
“Wah, ternyata banyak juga ya. Makasih banyak ya udah mau jadi langgananku. Heheheh. Ehm, disini saya mau berbagi pengalaman aja. Saya memang gak pernah mengenyam pendidikan profesional dan hanya tamat SMA saja. Tapi mudah-mudahan dari pengalam saya ini, bisa sedikit memberi motivasi untuk kalian semua yang mendengarkan.” Ujar Esta lagi.
Dan Esta mulai menceritakan perjalanannya dalam mendirikan Semesta Laundry. Perjalanan yang sama sekali tidak mudah. Berkali-kali jatuh dan ia tetap bangkit lagi untuk memulainya kembali. Dan usahanya itu terbayar lunas sekarang.
“Gak ada sesuatu yang mudah. Asalkan kita jangan cepat menyerah dan kembali bangun saat jatuh, usaha kita pasti akan berhasil.” Ujar Esta sebagai penutup kalimatnya.
Riuh tepuk tangan langsung menggema memenuhi seantero ruangan. Esta kembali menoleh kepada Rai yang masih konsisten menyebarkan senyumannya. Ada kilatan kebanggaan di netra pria itu. Ia juga ikut bertepuk tangan untuk Esta.
Dan tibalah giliran Rai untuk memberi motivasi kepada calon wirausahawan itu. Esta duduk dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari punggung Rai karna Rai memilih untuk berdiri dan maju kedepan.
Pria itu, nampak semakin mempesona. Dari kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya, jelas memperlihatkan kalau ia orang yang cerdas dan bijaksana. Sangat jauh berbeda dengan Esta yang hanya bicara seadanya saja. Cara penyampaian pria itu juga terkesan berapi-api. Emosinya mengalir sempurna kepada pendengarnya.
Setelah Rai selesai, maka sesi selanjutnya adalah sesi tanya jawab. Dan syukurlah Esta mampu memberikan jawaban memuaskan untuk para peserta yang bertanya padanya. Keberadaan Rai benar-benar memberikan kekuatan padanya. Ia dalam mode percaya diri sepenuhnya.
Sesi tanya jawab sudah berakhir. Dan moderator sedang bersiap untuk memberikan apresiasi kepada ketiga narasumber. Saat tiba-tiba terdengar suara teriakan,
“Mas Rai!! Udah punya pacar belum?!!”
Entah siapa yang berteriak begitu. Tapi yang jelas dia adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswi yang terpikat dengan pesona Rai.
Rai menanggapinya dengan terkekeh. Begitu juga dengan peserta yang lain.
“Boleh saya jawab?” Tanya Rai kepada moderator. Ia langsung mengambil microphone dengan masih terkekeh kecil setelah mendapatkan anggukan dari moderator.
“Ehm, kalau pacar gak punya. Kalau calon istri, ada. Tapi dalam masa perjuangan.” Seloroh Rai tanpa malu. Ia tidak peduli kalau Esta sedang mengernyit kepadanya.
“Masa perjuangan? Wahhh.. Kecewa nih.” Timpal moderator.
“Jadi si dia ini lagi malu-malu kucing sama saya. Jadinya saya di tolak terusss..” Rai malah jadi curhat.
“Kalau dia gak mau sama aku aja, Mas!” Celetuk mahasiswi yang tadi.
“Hahahaha. Enaknya kita tanya langsung aja gimana? Kebetulan orangnya ada disini.”
Seketika semua orang langsung saling mencari. Sementara Esta mengancam Rai dengan tatapan tajamnya untuk tidak melanjutkan aksi gilanya itu.
“Jadi gimana?”
“Tanya langsung!”
“Emmm. Enggak deh. Soalnya udah di pelototin. Jadi takut. Hehehehehe.”
“Yaaaahhh.” Suara kekecewaan dari penonton.
__ADS_1
Esta nampak menarik nafas lega. Padahal ia sudah membayangkan kalau Rai nekat melakukan aksi gilanya itu. Itu akan membuatnya malu setengah mati.
“Sorry ya!” Ujar Rai lagi.
Pertemuan itu diakhiri dengan pemberian cindera mata dari ketua panitia untuk para narasumber, juga sesi foto bersama.
Melihat satu-persatu peserta mulai meninggalkan aula, membuat Esta menarik nafas lega. Pengalaman pertama tampil di hadapan orang banyak ternyata tidak terlalu buruk juga.
“Abis ini mau kemana?” Bisik Rai saat Esta sedang membereskan barang-barangnya.
“Mau pulang lah. Kemana lagi.” Jawab Esta. “Apa-apaan kamu, katamu gak bakalan muncul di depanku sebelum aku siap.”
