
Satu minggu berlalu dan tidak ada yang berubah dari sikap Rai. Ia tetap memperlakukan Esta dengan baik saat di rumah dan tetap mengacuhkan gadis tu ketika di sekolah. Hubungannya dengan Akashpun masih berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti sebelum Akash menembaknya.
Namun kala di rumah, Rai tetap menjaga batasan antara dirinya dan juga Esta. Mereka tidak tidur dalam satu kasur melainkan Rai akan tidur di kasur kecil miliknya yang ia pasang di samping tempat tidur.
Hari ini, adalah hari dimana mereka harus memeriksakan kandungan Esta ke klinik. Jadi sepulang sekolah, Rai langsung meminta Esta untuk bersiap-siap pergi karna jarak yang lumayan jauh.
Namun belakangan ini, Esta sangat betah berlama-lama berada di dalam kamar mandi. Saat ia di sana, ia bisa menghabiskan waktu sampai satu setengah jam. Entah apa yang ia lakukan di dalam sana. Tapi yang jelas, ia suka tidur di kamar mandi. Itu membuatnya merasa sejuk dan nyaman. Seperti siang ini juga. Niatnya untuk mandi, tapi malah keenakan dan ketiduran di sana.
Tok,, tok,, tok,, Rai mengetuk pintu kamar mandi karna Esta tak kunjung muncul juga.
“Ta?! Kamu ngapain di dalam?”
Tidak ada tanggapan.
“Ta?”
Masih belum ada tanggapan.
“Esta?!” Kali ini Rai mencoba nada suara yang lebih tinggi.
Tapi anehnya, Esta tetap tidak menyahut panggilan Rai.
Dor! Dor! Dor!
Akhirnya Rai menggedor pintu kamar mandi dengan keras. Dan tidak lama kemudian, Esta nampak membuka pintu dengan mata yang masih sayu. Ia mengucek-ucek matanya yang masih terasa sangat mengantuk.
“Di panggilin dari tadi kok diem aja. Udah satu jam lho kamu di dalam. Jangan lama-lama nanti masuk angin. Udah selesai belom mandinya?”
“Mandi?” Kesadaran Esta nampak belum kembali sepenuhnya. “Ah, iya. Aku harus mandi.” Imbuh Esta yang kemudian kembali menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Rai hanya ternganga saja melihat keanehan Esta yang ia lihat beberapa hari terakhir ini. Jujur, ia menghawatirkan kondisi bayi mereka dengan tingkah Esta yang seperti itu.
“Jangan lama-lama. Gantian mandinya!” Pekik Rai dari luar kamar mandi. Setelah tidak mendapat tanggapan, ia kembali untuk menyiapkan pakaiannya.
Sepuluh menit kemudian, Esta sudah selesai dan keluar. Sementara Rai langsung menggantikannya masuk ke kamar mandi. Esta menyeret kakinya untuk berjalan ke dalam kamar.
Padahal ia sudah mandi. Siraman air di tubuhnya seharusnya membuatnya menjadi segar. Tapi kenapa ini malah menambah rasa kantuknya semakin menjadi?
Esta meraih bajunya dari dalam lemari dengan tangan yang dilemas. Persendiannya seolah menolak untuk bekerja sama dengan perintahnya. Namun ia berhasil juga mengambil pakaiannya dan meletakkannya ke atas kasur.
Esta duduk di tepian kasur dengan kelopak mata yang sudah menggantung. Astaga, dia benar-benar sangat lelah dan mengantuk. Rasanya ia tidak bisa mengendalikan rasa kantuknya lagi. Dan akhirnya iapun merebahkan diri ke samping dan langsung terlelap.
Rai yang baru selesai mandi berjalan hendak masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti di depan pintu yang terbuka. Ia menatapi sosok Esta yang sedang tertidur dengan posisi miring dengan mulut sedikit terbuka. Ia bisa merasakan kalau hatinya sedang berdesir tak karuan saat ini.
Bukan posisi tidur Esta yang membuatnya berdesir sampai menelan salivanya sendiri. Tapi penampakan Esta yang hanya mengenakan b h saja padahal sudah memakai celana. Dan ada baju yang tersangkut di tangannya.
