
Seperti janjinya tadi siang, Rai benar-benar pulang setelah di tunggui oleh istrinya. Ia menyelesaikan sedikit pekerjaannya kemudian pulang ke apartemen bersama dengan sang istri.
Malam ini, Esta sengaja memasak makanan mewah untuk suaminya. Mewah ala dirinya tentu saja.
Dan Rai sedang membersihkan dirinya dengan berendam air hangat di kamar mandi. Sengaja ia berlama-lama agar bisa meruntuhkan semua kotoran yang sudah bersarang beberapa hari ini.
Ternyata tidak buruk juga untuk beristirahat barang semalam di rumah. Memang ada rasa tidak tega karna harus meninggalkan pekerjaan yang begitu penting. Tapi ia juga harus sehat untuk mengurusi masalah ini agar bisa selesai tanpa masalah.
“Mas! Belum selesai?” Tanya Esta dari luar kamar mandi.
Ceklek!
Esta terbelalak dengan pemandangan yang ada didepan matanya saat Rai tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Pria itu mulus tanpa busana. Tersenyum jahil kepada Esta dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Wajah Esta terasa panas dan merona. Entah kenapa dia yang merasa malu sendiri melihat suaminya begitu.
“Gak tergoda lihat beginian?” Goda Rai.
Esta langsung berbalik untuk menguasai ekspresinya. “Apanya yang menggoda. Kecil begitu.” Balas Esta. Padahal jantungnya sudah hampir melompat keluar.
Kelakuan Rai itu membuat Esta kesal bukan main. Sementara Rai juga ikut kesal dengan reaksi istrinya. Padahal dia sudah siap membuang rasa malunya untuk menggoda Esta. Tapi ternyata istrinya itu malah berbalik dan tidak tergoda sama sekali.
Huuuhh... Huuuufffhhhh... Esta sedang mencoba mengatur nafasnya gar bisa kembali normal. Ada sesuatu dalam dirinya yang menimbulkan perasaan menggelitik di dalam.
Ternyata Rai tidak tinggal diam. Pria itu melompat dari pintu kamar mandi dan menyusul Esta. Menarik lengan istrinya itu untuk kembali menghadap pada dirinya.
Esta terhenyak saat tubuhnya sempurna menempel di tubuh polos Rai. Pria itu menatap lekat dirinya dengan hembusan nafas hangat yang memburu menerpa wajahnya.
“Kecil katamu?” Ucapan Rai penuh penekanan. Tatapan matanya nampak berbeda. Di penuhi oleh hasrat yang menggebu.
Esta semakin terkejut sampai matanya melotot saat Rai tiba-tiba meraih tangannya dan mengarahkannya ke alat tempurnya. Benda kecil itu, kini sudah membesar tiga kali lipat dari yang terlihat tadi.
“Apa sih mas. Geli.” Pekik Esta dengan tertahan. Ia berusaha menarik tangannya dari sana. Namun Rai menahan lengan Esta agar tangannya tetap berada di medan tempurnya tersebut.
“Gimana? Udah gak kecil lagi, kan? Sekarang udah tergoda belum?” Lirih Rai. Masih dengan suara berat karna penuh hasrat. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Kemudian mulai mendaratkan bibirnya di
bibir istrinya. Melu matnya dengan lembut dengan tangan yang masih menahan tangan Esta di miliknya.
Esta sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak terhanyut dengan luma tan dari bibir suaminya. Perlahan ia mulai menikmati sentuhan lembutnya dan mulai memejamkan matanya. Membalas luma tan itu dengan gairah
__ADS_1
yang mulai tumbuh di dadanya.
Namun tiba-tiba Rai menghentikan luma tannya. Mengernyitkan keningnya sedikit sambil menatap Esta heran.
“Kenapa, Mas?”
“Ssspppp... Kok minionku rasanya jadi rada panas ya, sayang?” Heran Rai.
Seketika Esta langsung menarik tangannya yang sejak tadi memegang minion suaminya. Ia baru menyadari sesuatu.
“Ups. Maaf, Mas. Lupa kalau aku baru irisin cabe tadi.” Liirh Esta merasa bersalah.
“Hah?!” Rai tidak percaya dengan pengakuan Esta. Dan rasa panas itu semakin membakar minion sehingga Rai langsung berlari kembali ke kamar mandi. Meninggalkan Esta yang khawatir namun tetap tidak bisa menahan tawanya.