“Hehehehe. Rupanya aku gak kuat, Ta. Sehari aja gak denger suaramu tuh rasanya berbulan-bulan.” Jawab Rai.
“Lebay.”
“Ih. Serius aku tuh.”
“Terus kenapa bisa ada disini juga?”
“Apalagi kalau bukan buat ngekorin kamu.”
“Jujur banget sih.” Hardik Esta menggeleng-gelengkan kepalanya.
Esta trenyuh mendengarnya. Hatinya berdebar. Apalagi saat pandangan mereka bertemu satu sama lain.
“Rai?” Panggil Esta saat Rai sibuk dengan barangnya.
“Hem?” Jawab Rai. Ia menoleh kepada Esta.
“Traktir aku makan siang.”
Rai terkejut dengan penawaran itu. Penawaran yang baru pertama ini ia dengar dari Esta. Dan itu membuatnya tersenyum senang dengan wajah sumringah.
“Dengan senang hati. Ayok.” Ajaknya kemudian.
Esta keluar dari aula dengan berjalan beriringan dengan Rai. Di luar, Giri sudah menunggunya dan langsung menghampiri Esta.
“Udah selesai, Mbak?” Tanya Giri. Namun ekspresi mukanya berubah setelah melihat Rai yang tersenyum ramah padanya.
“Ri, kamu pulang duluan aja. Aku masih ada urusan.” Perintah Esta.
“Urusan apa?” Giri menatap curiga kepada Rai. “Mbak mau ngapain lagi sama si combro ini?”
__ADS_1
“Heh, gak boleh gitu. Udah sana.” Peringatan dari Esta.
Walaupun mencibir dan melirik tajam kepada Rai, namun Giri tetap melangkahkan kaki meninggalkan Esta dan Rai yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Ia suka melihat ekspresi wajah Giri yang seperti dikalahkan olehnya.
Sesampainya di tempat parkir, Rai segera membukakan pintu untuk Esta dan menyuruh Hera untuk mengantarkan mereka ke sebuah restoran yang tak jauh dari kampus itu.
“Kita makan disini aja ya?” Tawar Rai.
Esta mengangguk setuju. Ia tidak terlalu peduli dengan tempatnya yang nampak sepi.
Mereka terus berjalan masuk kedalam restoran itu. Suasana mendayu seiring dengan suara lagu yang
mengalun merdu. Ternyata setelah masuk ke dalamnya, tempat itu terasa nyaman juga. Memang tidak banyak orang disana, hanya ada beberapa meja yang terisi oleh pelanggan.
Setelah Rai dan Esta mengambil kursi mereka, seorang pelayan datang dengan membawakan buku menu.
“Mau pesen apa?” Tanya Rai dengan memperhatikan Esta yang sedang membaca satu-persatu menu yang ada.
“Ehm, soto aja, sama jus sunkis mix wortel.” Jawab Esta. Si pelayan langsung mencatat pesanan Esta.
“Saya juga, soto. Sama jeruk angetnya satu.” Pesan Rai.
Setelah mendapat pesanan, si pelayan meninggalkan mereka untuk menyiapkan pesanan.
Rai kembali sibuk menatapi wajah Esta yang nampak sangat bersinar di matanya. Wajah yang teduh tapi sulit untuk di taklukan.
“Kenapa ngelihatinnya kayak gitu?” Tanya Esta, ia risih jika Rai terus memeprhatikannya dengan tatapan dalam seperti itu.
“Karna kamu cantik.”
“Mulai keluar gombalannya.”
“Ya emang beneran cantik. Sekarang kamu udah pinter ngerawat diri, jadi tambah cantik. Cuma masih ngembang aja.”
“Dari dulu juga udah ngembang kali. Gak ada perubahan aku tuh. Tetep begini aja. Timbanganku gak naik, gak turun.”
“Cuma tambah cantik.”
“Udah ah ngegombalnya.” Esta mulai tersipu. Rona merah mulai muncul di kedua pipinya. “Aku baru tau kalau kamu ternyata wakil direktur di Sky Air. Keren juga kerjaanmu.”
“Hehehe. Padahal aku nungguin kamu buat nanya. Tapi kenapa selama ini kamu gak pernah nanya apa pekerjaanku?”
“Ya karna gak ada hubungannya sama aku. Kalau aku udah tau kerjaan kamu, terus apa? Aku gak suka kepo.”
__ADS_1
“Diiiihhhh... Gemes banget sih kamu.” Ujar Rai yang mengacak-acak pelan puncak kepala Esta. Ia tidak sadar kalau pemilik kepala itu pipinya sudah semakin merona saja.