
“Mau kok. Siapa bilang gak mau. Ayuk. Pakai baju yang tebel tapi ya.” Pesan Rai yang langsung bangun dari duduknya.
Esta kembali melayangkan senyum gamangnya. Iapun ikut bangun dan masuk ke dalam rumah. Sesuai perintah Rai, ia mengenakan baju lengan panjang yang bisa melindungi kulitnya.
“Mau kemana?” Tanya Pras saat Rai menyiapkan sepeda motornya.
“Mau jalan-jalan, Om.”
“Naik motor?”
“Iya, Om. Enakan naik motor. Udah lama gak naik motor.” Jawab Esta.
“Oh, yaudah. Hati-hati bawa motornya ya Rai.” Pesan Pras.
“Iya, Om. Kami pergi dulu.”
Sebelum naik ke atas motor, dengan manisnya Rai memakaikan helm kepada Esta. Dan iapun tersenyum kepada Rai.
Rai merasa ada yang berbeda dengan senyuman itu. Entahlah, senyuman itu terasa sangat hambar sekali. Mungkin karna Esta sedang memaksa dirinya untuk bangkit dari keterpurukan sehingga senyumnyapun terlihat
terpaksa.
__ADS_1
Esta selalu memeluk erat punggung Rai ketika motor mulai melaju. Ia menenggelamkan wajahnya di punggung pria itu. Memejamkan mata seolah sedang menyesap kehangatan akan perasaan Rai lewat punggung pria itu. Tidak jarang ia semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Rai terkekeh senang.