“Sayang! Bantuin dong. Ini gimana ini jadi kebakar rasanya. Panas bangettt... Tanggung jawab dong!” Pekik Rai dari dalam kamar mandi. Dia sedang berusaha memadamkan minion yang terbakar.
Esta mengu lum senyum di pintu kamar mandi. Menatap suaminya dengan ekspresi lucu namun kasihan.
“Katanya di kasih pasta gigi biar panasnya hilang.” Muncul ide briliant di kepala Esta.
“Ya ampun, sayang. Ya kali di olesin pasta gigi rasa mint. Malah jadi panas, dong.” Keluh Rai.
“Hahahahahahahahah! Makanya jangan jahil. Kena sendiri kan akibatnya.”
“Bilang jahil, tapi menikmati juga, kan?” Dengus Rai kesal.
“Udah buruan di cuci pakai sabun biar ilang pedesnya. Aku tunggu di meja makan.” Kata Esta pada akhirnya. Ia tetap tidak bisa menahan tawanya dan masih terus terkekeh sambil berjalan keluar dari kamar.
Lima belas menit kemudian, Rai sudah keluar dari kamar dengan sudah berpakaian lengkap. Ia mendekati istrinya yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di atas meja makan.
“Gimana, Mas? Masih panas?” Tanya Esta penasaran. Ia masih terkekeh jika mengingat kelakuan absurd suaminya. Tapi ia juga kasihan jika terjadi sesuatu dengan benda pusaka milik suaminya itu.
“Udah mulai hilang rasa pedesnya. Udah ku cuci pakai sabun banyak-banyak.” Jawab Rai sambil melirik kepada Esta.
“Ya maaf, aku lupa kalau abis pegang cabe. Hihihihihihihih.”
“Hehehehe.” Rai jadi ikut tertawa mengingat kekonyolannya sendiri. “Banyak banget masaknya?”
“Biar pulih tenagamu. Supaya gak lemes ngurusin kerjaan.”
__ADS_1
“Uluh, uluh. Istriku pengertian banget. Padahal bukan ini asupan yang ku butuhkan. Tapi....”
“Ssssttttt. Udah makan.” Esta mencegah kalimat lanjutan suaminya.
Walau dengan bibir manyun, tapi Rai tetap menerima piring berisi nasi dan lauk pauk yang di berikan oleh istrinya.
Makan malam itu berlangsung santai. Mereka tidak banyak bicara dan fokus pada makanannya.
Rai masih setengah percaya kalau ia bisa selalu menatapi wajah Esta sesuka hatinya. Bisa menikahi wanita yang paling di cintainya itu, seolah mimpi yang tidak nyata.
Selesai makan malam, Rai membantu istrinya untuk membereskan dan mencuci bekas makan mereka.
“Gak usah bantuin, Mas. Kamu istirahat aja.”
“Gak mau. Biar cepet selesai.” Tolak Rai yang bersikeras tetap membantu sang istri.
Akhirnya Esta membiarkan saja Rai ikut membantunya mencuci piring.
“Sayang?”
“Hem?”
“Kita cari asisten rumah tangga aja, ya?”
“Buat apa?”
“Biar ada yang bantuin kamu.”
“Kan udah ada cleaning service.”
“Tapi gak ada yang bantuin kamu masak.”
“Cuma masak aja kok. Gak berat. Aku masih bisa ngerjainnya. Nanti aja kalau kita udah punya anak, kalau aku kerepotan, kita bisa pakai asisten rumah tangga.”
Mendengar itu, Rai jadi mencibir. “Punya anak.... Produksinya aja gagal terus.” Protes Rai.
“Hahahahaha. Gak boleh protes. Kan gara-gara keadaan juga. Yang tadi, karna salahmu sendiri, pake acara main serobot segala.”
“Hehehehehe.”
__ADS_1
Acara mencucui piring sudah selesai. Rai sedang mengeringkan tangan pakai handuk kecil. Sementara Esta masih ada yang harus di bersihkan. Ia tetap berdiri untuk mencuci wajan kotor terakhir.
Rai melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Memeluk Esta dari belakang begitu adalah salah satu candunya. Apalagi saat wanita itu diam saja ketika ia mengecupi tengkuknya. Membuatnya semakin beringas saja mendaratkan bibirnya.