B h hitam itu membungkus p@yudara Esta yang terhimpit hingga menonjolkan separuh isinya. Membuat isinya menyembul keluar dan membuat Rai mati kutu.
Dua bagian dalam diri Rai bergejolak ingin memenangkan diri. Nafsu Rai mengatakan kalau ia bisa melakukan apapun karna Esta sudah sah menjadi istrinya. Tidak ada kata hubungan terlarang lagi. Tapi logikanya juga sedang berjuang untuk menahan diri. Ia tidak ingin menyakiti Esta dengan berbuat semaunya.
Rai berjalan beberapa langkah untuk masuk ke dalam kamar. Ia meraih knop pintu kemudian menutupnya dan bersandar di luar pintu. Jantungnya yang kini sedang menari-nari membuat nafas Rai tersengal-sengal. Logikanya berhasil menang kali ini. Itu adalah pencapaian luar biasa dengan pemandangan indah seperti itu. Ia bernafas lega karna berhasil menguasai diri.
Kemudian Rai berjalan keluar untuk menghirup udara yang seolah sudah menipis. Ia berdiri di balik dinding pembatas di depan rumah dengan bertumpu pada kedua tangannya. Memperhatikan apapun yang bisa ia lihat di bawah.
“Kamu yang nyewa di sini?” Sapa seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan yang mengenakan daster. Rai tau itu adalah salah satu penghuni rusun yang ada di sebelah rumah mereka.
“Oh, iya, Mpok.” Jawab Rai berusaha memancarkan keramahan.
“Oh, Adikmu mana?” Maksud wanita itu, Esta.
__ADS_1
“Lagi tidur, Mpok.” Rai bersyukur karna wanita itu tidak menaruh curiga sama sekali padanya.
“Kalian cuma berdua disini? Orang tuanya kemana?” Wanita itu terus melancarkan pertanyaan menyelidik.
“Kerja di luar kota. Mpok rumahnya yang mana?” Rai berbasa basi padahal sudah tau dimana rumah wanita itu.
“Yang itu.” Tunjuk wanita itu menunjuk rumah ke dua setelah rumahnya. “Kapan-kapan main kesana, ya?”
“Iya, Mpok. Nanti kami main ke sana.”
“Eh, namanya siapa?” Wanita yang sudah berbalik hendak pulang kembali itu membalikkan badannya.
“Rai, Mpok. Dan, eh,, a,, adik saya, Esta.”
“Rai, Esta. Salam kenal, ya. Kalian gak ada orang tua kalau butuh apa-apa ngomong aja sama Mpok. Saya Nurmah. Warga sini biasa manggil saya Mpok Nur.” Tawar si ibu.
“Iya, Mpok.”
Rai melayangkan senyuman kepada Mpok Nur yang sudah pergi entah mau kemana. Tiba-tiba ia teringat dengan Esta. Ia melirik jam tangannya yang ternyata sudah setengah empat sore.
Rai kembali masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar. Perlahan, malah terdengar suara Esta yang sedang mengorok dari dalam kamar. Hampir saja Rai membuka pintu kalau saja ia tidak ingat dengan apa yang ada di dalam.
Tidak jadi membuka pintu, akhirnya Rai hanya menggedor-gedor saja pintu kamar sampai Esta terbangun.
Esta yang terkejut langsung bangun terduduk dan mengelap bibirnya. Ia nampak linglung namun segera sadar ketika mendengar Rai memperingatkan dirinya.
“Cepetan, Ta! Nanti macet malah semakin lama nyampenya.”
“Iya, bentar.” Esta hanya menjawab seadanya. Ia menepuk-nepuk pipinya berharap bisa mengusir rasa kantuk yang luar biasa itu.
__ADS_1
Lima menit kemudian, Esta sudah siap dengan pakaiannya dan keluar dari kamar. Anehnya, Rai tidak berani menatap gadis itu dan langsung memberikan helm kepada Esta. Rai nampak celingukan seperti sudah melakukan sebuah kesalahan yang Esta tidak tau.